Rabu, 16 April 2014

HUBUNGAN IKLIM KERJA DENGAN KELELAHAN SUBYEKTIF PEKERJA

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia  
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang 
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan 
                                                                                                                   Karya Tulis Ilmiah, Juli 2010

Abstrak
Latifa Dewi Safitri (fa_in_theZone@yahoo.co.id)
HUBUNGAN IKLIM KERJA DENGAN KELELAHAN SUBYEKTIF PEKERJA BAGIAN PERKILANGAN DI PUSDIKLAT MIGAS KECAMATAN CEPU KABUPATEN BLORA 
XVII + 113 Halaman : 3 gambar, 7 tabel, 18 lampiran 

Tekanan lingkungan kerja fisik khususnya lingkungan kerja panas memegang peranan yang penting  untuk mendapatkan efisiensi kerja dan meningkatkan produktivitas. Iklim kerja  yang panas dapat mempengaruhi kondisi pekerja. Salah satu akibat dari iklim kerja yang kurang baik adalah kelelahan pada pekerja. para pekerja merasakan kelelahan yang bersifat subyektif antara lain cepat merasa mengantuk, mudah haus, menjadi lelah seluruh badan, sulit berkonsentrasi, dan lain sebagainya. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis iklim kerja di masing-masing tempat kerja, menganalisis hasil pengukuran kelelahan kerja, dan menganalisis apakah terdapat hubungan antara iklim kerja dengan kelelahan subyektif pekerja pada bagian perkilangan di Pusdiklat Migas Cepu Kabupaten Blora.
Jenis penelitian yang digunakan yaitu jenis penelitian observasional dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling sebanyak 47 orang. Uji statistik yang digunakan yaitu korelasi spearman dimana peneliti ingin mengetahui hubungan antara iklim kerja dengan kelelahan subyektif pada pekerja.
Hasil pengukuran iklim kerja pada bagian perkilangan menunjukkan  7 unit kerja yang melebihi NAB dan 2 unit kerja yang masih dibawah nilai NAB. Hasil penilaian kuesioner kelelahan kerja subyektif menunjukkan kelelahan sangat ringan dirasakan oleh 12 orang, kelelahan ringan 21 orang, kelelahan berat dialami oleh 13 orang, sedangkan kelelahan sangat berat dialami oleh 1 orang. Hasil uji korelasi diperoleh nilai sig > ά sehingga tidak ada hubungan antara iklim kerja dengan kelelahan subyektif pada pekerja. kelelahan kerja disebabkan oleh factor pengganggu yang lain. 
Kesimpulan tidak terdapat hubungan antara iklim kerja dengan kelelahan subyektif pada pekerja di Pusdiklat Migas Cepu. Perlu dilakukan pengendalian terhadap iklim kerja. Pekerja berusia 50 tahun ke atas harus mempunyai beban kerja yang lebih ringan serta variasi waktu kerja dan waktu istirahat lebih banyak daripada pekerja yang lebih muda.

Daftar bacaan : 16 (1988-2009)
Kata Kunci     : iklim kerja, ISBB, kelelahan
Klasifikasi      :

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar