Selasa, 13 Oktober 2020

DESKRIPSI PENGELOLAAN SAMPAH RDF DI TPST DESA TRITIH LOR, KECAMATAN JERUKLEGI, KABUPATEN CILACAP TAHUN 2020

Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang 
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto 
Program Studi Sanitasi Program Diploma III Kesehatan Lingkungan
Tugas Akhir, Juli 2020
Abstrak
Faiq Zulhi Kurnia (fzulhikurnia@gmail.com)
DESKRIPSI PENGELOLAAN SAMPAH RDF DI TPST DESA TRITIH LOR KECAMATAN JERUKLEGI KABUPATEN CILACAP TAHUN 2020
XVI + 53 halaman: gambar, tabel, lampiran

Salah satu proses pemanfaatan sampah dalam pengelolaan sampah yaitu pengelolaan sampah RDF. Hasil pengamatan yang peneliti lakukan di tempat pengolahan sampah terpadu Desa Tritih Lor, Kecaamatan Jeruklegi, Kabupaten Cilacap, bahwa masih terdapat beberapa proses pengelolaan, yang belum memenuhi syarat. Tujuan penelitian : mengetahui proses pengelolaan sampah RDF di TPST Desa Tritih Lor, Kecamatan Jeruklegi, Kabupaten Cilacap. Metode penelitian : deskriptif. 
Hasil penelitian : Berdasarkan dari penelitian diketahui bahwa fasilitas sarana, prasarana pengelolaan sampah RDF yang tersedia adalah tempat penampungan sampah sementara, eskavator, loader, shredder, tempat pengeringan sampah, terpal, alat penutup terpal, screening, dan tempat penampungan produk jadi. Cara pemrosesan atau pengelolaan yang digunakan oleh petugas yaitu penimbangan sampah, peletakan sampah pada tempat penyimpanan, pemilahan manual, pencacahan, pengeringan kadar air pada sampah, dan pada tahap akhir yaitu penyaringan. Sampah yang diproses di TPST RDF ini bersumber dari sampah rumah tangga, instansi-instansi pemerintah, serta sampah industri. Kesimpulan : sistem pengelolaan sampah pada TPST RDF Desa Tritih Lor Kecamatan Jeruklegi Kabupaten Cilacap belum sesuai dengan Teori Pengelolaan Sampah RDF menurut Mc. Dougall et al tentang Pengelolaan Sampah RDF. Disarankan : untuk TPST RDF memperbaiki sistem pengelolaan sampah RDF yang masih belum memenuhi syarat seperti, melakukan pemilahan sampah sesuai jenisnya, memperbaiki tempat penyimpanan sampah sementara serta tempat penyimpanan produk jadi yang masih belum memenuhi syarat, membuat peraturan yang resmi tentang pemilahan sampah berdasarkan jenisnya yang dimulai dari sumbernya sehingga akan mempermudah proses pengelolaan sampah, menambah fasilitas sarana prasarana pengelolaan sampah RDF.

Daftar bacaan : 15 (1982-2019)
Kata kunci      : Sampah, Sampah RDF, Pengelolaan Sampah RDF
Klasifikasi      : -

STUDI PENGELOLAAN SAMPAH MEDIS DI PUSKESMAS GUMELAR KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2020

 Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Sanitasi Program Diploma III
Tugas Akhir, Juli 2020

ABSTRAK
Cahyo Budiarto (cahyobudi864@gmail.com)
Studi Pengelolaan Sampah Medis di Puskesmas Gumelar Tahun 2020
(XIII+60 halaman: tabel, gambar, lampiran)

Puskesmas merupakan fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif tanpa mengabaikan upaya kuratif dan rehabilitativ, dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan di puskesmas berpotensi untuk menghasilkan sampah. Sampah puskesmas tersebut dapat berupa limbah bahan berbahaya beracun yang karena sifat, konsentrasinya atau jumlahnya dapat membahayakan bagi kesehatan manusia maupun lingkungan. Jika sampah medis tersebut tidak dilakukan pengelolaan dengan baik, maka dapat menimbulkan pencemaran lingkungan dan sumber penyakit. Tujuan penelitian : ini adalah untuk mengetahui pengelolaan sampah medis di Puskesmas Gumelar.
Metode penelitian : menggunakan penelitian deskriptif yang menggambarkan pengelolaan sampah medis di Puskesmas Gumelar. Penelitian dilakukan dengan cara observasi dan wawancara mengenai pengelolaan sampah medis di Puskesmas Gumelar.
Hasil penelitian : Penimbulan sampah medis di Puskesmas Gumelar pada setiap ruangan sudah terdapat tempat sampah medis dan non medis, dilakukan pemisahan masing-masing jenis sampah medis. Sampah medis dari lokasi penimbulan telah dilakukan minimalisasi, seperti membeli bahan-bahan pelayanan medis yang disesuaikan dengan kebutuhan yang telah direncanakan. Pada pewadahan sampah medis di Puskesmas Gumelar sudah memenuhi syarat, sudah terdapat tempat sampah disetiap ruangan dan sudah dipisahkan antara sampah medis dan non medis. Tahap pengumpulan sampah medis di Puskesmas Gumelar dilakukan setiap hari pada pukul 06.30 oleh petugas kebersian dengan menggunakan APD lengkap selanjutnya sampah dibawa ke TPS, lokasi TPS masih berdekatan dengan ruang rawat inap yaitu berjarak kurang lebih 10 meter dan belum adanya tempat cuci tangan. Pengangkutan sampah medis dari ruang penghasil sampah medis menuju ke TPS dengan cara dijinjing dan pengangkutan dari TPS ke tempat pembuangan akhir menggunakan truk box yang tertutup dan rapat. Tahap pembuangan akhir bekerja sama dengan PT Muvid dan PT Andika sebagai transporternya dan PT Wastec sebagai pihak yang melakukan pengolahan dengan kesepakatan sampah medis diangkut setiap satu bulan sekali untuk dimusnahkan.
Kesimpulan : pengelolaan sampah medis di Puskesmas Gumelar belum memenuhi syarat, pada Tempat Penampungan Sementara karena jarak TPS masih berdekatan dengan ruang pelayanan puskesmas yaitu ruang rawat inap yang berjarak kurang lebih 10 meter. Saran : untuk memindahkan TPS agar tidak berdekatan dengan ruang pelayanan puskesmas dan membuat tempat cuci tangan di sekitar TPS dan pada tahap pengangkutan sampah dari ruang penghasil sampah medis menuju TPS untuk disediakannya alat pengangkut khusus.

Daftar Bacaan :  11 (1981 - 2019)
Kata Kunci      :  Pengelolaa, Sampah Medis, Puskesmas
Klarifikasi       :  -

Senin, 12 Oktober 2020

STUDI PENGELOLAAN SAMPAH MEDIS DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH dr. R. GOETENG TAROENADIBRATA PURBALINGGA TAHUN 2020

Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Sanitasi Program Diploma III
Tugas Akhir, Mei 2020
Abstrak
Yogi Ramadhan Santosa (ramadhanyogi5@gmail.com)
Studi Pengelolaan Sampah Medis di Rumah Sakit Umum Daerah dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga Tahun 2020

Rumah sakit merupakan salah satu instansi kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan secara paripurna salah satu kegiatannya adalah penghasil limbah berupa sampah. Salah satu sampah berbahaya dari rumah sakit adalah sampah medis. Sampah medis adalah sarana medis habis pakai dan terbuang yang telah digunakan sebagai alat bantu dalam upaya diagnosis dan pengobatan melalui prosedur dan tindakan medis atau perawatan penderita. Masalah sampah medis dapat dianggap sebagai mata rantai penyebaran penyakit menular. Sampah medis dapat menjadi tempat berkembang biaknya organisme dan serangga serta tikus, dan benda tajam yang terkandung dalam sampah medis sehingga dapat menimbulkan gangguan kesehatan dan cidera fisik. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan Studi Pengelolaan Sampah Medis di Rumah Sakit Umum Daerah dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga Tahun 2020.
Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif dengan ceklis dan kuisioner, yaitu untuk mendeskripsikan pengelolaan sampah medis dari penimbulan, pewadahan, pengangkutan, pengumpulan, dan pembuangan akhir sampah medis menggunakan ceklis dan kuisioner yang akan disimpulkan dengan jumlah presentase keseluruhan.
Hasil penelitian dengan observasi menggunakan ceklis dan kuisioner mendapatkan presentase sebesar 65.5% dengan standar kriteria 56-75% yang artinya hasilnya terbilang cukup baik.
Kesimpulan pengelolaan sampah medis terbilang cukup baik secara keseluruhan. Saran yang dapat penulis sampaikan adalah dengan memeperbaiki kekurangan faktor yang belum terpenuhi dengan segera dan melakukan pengawasan terhadap pengelolaan sampah medis dengan benar agar tidak menimbulkan masalah kesehatan yang disebabkan dari pengelolaan sampah medis yang kurang benar.

Daftar bacaan  : 15 (1992-2019)
Kata Kunci      : Sampah Medis di Rumah Sakit Umum Daerah dr. R. Goeteng Taroenadibrata
Klasifikasi       : -

Kamis, 08 Oktober 2020

DESKRIPSI KONDISI FISIK PONDOK PESANTREN AL FAJAR LEBAKSIU KABUPATEN TEGAL TAHUN 2020

 Politeknik kesehatan kemenkes semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Sanitasi Program Diploma III
Tugas Akhir, Juli 2020
Abstrak
Zaza andriyana (zazaandri99@gmail.com)
DESKRIPSI KONDISI FISIK PONDOK PESANTREN AL FAJAR LEBAKSIU KABUPATEN TEGAL TAHUN 2020
XV+ 44 halaman, gambar, tabel, lampiran

Salah satu tempat-tempat umum yang dapat menimbulkan masalah kesehatan adalah pondok pesantren. Untuk mencegah risiko dan timbulnya suatu penyakit di pondok pesantren maka perlu dilakukan upaya penilaian salah satunya yaitu kondisi fisik pondok pesantren. Berdasarkan survey yang peneliti lakukan di pondok pesantren al fajar lebaksiu kabupaten tegal ditemukan aspek kondisi fisik pondok pesantren yang belum memenuhi syarat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kondisi fisik pondok pesantren al fajar lebaksiu kabupaten tegal tahun 2020. Jenis penelitin yang dilakukan merupakan penelitian deskriptif bertujuan mendeskripsikan kondisi fisik pondok pesantren al fajar lebaksiu kabupaten tegal. Cara pengumpulan data yaitu dengan melakukan pengamatan langsung pada kondisi fisik pondok pesantren dengan menggunakan checklist dan wawancara dengan pengurus dan santri pondok pesantren.
Hasil penelitian menunjukan bahwa kondisi fisik pondok pesantren al fajar lebaksiu kabupaten tegal tahun 2020 dikategorikan sangat baik dengan nilai 78,12%. Dari 32 variabel yang di nilai terdapat 7 variabel yang tidak memenuhi syarat yaitu atap sulit dibersihkan, menjadi tempat bersarang serangga, ventilasi belum dilengkapi dengan penghawaan mekanis, tidak terdapat tempat sampah disetiap kamar tidur dan belum memadai, kamar menjadi tempat bersarangnya serangga, kepadatan hunian dalam satu kamar tidur belum memadai. Saran agar para santri dan pengurus pondok pesantren meningkatkan kebersihan lingkungan pondok pesantren dan kamar santri, melakukan pembagian ulang atau menambahkan kamr tidur, penambahan lubang penghawan atau penambahan penghawaan mekanis, dan menyediakan tempat sampah yang memadai di setiap kamar tidur.

Daftar Bacaan : 13 ( 1999 – 2019 )
Kata Kunci     : Kondisi Fisik Pondok Pesantren
Klasifikasi      : -

STUDI KUALITAS LINGKUNGAN FISIK UDARA RUANG PERAWATAN KELAS III RSUD Prof. Dr. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO TAHUN 2020

 Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan
Program Studi Sanitasi Program Diploma III
Tugas Akhir, Mei 2020
Abstrak
Zahra Camila Abdullah (zahraabdullah07@gmail.com)
STUDI KUALITAS LINGKUNGAN FISIK UDARA RUANG PERAWATAN KELAS III RSUD Prof. Dr. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO TAHUN 2020
xvi + 130 halaman: gambar, tabel, lampiran

Rumah Sakit Umum Daerah Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto memiliki beberapa pelayanan seperti ruang rawat inap, ruang rawat jalan, rawat darurat, dan rawat intensif. Instalasi rawat inap dibagi menjadi dua bagian, yaitu IRNA I yang memberikan pelayanan medis non bedah dan IRNA II yang memberikan pelayanan medis bedah. Masing-masing ruang perawatan dibagi tiga jenis yaitu Kelas I, Kelas II, dan Kelas III. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kondisi kualitas lingkungan fisik udara ruang perawatan kelas III RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif observasional yaitu menjelaskan tentang kondisi kualitas lingkungan fisik udara ruang perawatan kelas III RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo yang meliputi suhu, kelembapan, pencahayaan, dan intensitas suara. Analisis data yang digunakan adalah analisis tabel yang kemudian dibandingkan dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 7 Tahun 2019 tentang Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit. Hasil pengukuran, kualitas lingkungan fisik udara dari 4 Ruang Mawar dan 2 Ruang Teratai menunjukan bahwa rata-rata hasil pengukuran suhu 29.80C, kelembapan 69.8%, pencahayaan 254 Lux, dan intensitas suara 52 dBA. Sedangkan hasil penilaian sarana bangunan dan prasarana ruangan pada Ruang Mawar diperoleh 62.5% dan Ruang Teratai 62.5%. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah kualitas lingkungan fisik udara di ruang perawatan kelas III tidak memenuhi syarat. Saran yang dapat diberikan untuk ruang perawatan kelas III yaitu penggunaan ventilasi gabungan, pemasangan lampu yang sesuai luas ruangan, dan pemantauan intensitas suara di ruang perawatan.

Daftar bacaan : 28 (1999 – 2020)
Kata kunci      : Kualitas Lingkungan Fisik, Udara, Instalasi Rawat Inap, Rumah Sakit
Klasifikasi      : -

TINJAUAN HYGIENE SANITASI PEMBUATAN BAKSO “X” DI GANG MAYONG PURBALINGGA TAHUN 2020

 Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Sanitasi Program Diploma III
Tugas Akhir, Mei 2020
Abstrak
Yustina Asmarani (yustinaasmarani35@gmail.com)
TINJAUAN HYGIENE SANITASI PEMBUATAN BAKSO “X” DI GANG MAYONG PURBALINGGA TAHUN 2020
xv + 75 halaman: gambar, tabel, lampiran

Penurunan derajat kesehatan disebabkan keadaan hygiene sanitasi buruk yang dapat mempengaruhi kualitas makanan yang disajikan kepada konsumen. Salah satu upaya untuk meningkatkan pembangunan kesehatan adalah upaya hygiene sanitasi makanan yang mencangkup 6 prinsip hygiene sanitasi makanan. Keadaan sanitasi pembuatan bakso “X” di Gang Mayong Purbalingga kurang memperhatikan hygiene sanitasi pengelolaan makanan, baksonya pun tidak dikerubungi oleh lalat. Tujuan penelitian untuk mendeskripsikan hygiene sanitasi pembuatan bakso “X” dan melakukan pemeriksaan kandungan boraks pada bakso. Metode penelitian ini termasuk jenis penelitian deskriptif dengan cara verifikasi. Pengumpulan data dengan cara observasi pengamatan secara langsung, wawancara, dan dengan pemeriksaan kandungan boraks di Laboratorium Kesehatan Kabupaten Purbalingga.
Hasil hygiene sanitasi pembuatan bakso diperoleh total hasil rata-rata 92,2% yang masuk dalam kategori memenuhi syarat. Setelah dilakukan wawancara menggunakan kuesioner penjamah makanan didapatkan hasil 96%, 88%, dan 88% yang termasuk dalam kategori baik. Hasil pemeriksaan dari Laboratorium Kesehatan Kabupaten Purbalingga menyatakan bahwa bakso yang diproduksi di warung bakso “X” dinyatakan 100% negatif boraks. Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini yaitu hygiene sanitasi pembuatan bakso “X” sudah memenuhi syarat pada penjamah makanan, sanitasi alat, sanitasi tempat pengolahan, kondisi faslitas sanitasi, pemilihan bahan makanan, penyimpanan bahan makanan, dan penyajian makanan. Bakso yang diproduksi di warung bakso “X” juga aman untuk dikonsumsi karena tidak mengandung boraks. Saran untuk pemilik warung bakso “X” agar tetap mempertahankan hal-hal yang sudah baik dan memperbaiki beberapa hal yang masih belum baik.

Daftar bacaan : 30 (1991-2016)
Kata kunci      : HSMM, Bakso, Boraks
Klasifikasi      :

TINJAUAN SUMBER KEBISINGAN DI RUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT ANANDA PURWOKERTO TAHUN 2020

 Politeknik Kesehatan KemenkesSemarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Sanitasi Program Diploma III
Tugas Akhir, Mei 2020
Abstrak
Wilda Nadila Fitri (wiida.nadila3@gmail.com)
TINJAUAN SUMBER KEBISINGAN DI RUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT ANANDA PURWOKERTO TAHUN 2020
xvii+ 120halaman : Gambar, Tabel, Lampiran

Kebisingan yaitu terjadinya bunyi yangtidak dikehendakidan mengganggumanusia. Kebisingan di lingkungan rumah sakit merupakan suatu permasalahan yang cukup serius dan harus diperhatikan. Sesuai dengan fungsi rumah sakit sebagaitempat untuk merawat orang yang sakit, maka lingkungan rumah sakit sangat membutuhkan suasana yang tenang, nyaman dan terbebas dari kebisingan.
Tujuan penelitian mengukur intensitas suara, suhu, dan kelembapan serta mengetahui keluhan subyektif pasien di ruang rawat inap RS Ananda Purwokerto. Hasil pengukuran dibandingkan dengan Peraturan Mentri Kesehatan RI Nomor 7 tahun 2019 tentang Kesehatan Lingkungan di Rumah Sakit. Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Metode penelitian  dilakukan dengan observasi, wawancara dan pengukuran menggunakan alat dan instrumen. Pengumpulan data tidak dapat dilaksanakan sesuai rencana sehubungan dengan pembatasan sosial dan fisik selama pandemi Covid-19. Untuk itu digunakan data dari penelitian sejenis di RS PKU Muhammadiyah Gombong Kabupaten Kebumen.
Hasil pengukuran intensitas suara dari penelitian serupa yang dilakukan di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gombong diperoleh hasil intensitas suara terendah yaitu 42,69 dB dan intensitas suara tertinggi yaitu 76,25 dB. Hasil tersebut tidak memenuhi syarat berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 7 Tahun 2019.
Hasil pengukuran suhu dan kelembapan yang dilakukan di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gombong diperoleh hasil suhu terendah 23oC, dan suhu tertinggi 29 oC, sedangkan kelembaban terendah yaitu 34 % dan tertinggi yaitu 57 %. Hasil pengukuran suhu dan kelembapan tersebutmemenuhi syarat berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 7 Tahun 2019. Saran peneliti agar dilakukan pemantauan secara berkala, pemasangan peringatan agar tidak membuatgaduh, pemasangan tirai pada jendela, melakukan penanaman pohon dan tanaman kecil di antara pohon besar di pinggir jalan, serta penanaman tanaman hias pada setiap pagar agar dapat mengurangi intensitas suara yang tinggi.

Daftarbacaan : 16 (1996-2019)
Katakunci      : Rumah sakit, Intensitas suara
Klasifikasi     : -