Selasa, 29 Mei 2012

Prosiding Seminar

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang 
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto 
Program Studi DIII Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2013 

Abstrak 
Faela Anisatun Nufus (dhapa22@gmail.com)
TINJAUAN SANITASI SEKOLAH PENDIDIKAN MENENGAH DI KECAMATAN KEBUMEN TAHUN 2013 
xvii + 92 halaman : Gambar, Tabel, Lampiran 

Sekolah Pendidikan Menengah yang ada di Kecamatan Kebumen yaitu SMK sebanyak 18 sekolah, MA sebanyak 5, SMA sebanyak 6 sekolah. Sekolah yang kurang baik sanitasinya dapat berpengaruh pada proses belajar mengajar, hal ini dapat menimbulkan gangguan kesehatan misalnya menurunkan konsentrasi belajar, meningkatkan resiko penularan penyakit berbasis lingkungan seperti ISPA, diare dan lain-lain. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kondisi sanitasi Sekolah Pendidikan Menengah di Kecamatan Kebumen yang meliputi kondisi lingkungan dan bangunan sekolah, kondisi ruang kelas, sarana sanitasi dan pengendalian vektor. 
Jenis penelitian ini adalah deskriptif yaitu menggambarkan kondisi sanitasi sekolah Pendidikan Menengah di Kecamatan Kebumen Kabupaten Kebumen. Cara pengumpulan data yaitu observasi langsung dilapangan, wawancara serta dilakukan pengukuran, meliputi pengukuran pencahayaan, suhu, kelembaban dan ventilasi. 
Hasil penilaian pemenuhan persyaratan kesehatan secara umum yang mencakup seluruh aspek pada empat sekolah yang diamati belum memenuhi syarat Kepmenkes/RI/No 1429/MENKES/SK/XII/2006 yaitu meliputi kondisi lingkungan dan bangunan sekolah, kondisi ruang kelas, sarana sanitasi dan pengendalian vektor. Di dapatkan hasil pada SMK Nawa Bhakti Kebumen 73%(TMSK), SMK N 2 Kebumen 83,45%(MS), MAN 1 Kebumen 76,6%(MSK), SMA Muhammadiyah Kebumen 55,45%(TMSK).
Simpulan yang diambil terdapat 2 sekolah yang belum memenuhi persyaratan kesehatan yaitu SMK Nawa Bhakti Kebumen dan SMA Muhammadiyah Kebumen. 2 sekolah yang memenuhi persyaratan kesehatan yaitu SMK N 2 Kebumen dan MAN 1 Kebumen. Saran yang dapat di berikan adalah pengelola sekolah perlu menyediakan tempat sampah berpenutup, menambah luas lubang ventilasi, menambah penyediaan kamar mandi/jamban dan peturasan, menyediakan alat pemadam kebakaran.    

Daftar bacaan  : 17 (1990-2012)
Kata kunci       : sanitasi  
Klasifikasi        : 
 

Selasa, 09 Juni 2009

PENGARUH LARVA DISTROYER DENGAN VARIASI DAYA LISTRIK UNTUK MEMBUNUH JENTIK NYAMUK Aedes aegypti TAHUN 2008

Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Karya Tulis Ilmiah, Juni 2008

Abstrak

Rini Ambarwati
PENGARUH LARVA DISTROYER DENGAN VARIASI DAYA LISTRIK UNTUK MEMBUNUH JENTIK NYAMUK Aedes aegypti TAHUN 2008
xv+64 halaman, tabel, gambar, lampiran

Nyamuk Aedes aegypti merupakan vektor utama Demam Berdarah Dengue (DBD). Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah banyak diciptakan alat yang memanfaatkan listrik arus bolak – balik (Alternating Current) untuk membunuh nyamuk seperti Electrical Mosquito Killer (3 Watt), Mosquito Repeller (5 Watt) dan Smart Insect Killer (7 – 9 Watt). Alat tersebut memiliki waktu kontak yang singkat (£ 1 menit) untuk membunuh nyamuk, sehingga bukan hal yang tidak mungkin apabila alat dimodifikasi dengan pengaturan daya listrik tertentu maka dalam waktu kontak yang relatif singkat dapat dipergunakan untuk membunuh jentik – jentik nyamuk. Penulis telah melakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh Larva Distroyer dengan variasi daya listrik 3 Watt, 5 Watt, 7 Watt dan 9 Watt untuk membunuh jentik nyamuk Aedes aegypti dengan waktu kontak 1 menit.
Jenis Penelitian adalah True Experimental dengan desain rancangan Post test only group design untuk mengetahui pengaruh Larva Distroyer dengan variasi daya listrik untuk membunuh jentik nyamuk Aedes aegypti. Kontainer yang digunakan adalah toples kaca dengan jumlah jentik nyamuk tiap kontainer sebanyak 15 ekor dan volume air 500 ml, waktu kontak 1 menit dengan jarak antar elektroda yaitu 8 cm. Replikasi dilakukan sebanyak 4 kali.
Selama penelitian suhu air dalam kontainer berkisar antara 26,14 s/d 26,20 0C, pH air berkisar antara 6,8 – 7,0. Jentik nyamuk Aedes aegypti yang mati setelah terkena Larva Distroyer yaitu 3 Watt=5 ekor (33 %), 5 Watt=8 ekor (53 %), 7 Watt=12 ekor (80 %) dan 9 Watt=15 ekor (100 %).
Hasil uji Anova antar perlakuan bahwa nilai signifikan (0,000) < nilai α (0,05) sehingga Ho ditolak, artinya ada beda yang bermakna dari pengaruh Larva Distroyer dengan variasi daya listrik untuk membunuh jentik nyamuk Aedes aegypti. Uji lanjut dari Anova (LSD) menunjukkan bahwa daya listrik 9 Watt mempunyai beda yang bermakna dengan daya listrik 3 Watt, 5 Watt dan 7 Watt.

Daftar bacaan : 23 (1985 s/d 2007)
Kata Kunci    : Larva Distroyer, Variasi daya listrik, Membunuh jentik nyamuk Aedes aegypti.
Full text

STUDI KANDUNGAN BAKTERI SALMONELLA PADA DAGING SAPI SEGAR YANG DIJUAL DI PASAR KECAMATAN KUTOARJO KABUPATEN PURWOREJO TAHUN 2008

Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Depkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Karya Tulis Ilmiah, Juni 2008



Abstrak
Yusta Aknisia
STUDI KANDUNGAN BAKTERI SALMONELLA PADA DAGING SAPI SEGAR YANG DIJUAL DI PASAR KECAMATAN KUTOARJO KABUPATEN PURWOREJO TAHUN 2008
xiv + 37 : tabel = halaman + lampiran

Kondisi Sanitasi yang baik menjadi penting di tempat penjualan daging untuk mencegah timbulnya pencemaran bakteri terhadap daging yang dijual khususnya bakteri Salmonella berdasarkan Keputusan Dirjen POM No. 03726/B/SK/VII/89 tentang batas maksimum cemaran mikroba dalam makanan adalah nol atau negatif. Kualitas daging yang dijual tidak terlepas dari pengaruh sanitasi disekitar lingkungan tempat penjualan dan 6 prinsip pengelolaan makanan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kandungan bakteri Salmonella sp pada daging sapi segar yang dijual di Pasar Kecamatan Kutoarjo Kabupaten Purworejo dan kondisi sanitasi tempat penjualan daging sapi tersebut.
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif yaitu memberi gambaran tentang ada tidaknya bakteri Salmonella sp pada daging sapi segar yang dijual di Pasar Kecamatan kutoarjo Kabupaten Purworejo. Sampel daging sapi segar yang diperiksa adalah sebanyak 40% dari 25 pedagang sehingga diperoleh 10 pedagang daging sapi, masing-masing pedagang diambil 100 gram. Jenis datanya yaitu data umum meliputi keadaan geografis pasar dan data khusus yaitu hasil pemeriksaan Laboratorium dan kondisi sanitasi tempat penjualan daging. Data dalam penelitian disajikan dalam bentuk narasi dan tabel. Analisis data yang digunakan adalah analisis tabel dan analisis deskriptif.
Hasil penelitian tentang kandungan bakteri Salmonella sp pada daging sapi segar yang dijual di Pasar Kecamatan Kutoarjo Kabupaten Purworejo adalah positif sebanyak 90 % dari 10 sampel daging sapi yang di periksa sedangkan hasil penilaian kondisi sanitasi tempat penjualan daging adalah cukup baik, jadi ada ketimpangan antara kondisi sanitasi yang cukup baik dengan hasil pemeriksaaan laboratorium. semestinya kondisi sanitasi yang baik, pemeriksaan Salmonella sp dilaboartorium adalah negatif.
Kesimpulan dari penelitian yaitu pada daging sapi yang di jual positif mengandung Salmonella dan kondisi sanitasi tempat penjualan daging menurut kriteria cukup baik. Saran bagi pengelola pasar yaitu menyediakan tempat sampah dan memperbaiki SPAL yang tidak kedap air, bagi pedagang agar lebih mengutamakan kebersihan dan keamanan daging serta kebersihan tempat penjualan, dan bagi pembeli agar cermat dalam memilih daging sapi yang baik dan dapat mengelola daging dengan benar.

Daftar bacaan :10 (1986 – 2007)
Kata kunci      : Salmonella, daging sapi segar, pasar daging
Klasifikasi      :
Full text

STUDI IDENTIFIKASI DAN PENGUKURAN KEPADATAN KECOAK PADA KERETA API LOGAWA DI STASIUN KERETA API PURWOKERTO TAHUN 2008

Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Karya Tulis Ilmiah, Juni 2008

Abstrak
Wiwit Damayanti
STUDI IDENTIFIKASI DAN PENGUKURAN KEPADATAN KECOAK PADA KERETA API LOGAWA DI STASIUN KERETA API PURWOKERTO TAHUN 2008
XIV+49 halaman: gambar, tabel, lampiran, diagram

Kecoak adalah serangga dengan bentuk tubuh oval, piupih dorso-ventral, kepalanya tersembunyi dibawah pronotum, dilengkapi dengan sepasang mata majemuk dan satu mata tunggal, antena panjang, sayap dua pasang, tiga pasang kaki. Pronotum dan sayap licin, tidak berambut dan tidak bersisik, berwarna coklat tua. Kecoak juga merupakan suatu jenis jenis insekta yang mengganggu manusia. Kecoak dapat bertindak sebagai vektor, khususnya sebagai vektor mekanis yaitu sebagai pembawa bibit penyakit dan dipindahkan ke makanan, dan bila termakan manusia maka dapat menularkan penyakit. Kereta api adalah alat transportasi manusia, selain itu besar kemungkinan kecoak hidup di dalam gerbong kereta api.
Metode dari penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan secara cross sectional karena hanya menggambarkan fakta yang ada berupa identifikasi kecoak dan kepadatan kecoak, setelah data diperoleh maka akan dianalisa tabel yaitu setelah data terbentuk dalam tabel kemudian dianalisa secara deskriptif.
Lima gerbong yang diperiksa mendapatkan hasil bahwa gerbong satu (K3-65534 PWT) masuk dalam kategori kepadatan sedang karena memiliki nilai Z kepadatan -0,87833, Gerbong dua (K3-65534 PWT) masuk dalam kategori kepadatan sedang karena memiliki nilai Z kepadatan 0,87831, gerbong tiga ( K3-93513 PWT) masuk dalam kategori kepadatan tinggi karena memiliki nilai Z kepadatan 1,07349, gerbong empat G4 (K3-93701PWT) masuk dalam kategori kepadatan sedang karena memiliki nilai Z kepadatan 0,039036, kereta makan masuk dalam kategori kepadatan tinggi karena memiliki nilai Z kepadatan 1,07349. Spesies yang ditemukan adalah P.americana, P. australasiae, B. germanica.
Peneliti mendapat kesimpulan bahwa kepadatan kecoak di masing-masing gerbong dalam kategori sedang dan tinggi, untuk itu perlu mendapat perhatian lebih dari pihak stasiun dan para penumpang. Peneliti juga menyarankan agar lebih meningkatkan kebersihan gerbong serta melakukan pengendalian secara kimia menurut bionomik kecoak.

Daftar bacaan : 10 (1979-2005)
Kata kunci      : kecoak
Klasifikasi       :
Full Text

STUDI KORELASI LUBANG ASAP DAPUR RUMAH DENGAN PENDERITA INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT (ISPA) DI DESA BEJI KECAMATAN PANDANARUM KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2008

Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Depkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah, Juni 2008

ABSTRAK
Wakhid Anwar
STUDI KORELASI LUBANG ASAP DAPUR RUMAH DENGAN PENDERITA INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT (ISPA) DI DESA BEJI KECAMATAN PANDANARUM KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2008
XIII + 50 : Gambar, Lampiran, Tabel

Rumah merupakan kebutuhan dasar manusia dan determinan kesehatan. Kondisi lubang asap dapur yang tidak memenuhi syarat menjadi penyebab timbul penyakit ISPA, karena asap tidak bisa keluar dan terhirup manusia. Penyakit ISPA di desa Beji menduduki peringkat pertama dari 10 besar penyakit, terbukti dari bulan Juli sampai Desember 2007 sebanyak 245 kasus. Penelitian ini dilaksanakan untuk menganalisa hubungan antara lubang asap dapur rumah dengan penderita ISPA di Desa Beji Kecamatan Pandanarum Kabupaten Banjarnegara Tahun 2008.
Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian observasional dengan pendekatan Cross Sectional. Jumlah sampel seluruhnya ada 58 sampel dari populasi yang ada. Pengumpulan data umum dan data khusus dengan cara wawancara, observasi, dan pengukuran di lapangan.
Hasil penelitian Kondisi Lubang asap dapur perumahan penduduk desa Beji rata-rata tidak memenuhi syarat sebanyak 54 rumah (93%) sedangkan memenuhi syarat 4 rumah (7%) dari 58 rumah sampel penelitian. Jumlah penderita ISPA di desa Beji sebanyak 52 orang (89,7%) dan Non ISPA 6 orang (10,3 %), terdiri dari laki-laki 25 orang (48 %) dan perempuan 27 orang (52% ). Penyakit ISPA kebanyakan terjadi pada kelompok umur 0-10 tahun. Signifikansi hubungan lubang asap dapur rumah dengan penderita ISPA tersebut digunakan uji Chi-Square. Berdasarkan hasil analisis data dengan uji statistic Chi-Square didapatkan df = 1 dan taraf kesalahan 5% (taraf kepercayaan 95%) dan nilai p = 0,049 yang menunjukkan bahwa Ho ditolak, dengan kategori hubungan sedang.
Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara lubang asap dapur rumah dengan penderita ISPA di Desa Beji kecamatan Pandanarum kabupaten Banjarnegara Tahun 2008. Untuk menanggulangi penyakit ISPA, perlu perbaikan kondisi sanitasi perumahan terutama pengadaan lubang asap dapur dibuat memenuhi syarat kesehatan yaitu ≥10% luas lantai dapur. Selain itu perlu adanya penyuluhan berkesinambungan dari puskesmas.

Daftar bacaan : 15 (1985-2007) 
Kata Kunci     : Lubang asap dapur rumah, Penderita ISPA
Klasifikasi       : -

STUDI KOMPARASI JUMLAH KUMAN PADA LANTAI SEBELUM DAN SESUDAH PEMBERIAN DESINFEKTAN DI RUANG PERAWATAN BANGSAL ANAK RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BREBES TAHUN 2008

Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Depkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah, Juni 2008


Abstrak
Tria Widiastuti
STUDI KOMPARASI JUMLAH KUMAN PADA LANTAI SEBELUM DAN SESUDAH PEMBERIAN DESINFEKTAN DI RUANG PERAWATAN BANGSAL ANAK RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BREBES TAHUN 2008
XII + 63 halaman: Tabel, gambar, lampiran

RSUD Brebes merupakan Rumah Sakit Umum milik Pemerintah Daerah Brebes yang bertugas memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. RSUD Brebes berstatus rumah sakit type C dengan kapasitas tempat tidur 115 buah dan angka BOR adalah 71,10 %. Rumah sakit selain sebagai tempat pelayanan kesehatan, dapat berperan sebagai tempat penularan penyakit, terutama ruang perawatan pasien. Sebagai tempat berkumpulnya orang sakit, ruang perawatan mempunyai kemungkinan besar untuk terjadinya infeksi nosokomial. Infeksi nosokomial dapat terjadi melalui perantara benda hidup dan benda mati.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan jumlah kuman pada lantai sebelum dan sesudah pemberian desinfektan di ruang perawatan bangsal anak Rumah Sakit Umum Daerah Brebes.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian analitik. Pengumpulan data dengan cara observasi, wawancara, pengukuran, pemeriksaan dan perhitungan jumlah kuman. Pengolahan data dengan cara editing, coding, dan tabulating. Data dalam penelitian disajikan dalaam bentuk tabel dan narasi. Analisis data yang digunakan adalah uji t test (pre-post). Berdasarkan hasil uji t test pada penelitian ini, menunjukkan terdapatnya perbedaan jumlah kuman lantai antara sebelum dan sesudah pemberian desinfektan.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah pemberian desinfektan pada saat pengepelan dapat menghambat perkembangan jumlah kuman pada lantai. Peneliti menyarankan dalam pengepelan ruang perawatan selalu menggunakan desinfektan, dan untuk menjaga agar angka kuman lantai tetap dibawah standar, dengan dilakukan pemeriksaan angka kuman secara teratur maksimal tiga bulan sekali oleh petugas.

Kepustakaan : 14 (1985 – 2004)
Kata Kunci   : Rumah Sakit, Kuman lantai, Desinfektan
Klasifikasi    :

Study of Physiologist Aspect of Housing at Beji Sub-district, Pandanarum District, Banjarnegara Regency year of 2008

Health Departement of Republic Indonesia
Health Polytechnic of Semarang
Environmental Health Faculty of Purwokerto
Diploma III Environmental Health Majoring
Scientific Research, June 2008


Abstract
Tarno
Study of Physiologist Aspect of Housing at Beji Sub-district, Pandanarum District, Banjarnegara Regency year of 2008
Xiii + 35 pages: picture, table, enclosure.

House is one of human primary need that has function as shelter or a place to live and protect from weather and other living creature, also a place the family grow. That’s why, a healthy, safe, harmonic, and well arranged is needed, so that it functions and use can be fulfilled properly.
Physiologist sanitation condition highly related to the health of human live inside. Housing sanitation research could be useful to investigating the reality of housing sanitation condition and it related factors. The research hoped to be useful in suggesting and input as the society condition.

Research about physiologist aspect included in the descriptive research, its aim is give a brief description and explaining the data in order investigating the true condition of housing sanitation.

The data collected trough: observation, measurement and interview with respondent. The analysis used is table, comparing the theory and realm.
The analysis result shows that the physiologist aspect of Beji Sub-district housing, Pandanarum District, Banjarnegara regency, which qualify the health standard (5.17%) and which didn’t qualify the health standard is (94.83%)

Counseling and mentoring from the Health Public Service officer, related department, must be held through good program arrangement, and the society participation is needed. So that optimum result could be obtained for increasing society health welfare in common and environmental housing health, especially for Beji Sub-district, Pandanarum District, Banjarnegara Regency.

Reference : 11 (1985 – 2002)
Keyword : House
Classification : -