Selasa, 02 Februari 2016

STUDI SANITASI PENGELOLAAN SUSU SEGAR DI KOPERASI PETERNAK SATRIA (PESAT) DESA TUMIYANG KECAMATAN PEKUNCEN KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2008.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Semarang 
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto 
Karya Tulis Ilmiah, Juni 2008 


Abstrak  
Mela Firdaust 
STUDI SANITASI PENGELOLAAN SUSU SEGAR DI KOPERASI PETERNAK SATRIA (PESAT) DESA TUMIYANG KECAMATAN PEKUNCEN KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2008. 
XVI+62 halaman : table, gambar, lampiran  

Susu adalah cairan yang bernilai gizi tinggi, yang diperoleh dari hasil sekresi kelenjar ambing (mamae) dari ternak yang mengandung lemak, protein, laktosa serta berbagai jenis garam dan vitamin. Di sisi lain susu merupakan bahan makanan yang sangat cocok sebagai media perkembangan kuman. Mengingat banyak sekali penyakit yang dapat ditularkan melalui susu, maka usaha sanitasi dan pengawasan kualitas mikrobiologis susu perlu dilakukan. 
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan tujuan untuk mengetahui kandungan kuman pada susu segar, proses pemerahan, proses pengangkutan, proses penyimpanan, kesehatan dan kebersihan sapi, sanitasi kandang, karakteristik pemerah, sanitasi peralatan, sanitasi kamar susu dan sanitasi sumber air.. lokasi penelitian ini adalah di Desa Tumiyang Kecamatan Pekuncen Kabupaten Banyumas. Sampel diambil pada tahap setelah pemerahan, setelah pengangkutan dan setelah penyimpanan. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan diketahui bahwa sanitasi kandang, karakteristik pemerah, kondisi peralatan, sanitasi kamar susu, sanitsai sumber air dan teknik pemerahan belum memenuhi persyaratan, sedangkan kesehatan dan kebersihan sapi, teknik penganggkutan, teknik penyimpanan dan kandungan kuman sudah memenuhi syarat. Kandungan kuman pada susu segar setelah pemerahan yaitu 9,7 x 10 koloni/ml dari susu yang diambil dari Kandang I dan angka kuman 8,8 x 10 koloni/ml dari susu yang diambil dari kandang II. Angka kuman setelah pengangkutan sebesar 1,1 x 10 koloni/ml dan angka kuman setelah penyimpanan sebesar 9,4 x 10 koloni/ml. Berdasarkan hasil tersebut menunjukkan bahwa kualitas susu segar yang 
dihasilkan Koperasi Peternak Satria memenuhi persyaratan untuk dikonsumsi. Namun, perlu diadakan peningkatan dan biaya pemeliharaan untuk sanitasi kandang, karakteristik pemerah, sanitasi peralatan, sanitasi kamar susu, sanitasi sumber air dan teknik pemerahan guna meningkatkan kualitas susu yang dihasilkan.  

Daftar bacaan : 16 (1983-2007) 
Kata Kunci     : Sanitasi susu segar 
Klasifikasi      : - 

STUDI PEMANFAATAN SAMPAH DI RT 10 RW I DESA KARANGMANGU TAHUN 2008

Departemen Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Semarang 
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto 
Karya tulis Ilmiah, Juni 2008 


Abstrak 
Fika Hariyanti  
STUDI PEMANFAATAN SAMPAH DI RT 10 RW I DESA KARANGMANGU TAHUN 2008 
xvi + 45 halaman, 9 tabel, 2 gambar, 1 lampiran  

Bahan buangan yang berasal dari aktivitas manusia dan alam yang tidak dibutuhkan lagi dikenal sebagai sampah, agar tidak menimbulkan gangguangangguan kesehatan dan untuk meningkatkan ekonomi, sampah dapat ditangani secara bijaksana dan tepat guna. Penanganan sampah sejak dari sumber merupakan salah satu alternatip pemecahannya, sampah dari sumber sampah dilakukan pemisahan jenis dan dimanfaatkan hal ini menguntungkan, selain menjadikan lingkungan bersih dan sehat,  sampah juga dapat menghasilkan uang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pemanfaatan jenis sampah di RT 10 RW I Desa Karangmangu setelah dilakukan pemisahan jenis. Metode penelitian yang digunakan adalah metode diskriptif, Pengumpulan data dilakukan dengan penimbangan berat sampah, observasi dan wawancara. Penyajian data dalam bentuk table dan narasi. Hasil penelitian yang diperoleh, berat sampah sebelum dilakukan pemisahan selama 1 minggu penelitian adalah 48.800 gram dengan rata-rata 6.971 gram/hari, berat sampah setelah dilakukan pemisahan sampah 0, karena semua sampah dapat dimanfaatkan dengan dijual, dikomposkan dan untuk makanan ikan, sisa sampah yang tidak dapat dimanfaatkan dibakar.  
Kesimpulan dari penelitian ini adalah sampah rumah tangga jika dilakukan penanganan pemisahan jenis mulai dari sumber sampah hasilnya tidak terdapat sampah yang terbuang, semua sampah dapat dimanfaatkan dengan dijual, dikomposkan, makanan ternak. Pemisahan sampah sejak dari sumber sampah terbukti efektif dalam mengurangi berat sampah  

Daftar bacaan  : 24 (1982-2008) 
Kata kunci       : Sampah  
Klasifikasi       :    -  

KAJIAN POTENSI BAHAYA KECELAKAAN KERJA PADA DIPO KERETA DAN LOKOMOTIF PT. KAI DAOP V PURWOKERTO KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2008

Departemen Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Depkes Semarang 
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto 
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2008 
   

Abstrak   
Fiestaning Dhian Puspita Rini 
KAJIAN POTENSI BAHAYA KECELAKAAN KERJA PADA DIPO KERETA DAN LOKOMOTIF PT. KAI DAOP V PURWOKERTO KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2008 XVI + 80 halaman: gambar, tabel, lampiran.  

Lingkungan kerja pada Dipo PT. KAI DAOP V Purwokerto yang kurang kondusif, sifat pekerjaan, cara kerja serta proses produksi dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan kerja. Penurunan kondisi kesehatan tenaga kerja dan tingginya kecelakaan kerja dapat menimbulkan kerugian baik secara ekonomis maupun non-ekonomis. Usia tenaga kerja, jenis pekerjaan, alat dan bahan, prosedur kerja serta lingkungan fisik dapat mempengaruhi terjadinya kecelakaan kerja.  Metode yang digunakan yaitu observasi dan wawancara dengan menggunakan kuesioner kepada tenaga kerja. Data yang diperoleh kemudian diolah dan dideskripsikan untuk menggambarkan hasil penelitian. Analisis data disajikan dalam bentuk narasi dan tabel.  Dipo Kereta dan Lokomotif menangani perawatan dan perbaikan serta pemeliharaan kereta api sejumlah 112 kereta. Dari hasil observasi lingkungan fisik tempat kerja, skor yang diperoleh pada Dipo kereta yaitu 60% dengan kriteria cukup baik dan 80% untuk Dipo Lokomotif dengan kriteria baik. Pengukuran yang dilakukan antara lain pengukuran kebisingan, pencahayaan dan kelembaban.  Usia tenaga kerja, alat dan bahan serta proses kerja tidak berpengaruh dengan jenis pekerjaan yang dilakukan. Lingkungan fisik tempat kerja memungkinkan tenaga kerja bekerja dengan baik sehingga kecelakaan kerja yang terjadi pada Dipo tersebut masih tergolong ringan. Perlu dibuat peraturan yang tegas, dan perbaikan konstruksi kantor dengan cara pemasangan alat peredam suara.  

Daftar bacaan  : 14 (1983 - 2008) 
Kata kunci       : Kecelakaan kerja 
Klasifikasi       :  

STUDI KOMPARASI KOMPOS ENCENG GONDOK BERSTIMULATOR EM DAN KOTORAN SAPI DI DESA KESUGIHAN KECAMATAN KESUGIHAN KABUPATEN CILACAP TAHUN 2008

Departemen Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Semarang Jurusan Kesehatan Lingkungan 
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan  
Karya Tulis Ilmiah, Juni 2008  

ABSTRAK  
Eko Nur Hidayat 
STUDI KOMPARASI KOMPOS ENCENG GONDOK BERSTIMULATOR EM  DAN KOTORAN SAPI DI DESA KESUGIHAN KECAMATAN KESUGIHAN KABUPATEN CILACAP TAHUN 2008 xiii + 51 halaman : gambar, tabel, lampiran  

Pembuatan kompos terkendala akan lamanya proses dekomposisi. Sekarang ini sudah banyak dijumpai bahan yang bisa mempercepat proses dekomposisi bahan organik, salah satunya EM. Selain EM, proses pengomposan dapat dipercepat dengan menambahkan Nitrogen yang terkandung dalam kotoran sapi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada perbedaan antara lamanya waktu pengomposan enceng gondok dengan stimulator EM dan stimulator kotoran sapi di Desa Kesugihan Kecamatan Kesugihan Kabupaten Cilacap tahun 2008. 
Penelitian yang dilakukan menurut prosedurnya yaitu pra eksperiment dengan pendekatan desain The Static Group Comparation. Pengumpulan data primer diperoleh dari hasil observasi dan pengukuran terhadap obyek di lokasi penelitian di lapangan dan data sekunder didapat dari hasil penelitian serta Kantor Kepala Desa Kesugihan  
Hasil penelitian menyebutkan bahwa pembuatan kompos dengan stimulator EM, suhu stabil dicapi dalam waktu 30 hari sedangkan untuk kompos berstimulator kotoran sapi, suhu stabil mendekati suhu lingkungan dicapai dalam waktu 33 hari. Analisis statistik menggunakan uji t 2n independent dengan α = 5 % dan df = 4, diperoleh t tabel sebesar – 2,78. Dari hasil perhitungan didapatkan nilai t hitung sebesar 9,02 sehingga dengan demikian t hitung > t tabel. Maka Ha diterima dan dapat diambil kesimpulan bahwa ada perbedaan lamanya waktu pengomposaan antara kompos enceng gondok berstimulator EM dan kotoran sapi. Stimulator yang paling baik untuk mempercepat proses pengomposan adalah stimulator EM. Penulis menyarankan kepada penduduk sekitar rawa untuk memanfaatkan enceng gondok untuk dijadikan kompos dan menggunakan EM sebagai bahan stimulatornya untuk mempercepat proses pengomposan. 

Daftar bacaan : 11 (1985 - 2008) 
Kata kunci      : Kompos 
Klasifikasi      :     

STUDI HACCP MI ONGKLOK UMI DI KAUMAN WONOSOBO TAHUN 2008.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Semarang 
Program Diploma III Kesehatan Lingkungan Purwokerto 
Karya Tulis ilmiah, Juli 2008 

Abstrak  
Eka Setia Wati  
STUDI HACCP MI ONGKLOK UMI DI KAUMAN WONOSOBO TAHUN 2008. 
xiv + 100halaman: gambar, tabel, lampiran   

Kasus keracunan makanan dan minuman mengalami peningkatan sepanjang tahun 2004. Akibat kasus keracunan belum dipicu adanya penanganan serius mengenai pemberlakuan standar bagi makanan dan minuman baik produksi pabrik kecil  dan industri rumah. HACCP (Hazard Analisis Critical Control Point) adalah suatu pendekatan untuk mengenal dan mengukur bahaya yang spesifik sebagai upaya pencegahan dalam pengawasan pengelolaan makanan untuk menjamin keamanan pangan. Proses pengolahan mi ongklok menjadi sangat penting diperhatikan untuk mendapatkan mi ongklok  yang aman dan bermutu tinggi. 
Penelitian merupakan jenis penelitian deskriptif dengan maksud untuk menggambarkan penerapan HACCP Mi ongklok UMI di Kauman Wonosobo. 
Hasil penelitian di mi ongklok UMI terhadap penjamah makanan belum memenuhi persyaratan penjamah makanan, alat sudah memenuhi syarat peralatan tetapi tempat belum memenuhi syarat tempat pengolahan. mengenai analisis bahaya yang mungkin terjadi di mi ongklok UMI dari fisik kontaminasi penjamah makanan seperti kuku, rambut dan kontaminasi dari luar seperti debu, kerikil, serangga, tanah. Kimia dari logam berat dan formalin sedangkan untuk mikroba pertumbuhan mikroba. Mi ongklok UMI hanya menggunakan parameter indra (sensori) atau mengandalkan penampilan dan tekstur untuk mengetahui kualitas bahan baku dan belum dilakukan pemeriksaan kandungan formalin pada bahan baku maupun mikroorganisme serta pemantauan terhadap suhu maupun pada penjamah makanan, alat dan tempat produksi. Perlu dilakukan pemeriksaan formalin dan mikroorganisme terutama pada bahan baku yang digunakan, serta perbaikan peralatan dan tempat juga pengadaan fasilitas APD (sarung tangan, celemek, penutup kepala) dan pemeriksaan kesehatan untuk penjamah makanan. Lakukan pencatatan pada setiap tahap produksi. 

Daftar bacaan : 16 (1989 - 2008) 
Kata kunci      : Studi HACCP Mi Ongklok UMI, Kauman Wonosobo Tahun 2008. 
Klarifikasi      :  

STUDI HACCP ES DAWET PAK SARMIDI DI DESA KROYA KECAMATAN KROYA KABUPATEN CILACAP

Departemen Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Depkes Semarang 
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto 
Karya Tulis ilmiah, Juni 2008 


Abstrak  
Eka Budi Setianingrum 
STUDI HACCP ES DAWET PAK SARMIDI DI DESA KROYA KECAMATAN KROYA KABUPATEN CILACAP 
xvi+ 111 halaman: gambar, tabel, lampiran   

Kasus keracunan makanan di Indonesia masih menjadi masalah yang penting, penyakit dan kematian yang ditimbulkan melalui makanan sampai saat ini masih tinggi. Akibat kasus keracunan belum dipicu adanya penanganan serius mengenai pemberlakuan standar bagi makanan dan minuman baik produksi pabrik maupun rumahan. Salah satu contoh kasus keracunan yakni keracunan es dawet, proses produksi es dawet menjadi sangat penting diperhatikan untuk mendapatkan es dawet yang aman bagi konsumen. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor bahaya, menetapkan bahaya, menentukan batas kritis, sistem pemantauan serta melakukan perbaikan-perbaikan apabila terjadi penyimpangan pada setiap proses produksi. 
Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif dengan maksud untuk menggambarkan penerapan HACCP Es Dawet Pak Sarmidi di Desa Kroya Kecamatan Kroya Kabupaten Cilacap. 
Hasil penelitian di es dawet Pak Sarmidi mengenai analisis bahaya yang mungkin terjadi di es dawet Pak Sarmidi dari fisik kontaminasi penjamah makanan seperti kuku, rambut dan kontaminasi dari luar seperti debu, kerikil, tanah. Kimia dari logam berat dan bahan tambahan makanan (BTM) sedangkan untuk mikroba pertumbuhan mikroba dan serangga sebagai pembawa kuman. Es dawet Pak Sarmidi hanya menggunakan parameter organoleptik atau mengandalkan penampilan dan tekstur untuk mengetahui kualitas bahan baku dan belum dilakukan pemeriksaan kandungan logam berat, BTM  pada bahan baku maupun mikroorganisme serta pemantaun terhadap suhu maupun pada penjamah makanan, alat dan tempat produksi.  
Berdasarkan hasil penelitian, maka penulis menyimpukan bahwa kondisi penjamah, alat, bahan baku, tempat, dan metode belum memenuhi syarat. Saran yang diberikan antara lain perlu dilakukan pemeriksaan logam berat, BTM dan mikroorganisme terutama pada bahan baku yang digunakan, serta perbaikan peralatan dan tempat juga pengadaan fasilitas APD (sarung tangan, celemek, penutup kepala) dan pemeriksaan kesehatan untuk penjamah makanan jajanan. Lakukan pencatatan pada setiap tahap produksi. 

Daftar bacaan : 25 (1983 – 2003) 
Kata kunci      : HACCP Es Dawet 
Klasifikasi      :

STUDI DAYA BUNUH EKSTRAK KULIT BIJI JAMBU METE (Anacardium occidentale Linn) TERHADAP KEMATIAN LARVA Aedes albopictus

Departemen Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Semarang 
Jurusan Kesehatan Lingkungan Puwokerto 
Karya Tulis Ilmuah, Juni 2008 


Abstrak  
Dwi Astuti 
STUDI DAYA BUNUH EKSTRAK KULIT BIJI JAMBU METE (Anacardium occidentale Linn) TERHADAP KEMATIAN LARVA Aedes albopictus DI LABORATORIUM LOKA LITBANG P2B2 CIAMIS TAHUN 2008 
xix  + 42 halaman, tabel, gambar, lampiran.  

Nyamuk Aedes albopictus merupakan vektor penularan penyakit Chikungunya. Pencegahannya dapat dilakukan dengan pengendalian vektor, baik pada nyamuk dewasa maupun larva. Cara yang banyak diteliti dan mempunyai prospek yang baik untuk dikembangkan adalah penggunaan insektisida hayati karena sifatnya mudah terurai sehingga kurang berdampak negatif terhadap lingkungan (Nunik, dkk., dalam Endah Sugesti, 1996, h. 4). Ekstrak kulit biji jambu mete (Anacardium occidentale Linn) dipilih untuk uji larvasida karena telah diketahui memiliki daya larvasida terhadap serangga, banyak tumbuh di Indonesia dan mudah diperoleh. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kematian larva, LC serta perbedaan kematian larva. Subyek penelitian ini adalah larva Aedes albopictus instar IV yang sudah cukup besar dan mudah dibedakan secara makroskopis. Larva diuji dengan konsentrasi 1,00 ppm, 0,32 ppm, 0,10 ppm, 0,03 ppm dan 0,01 ppm pada suhu udara 29 0C, kelembaban antara 67 % s/d 68 %, suhu air 27 0C dan pH 8. Data diolah dengan analisis Probit dan uji Anova. Jenis penelitiannya adalah Pra Eksperimen dengan desain The Static Group Comparison. 
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kulit biji jambu mete mempunyai efek larvasida terhadap larva Aedes albopictus dengan batas kepercayaan 95 % diperoleh LC 50 sebesar 0,405308 ppm dan LC sebesar 0,730335 ppm. Prosentase kematian larva Aedes albopictus dari ketiga replikasi pada konsentrasi 1,00 ppm = 98%, konsentrasi 0,32 ppm =44%, konsentrasi 0,10 ppm = 16%, konsentrasi 0,03 ppm = 16% dan konsentrasi 0,01 ppm = 0%. Hasil uji Anova antar perlakuan (sig.= 0,000) kurang dari nilai α (0,05), artinya ada beda yang bermakna antara berbagai konsentrasi terhadap kematian Aedes albopictus. Uji lanjut dari Anova (LSD) menunjukkan bahwa konsentrasi 1,00 ppm mempunyai beda yang bermakna dengan konsentrasi lain (konsentrasi 0,32 ppm, 0,10 ppm, 0,03 ppm dan 0,01 ppm).  

Daftar bacaan :  16 (1983 s/d 2006) 
Kata kunci      :  Daya bunuh, Konsentrasi, Kematian Larva Aedes albopictus. 
Klisifikasi       :  -