Selasa, 02 Februari 2016

PENGARUH KEBIASAAN MEROKOK TERHADAP KADAR HbCO DALAM DARAH MAHASISWA JKL PURWOKERTO

Departemen Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Depkes Semarang 
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto 
Program Studi D-III Kesehatan Lingkungan 
Karya Tulis Ilmiah, Juni 2008  


Abstrak  
Arvi Astriani Kanthi Purbandari 
PENGARUH KEBIASAAN MEROKOK TERHADAP KADAR HbCO DALAM DARAH MAHASISWA JKL PURWOKERTO TAHUN 2008. 
x + 31 Halaman + Tabel, Grafik, Lampiran.   

Udara adalah atmosfer yang ada disekeliling bumi yang fungsinya sangat penting untuk kehidupan yang ada dimuka bumi ini. Manusia tidak dapat mempertahankan hidupnya tanpa udara lebih dari tiga menit. Sedikitnya manusia mempengaruhi kualitas udara dan kesehatan manusia karena akan menghasilkan CO. Gas CO apabila terhirup kedalam paru-paru membentuk HbCO yang sangat berbahaya bagi kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kebiasaan merokok terhadap kadar HbCO dalam darah mahasiswa JKL Purwokerto tahun 2008.  Metode penelitian yang dilaksanakan menggunakan metode survai dengan pendekatan “ Cross sectional “. Data primer dan data sekunder didapatkan dengan cara wawancara dan pemeriksaan laboratorium.  
Hasil penelitian diperoleh bahwa mahasiswa JKL Purwokerto terdapat 2 kategori perokok yaitu perokok ringan menunjukkan kadar HbCO rata-rata 6.75 gr/dl dan perokok sedang menunjukkan kadar HbCO rata-rata 7.55 gr/dl.  Peneliti menyimpulkan bahwa merokok dapat meningkatkan kadar HbCO sehingga disarankan agar perokok dapat mengurangi atau berhenti dari kebiasaan merokok serta meningkatkan asupan gizi dan pola makan.   

Data bacaan : 10 ( 2000- 2007) 
Kata kunci   : rokok, bahaya merokok, pengaruh rokok terhadap kadar HbCO. 
Klasifikasi   :   

STUDI TENTANG SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH DI WILAYAH KOTA PEMALANG

Departemen Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Semarang Jurusan Kesehatan Lingkungan 
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan  
Karya Tulis Ilmiah, Juni 2008  
  
ABSTRAK   
Amri Pitayoni 
STUDI TENTANG SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH DI WILAYAH KOTA PEMALANG TAHUN 2008 
xiv + 68 halaman : gambar, tabel, lampiran  

Wilayah Kota Pemalang merupakan pusat pemerintahan Kabupaten Pemalang yang meliputi daerah Pelutan, Kebondalem,Bojongbata dan Mulyoharjo. Wilayah kota ini menghasilkan 170,5 m3 sampah perharinya. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui bagaimana sistem pengelolaan sampah yang ada. Dengan mengetahui sistem pengelolaan sampah yang ada pada setiap tahap pengelolaan sampah maka dapat diketahui apakah sistem pengelolaan sampah yang ada tersebut sudah berjalan sesuai dengan Perda yang ada (Perda Kabupaten Pemalang No 10 Tahun 1999) dan sesuai dengan syarat- syarat kesehatan.  
Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian diskriptif. Pengumpulan data diperoleh di lapangan dan dokumen dari Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Pemalang dengan cara observasi, wawancara, dan pengukuran. 
Hasil penelitian didapatkan data bahwa sistem pengelolaan sampah di wilayah Kota Pemalang sudah sesuai dengan Perda yang ada, namun Perda tersebut sudah berumur 9 tahun sehingga tidak sesuai lagi dengan situasi yang ada sekarang, akibatnya, terjadi ketimpangan pembiayaan pengelolaan sampah, selain itu masih banyak petugas kebersihan yang belum menggunakan APD sesuai ketentuan yang ada, serta banyaknya sarana dan prasarana dalam pengelolaan sampah yang tidak berjalan sesuai dengan fungsinya sehingga menyebabkan pengelolaan sampah di wilayah Kota Pemalang belum optimal. 
Peneliti menyimpulkan bahwa pengelolaan sampah di wilayah Kota Pemalang masih kurang baik dalam segi pembiayaan maupun sarana dan prasarana yang digunakan serta petugas yang belum menggunakan APD, dan menyarankan untuk mengoptimalkan sistem pengelolaan sampahnya dengan melakukan perbaikan sarana dan prasarana yang digunakan, penyediaan APD dan opimalisasi penarikan retribusi oleh petugas kepada masyarakat yang dilayani. 

Daftar bacaan : 14 (1981 - 2007) 
Kata kunci      : SAMPAH 
Klasifikasi      :  
Full text

Senin, 01 Februari 2016

PENGARUH BERBAGAI DOSIS EM 4 PADA KOTORAN SAPI TERHADAP KESUKAAN HINGGAP Musca domestica DI DESA KALIWANGI KECAMATAN PURWOJATI

 Departemen Kesehatan Republik Indonesia  
Politeknik Kesehatan Semarang  
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto 
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2006 


Abstrak 
Riena Widhy Astuty
PENGARUH BERBAGAI DOSIS EM 4 PADA KOTORAN SAPI TERHADAP KESUKAAN HINGGAP Musca domestica DI DESA KALIWANGI KECAMATAN PURWOJATI TAHUN 2006 
XIII+30:  Tabel + Halaman + Lampiran 

Salah satu upaya pembangunan kesehatan adalah pengendalian vektor lalat. Lalat merupakan vektor yang dapat menyebabkan penyakit,maka perlu upaya pengendalian dengan manipulasi lingkungan hidup, salah satunya  dengan pemberian EM 4 (Effective Microorganism 4) tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dosis EM 4 yang berpengaruh terhadap kesukaan hinggap lalat Musca domestica. 
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pra eksperimen. Pengumpulan data dengan observasi dan pengukuran. Pengolahan data menggunakan editing dan tabulating. Data dalam penelitian ini disajikan dalam bentuk tabel dan narasi. Analisis data yang digunakan adalah one way anova. 
Hasil penelitian lalat yang hinggap pada Dosis EM 4 5ml =10 ekor, dosis EM 4 10 ml  =7 ekor, dosis EM4 15 ml=6 ekor, dosis EM 4 20ml=5 ekor, dosis EM 4 25 ml= 3 ekor dalam rata-rata 5 kali replikasi. Perhitungan statistik dengan menggunakan one way anova didapatkan nilai p value 0,000<α 0,05 maka Ho ditolak sehingga ada perbedaan terhadap jumlah lalat yang hinggap pada kotoran sapi dengan berbagai dosis EM 4. 
Kesimpulan penelitian adalah ada pengaruh kesukaan hinggap lalat Musca domestica terhadap pemberian berbagai dosis EM 4 dan ada perbedaan  pemberian berbagai dosis EM 4 terhadap kesukaan hinggap lalat Musca domestica pada kotoran sapi. Saran penulis agar masyarakat menggunakan EM 4 dengan dosis 25 ml untuk mengurangi pencemaran udara dan lingkungan sekitar, bagi peneliti perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai efektifitas antara pemberian EM 4 dengan kotoran ternak sapi dan kambing . 

Daftar bacaan  :  XII (1986-2001) 
Kata kunci       : EM, kotoran sapi, kesukaan hinggap lalat 
Klasifikasi       :
full text


Studi Komparasi Protozoa dalam IPAL di RSUD PROF. DR. Margono Soekarjo Purwokerto dan Pt. indesso aroma

Departemen Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Semarang 
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto   
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2006 

Abstrak 
Dwi Erniati 
Studi Komparasi Protozoa dalam IPAL di RSUD PROF. DR. Margono Soekarjo Purwokerto dan Pt. indesso aroma baturraden tahun 2006 
xii + 72 : tabel + halaman + lampiran  

IPAL pada rumah sakit dan industri merupakan sarana penting untuk mencegah terjadinya pencemaran. Pengolahan lumpur aktif merupakan upaya efektif dan efisien untuk meningkatkan kualitas effluent. Salah satu indikator pada lumpur aktif adalah jenis protozoa dalam bak aerasi. 
Metode yang digunakan adalah observasional. Pengumpulan data dengan cara pemeriksaan, pengukuran, pengamatan dan pengambilan data sekunder. Pengolahan data menggunakan editing, coding dan tabulating. Data dalam penelitian disajikan dalam bentuk tabel dan narasi. Analisis data yang digunakan adalah Uji U-Mann Whitney. 
Hasil penelitian adalah protozoa yang ditemukan pada IPAL RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto ditemukan Opercularia coarctata, Vorticella convallaria, Euplotes affinis dan Amoeba, Rotifera dan Algae dengan demikian IPAL RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto masuk kategori pembebanan normal (Normal Loaded Plants). Protozoa yang ditemukan pada IPAL PT. Indesso Aroma Baturraden adalah Vorticella spp, Rotifera dengan demikian IPAL PT. Indesso Aroma Baturraden masuk kategori pembebanan ringan (Under Loaded Plants). Hasil Uji U Mann-Whitney pada penelitian ini, nilai signifikan yang diperoleh adalah 0,003 dengan demikian Ho ditolak yang menunjukkan terdapat perbedaan bermakna antara kandungan protozoa di IPAL RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto dan PT. Indesso Aroma Baturraden. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa IPAL RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo berada dalam pembebanan kerja normal (Normal Loaded Plants), sedangkan IPAL PT. Indesso Aroma Baturraden berada dalam pembebanan kerja ringan (Under Loaded Plants). Saran yang dapat penulis berikan antara lain memantau suhu, pH, kandungan nutrisi, toksisitas dan sinar matahari minimal satu minggu, mengetahui umur lumpur agar tidak terjadi “ Bulking Sludge”. Melakukan evaluasi terhadap kemampuan pengendapan lumpur dan efisiensi pengolahan secara rutin minimal setiap 1 bulan sekali serta memantau keadaan dan kerja blower secara berkala minimal setiap 6 bulan sekali serta mengatur lama kerja aerator. 

Daftar bacaan : 28 (1931-2006) 
Kata kunci      : IPAL, protozoa, pembebanan kerja IPAL. 
Klasifikasi      :
Full text

Senin, 25 Januari 2016

EFEKTIFITAS DESINFEKSI DALAM MENURUNKAN ANGKA KUMAN UDARA DI RUANG FLAMBOYAN RSUD Prof. Dr. MARGONO SOEKARJO

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang 
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan 
Karya Tulis Ilmiah, Juni 2014

Abstrak 
Muhammad Fathuddin Ali (Fathuddinali30@gmail.com)
EFEKTIFITAS DESINFEKSI DALAM MENURUNKAN ANGKA KUMAN UDARA DI RUANG FLAMBOYAN RSUD Prof. Dr. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO TAHUN 2014 
XV+84 halaman: gambar, tabel, lampiran

RSUD Prof. Dr. Margono Soekaro Purwokerto adalah rumah sakit daerah tipe B yang memberikan pelayanan kedokteran spesialis dan subspesialis terbatas. Ruang flamboyan adalah ruang perawatan untuk ibu setelah melahirkan, baik ibu yang terkena penyakit infeksiusmaupun non infeksius, sehingga berpotensi terjadinya infeksi nosokomial. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas desinfeksi dalam menurunkan angka kuman udara di ruang flamboyan RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto.
Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional. Jenis variable yang digunakan yaitu variable bebas (desinfeksi), variable terikat (angka kuman udara), variable control (suhu, kelembaban, intensitas cahaya, luas ventilasi dan volume ruangan).
Hasil pemeriksaan, rata  rata angka kuman udara sebelum desinfeksi adalah 63 - 123 CFU/m3, sesudah desinfeksi adalah 10  29 CFU/m. Rata  rata efektifitas desinfeksi adalah 76,4  84,1%. Rata  rata suhu adalah 29,4  30,6 C. Rata  rata kelembaban adalah 63,4  64,3 %. Rata  rata pencahayaan adalah 72 - 138 Lux. Luas ventilasi di ruang flamboyan rata  rata adalah 2,1  4,8 m2
. Volume ruang flamboyan kelas I 40,5  m3, Kelas II 36 m3, dan Kelas III 72 m3. Kesimpulan penggunaan desinfeksi efektif dalam menurunkan angka
kuman udara di ruang flamboyan. Peneliti menyarankan sebaiknya ada monitoring angka kuman udara sebagai indikator dilakukannya desinfeksi ruangan.

Kepustakaan : 14 ( 2002  2014 )
Kata kunci    : Rumah sakit, angka kuman udara, desinfeksi
Klasifikasi    :    
Fulltext

PENGARUH PENGGUNAAN BENTUK PIPA INLET BAK ANAEROBIK TERHADAP PENURUNAN KADAR BOD PADA PABRIK TAHU

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto 
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan
 Karya Tulis Ilmiah, Juli 2014 

ABSTRAK
Nur Soleh Aji Setiawan ( ajiarmando@rocketmail.com)
PENGARUH PENGGUNAAN BENTUK PIPA INLET BAK ANAEROBIK TERHADAP PENURUNAN KADAR BOD PADA PABRIK TAHU DI DESA GLONTOR, KECAMATAN KARANGGAYAM, KABUPATEN KEBUMEN TAHUN 2014. 
XIV + 57 halaman : gambar, tabel, lampiran

Industri tahu merupakan home industry yang menghasilkan limbah cair yang dapat mencemari lingkungan apa bila di buang langsung ke badan air tanpa melalui pengolahan terlebih dahulu. Di Desa Glontor Kecamatan Karanggayam Kabupaten Kebumen terdapat 12 pabrik tahu. Rata-rata limbah cair yang dihasilkan sebesar 320 liter per hari dengan konsentrasi BOD
sebesar 8.894,7 mg/lt yang dibuang langsung ke badan air. Badan air yang tercemar limbah tahu sering dimanfaatkan masyarakat sekitar untuk mandi, mencuci dan penyediaan air minum. Berdasarkan hasil survey yang peneliti lakukan, peneliti tertarik melakukan penelitian pengolahan limbah tahu dengan bak anaerobik di pabrik tahu Desa Glontor. 
Jenis penelitian ini adalah Quacy experiment dengan metode pre test and post test design, dengan maksud untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan antara pemakaian bentuk pipa inlet pada bak anaerobik terhadap penurunan kadar BOD pada limbah industri  tahu. Jenis variabel yang diteliti yaitu variabel kontrol (jenis limbah, volume bak, jenis pipa, lama tinggal, debit), variabel bebas (bentuk pipa inlet bak anaerobik) dan variabel terikat (penurunan kadar BOD limbah tahu). Parameter yang di periksa yaitu kadar BOD dengan sampel sebanyak 12 sampel yang meliputi 3 kali replikasi. Uji statistik yang digunakan yaitu uji one way anova dan uji LSD (Least significance difference).
Hasil penelitian menunjukan bentuk pipa inlet tipe satu dapat menurunkan kadar BOD dengan rata-rata efisiensi penurunan 7185,4603 mg/lt (89,21%). Bentuk pipa inlet tipe dua rata-rata efisiensi penuruan kadar BOD 7290,918 mg/lt (90,47%), dan bentuk pipa inlet tipe tiga rata-rata efisiensi penurunan kadar BOD 7333,9873 mg/lt (91,11%).

Daftar bacaan : 20 (1990-2014) 
Kata kunci      : Kadar BOD, Pabrik Tahu, Bentuk Pipa Inlet  

Selasa, 19 Januari 2016

DESKIPSI KEPADATAN DAN JANIS LALAT DI PASAR KROYA KABUPATEN CILACAP

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah, Juni 2013
 
Abstrak  
Warsini ( chinie.cute@gmail.com)
DESKIPSI KEPADATAN DAN JANIS LALAT  DI PASAR KROYA KABUPATEN  CILACAP TAHUN 2013
xviii + 87 : narasi, gambar, tabel, lampiran

Keberadaan lalat akan menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan yaitu dapat menularkan penyakit melalui beberapa bagian tubuh lalat seperti bulu badan, muntahan, dan fecesnya. Penyakit yang disebabkan lalat antara lain thipoid fever, parathypoid fever, disentri basiler, dan lain-lain. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kepadatan lalat, jenis lalat, kondisi sanitasi, dan upaya pengendaliannya di Pasar Kroya.
Metode penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Penelitian hanya mendeskripsikan tentang kondisi sanitasi, kepadatan lalat, jenis lalat, dan upaya pengendalian lalat di Pasar Kroya. Data yang diperolaeh kemudian dianalisis dalam bentuk tabel dengan membandingkan hasil pengukuran dengan standar yang ada.
Hasil kepadatan lalat di Pasar Kroya adalah 5 ekor/blok grill, termasuk dalam kepadatan sedang sehingga perlu pengamanan terhadap tempat-tempat berbiaknya lalat. Upaya pengendalian lalat di Pasar Kroya tidak ada.
Simpulan penelitian ini adalah di Pasar Kroya ditemukan adanya kepadatan lalat yang tinggi, sehingga perlu diadakan pengendalian lalat. Saran upaya pengendalian lalat yang dapat dilakukan adalah memberi penutup pada tempat sampah dan tempat sampah yang kedap air. 

Daftarbacaan      : 16 (1985-2013)
Kata kunci          :  Lalat
Klasifikasi          :
Full text