Selasa, 10 November 2015

STUDI INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH DI RSUD dr. R. GOETENG TAROENADIBRATA PURBALINGGATAHUN 2015




Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan 
Progam Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2015  

Abstrak
Tia Agustin
STUDI INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH DI RSUD dr. R. GOETENG TAROENADIBRATA PURBALINGGATAHUN 2015

Rumah Sakit Umum Daerah dr. R.  Goeteng Taroenadibrata Purbalingga merupakan rumah sakit type C yang terletak di Jl. Tentara Pelajar No. 22  berpotensi menghasilkan limbah cair yang berbahaya. Tujuan penelitian ini mengetahui besarnya efisiensi kinerja IPAL dalam mereduksi kandungan BOD, COD, TSS, Suhu, pH dan Bakteriologis limbah cair rumah sakit dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga. Metode Penelitian ini adalah Deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan cara Observasi dan wawancara. Pengolahan data secara Deskriptif dilakukan dengan analisis tabel dan prosentase untuk menggambarkan kondisi kualitas limbah cair. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukan bahwa pengolahan limbah cair rumah sakit dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga kandungan BOD5 di Efluent yaitu 25,03 mg/l, COD 102,00 mg/l, TSS 702 mg/l, pH 8,27, Suhu 27oC dan Mikrobiologi (Kuman Gol. Koli) 2400 MPN/100 ml. Seluruh sampel yang di uji ada yang belum memenuhi standar baku mutu air limbah yang sudah ditetapkan, untuk batas pencemaran parameter air limbah yang diolah karena hasil COD dan TSS yang diperiksa diatas standar baku mutu.

Daftar Bacaan : 13 (1987-2014) 

Kata Kunci      : Limbah, IPAL, COD  
Klasifikasi       :
Full Text


PENGARUH PEMAKAIAN PERASAN DAUN SELASIH (Ocimum bacillicum) SEBAGAI REPELLENT TERHADAP JUMLAH HINGGAP NYAMUK Aedes aegypti TAHUN 2015



Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Karya Tulis Ilmiah,  Juli 2015


Abstrak
Suris Trijayanti (suris_t@yahoo.co.id)
PENGARUH PEMAKAIAN PERASAN DAUN SELASIH (Ocimum bacillicum) SEBAGAI REPELLENT TERHADAP JUMLAH HINGGAP NYAMUK Aedes aegypti TAHUN 2015
xv + 57 : gambar, tabel, lampiran

Penyakit-penyakit yang ditularkan melalui vektor nyamuk di Indonesia merupakan penyakit endemis pada daerah tertentu, seperti Demam Berdarah Dengue (DBD) yang disebabkan oleh virus dengue, ditularkan dari orang sakit ke orang sehat melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti.Kasus DBD di Kabupaten Banyumas pada tahun 2012 tercatat jumlah kasus: 199 kasus dengan kematian : 4 orang. Tahun 2013 jumlah kasus : 539 kasus dengan jumlah kematian : 4 orang. Salah satu upaya untuk mencegah gigitan nyamuk yang aman bagi manusia dan lingkungan dengan menggunakan insektisida berasal dari tumbuhan. Jenis tanaman yang dapat digunakan untuk mencegah gigitan nyamuk adalah tanaman selasih, karena kandungan bahan kimia berupa linalool mampu mengendorkan dan melemaskan sistem kerja urat-urat syaraf dan otot-otot yang tegang pada tubuh nyamuk, dan kandungan geraniol mempunyai sifat volatil (menguap) pada daun selasih yang berbau menyengat menyebabkan nyamuk enggan mendekat. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui gambaran pemakaian perasan daun selasih sebagai repellent terhadap jumlah hinggap nyamuk Aedes aegypti pada konsentrasi 15%, 20%, dan 25% perasan daun selasih selama 1 jam. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah quasi eksperiment, dengan perlakuan menggunakan perasan daun selasih (Ocimum bacillicum) pada konsentrasi 15%, 20%, dan 25%, masing-masing menggunakan 20 ekor nyamuk yang dikontakan selama 1 jam dan dicatat selama 10 menit sekali untuk mengetahui jumlah hinggap nyamuk Aedes aegypti. Penelitian ini dilakukan pengulangan sebanyak 3 kali. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan uji statistik oneway anova untuk mencari perbedaan dari tiga kelompok konsentrasi perasan daun selasih yang digunakan dalam penelitian. 
Hasil penelitian perasan daun selasih (Ocimum bacillicum) menunjukkan bahwa terdapat perbedaan jumlah nyamuk yang hinggap pada berbagai konsentrasi yang digunakan dengan nilai signifikan 0,001 (p<0 ada="" berarti="" daun="" i="" pemakaian="" pengaruh="" perasan="" selasih="" style="mso-bidi-font-style: normal;" yang="">Ocimum basillicum) sebagai repellent terhadap jumlah hinggap nyamuk Aedes aegypti. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah perasan daun selasih (Ocimum bacillicum) dapat digunakan sebagai repellent nyamuk Aedes aegypti. Disarankan perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan menggunakan konsentrasi perasan daun selasih (Ocimum bacillicum) yang lebih besar, dengan konsentrasi & gt ;25% untuk mengetahui keefektifan dari perasan daun selasih (Ocimum bacillicum) sebagai zat penolak nyamuk.

Daftar bacaan
:
15 (1995-2014)
Kata Kunci
:
Repellent, Aedes aegypti, dan Ocimum bacillicum
Klasifikasi
:
-

STUDI KADAR ARSEN ( AS ) PADA IKAN DI TPI ( TEMPAT PELELANGAN IKAN ) TANJUNG INTAN CILACAP TAHUN 2015

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang 
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan 
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2015


Abstrak
Siti Rojanah  ( siti_rojanah14@yahoo.co.id )
STUDI KADAR ARSEN  ( AS )  PADA IKAN DI TPI  ( TEMPAT PELELANGAN IKAN ) TANJUNG INTAN CILACAP TAHUN 2015 
XIV + 68 halaman : gambar, tabel, lampiran

Kawasan industri Cilacap terletak pada lokasi yang dekat dengan perairan laut, sehingga pembuangan dan aktivitasnya akan sangat mempengaruhi kondisi dan kualitas perairan laut cilacap termasuk daerah yang potensial menghasilkan limbah logam berat yang dapat mencemari perairan laut.Ikan dapat mengabsorbsi metil-arsen melalui makanannya dan langsung dari air dengan melewati insang. Tujuan penelitian  mengukur kandungan Arsen  ( As)  pada ikan belanak, ikan bandeng, ikan kembung, ikan kakap, Ikan kerapu di TPI Tanjung Intan Cilacap. Metode penelitian ini adalah deskriptif. Sampel di ambil di TPI Tanjung Intan Cilacap sebanyak 5 sampel ikan dari jenis yang berbeda dibawa menuju laboratorium dengan menggunakan ice box. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Riset Universitas Jendral Soedirman. Hasil pengukuran kemudian dibandingkan dengan PeraturanBPOM No.HK.00.06.1.52.4011 Tahun 2009 tentang penetaanbatas maksimum cemaranmikroba dan kimia dalam makanan. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan kadar Arsen  ( As)  pada ikan Bandeng 0,0069 ppm, ikan Kakap 0,00831 ppm, ikan Kembung 0,01554 ppm, ikan Kerapu 0,00683 ppm, ikan Belanak 0,01237 ppm. Rata-rata hasil pemeriksaan adalah 0,00999 ppm. Menurut Peraturan BPOM nomor HK.00.06.1.52.4011 tahun 2009 tentang penetapan batas maksimum cemaran mikroba dan kimia dalam makananuntuk logam Arsen  ( As )  pada ikan adalah sebesar 1,0 ppm. Kesimpulan penelitian ini adalah dari 5 sampel ikan Bandeng, ikan Kakap, ikan Kembung, ikan Kerapu, ikan Belanak yang diperiksa dari kandungan logam Arsen  ( As )  masih memenuhi syarat  Peraturan BPOM nomor HK.00.06.1.52.4011 tahun 2009 tentang penetapan batas maksimum cemaran mikroba dan kimia dalam makanan karena kurang dari 1,0 ppm. Disarankan untuk dilakukan penelitian lebih lanjut dengan jumlah sampel yang lebih besar serta memperhatikan aspek pengambilan sampel secara homogen. Bagi nelayan untuk memperhatikan daerah tangkapan sebaiknya jauh dari daerah indusri. Bagi Dinas Kelautan dan Perikanan dapat bekerja sama dengan Dinas Kesehatan untuk melakukan pengawasan.

Daftar bacaan : 15  ( 1981 - 2014 )
Kata kunci       : Arsen, Tempat Pelelangan Ikan, Kesehatan Lingkungan
Klasifikasi        : -
Full Text

STUDI TINGKAT KEPADATAN LALAT DI PASAR KOTA BANJARNEGARA KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2014

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang 
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan 
Karya Tulis Ilmiah, Juni 2014


Abstrak  
Sigit Prayogo (sprayogo@yahoo.co.id)
STUDI TINGKAT KEPADATAN LALAT DI PASAR KOTA BANJARNEGARA KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2014 

Pasar yang sehat yang memenuhi syarat sanitasi salah satunya adalah adanya suatu pengendalian penyakit. Pasar, khususnya pasar tradisional merupakan tempat yang ideal bagi lalat sebagai salah satu vector penyaki tuntuk berkembang biak.Tingginya tingkat kepadatan lalat merupakan suatu indicator buruknya pengelolaan sampah maupun kondisisanitasi yang padat mengakibatkan penurunan kualitas lingkungan. Tujuan penelitian untuk mengetahui tingkat kepadatan lalat, faktor-faktor yang mempengaruhi dan upaya pengendaliannya. Metode yang digunakan dalampenelitian ini adalah metode deskriptif. Analisa deskriptif terhadap hasil pengukuran kepadatan lalat secara langsung maupun wawancara dengan masyarakat di lapangan dilakukan untuk mencapai tujuan penelitian. Hasil penelitian menunjukan bahwa kepadatan lalat rata-rata di Pasar Kota Banjarnegara tergolong tinggi,  yaitu 10 ekor/block grill. Masing-masing lokasi di pasar Kota Banjarnegara mempunyai kepadatan lalat rata-rata yang berbeda-beda, yaitu 4 ekor/block grill di los buah, los sayuran, dan los daging. 2 ekor/block grill di los ikan, 20 ekor/block grill di tempat pembuangan sampah(TPS), dan 3 ekor/block grill di tempat jajanan terbuka. Los yang memiliki tingkat kepadatan lalat tertinggi terdapat di TPS yaitu 20 ekor/block grill. Kesimpulan Kepadatan lalat rata-rata di pasar Kota Banjarnegara tergolong tinggi, yaitu 10 ekor/block grill masing-masing lokasi di pasar Kota Banjarnegara kepadatan lalat rata-rata yang berbeda-beda, yaitu 4 ekor/block grill di los buah, los sayuran, dan los daging; 15 ekor/block grill di los ikan, 20ekor/block grill di tempat pembuangan sampah(TPS), dan 3 ekor/block grill di los jajanan terbuka, faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kepadatan lalat di pasar Kota Banjarnegara adalah buruknya kondisi sanitasi, lokasi TPS yang tidak sesuai, kondisi fisik seperti suhu, kelembaban, pencahayaan, upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut salah satunya adalah dengan memperbaiki kondisi sanitasi di lingkungan pasar Kota Banjarnegara.

Daftar bacaan : 17 (1991-2012)
Kata kunci      : kepadatan lalat pasar
Klasifikasi      :
Full Text
  
 

Senin, 09 November 2015

STUDI KOMPARASI JUMLAH MIKROORGANISME PADA BUS AC DAN NON AC EKONOMI JURUSAN PURWOKERTO YOGYAKARTA TAHUN 2015

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang  
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2015

Abstrak
Shinta Dewi Jayanti (shintadewi.jayanti@ymail.com)
STUDI KOMPARASI JUMLAH MIKROORGANISME PADA BUS AC DAN NON AC EKONOMI JURUSAN PURWOKERTO  YOGYAKARTA TAHUN 2015 
xv + 55  : gambar, tabel, lampiran 

Bus merupakan angkutan umum yang digunakan oleh masyarakat pada umumnya. Untuk kenyamanan penumpang selama perjalanan, digunakan Air Conditioner (AC) sebagai penyejuk dan penghawaan ruangan. Salah satu media yang berperan dalam penularan dan penyebaran penyakit adalah udara. Tujuan penelitian mengetahui jumlah mikroorganisme udara pada bus AC dan non AC serta kondisi sanitasi bus. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian Observasional dengan pendekatan Cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling sebanyak 8 sampel. Sampel terdiri dari 4 sampel bus AC dan 4 sampel bus non AC.
Hasil penelitian jumlah mikroorganisme udara tertinggi pada bus AC adalah 4.790.000 CFU/m‡, sedangkan terendah adalah 2.750 CFU/m‡, Untuk bus non AC tertinggi 57.500 CFU/m‡, dan terendah 30.000 CFU/m‡. Hasil rata-rata kondisi sanitasi pada bus AC adalah 67% dan 51% pada bus non AC. Uji t-test menunjukan nilai signifikan = 0,044 < α yang artinya ada perbedaan jumlah mikroorganisme udara pada bus AC dan non AC ekonomi jurusan Purwokerto  Yogyakarta. Untuk mengurangi jumlah mikroorganisme udara sesuai dengan hasil yang diperoleh, maka perlu dilakukan pembersihan dan pencucian bus secararutin minimal setelah bus beroperasi. Pengecekan sarana yang dapat mengganggu kesehatan dan keselamatan penumpang, termasuk pengecekan AC secara berkalapada bus. 

Daftarbacaan : 17 (1982-2014)
Kata kunci     : Mikroorganisme, Bus Ekonomi
Klasifikasi     :
Full Text
 

STUDI ANGKA KUMAN PADA PERALATAN MAKAN DI RUANG RAWAT INAP RSUD DR. R. GOETENG TAROENADIBRATA PURBALINGGA TAHUN 2015

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang 
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan 
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2015



Abstrak
Sherlyta Devi Agustina  ( sherlytadevi@ymail.com )
STUDI ANGKA KUMAN PADA PERALATAN MAKAN DI RUANG RAWAT INAP RSUD DR. R. GOETENG TAROENADIBRATA PURBALINGGA TAHUN 2015 
XVI + 71 Halaman: gambar, tabel, lampiran

Pokok program pembangunan kesehatan yang tercantum dalam Indonesia sehat yaitu meningkatnya jangkauan pengawasan sediaan famasi, alat kesehatan dan makanan. Peralatan makan merupakan segala macam alat yang digunakan untuk mengolah dan menyajikan makanan. Salah satu media yang digunakan untuk tumbuh dan berkembangnya jasad renik adalah peralatan, baik peralatan untuk mengolah, menyajikan, menjual makanan maupun peralan makan. Untuk mencegah hal tersebut dilakukan pencucian alat makan. Tujuan penelitian  menghitung jumlah kuman pada peralatan makan di Ruang Rawat Inap RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga
Metode penelitian  deskriptif yaitu sampel yang diteliti adalah peralatan makan yang terdiri dari plato, gelas dan sendok yang ada di Ruang Rawat Inap. Populasi dari seluruh alat makan yaitu plato 120 buah, gelas 100 buah dan sendok 120 buah. Pengambilan sampel yaitu accidental sampling, cara mengambil sampel yang sudah ditentukan sebelumnya. Jadi sampel untuk plato 2 buah, gelas 1 buah dan sendok 2 buah.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah angka kuman pada plato ruang Lavender yaitu 231 CFU dan ruang Menur 81 CFU, untuk gelas ruang Kenanga 550 CFU dan sendok ruang Lavender 100 CFU dan ruang Menur 175 CFU. Angka kuman yang melebihi standar 100 koloni/cm
2 ( Kepmenkes RI No. 1204/MENKES/SK/X/2004 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit )  tersebut dikarenakan proses pencucian yang masih memiliki kekurangan yaitu tidak adanya desinfeksi alat makan atau penggunaan air panas, tidak ada ruangan khusus untuk pencucian dan penyimpanan alat makan. Saran kepada Rumah Sakit agar dalam proses pencucian dilakukan desinfeksi alat makan menggunakan air panas dengan suhu 80C selama 2 menit atau 100oC selama 1 menit, disediakan ruangan khusus untuk pencucian dan penyimpanan alat makan.

Daftar bacaan : 19  ( 1986-2015 )
Kata kunci      : Angka Kuman Peralatan Makan, Rumah Sakit, KesehatanLingkungan
Klasifikasi      : -
Full Text

STUDI PENGELOLAAN SAMPAH DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH AJIBARANG KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2015 XII

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan 
Progam Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan Purwokerto 
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2015 


Abstrack
Setyo Amonggoro(amonggoro.sa@gmail.com)
STUDI PENGELOLAAN SAMPAH DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH AJIBARANG KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2015 XII

Rumah Sakit sebagai sarana, pelayanan kesehatan dan tempat berkumpulnya orang sakit maupun orang sehat, serta dapat menjadi tempat penularan penyakit dan memungkinkan terjadinya pencemaran lingkungan maupun gangguan kesehatan. Dalam aktifitasnya rumah sakit akan menghasilkan limbah padat atau sampah. Secara garis besar limbah padat atau sampahRumah Sakit dibedakan menjadi dua macam, yaitu sampah non medis dan sampah medis. .RSUD Ajibarang adalah Rumah Sakit kelas C yang memiliki 185 tempat tidur inap dan memiliki BOR (Bed Occupancy Rate) di RSUD Ajibarang pada tahun 2014 sebesar 56,41%. Tujuan penelitian untuk mengetahui sistem pengelolaan sampah di RSUD Ajibarang Kabupaten Banyumas. Metode penelitian deskriptif. Data dikumpulkan dengan cara observasi, wawancara dan pengukuran.  Hasil penelitian pengelolaan sampah di RSUD Ajibarang Kabupaten Banyumas volume sampah medis rata-rata perhari adalah 736,27 liter dan untuk sampah non medis adalah 1958,125 liter per hari dan skor penilaian sampah medis yang didapatkan yaitu 89% dan sampah non medis 77% .
Kesimpulan adalah sudah dilakukannya pemisahan antara sampah medis dengan sampah non medis, namun masih tercampurnya sampah organik dengan anorganik pada sampah non medisnya. Dan masih tercampur antara sampah infeksius benda tajam dengan sampah infeksius lainnya. Pengangkutan sampah medis dan non medis dilakukan oleh petugas dengan cara manual. Sebaiknya pihak rumah sakit memperbanyak persediaan safety box supaya sampah medis tajam tidak tercampur dengan sampah medis lain. 

Dafta Bacaan : 8, (1985-2009)
Kata Kunci    : Sampah, Rumah Sakit
Klasifikasi    : -
Full Text