Selasa, 02 Februari 2016

STUDI KOMPARASI KEPADATAN LALAT PADA KANDANG AYAM SEBELUM DIBERSIHKAN DAN SESUDAH DIBERSIHKAN

Departemen Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Semarang 
Jurusan Kesehatan Lingkungan 
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan Purwokerto 
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2008 
Abstrak 
Doddy Rhomaddona 
STUDI KOMPARASI KEPADATAN LALAT PADA KANDANG AYAM SEBELUM DIBERSIHKAN DAN SESUDAH DIBERSIHKAN DI DESA KARANGSALAM KECAMATAN KEDUNG BANTENG KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2008
XII+39 halaman: gambar, tabel, lampiran  

Lalat merupakan vektor pembawa penyakit, diantaranya adalah vektor perantara penularan penyakit Typus, Colera, Dysentri, TBC, Diare, Conjungtivitas dan Myasis. Lalat menyukai tempat yang kotor, salah satunya adalah kandang. Upaya mengatasi masalah tersebut, maka perlu dilakukan upaya pengendalian vektor, yaitu lalat. Penelitian ini bertujuan menghitung kepadatan lalat pada kandang ayam sebelum dibersihkan, menghitung kepadatan lalat pada kandang ayam sesudah dibersihkan, menganalisis perbedaan kepadatan lalat pada kandang ayam sebelum dan sesudah dibersihkan. 
Metode yang digunakan adalah observasional dengan pendekatan cross sectional. Pengumpulan data dengan cara observasional, pengukuran. Pengolahan data menggunakan editing, coding, tabulating. Data dalam penelitian disajikan dalam bentuk narasi dan tabel. Analisis data yang digunakan adalah pair ”t” test. 
Hasil penelitian adalah rata-rata jumlah lalat pada kandang ayam sebelum dibersihkan adalah 9 ekor per blockgrill, rata-rata jumlah lalat pada kandang ayam setelah dibersihkan adalah 7 ekor per blockgrill, hasil pair ” t” test sebesar t = 3,107. 
Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa rata-rata jumlah kepadatan lalat pada kandang ayam sebelum dan sesudah dibersihkan adalah 2 ekor per block grill. Saran yang dapat penulis berikan adalah perlu adanya pembersihan kandang secara rutin agar dapat mengurangi jumlah populasi lalat yang dapat menyebabkan penyebaran penyakit yang disebabkan oleh lalat. 

Daftar bacaan : 12 (1982 – 2006)  
Kata kunci      : kepadatan lalat 
Klasifikasi      : -  


STUDI KEADAAN SARANA SANITASI RUMAH PENDERITA DIARE

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang 
   Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto  
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan 
      Karya Tulis Ilmiah, Juli 2011 


Abstrak  
Dian Esti Handayani 
STUDI KEADAAN SARANA SANITASI RUMAH PENDERITA DIARE DI DESA PEDURUNGAN KECAMATAN TAMAN KABUPATEN PEMALANG TAHUN 2011. 
xii+ 55 halaman : gambar, tabel, lampiran   

Penyakit Diare merupakan penyebab kesakitan dan kematian di negara berkembang. Di Indonesia penyakit diare merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat, karena tingginya angka kesakitan dan angka kematian terutama pada balita, di Jawa Tengah pada tahun 2002 ditemukan 223.841 kasus diare pada semua golongan umur dimana 43,27 % (96.866 kasus) merupakan kasus balita. Oleh karena itu perlu dilakukan pencegahan dan pengawasan lingkungan yang berpengaruh terhadap penyakit diare. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui keadaan sarana sanitasi rumah penderita diare di Desa Pedurungan Kecamatan Taman Kabupaten Pemalang Tahun 2011. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif yaitu menggambarkan keadaan yang sebenarnya dan membandingkan dengan teori yang ada. Cara pengumpulan data adalah wawancara, observasi lapangan, dokumentasi, dan pencatatan hasil pengukuran pada formulir yang telah disiapkan. Analisis datanya adalah menggunakan analisis tabel.   
Hasil penelitian dapat disimpulkan sarana air bersih rumah penderita diare yang menggunakan sumur gali tidak memenuhi syarat (80%). dan perpipaan tidak memenuhi syarat (0%). sarana pembuangan tinja menggunakan jamban cubluk tidak memenuhi syarat (23.3%) dan jamban leher angsa tidak memenuhi syarat (60%). sarana pembuangan air limbah tidak memenuhi syarat (73.3%). Sarana pembuangan sampah tidak memenuhi syarat (100%). kebiasaan penderita diare dalam penggunaan alat makan penderita diare yang tidak baik (0%), kebiasaan penderita diare yang tidak pernah mencuci tangan dengan sabun (73.3%), kebiasaan penderita diare tidak pernah mencuci tangan dengan sabun sesudah buang air besar (60%), kebiasaan tidak pernah memelihara sarana pembuangan tinja (6.67%), kebiasaan penderita diare tidak pernah memelihara tempat pembuangan sampah (76.7%).  Simpulan keadaan sarana sanitasi rumah penderita diare di Desa Pedurungan Kecamatan Taman Kabupaten Pemalang merupakan faktor resiko terjadinya penyakit diare. penulis menyarankan bahwa perlu adanya upaya untuk melakukan perbaikan terhadap sarana sanitasi serta lebih menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.  

Daftar bacaan : 18 (1972-2007) 
Kata Kunci     : Sarana Sanitasi Rumah 
Klasifikasi      : -   

HUBUNGAN PAPARAN DEBU DENGAN KAPASITAS PARU PEKERJA PENGGILINGAN PADI


Departemen Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Semarang 
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto 
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2008 

Abstrak 
Dewi Yuliyati 
HUBUNGAN PAPARAN DEBU DENGAN KAPASITAS PARU PEKERJA PENGGILINGAN PADI “TANI MULYA” DI DESA KALITINGGAR KIDUL KECAMATAN PADAMARA KABUPATEN PURBALINGGA TAHUN 2008. 
XV+52 halaman : tabel, gambar, lampiran. 

Debu adalah Partikel benda padat yang terjadi karena proses mekanis (pemecahan dan reduksi) terhadap masa padat, dimana masih dipengaruhi oleh gravitasi. Debu penggilingan padi akan bertaburan disekitar tempat dan jika dibiarkan akan masuk kesaluran pernafasan, Semakin lama paparan debu maka gejala fungsi paru bertambah berat. 
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui paparan debu penggilingan padi, mengetahui besar kapasitas paru pekerja penggilingan padi, dan mengetahui adakah hubungan antara paparan debu dengan kapasitas paru pekerja penggilingan padi. 
Metode yang digunakan adalah analitik dengan pendekatan cross sectional. Pengumpulan data dengan observasi, pengukuran, dan wawancara menggunakan kuesioner. Pengolahan data menggunakan editing, coding, tabulating. Data dalam penelitian disajikan dalam bentuk tabel dan narasi. Analisis data yang digunakan adalah uji regresi sederhana, digunakan untuk memperkirakan besarnya kapasitas paru pekerja penggilingan padi bila diketahui besar paparan debu industri penggilingan padi. 
Hasil penelitian adalah paparan debu pekerja terbesar 114.2 mg/m. Kapasitas paru pekerja normal untuk parameter FVC 80.50% tingkat signifikansi 0.113 lebih besar dari probalitas 0.05 dan untuk parameter FEV1 85.41% tingkat signifikansi 0.020 lebih kecil dari probalitas 0.05. 
Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa paparan debu penggilingan padi melebihi NAB 11 responden (91.7%). Tidak ada hubungan antara paparan debu dengan kapasitas vital paksa (FVC) tetapi ada hubungan antara paparan debu dengan  kapasitas ekspirasi paksa detik pertama (FEV1). Saran yang dapat penulis sampaikan yaitu untuk mengurangi debu yang masuk ke dalam saluran pernapasan dengan menggunakan alat pelindung diri seperti masker. 

Daftar bacaan : 18 (1982-2003) 
Kata kunci      : Kapasitas Paru 
Klasifikasi      : -   

STUDI PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI PADA PEKERJA

Departemen Kesehatan Republik Indonesia  
Politeknik Kesehatan Depkes Semarang 
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto 
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan Purwokerto 
Karya Tulis Ilmiah, Juni 2008 


Abstrak  
Desta Adiputra 
STUDI PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI PADA PEKERJA DI PT HOLCIM INDONESIA TBK PABRIK CILACAP TAHUN 2008. 
ix+105 halaman: gambar, tabel, lampiran  

PT Holcim Indonesia Tbk Pabrik Cilacap adalah Industri pemasok dunia. PT Holcim memiliki industri yang beroperasi di lebih dari 70 negara yang tersebar di 5 benua dan berpusat di Switzerland dengan jumlah karyawan sekitar 120.000 orang. Dengan jumlah pekerja yang banyak, pastilah ada suatu kemungkinan terjadinya suatu kecelakaan atau penyakit yang disebabkan akibat hubungan kerja. Salah satu cara untuk mencegah hal tersebut salah satunya adalah dengan Alat Pelindung Diri bagi pekerja 
Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif yaitu metode pemecahan masalah dengan menggambarkan apa adanya tentang suatu keadaan atau berdasarkan fakta yang ada. Data yang diperoleh dari pengamatan, hasilnya diolah dan disajikan dalam bentuk tabel, kemudian di analisis dengan persyaratan yang ada. Berdasarkan penilaian penggunaan Alat Pelindung Diri, ketersediaan Alat Pelindung Diri, Jenis Alat Pelindung Diri, Jumlah Alat Pelindung Diri, dan Pengawasan penggunaan APD di PT Holcim Indonesia Tbk Pabrik Cilacap sudah baik sesuai dengan Standar Internasional (ISO 9000-14000). Bagi PT Holcim Indonesia Tbk Pabrik Cilacap diharapkan mempertahankan yang sudah berjalan dengan baik, terutama mengenai Alat Pelindung Diri. Alat Pelindung Diri untuk Visitor (tamu) jumlahnya diperbanyak dan kelayakan Alat Pelindung Diri lebih diperhatikan. 

Daftar bacaan : 13 (1979 - 2008) 
Kata Kunci     : Alat Pelindung Diri 
Klasifikasi      :  

STUDI PENGELOLAAN SAMPAH

Departemen Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Semarang 
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto 
Program Studi DIII Kesehatan Lingkungan 
Karya Tulis Ilmiah, Juni 2008 


Abstrak 
Dessy Arrie Hertanto 
STUDI PENGELOLAAN SAMPAH DI RW 6 KELURAHAN DONAN KECAMATAN CILACAP TENGAH KABUPATEN CILACAP TAHUN 2008 
Xvi + 60 halaman : gambar, tabel, diagram, lampiran  

Indonesia merupakan negara yang sedang giat melakukan pembangunan segala bidang. Dalam pembangunan dibutuhkan teknologi yang memiliki dampak positif dan dampak negatif. Salah satu dampak negatif adalah orientasi masyarakat terhadap kebutuhan yang berakibat bertambahnya sikap konsumtif yang juga meningkatkan jumlah sisa pemakaian yang tidak dimanfaatkan lagi dan menjadi sampah. Masyarakat RW merupakan salah satu subyek yang potensial sebagai penghasil sampah. Beragam jenis sampah yang dihasilkan di RW 6 Kelurahan Donan, Kecamatan Cilacap Tengah, Kabupaten Cilacap yang terdiri dari sampah basah, sampah kering, sampah abu, sampah bangkai binatang dan sampah jalanan. Masyarakatnya yang heterogen tetapi mengutamakan kepentingannya sendiri – sendiri sehingga penulis masih melihat adanya sampah – sampah yang berserakan. Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah di RW 6 belum optimal sehingga masih diperlukan peningkatan upaya pengelolaan sampah di RW tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengelolaan sampah di RW 6 Kelurahan Donan, Kecamatan Cilacap Tengah, Kabupaten Cilacap tahun 2008. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif yaitu pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi dan wawancara. Pada penilitian ini dilakukan pengambilan sampel sebanyak 10 % dari populasi rumah warga RW 6 Kelurahan Donan, Kecamatan Cilacap Tengah, Kabupaten Cilacap. 
Hasil penelitian menunjukkan bahwa di RW 6 mempunyai jumlah penduduk 1.205 jiwa yang menghasilkan sampah sebanyak 3,88 m/ hari. Saat ini penanganan sampah di RW tersebut belum dilaksanakan secara optimal, dalam hal  perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan yang dari tahap penimbulan sampah sampai tahap akhir, sehingga masih diperlukan peningkatan upaya pengelolaan sampah di RW tersebut.  Saran yang diberikan adalah perlu dilakukan pembenahan pengelolaan sampah dari pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan yang meliputi dari proses tahap penimbulan sampah sampai tahap akhir.   

Daftar bacaan : 13 (1980 – 2008) 
Kata kunci      : Pengelolaan Sampah 
Klasifikasi      :
Full Text

STUDI EMISI KARBON MONOKSIDA (CO) PADA SEPEDA MOTOR 4 TAK PRODUKSI 2003-2007

Departemen Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Depkes Semarang 
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto 
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2008 

Abstrak 
Dede Mei Yuliani 
STUDI EMISI KARBON MONOKSIDA (CO) PADA SEPEDA MOTOR 4 TAK PRODUKSI 2003-2007 DI DINAS PERRHUBUNGAN KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2008. 
xv + 32 halaman : tabel, gambar, lampiran. 

Karbon Monoksida (CO) adalah suatu gas tidak berwarna, tidak berbau dan tidak mempunyai rasa yang terdapat dalam bentuk gas pada suhu diatas -192C. Pencemaran udara adalah masuknya, atau tercampurnya, unsur-unsur berbahaya ke dalam atmosfir yang dapat mengakibatkan terjadinya kerusakan lingkungan, gangguan pada kesehatan manusia serta secara umum menurunkan kualitas lingkungan. Salah satu komponen pencemar udara adalah Karbon Monoksida (CO) yang dikeluarkan dari kendaraan bermotor. Dalam penelitian ini kendaraan bermotor yang dimaksud adalah sepeda motor 4 tak. 
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan tujuan untuk mengetahui tentang emisi Karbon Monoksida (CO) yang dikeluarkan dari knalpot sepeda motor 4 tak produksi tahun 2003-2007, dan untuk mengetahui apakah emisi yang dikeluarkan telah melebihi Nilai Ambang Batas (NAB) maka hasilnya disesuaikan dengan SK Gubernur Jawa Tengah No.5 Tahun 2004 tentang Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor yaitu 3,6%. 
Berdasarkan hasil penelitian, emisi dari knalpot sepeda motor 4 tak produksi 2003-2007 kondisi masih baik, hal ini dibuktikan dengan hasil pengukuran emisi sepeda motor tahun 2003 sebesar 1,6063%, tahun 2004 sebesar 1,025%, tahun 2005 sebesar 3,2953%, tahun 2006 sebesar 0,951% dan tahun 2007 sebesar 2,253%. 
Kadar CO sepeda motor 4 tak produksi 2003-2007 masih dibawah NAB Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor sesuai SK Gubernur Jawa Tengah No. 5 Tahun 2004 yaitu 3,6%. Peneliti menyarankan perawatan berkala sepeda motor 4 tak agar gas CO tidak melebihi NAB yang ditetapkan, sehingga pencemaran udara dapat dikurangi.  

Daftar bacaan : 11 (1991-2008) 
Kata kunci      : Karbon Monoksida (CO), sepeda motor 4 tak 
Klasifikasi      : - 

STUDI TENTANG PENCAHAYAAN RUANG PRODUKSI YAINA DONAT

Departemen Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Semarang 
Jurusan Kesehatan Lingkungan 
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan  
Karya Tulis Ilmiah, Juni 2008  

  
ABSTRAK   
Cukup Sugianto 
STUDI TENTANG PENCAHAYAAN RUANG PRODUKSI YAINA DONAT DI KELURAHAN MUNJUL KECAMATAN MAJALENGKA KABUPATEN MAJALENGKA TAHUN 2008 
xiii + 30 halaman : gambar, tabel, lampiran  

Yaina Donat yang beralamat di Kelurahan Munjul RT 01/RW 01  Kecamatan Majalengka Kabupaten Majalengka. Industri rumah tangga  yang dikelola oleh swasta, dalam setiap harinya melibatkan 10 karyawan di bagi dalam dua ruangan yaitu Ruang produksi A dan ruang produksi B. Masing-masing Ruang produksi tersebut sudah dilakukan pengukuran intensitas cahaya oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Majalengka pada tahun 2005 dengan hasil pengukuran untuk ruang produksi A intensitas cahaya adalah 9,2 lux dan untuk ruang produksi B intensitas cahaya  adalah 40,6 lux. Menurut Peraturan  Menteri Perburuhan No. 7 Tahun 1964 pasal 14 ayat 5 yang menyebutkan bahwa intensitas cahaya ruang produksi minimal 100 lux, sehingga Ruang produksi belum memenuhi syarat kesehatan lingkungan tempat kerja.  
Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian diskriptif. Pengumpulan data diperoleh di loakasi penelitian dengan cara observasi, wawancara, dan pengukuran yang kemudian dilakukan pengolahan data. Hasil pengukuran intensitas pencahayaan di ruang produksi Yaina Donat untuk pencahayaan alami 54,27 lux dan gangguan yang dialami oleh pekerja adalah mata menjadi cepat lelah, mengalami sakit kepala dan penurunan konsentrasi. 
Peneliti menyimpulkan bahwa intensitas pencahayaan alami pada ruang produksi Yaina Donat belum memenuhi standar yang berlaku. Saran yang bisa dilakukan dengan cara memperbaiki posisi tempat kerja yang membutuhkan pencahayaan lebih, mengecat ulang bagian dinding-dinding ruang produksi dan menerapkan jam istirahat yang sesuai dengan kebutuhan pekerja.  
  
Daftar bacaan  : 11 (1964 - 2008) 
Kata kunci       : Pencahayaan dan ruang produksi 
Klasifikasi       :