Selasa, 31 Oktober 2017

DESKRIPSI PENGGUNAAN ZAT PEWARNA SINTETIS RHODAMIN B PADA MAKANAN JAJANAN JELLY YANG DIJUAL DI SEKOLAH DASAR NEGERI DI KECAMATAN TAMAN KABUPATEN PEMALANG TAHUN 2017

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2017
Abstrak
Stella Evangelista Liwe (stella.liwe12@gmail.com)
DESKRIPSI PENGGUNAAN ZAT PEWARNA SINTETIS RHODAMIN B PADA MAKANAN JAJANAN JELLY YANG DIJUAL DI SEKOLAH DASAR NEGERI DI KECAMATAN TAMAN KABUPATEN PEMALANG TAHUN 2017
XIII+68 halaman: gambar,tabel,lampiran

Makanan yang memenuhi standar kesehatan, yakni makanan yang bebas dari zat-zat berbahaya seperti pewarna sintetis, pengawetan, serta pemanis buatan yang dilarang. Jelly merupakan salah satu jajanan yang digemari anak-anak karena bentuk dan warna yang menarik. Hal ini sering dimanfaatkan pedagang untuk mengejar keuntungan dengan menggunakan zat pewarna sintetis agar warna makanan terlihat lebih menarik. Tujuan penelitian memeriksa ada tidaknya zat pewarna sintetis rhodamin B, mendeskripsikan faktor-faktor yang mempengaruhi para penjual bebas menjual jelly yang mengandung rhodamin B dan memeriksa kualitas jelly secara organoleptik. Metode penelitian deskriptif yaitu dengan melakukan observasi, wawancara, pemeriksaan rhodamin B pada jelly dan pemeriksaan kualitas jelly secara organoleptik. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 15 sampel jelly.   
Hasil penelitian didapat, 3 dari 15 sampel yang diperiksa positif rhodamin B. Pengetahuan Mrs C,D,E dalam kategori sangat baik (80%). Mrs J,K,M,N,O dalam kategori baik (57,1% dan 71,4%) dan Mrs A,B,F,G,H,I,L dalam kategori cukup (42,8%). Perilaku Mrs A,C,D,E,M,N,O dalam kategori sangat baik (83,3%). Mrs F,G,I,K,L dalam kategori baik (66,6%), Mrs H,B dalam kategori cukup (50%) dan Mrs J dalam kategori kurang (33,3%). Ketersediaan zat pewarna sintetis Mrs A,B,C,D,H,J dalam kategori mudah dan Mrs E,F,G,I,K,L,M,N,Odalam kategori tidak mudah. Mrs A yang mendapatkan penyuluhan sangat baik sisanya dalam kategori baik. Mrs A yang mendapatkan pengawasan sangat baik sisanya dalam kategori baik.Dari 15 sampel ada 4 jelly yang berwarna merah mencolok. Kesimpulan penelitian adalah terdapat 3 sampel jelly positif rhodamin B dari 15 sampel yang diperiksa di Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan Taman Kabupaten Pemalang. Disarankan agar masyarakat lebih meningkatkan pengawasan terhadap anak, untuk pedagang yang belum memiliki surat perijinan dagang sebaiknya mengurus surat perijinan dagang, untuk petugas kesehatan disarankan agar meningkatkan penyuluhan dan pengawasan dan untuk pihak sekolah sebaiknya memberikan pengertian kepada siswanya agar lebih berhati-hati dalam membeli makanan serta memberi peraturan untuk berdagang di lingkungan sekolah harus memiliki ijin dari Dinas Kesehatan.

Daftar bacaan : 33 (1984-2016)
Kata kunci      : Rhodamin B, Makanan Jelly, Sekolah Dasar, Kesehatan Lingkungan
Klasifikasi      : -
Fulltext

Senin, 30 Oktober 2017

STUDI HYGIENE SANITASI PENGELOLAAN MAKANAN DAN MINUMAN DI RSUD BANYUMAS KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2017


Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2017
Abstrak
Astri Priyani (priyani.astri@gmail.com)
STUDI HYGIENE SANITASI PENGELOLAAN MAKANAN DAN MINUMAN DI RSUD BANYUMAS KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2017
xv + 118 halaman : tabel, gambar, lampiran.

Pengelolaan makanan di rumah sakit, sebagai bagian dari sistem pelayanan kesehatan di rumah sakit yang endukung upaya penyembuhan dan pemulihan penyakit melalui penyelenggaraan makanan yang higienis dan sehat. Kualitas makanan harus terjamin terutama bagi pasien karena rentan terhadap berbagai penyakit termasuk penyakit-penyakit yang ditularkan melalui makanan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui skor sanitasi penerapan enam prinsip hygiene sanitasi pengelolaan makanan dan minuman di  instalasi  gizi RSUD Banyumas tahun 2017. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif. Pengumpulan data dengan data primer yang meliputi observasi, wawancara, dan pemeriksaan kualitas mikrobiologi makanan & minuman dan pemeriksaan kualitas mikrobiologi pada alat makan & alat masak yang dilakukan di Laboratorium Kesehatan Masyarakat, serta data sekunder Instalasi Gizi Rumah Sakit Umum Daerah Banyumas. Hasil penelitian menunjukan penilaian sanitasi pada proses pengadaan bahan makanan, penyimpanan makanan dan penyajian makanan memenuhi syarat karena diperoleh skor 100%. Penyimpanan bahan makanan, pengolahan makanan dan pengangkutan makanan dan tidak memenuhi syarat karena diperoleh skor Hygiene Sanitasi Pengelolaan Makanan dan Minuman Di Rumah Sakit Umum Daerah Banyumas tidak memenuhi syarat, permasalahan hygiene sanitasi dapat diatasi dengan menambah ventilasi disertai kasa pada ruang pengolahan, menyediakan tempat sampah berpenutup, serta memeriksa kesehatan penjamah secara berkala minimal 6 bulan sekali.

Daftar bacaan      :     23 (1996 – 2017)
Kata Kunci            :     Hygiene  sanitasi,    Makanan  dan  Minuman,  Kesehatan Lingkungan
Klasifikasi             :     -
Fulltext

HUBUNGAN KONSTRUKSI SUMUR GALI DENGAN KULITAS AIR SUMUR GALI DI DESA TAMBAHARJO KECAMATAN ADIMULYO KABUPATEN KEBUMEN TAHUN 2017

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi DIII Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah, Juni 2017
ABSTRAK
Yunita Setya Wardani (yunitasetya96@gmail.com)
HUBUNGAN KONSTRUKSI SUMUR GALI DENGAN KULITAS AIR SUMUR GALI DI DESA TAMBAHARJO KECAMATAN ADIMULYO KABUPATEN KEBUMEN TAHUN 2017
XIV +92 lembar +gambar , tabel, lampiran

Sumur merupakan salah satu sarana untuk penyediaan air bersih bagi masyarakat yang memanfaatkan air tanah hasil resapan/ infiltrasi air hujan sehingga rawan terjadinya pencemaran Masyarakat Desa Tambaharjo menggunakan sumur gali sebagai sumber penyediaan air bersih untuk pemenuhan kebutuhan air bersih sehari – hari. Tujuan penelitian apakah ada hubungan antara konsturksi sumur gali dan kualitas air sumur gali di Desa Tambaharjo Kecamatan Adimulyo, Kabupaten Kebumen tahun 2017. Jenis penelitian analitik dengan metode cross sectional. Pegumpulan data dilakukan dengan observasi konstruksi sumur gali, wawancara, dan pemeriksaan parameter fisik, kimia dan mikrobiologi di Laboratorium Kesehatan Kebumen, dan Laboratorium Kesehatan Purbalingga.
Hasil penelitian  dari 22 sumur gali terdapat 59% yang konstruksi sumur galinya memenuhi syarat dan 41% konstruksi sumur galinya tidak memenuhi syarat,kualitas fisik air sumur 68% memenuhi syarat, 32% tidak memenuhi syarat, untuk kualitas mikrobiologi hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan dari 22 sampel 81% sampel tidak memenuhi syarat dan 19% memenuhi syarat, kualitas kimia detergen dari 22 sampel 100% memenuhi syarat. Konstruksi sumur yang memenuhi syarat 59% dan yang tidak memenuhi syarat 41%. Analisis statistikdilakukan dengan uji chi square diperoleh nilai p value kualitas fisik dan mikrobiologi = 0,421 , 0, 125 dan kualitas kimia diperoleh hasil 100% memenuhi syarat. Kesimpulan  tidak ada hubungan antara konstruksi sumur gali dengan kualitas fisik, kimia dan mkirobiologi air sumur gali di desa Tambaharjo Kecamatan Adimulyo Kabupaten Kebumen. Saran  perbaikan konstruksi sumur gali yang tidak memenuhi syarat, serta perlu menjaga dan merawat konstruksi sumur gali yang dalam keadaan baik, melakukan penyuluhan mengenai konstruksi sumur gali dan sanitasi lingkungan pada sarana air bersih.

Daftar bacaan : 32 (1990 – 2017)
Kata Kunci     : kualitas air, konstruksi sumur gali, Kesehatan Lingkungan
Klasifikasi      :  -
Fulltext

PENGARUH PEMAKAIAN GLASSWOOL SEBAGAI ALAT PEREDAM TERHADAP PENGURANGAN INTENSITAS SUARA MESIN GILING BUAH (BLENDER) DI LABORATORIUM KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN Jl. Dr. Soeparno Karang Wangkal Telp (0281) 641202 Kode Pos 53122, KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2017

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi DIII Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Karya Tulis Ilmiah,Juli 2017
Abstrak
Yessy Ratna Kusuma Wardani (yessyratnakw@yahoo.com)
PENGARUH PEMAKAIAN GLASSWOOL SEBAGAI ALAT PEREDAM TERHADAP PENGURANGAN INTENSITAS SUARA MESIN GILING BUAH (BLENDER) DI LABORATORIUM KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN Jl. Dr. Soeparno Karang Wangkal Telp (0281) 641202 Kode Pos 53122, KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2017
XIV + 51 halaman : gambar, tabel, lampiran

Manusia hidup perlu makanan yang bergizi untuk melangsungkan kehidupannya. Sifat makanan diantaranya adalah dalam bentuk padat dan cair. Bahan makanan dalam bentuk padat dapat dihancurkan menggunakan alat penggiling. Alat yang dimaksud adalah mesin giling blender. Jenis penelitian yang digunakan adalah Pre Eksperimen dengan Rancangan Pre and Post Group Desain.
Hasil penelitian  alat peredam glasswool dapat mereduksi intensitas suara mesin blender sebesar 2 dB (pemasangan dibagian body blender), 3 dB (pemasangan bagian body+bawah blender) dan 4 dB (pemasangan bagian body+bawah+tutup blender). Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa Pada saat blender dioperasikan seharusnya menggunakan alat peredam
untuk mengurangi intensitas suara yang dihasilkan dari mesin blender tersebut agar telinga pengguna blender tidak berdenging dan komunikasi disekitar blender tidak terganggu. Sedangkan saran yang dapat dilakukan agar lebih efektif dalam mengaplikasikan glasswool adalah Untuk mereduksi
intensitas suara pada mesin blender agar lebih efektif sebaiknya memperhatikan kerapatan dalam memasang glasswool. Semakin rapat glasswool dipasang, maka semakin berkurang juga intensitas suara mesin blender dan dalam pemotongan glasswool harus disesuaikan dengan diameter body blender, diameter tutup blender dan diameter bagian bawah blender, karena setiap blender memiliki karakteristik yang berbeda.

Daftar Bacaan : 18, ( 1989 - 2012 )
Kata Kunci     : intensitas suara blender, peredam glasswool, kesehatan lingkungan.
Klasifikasi      :  -
Fulltext

Pengaruh Cara Pengolahan terhadap Kadar Formalin pada Tahu Tahun 2017

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah, 2017
Abstrak
Wihda Feftiani Amy Huriah (Wihdafeftianii@gmail.com)
Pengaruh Cara Pengolahan terhadap Kadar Formalin pada Tahu Tahun 2017XV + 76 Halaman; tabel, gambar, lampiran

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 033 Tahun 2012 tentang Bahan Tambahan Pangan, menyatakan bahwa masyarakat perlu dilindungi dari penggunaan bahan tambahan pangan yang tidak memenuhi persyaratan kesehatan. Pemakaian formaldehida pada makanan dapat menyebabkan keracunan pada tubuh manusia, konsumsi Formalin pada dosis tinggi dapat mengakibatkan kematian. Berdasarkan permasalahan tersebut penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang masih ada atau tidaknya Formalin pada beberapa tahu yang telah diolah dalam karya tulis ilmiah yang berjudul Pengaruh Cara Pengolahan terhadap Penurunan Kadar Formalin pada Tahu Tahun 2017.  Tujuan penelitian  mengetahui apakah masih terdapat Formalin pada tahu yang telah diolah dengan cara goreng, oseng, sayur, pepes, dan bacem atau tidak. Jenis penelitian pra eksperimen dengan rancangan quasi eksperimen yaitu sebuah eksperimen yang dilaksanakan dengan cara melakukan pengukuran kadar Formalin pada tahu sebelum dan sesudah dilakukan pengolahan. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, dan pemeriksaan laboratorium. Data disajikan dalam bentuk narasi dan tabel kemudian dilakukan perhitungan dengan menggunakan uji annova.
Hasil penelitian yang diperoleh, yaitu adanya perbedaan antara sampel sebelum diolah dengan sampel setelah dilakukan perlakuan, yaitu sampel B memiliki perbedaan 3,01 ppm dengan sampel sebelum diolah, 7,45 ppm dengan sampel C, dan 7,82 ppm dengan sampel D, sampel C memiliki perbedaan 4,44 ppm dengan sampel sebelum diolah, dan 7,45 ppm dengan sampel B, sampel D
memiliki perbedaan 4,81 ppm dengan sampel sebelum diolah dan 7,82 ppm dengan sampel B.
Kesimpulan kadar tahu sebelum dilakukan perlakuan didapatkan hasil konsentrasi rata-rata yaitu 14,28 ppm. Setelah dilakukan perhitungan rata-rata didapatkan penurunan presentase kadar pada tahu goreng 3,5%, tahu bacem 31,09%, tahu sayur 33,62%, dan tahu pepes 7,33%, sedangkan untuk tahu oseng mengalami kenaikan presentase kadar sebanyak 21,10%. Berdasarkan perlakuan yang dilakukan dengan 5 cara pengolahan berbeda didapatkan hasil kesimpulan bahwa cara pengolahan yang paling banyak mengalami penurunan kadar adalah dengan cara disayur menggunkaan air dan santan dengan bumbu dapur berupa bawang putih, garam,
jahe, kunyit, ketumbar, kemiri, dan gula.

Daftar Bacaan : 32 (1987-2016)
Kata Kunci     : Formalin, Penurunan Kadar, Kesehatan Lingkungan
Klasifikasi      : -
Fulltext

STUDI KLINIK MITRA SEHAT BERWAWASAN KESEHATAN LINGKUNGAN DI DESA PANDAK KECAMATAN BATURRADEN TAHUN 2017

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2017
Abstrak
Wahyu Prianingsih (wahyuprianingsih@yahoo.com)
STUDI KLINIK MITRA SEHAT BERWAWASAN KESEHATAN LINGKUNGAN DI DESA PANDAK KECAMATAN BATURRADEN TAHUN 2017
XVI + 104 halaman: gambar, tabel, lampiran

Klinik merupakan fasilitas yang memberikan pelayanan kesehatan perorangan dan pelayanan medis dasar atau spesialistik, jika kondisi klinik tidak sesuai dengan persyaratan kesehatan lingkungan akan menyebabkan pelayanan kesehatan tidak berjalan optimal dan memungkinkan terjadinya penularan penyakit. Tujuan penelitian adalah menjadikan pelayanan kesehatan berwawasan kesehatan lingkungan. Metode penelitian analisis deskriptif dengan subyek ruang dan bangunan serta sarana sanitasi klinik. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, observasional, pengukuran dan dokumen. Analisis data yang digunakan secara deskriptif dengan menggambarkan kondisi ruang bangunan, penyehatan air bersih, pengelolaan limbah cair dan padat di klinik dari hasil penelitian.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi ruang bangunan klinik belum memenuhi syarat yaitu pertemuan lantai dan dinding tidak berbentuk konus, saluran pembuangan air limbah tidak dilengkapi dengan water seal, tinggi langit-langit pada bangunan belakang klinik hanya 2,5 m, ruang tindakan umum dan ruang observasi hanya disekat menggunakan tirai, kelembaban ruang khitan 38 % dan ruang poly umum 36 % sedangkan kebisingan di ruang poly umum masih tinggi yaitu 47,67 dBA dan di ruang tunggu 68,20 dBA, luas tempat parkir masih kurang dan tempat sampah belum semuanya memiliki tutup. Penyediaan air bersih di klinik memenuhi syarat dengan debit 0,069 liter/detik, total Coliform 0 per 100 ml sampel, pH 7,0 dan sisa Chlor 0,3 mg/l. Pengelolaan limbah cair di klinik belum memenuhi syarat. karena belum memiliki IPAL. Kesimpulan Klinik Mitra Sehat belum memenuhi syarat sebagai klinik berwawasan kesehatan lingkungan karena masih harus dilakukan perbaikan dalam bidang ruang bangunan dan pengelolaan limbah cair. Saran bagi pihak klinik yaitu memperbaiki kondisi ruang bangunan sesuai persyaratan dan membangun IPAL untuk mengolah limbah cair yang dihasilkan dari kegiatan klinik.

Daftar bacaan : 16 (1990 - 2016)
Kata kunci     :  Klinik, Kesehatan Lingkungan
Klasifikasi     :  -
Fulltext

DESKRIPSI PRAKTIK PERSONAL HIGIENE DAN KEBERADAAN BAKTERI Staphylococcus aureus PADA TANGAN PENJAMAH MAKANAN DI INSTALASI GIZI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH (RSUD) BUMIAYU KABUPATEN BREBES TAHUN 2017

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2017
Abstrak
Vita Yunita Putri Izzati (vypizzati@gmail.com)
DESKRIPSI PRAKTIK PERSONAL HIGIENE DAN KEBERADAAN BAKTERI Staphylococcus aureus PADA TANGAN PENJAMAH MAKANAN DI INSTALASI GIZI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH (RSUD) BUMIAYU KABUPATEN BREBES TAHUN 2017
xvi + 101 halaman: tabel, gambar, lampiran

Personal higiene tenaga pengolah makanan adalah suatu aktivitas dari tenaga pengolah makanan itu sendiri atau kegiatan tenaga pengolah makanan yang dapat dilihat secara langsung terhadap segala sesuatu yang menyangkut tentang kesehatan orang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan praktik personal higiene dan keberadaan bakteri Staphylococcus aureus pada tangan penjamah makanan di Instalasi Gizi Rumah Sakit Umum Daerah Bumiayu. Metode penelitian deskriptif. Populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah penjamah makanan di Instalasi Gizi Rumah Sakit Daerah Bumiayu Kabupaten Brebes yang berjumlah 5 orang. Data mengenai praktik personal higiene diperoleh dengan menggunakan kuesioner sedangkan keberadaan bakteri Staphylococcus aureus dengan pemeriksaan laboratorium. 
Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik penjamah makanan mayoritas berusia 21-40 tahun (80%), jenis kelamin perempuan (80%), tingkat pendidikan yang rendah (80%), tidak memiliki riwayat penyakit (100%), tidak mengikuti pelatihan (100%). Penjamah makanan memiliki  pengetahuan penjamah makanan (90,66%), sikap personal higiene penjamah makanan (95,11%), praktik pemilihan bahan makanan dilakukan oleh pihak ke 3, praktik penyimpanan bahan makanan (95,38%), praktik pengolahan bahan makanan (96,33%), praktik penyimpanan makanan matang (100%), praktik pengangkutan dan penyajian makanan (98,61%). Sebagian besar penjamah makanan memiliki bakteri Staphylococcus aureus. Kesimpulan dari penelitian ini adalah penjamah makanan di Instalasi Gizi Rumah Sakit Umum Daerah Bumiayu memiliki personal higiene yang baik dan bakteri Staphylococcus aureus dapat disebabkan oleh cuci tangan yang belum baik dan aktivitas penjamah sebelum menjamah makanan seperti tanpa sadar telah memegang hidung, mengucek mata dan menyentuh jerawat. Adanya hasil penelitian untuk meningkatkan personal pelayanan gizi yang lebih baik dan perlu dilakukan pelatihan untuk penjamah makanan.

Daftar bacaan : 30 (1995-2016)
Kata kunci      : Rumah Sakit, Staphylococcus aureus pada tangan penjamah makanan, Kesehatan
                          Lingkungan
Klasifikasi      : -
Fulltext

KOMPARASI PERASAAN KELELAHAN KERJA PADA SHIFT KERJA YANG BERBEDA DI DEPARTEMEN FORMING PT. ROYAL KORINDAH PURBALINGGA TAHUN 2017

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2017
Abstrak
Tita Dede Hari Fitroh Nurjanah (thafinu@gmail.com)
KOMPARASI PERASAAN KELELAHAN KERJA PADA SHIFT KERJA YANG BERBEDA DI DEPARTEMEN FORMING PT. ROYAL KORINDAH PURBALINGGA TAHUN 2017
XVI + 90 halaman : gambar, tabel, lampiran

Perasaan kelelahan kerja adalah gejala subyektif lelah pada pekerja yang mengalami kelelahan kerja, yang merupakan semua perasaan yang tidak menyenangkan. Perasaan kelelahan kerja cenderung meningkatkan terjadinya kecelakaan kerja, sehingga dapat merugikan diri sendiri maupun perusahaannya karena adanya penurunan produktivitas kerja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan perasaan kelelahan kerja pada shift kerja yang berbeda di Departemen Forming PT. Royal Korindah Purbalingga. Jenis penelitian adalah observasi analitik. Metode penelitian yang digunakan yaitu pendekatan cross sectional. Analisis menggunakan Uji Kruskall Wallis. Sampel yang diambil sebanyak 74 tenaga kerja sebagai responden. Pengambilan data dengan wawancara menggunakan kuesioner alat ukur perasaan kelelahan kerja (KAUPKK).
Hasil penelitian ini yaitu tidak ada perbedaan perasaan kelelahan kerja pada shift kerja yang berbeda di Departemen Forming PT. Royal Korindah Purbalingga. Hasil uji statistik menunjukan bahwa nilai asympt sign adalah 0.687 lebih besar dari nilai α = 0.05. Status gizi tenaga kerja terdapat 4 tenaga kerja kurus ringan, 1 tenaga kerja kurus berat, 59 tenaga kerja normal, 3 tenaga kerja gemuk ringan dan 7 tenaga kerja gemuk berat. Hasil pengukuran perasaan kelelahan kerja yaitu 18 tenaga kerja mengalami kelelahan sangat ringan. 34 tenaga kerja mengalami kelelahan ringan. 18 tenaga kerja mengalami kelelahan agak berat dan 4 tenaga kerja mengalami kelelahan kerja berat. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan perasaan kelelahan kerja pada shift kerja yang berbeda di Departemen Forming PT. Royal Korindah Purbalingga. Saran untuk pihak  perusahaan yaitu monitoring rutin terhadap lingkungan kerja dan memberikan waktu istirahat pendek setelah 4 jam melakukan aktifitas kerja.

Daftar Bacaan : 13 (2002 – 2011)
Kata kunci      : Perasaan kelelahan kerja, Shift Kerja, Kesehatan Lingkungan
Klasifikasi      :
Fulltext

PEMANFAATAN AIR BUANGAN AIR CONDITIONER (AC) SEBAGAI AIR BERSIH DI KAMPUS 7 POLTEKKES KEMENKES SEMARANG TAHUN 2017

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Progam Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah, 10 Juli 2017
Abstrak
TISWAN (tiswan026@gmail.com)
PEMANFAATAN AIR BUANGAN AIR CONDITIONER (AC) SEBAGAI AIR BERSIH DI KAMPUS 7 POLTEKKES KEMENKES SEMARANG TAHUN 2017
XVII + 64 halaman: gambar, tabel, lampiran

Pemanasan global juga menyebabkan perubahan suhu yang cenderung naik yang diakibatkan oleh emisi CO2. Untuk mengantisipasi pemanasan global dengan pengembangan teknologi pada zaman modern ini manusia menciptakan alat pendingin ruangan yang disebut Air Conditioner (AC). Tujuan penelitian ini adalah mengetahui jumlah air buangan Air Conditioner (AC) dalam kurun waktu 30 menit dan mengetahui kualitas fisik dan mikrobiologi air buangan Air Conditioner (AC). Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif bersifat deskriptif dengan pendekatan evaluasi Ada beberapa parameter yang diukur antara lain: kualitas fisik dan mikrobiologi air buangan Air Conditioner (AC). Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, pengumpulan, dan dokumentasi. Data disajikan dalam bentuk tabel, gambar dan lampiran.  
Hasil penghitungan replikasi pengukuran debit air buangan Air Conditioner (AC) dengan spesifikasi Air Conditioner (AC) 1 PK=5,42 liter dan 2 PK=18,64 liter. Untuk pemeriksaan kualitas fisik dan mikrobiologi dari spesifikasi Air Conditioner (AC) 1 PK dan 2 PK sudah memenuhi syarat berdasarkan Permenkes RI No. 32 tahun 2017. Peneliti menyimpulkan dari hasil pemeriksaan
kualitas fisik dan mikrobiologi menurut Permenkes RI No.32 tahun 2017 sudah memenuhi syarat. Saran yang dapat diberikan adalah Sebaiknya air buangan Air Conditioner (AC) ditampung untuk digunakan sebagai air bersih untuk masyarakat yang bermukim pada daerah sulit air. Air buangan Air Conditioner (AC) dapat digunakan sebagai air bersih untuk memenuhi kebutuhan cuci dan menyiram tanaman.

Daftar Bacaan : 27 (1990-2017)
Kata Kunci     : Air Conditioner (AC), air buangan, PK, Kesehatan Lingkungan
Klasifikasi      : -
Fulltext

Deskripsi Sanitasi Sarana Pembuangan Tinja Di Desa Jebengpalmpitan Kecamatan Sukoharjo Kabupaten Wonosobo Tahun 2017

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2017
Abstrak
Syafi’ah Rifa Adina (syafiah779@gmail.com)
Deskripsi Sanitasi Sarana Pembuangan Tinja Di Desa Jebengpalmpitan Kecamatan Sukoharjo Kabupaten Wonosobo Tahun 2017
XV + 85 halaman: tabel, gambar, lampiran

Sarana pembuangan tinja merupakan bagian penting dari kesehatan lingkungan. Untuk mencegah gangguan dan penularan Faecal Borne Diseases, tinja perlu ditangani secara saniter. Berdasarkan studi pendahuluan diketahui bahwa Desa Jebengplampitan Kecamatan Sukoharjo Kabupaten Wonosobo masih rendah sanitasi sarana pembuangan tinjanya dari 228 KK (100%) diantaranya 20 KK (8,8%) memiliki jamban yang memenuhi syarat leher angsa ada septiktank sedangkan 208 KK (91,2%) memiliki jamban yang kurang memenuhi syarat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui sanitasi sarana pembuangan tinja Di Desa Jebengplampitan Kecamatan Sukoharjo Kabupaten Wonosobo Tahun 2017. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Pengambilan sampel dengan cara random sampling. Cara pengumpulan data yaitu observasi dan wawancara dengan menggunakan cheklist dan koesioner. Subyek penelitian ini adalah sarana pembuangan tinja yang dipergunakan oleh Masyarakat di Desa Jebengplampitan Kecamatan Sukoharjo Kabupaten Wonosobo.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi sanitasi sarana pembuangan tinja di Desa Jebengplampitan Kecamatan Sukoharjo KabupatenWonosobo dari 47 buah yang memenuhi syarat diantaranya 42 buah (89,4%) dan yang tidak memenuhi syarat adalah 5 buah (10,26%) dengan hasil tersebut masih ada jamban yang tidak mempunyai penampungan tinja yaitu 45 buah (95,7%) leher angsa tidak ada septiktank sedangkan 2 buah (4,3%) jamban leher angsa septiktank. Dapat disimpulkan bahwa kondisi sanitasi sarana pembuangan tinja di Desa Jebengplampitan Kecamatan Sukoharjo Kabupaten Wonosobo tidak memenuhi syarat dari 47 KK yang memiliki sarana pembuangan tinja sudah memenuhi syarat hanya 2 KK selebihnya dialirkan ke kolam ikan atau sungai. Penulis menyarankan agar kepala keluarga yang belum memiliki penampungan tinja mengadakan pembangunan penampungan tinja, puskesmas sebaiknya   engadakan penyuluhan di tiap-tiap RT dan mengadakan arisan jamban.

Daftar bacaan : 16 (1986-2016)
Kata Kunci     : Sanitasi ; Pembuangan Tinja
Klasifikasi      :
Fulltext

PENGARUH PEMBERIAN KARBOL SEBAGAI DESINFEKTAN TERHADAP JUMLAH ANGKA KUMAN PADA LANTAI RUANG PARIKESIT KELAS III RUMAH SAKIT TK III 04.06.01 WIJAYAKUSUMA PURWOKERTO TAHUN 2017

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2017
Abstrak
Stylla Vonch Endiyono (styllavonch1@gmail.com)
PENGARUH PEMBERIAN KARBOL SEBAGAI DESINFEKTAN TERHADAP JUMLAH ANGKA KUMAN PADA LANTAI RUANG PARIKESIT KELAS III RUMAH SAKIT TK III 04.06.01 WIJAYAKUSUMA PURWOKERTO TAHUN 2017
xvi + 91 Halaman : gambar, tabel, lampiran

Pasien di rumah sakit sangat rentan terhadap penyakit, sehingga kebersihan lantai rumah sakit perlu diperhatikan. Lantai rumah sakit yang kotor menjadi tempat pertumbuhan mikroorganisme patogen, maka dari itu perlu dilakukan pelaksanaan desinfeksi dengan menggunakan desinfektan. Desinfektan merupakan bahan kimia yang digunakan untuk membunuh mikroorganisme patogen. Apabila desinfektan dosisnya kurang efektif, kemungkinan mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme yang ada di lantai rumah sakit. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan jumlah angka kuman pada lantai sebelum dan sesudah pemberian desinfektan di Ruang Parikesit Kelas III Rumah Sakit TK III 04.06.01 Wijayakusuma Purwokerto. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian analitik. Pengumpulan data dengan cara observasi, wawancara, pengukuran, pemeriksaan dan perhitungan jumlah kuman. Data dalam penelitian disajikan dalam bentuk tabel dan narasi. Analisis data yang digunakan adalah uji t test (pre-post). Berdasarkan hasil uji t test pada penelitian ini, menunjukkan terdapatnya perbedaan jumlah kuman lantai antara sebelum dan sesudah pemberian desinfektan.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jumlah kuman pada lantai Ruang Parikesit Kelas III belum memenuhi standar yang disyaratkan, berdasarkan Kepmenkes RI No.1204/Menkes/SK/X/2004, yaitu 5-10 koloni/cm2 dan hasil penelitian pada Ruang Parikesit Kelas III, yaitu sebelum pemberian desinfektan memiliki rata-rata mencapai 314,8 koloni/cm2 dan sesudah pemberian desinfektan memiliki rata-rata mencapai 22,8 koloni/cm2. Kesimpulan ini adalah pemberian desinfektan pada saat pengepelan dapat menghambat perkembangan jumlah kuman pada lantai. Peneliti menyarankan dalam pengepelan ruang perawatan selalu menggunakan desinfektan, dan untuk menjaga agar angka kuman lantai tetap dibawah standar, dengan dilakukan pemeriksaan angka kuman secara teratur maksimal tiga bulan sekali oleh petugas.

Kepustakaan : 20 (1987-2015)
Kata Kunci   : Rumah Sakit, Kuman Lantai, Desinfektan, Kesehatan Lingkungan
Klasifikasi    : -
Fulltext

KUALITAS MIKROBIOLOGIS AIR MINUM ISI ULANG PADA DEPOT AIR MINUM ISI ULANG DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KEBASEN KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2017

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2017
Abstrak
Siti Nurkhikmah (sitinurkhikmah111@gmail.com)
KUALITAS MIKROBIOLOGIS AIR MINUM ISI ULANG PADA DEPOT AIR MINUM ISI ULANG DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KEBASEN KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2017
xiv + 92 halaman : gambar, tabel, lampiran.

Depot air minum merupakan usaha industri yang melakukan proses pengolahan air baku menjadi air minum dan menjual langsung kepada konsumen. Keberadaan DAMIU kini semakin meningkat sejalan dengan keperluan masyarakat terhadap air minum yang aman untuk dikonsumsi. Selain harganya yang murah air minum isi ulang juga mudah didapatkan, namun tidak semua air minum isi ulang (DAMIU) kualitasnya baik. Adanya keberadaan mikrobiologi yaitu bakteri Coliform pada air minum yang melebihi standar maksimum berdasarkan Peraturan menteri kesehatan nomer 492 tahun 2010 tentang persyaratan kualitas air minum dapat menyebabkan berbagai jenis penyakit.
Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif yaitu dimaksudkan untuk melakukan pengamatan secara langsung terhadap kondisi yang ada pada DAMIU dan melakukan pemeriksaan laboratorium.
Hasil penelitian menunjukan bahwa dari 12 DAMIU terdapat 5 DAMIU air bakunya berasal dari sumur gali, 5 DAMIU berasal dari sumur bor, 1 DAMIU berasal dari PDAM, dan 1 DAMIU berasal mata air. Berdasarkan jenis pengolahan semua DAMIU mengguakan Sinar Ultra Violet.
Kesimpulan adalah dari 12 DAMIU yang diteliti 6 DAMIU memenuhi syarat dan 6 DAMIU tidak memenuhi syarat. Hasil sanitasi DAMIU yang mendapat kategori baik ada 6 DAMIU, mendapat kategori sedang 3 DAMIU dan kategori kurang ada 3 DAMIU. Saran yang dapat diberikn yaitu sebaiknya pemilik atau pengelola DAMIU memeperbaiki saitasi DAMIU yang belum memenuhi syarat.

Daftar Bacaan :  19 (1983-2016)
Kata Kunci     :   Coliform, Air Minum Isi Ulang, Kesehatan Lingkungan
Klasifikasi      : -
Fulltext

DESKRIPSI SARANA SANITASI OBYEK WISATA SANGGALURI PARK PURBALINGGA TAHUN 2017.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2017
ABSTRAK
Siam Nur Dwi Cakhyono (siamdwicahyo@gmail.com)
DESKRIPSI SARANA SANITASI OBYEK WISATA SANGGALURI PARK PURBALINGGA TAHUN 2017.
XV+ 76 halaman : gambar, tabel, lampiran

Tempat wisata merupakan tempat kegiatan bagi umum yang mempunyai tempat, sarana dan kegiatan tetap maupun terus menerus, secara membayar ataupun tidak membayar yang diselenggarakan oleh badan pemerintah,swasta maupun perseorangan yang dipergunakan langsung oleh masyarakat. Salah satu tempat wisata yang diminati masyarakat adalah Sanggaluri Park. Sanggaluri Park memiliki potensi sebagai tempat terjadinya penularan penyakit, pencemaran lingkungan, ataupun gangguan kesehatan lainya. Kondisi lingkungan yang tidak terpelihara akan menambah besarnya risiko penyebaran penyakit serta pencemaran lingkungan sehingga perlu dilakukan upaya pencegahan dengan menerapkan sanitasi lingkungan yang baik. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kondisi sarana sanitasi wisata Sanggaluri Park Purbalingga Tahun 2017. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan verikatif yang bertujuan untuk menguji kebenaran dari suatu fenomena yang ada di alam melalui penelitian/ pengujian, yang datanya didapatkan dari hasil pengumpulan data di lapangan. Pengumpulan data dilakukan dengan wawan cara dan observasi. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah nilai persentase.
Hasil penelitian yang didapat dari observasi dan wawancara yaitu sarana sanitasi pengelolaan air limbah termasuk dalam kategori cukup dengan (60 %), sarana pengelolaan sampah padat termasuk dalam kategori cukup dengan (50%), sarana pembuangan tinja termasuk dalam kategori sangat baik dengan (93,75%), sarana penyediaan air bersih termasuk dalam kategori sangat baik dengan (90,90%), sarana pengendalian vektor termasuk dalam kategori baik dengan (75%), sarana penyediaan makanan dan minuman termasuk dalam kategori sangat baik dengan (100%). Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa sarana sanitasi di obyek wisata Sanggaluri Park Purbalingga tahun 2017 secara keseluruhan sudah dalam kategori baik dengan (70,37%). Disarankan kepada pihak pengelola obyek wisata Sanggaluri Park untuk melakukan perbaikan dan penyediaan sarana pengelolaan sampah padat dan pembuangan limbah cair.

Daftar bacaan : 31 (1998 – 2017)
Kata kunci      : Sanitasi Wisata, Kesehatan Lingkungan
Klasifikasi      : -
Fulltext

UJI RESISTENSI LARVA Aedes aegypti TERHADAP TEMEPHOS DI DESA SIDAMULIH KECAMATAN RAWALO KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2017

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2017
ABSTRAK
Rizki Alfiatun Nikmah Mubtadi (rizkianm073@gmail.com)
UJI RESISTENSI LARVA Aedes aegypti TERHADAP TEMEPHOS DI DESA SIDAMULIH KECAMATAN RAWALO KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2017
XVII + 80 halaman : gambar, tabel, lampiran

Penyakit DBD masih menjadi masalah kesehatan lingkungan yang jumlah penderitanya cenderung meningkat. Penyakit DBD disebabkan oleh virus dangue yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Maka perlu dilakukan upaya penanggulangan terhadap Aedes aegypti sebagai vektor DBD. Pengendalian yang sering digunakan adalah pengendalian kimiawi dengan menggunakan larvasida pada stadium larva. Saat ini larvasida yang paling sering digunakan untuk mengendalikan larva Aedes aegypti adalah temephos. Temephos secara terus-menerus dalam waktu yang cukup lama dapat memungkinkan timbulnya resistensi pada larva Aedes aegypti. Tujuan penelitian untuk Mengetahui status resistensi larva Aedes aegypti terhadap temephos di Desa Sidamulih, Kecamatan Rawalo Kabupaten Banyumas. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian Deskriptif. Pemasangan ovitrap dilakukan di daerah penelitian. Selanjutnya telur yang diperoleh dipelihara di ruang rearing Loka LItbang P2B2 Ciamis hingga menjadi nyamuk dewasa dan keturunan pertama yang digunakan sebagai bahan uji resistensi Larva Aedes aegypti terhadap Temephos. Dosis diagnostik temephos yang digunakan merujuk pada ketentuan WHO tahun 1981 yaitu sebesar 0,1gr/liter.
Hasil menunjukan presentase kematian larva pada kosentrasi 0,1 gr/liter adalah 100%, artinya larva Aedes aegypti Desa Sidamulih Kabupaten Banyumas masih rentan terhadap temephos. Sehingga larvasida temephos masih efektif dalam pengendalian penyakit Demam Berdarah Dengue Secara Kimia. Diperlukan adanya pemantauan penggunaan temephos, mengingat penggunaan larvasida secara terus-menerus dapat berpotensi menyebabkan adanya resistensi.

Daftar Bacaan : 42 (1996 - 2016)
Kata Kunci      :  Resistensi, Larva Aedes aegypti, Temephos, Kesehatan Lingkungan
Klasifikasi       : -
Fulltext

EKSPLORASI STATUS RESISTENSI NYAMUK Aedes aegypti TERHADAP INSEKTISIDA JENIS MALATHION 0,8% DI KABUPATEN KUDUS TAHUN 2017

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2017
ABSTRAK
Siam Nur Dwi Cakhyono (siamdwicahyo@gmail.com)
DESKRIPSI SARANA SANITASI OBYEK WISATA SANGGALURI PARK PURBALINGGA TAHUN 2017.
XV+ 76 halaman : gambar, tabel, lampiran

Tempat wisata merupakan tempat kegiatan bagi umum yang mempunyai tempat, sarana dan kegiatan tetap maupun terus menerus, secara membayar ataupun tidak membayar yang diselenggarakan oleh badan pemerintah,swasta maupun perseorangan yang dipergunakan langsung oleh masyarakat. Salah satu tempat wisata yang diminati masyarakat adalah Sanggaluri Park. Sanggaluri Park memiliki potensi sebagai tempat terjadinya penularan penyakit, pencemaran lingkungan, ataupun gangguan kesehatan lainya. Kondisi lingkungan yang tidak terpelihara akan menambah besarnya risiko penyebaran penyakit serta pencemaran lingkungan sehingga perlu dilakukan upaya pencegahan dengan menerapkan sanitasi lingkungan yang baik. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kondisi sarana sanitasi wisata Sanggaluri Park Purbalingga Tahun 2017. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan verikatif yang bertujuan untuk menguji kebenaran dari suatu fenomena yang ada di alam melalui penelitian/ pengujian, yang datanya didapatkan dari hasil pengumpulan data di lapangan. Pengumpulan data dilakukan dengan wawan cara dan observasi. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah nilai persentase.
Hasil penelitian yang didapat dari observasi dan wawancara yaitu sarana sanitasi pengelolaan air limbah termasuk dalam kategori cukup dengan (60 %), sarana pengelolaan sampah padat termasuk dalam kategori cukup dengan (50%), sarana pembuangan tinja termasuk dalam kategori sangat baik dengan (93,75%), sarana penyediaan air bersih termasuk dalam kategori sangat baik dengan (90,90%), sarana pengendalian vektor termasuk dalam kategori baik dengan (75%), sarana penyediaan makanan dan minuman termasuk dalam kategori sangat baik dengan (100%). Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa sarana sanitasi di obyek wisata Sanggaluri Park Purbalingga tahun 2017 secara keseluruhan sudah dalam kategori baik dengan (70,37%). Disarankan kepada pihak pengelola obyek wisata Sanggaluri Park untuk melakukan perbaikan dan penyediaan sarana pengelolaan sampah padat dan pembuangan limbah cair.

Daftar bacaan : 31 (1998 – 2017)
Kata kunci      : Sanitasi Wisata, Kesehatan Lingkungan
Klasifikasi      : -
Fulltext

STUDI KONDISI LINGKUNGAN DAN PERSONAL HYGIENE PADA PENDERITA DIARE DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PEMARON KECAMATAN BREBES TAHUN 2017

Departermen Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Depkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2017
Abstrak
Reni Nuraeni (reni3789@gmail.com)
STUDI KONDISI LINGKUNGAN DAN PERSONAL HYGIENE PADA PENDERITA DIARE
DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PEMARON KECAMATAN BREBES TAHUN 2017
XV+81 halaman:gambar,tabel,lampiran

Diare merupakan salah satu penyakit menular dapat di sebarkan oleh vektor pembawa bibit penyakit karena kondisi kesehatan lingkungan dan personal hygiene yang kurang baik. Dari data Dinas Kesehatan Kabupaten Berebes Kejadian diare di Kecamatan Brebes pada Tahun 2012 s/d 2016 4 Puskesmas yaitu Puskesmas Brebes, Kaligangsa, Kalimati, dan Pemaron, kasus Diare yang ditangani paling tinggi yaitu di Puskesmas Pemaron dengan jumlah penderita yang ditangani dari Tahun 2012 s/d 2016 sebesar 26.252 jumlah penderita laki-laki dan perempuan yang ditangani. Tujuan  ini adalah Mengetahui kondisi sarana air bersih, kondisi sarana tempat pembuangan tinja rumah, Kondisi penyediaan dan penempatan sarana tempat sampah, dan mengetahui kondisi perilaku hygiene penderita penyakit diare di Wilayah Kerja Puskesmas Pemaron Kecamatan Brebes Tahun 2017. Jenis penelitian deskriptif yaitu menggambarkan keadaan yang sebenarnya dan membandingkan dengan teori yang ada. Hasil penelitian yang dilakukan pada penderita diare di Wilayah Puskesmas Pemaron Kecamatan Brebes Kabupaten Brebes dapat diketahui (100%) sumur gali yang tidak memenuhi syarat, Jamban leher angsa yang tidak memenuhi syarat (44,4%) penerang tidak cukup, jamban cubluk tidak memenuhi syarat (0%) terdiri dari lubang tanah yang tidak di gali, (0%) tidak dibuat rumah jamban diatasnya,sarana sanitasi tidak memenuhi syarat (65%) tidak Mempunyai tutup dan tidak mudah dibuka atau ditutup tanpa mengotori tangan, (100%) volume tidak dapat menampung sampah yang dihasilkan oleh pemakai dalam waktu tertentu (3 hari), (0%) tidak pernah menggunakan alat makan baik, (35%) tidak pernah mencuci tangan dengan sabun sebelum makan, (25%) tidak pernah mencuci tangan dengan sabun sehabis makan, (25%) tidak pernah mencuci tangan dengan sabun sesudah buang air besar. (20%) tidak pernah melakukan pembersihan dan pemotongan kuku, (65%) tidak pernah meletakkan makanan dan minuman di tempat yang tertutup (45%) tidak pernah memelihara sarana tempat pembuangan sampah, (90%) kebiasaan tidak pernah memelihara tempat sumber air bersih. Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah diare terjadi di karenakan kurang mengertinya masyarakat tentang PHBS (perilaku hidup bersih sehat) serta tingkat pendidikan yang rendah hal tersebut dapat menyebabkan angka kesakitan diare yang cukup tinggi di Wilayah Puskesmas Pemaron Kecamatan Brebes Kabupaten Brebes. Saran yang dapat diberikan adalah masyarakat harus rutin merawat sarana air bersih, sarana pembuangan tinja, sarana  pembuangan sampah, dan berperilaku hidup bersih sehat seperti cuci tangan pakai sabun antiseptic sebelum dan sesudah makan, sesudah buang air besar, rutin melakukan pembersihan dan pemotongan kuku, meletakkan makanan dan minuman di tempat yang tertutup.

Daftarbacaan : 26 (1988 – 2012)
kataKunci      : Diare
Klasifikasi     : -
Fulltext

STUDI HYGIENE SANITASI DAN PEMERIKSAAN JUMLAH ANGKA KUMAN PADA PENJUAL CIMOL DI JALAN KAMPUS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO TAHUN 2017

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2017
ABSTRAK
Reko Indra Khoirurrozaq (rekoindra26@gmail.com)
STUDI HYGIENE SANITASI DAN PEMERIKSAAN JUMLAH ANGKA KUMAN PADA PENJUAL CIMOL DI JALAN KAMPUS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO TAHUN 2017

Hygiene Sanitasi makanan seperti jumlah angka kuman adalah hal kebersihan yang sangat penting. Seperti cimol, cimol merupakan jajanan yang sangat di gemari banyak orang. Cimol yang tidak bersih dapat menyebabkan sakit perut maupun keracunan baik dari cara pengolahan, bahan makanan dan penjamah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui angka kuman dan hygiene sanitasi yang terdapat pada pedagang cimol yang di jual di jalan kampus Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui analisis laboratorium dengan metode Angka Lempeng Total ( ALT ) untuk menghitung angka kuman pada pedagang cimol yang di jual di jalan kampus Universitas Muhammadiyah Purwokerto.
Hasil penelitian menunjukan bahwa angka kuman pada 8 sampel cimol. Pada sampel A adonan dan B adonan adalah 1,7 x 102 koloni/gram dan < 1 x 101 koloni/gram ; A1 dan B1 adalah 2,4 x 101 koloni/gram dan 9,3 x 101 koloni/gram ; A2 dan B2 adalah < 1 x 101 koloni/gram dan 2,3 x 102 koloni/gram ; A3 dan B3 adalah < 1 x 101 koloni/gram dan < 1 x 101 koloni/gram. Kesimpulan penelitian menunjukan bahwa semua hasil dari pemeriksaan laboratorium menunjukan angka kuman yang berada di bawah batas maksimum cemaran mikroba dalam pangan yaitu 1 x 104 Koloni/gram. Akan tetapi dilihat dari sarana dan juga penjamah masih kurang. Disarankan kepada penjual untuk
meningkatkan pengetahuan tentang hygiene sanitasi sarana dan penjamah untuk memberikan hasil yang sehat dan bersih dari cimol yang dijual. Serta juga mengurangi potensi cemaran kuman oleh paparan udara dilingkungan sekitar.

Daftar Bacaan : 85 Halaman ( XVI + 69 Halaman )
Kata Kunci     : Hygiene, Sanitasi, Angka Kuman, Kesehatan Lingkungan
Klasifikasi      :
Fulltext

HUBUNGAN TINGKAT RESIKO PENCEMARAN SUMUR GALI DENGAN TOTAL COLIFORM DI DESA KLAPASAWIT KECAMATAN KALIMANAH KABUPATEN PURBALINGGA TAHUN 2017

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2017
Abstrak
Rega Andika Rini (rini.rega23@gmail.com)
HUBUNGAN TINGKAT RESIKO PENCEMARAN SUMUR GALI DENGAN TOTAL COLIFORM DI DESA KLAPASAWIT KECAMATAN KALIMANAH KABUPATEN PURBALINGGA TAHUN 2017
xviii + 127 halaman : gambar, tabel, lampiran

Air sangat penting bagi kehidupan manusia maka untuk dapat digunakan dan bermanfaat bagi kehidupan manusia, air harus memenuhi persyaratan baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan tingkat resiko pencemaran sumur gali dengan total coliform di Desa Klapasawit Kecamatan Kalimanah Kabupaten Purbalingga Tahun 2017. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode cluster random sampling, keseluruhan sampel yang diambil adalah 21 sampel.Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan pengukuran. Data dianalisis dengan statistik regresi yaitu menghubungkan tingkat resiko pencemaran sumur gali dengan total Coliform air sumur gali. Hasil pemeriksaan laboratorium diketahui kandungan mikrobiologis air sumur gali di Desa Klapasawit yaitu dari 21 sampel yang di periksa 20 sampel tidak memenuhi syarat kesehatan sesuai dengan ketentuan Permenkes RI .No:
416/MENKES/PER/IX/1990. Hasil analisis menunjukKan nilai sig (0,000) <α(0,05) sehingga dapat disimpulkan ada hubungan antara tingkat resiko pencemaran sumur gali dengan total Coliform air sumur gali di Desa Klapasawit, Kecamatan Kalimanah, Kabupaten Purbalingga Tahun 2017. Kesimpulan dari penelitian bahwa terdapat hubungan (R2 sebesar 62%) tingkat resiko pencemaran sumur gali dengan total coliform di Desa Klapasawit, dan total coliform air sumur gali dari 21 sumur gali terdapat 20 sumur gali yang tidak memenuhi syarat (95%).Untuk mengatasi masalah tersebut disarankan dengan cara memberikan pelatihan dan penyuluhan tentang cara pembuatan chlorie Difusser dan chlorinasi untuk menurunkan kandungan bakteri coliform pada air sumur gali, serta pemantauan sanitasi sumur gali dan pemeriksaan kualitas bakteriologis air sumur gali secara berkala.

Daftar Bacaan : 21 (1958-2014)
Kata Kunci     : Tingkat Resiko Pencemaran Sumur Gali, Total Coliform, Kesehatan Lingkungan
Klasifikasi      : -
Fulltext

EFEKTIVITAS PERASAN DAUN JERUK NIPIS (Citrus aurantifolia) TERHADAP KEMATIAN LARVA Aedes aegypti INSTAR III DI LABORATORIUM LOKA LITBANG P2B2 CIAMIS JAWA BARAT TAHUN 2017

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2017
Abstrak
Ratu Monica (ratumonica90@gmail.com)
EFEKTIVITAS PERASAN DAUN JERUK NIPIS (Citrus aurantifolia) TERHADAP KEMATIAN LARVA Aedes aegypti INSTAR III DI LABORATORIUM LOKA LITBANG P2B2 CIAMIS JAWA BARAT TAHUN 2017
XVII + 68 Halaman: Gambar, table, lampiran

Demam Berdarah Dengue adalah penyakit menular disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Salah satu pengendalian vektornya yaitu dengan membunuh larvanya. Cara yang dapat digunakan secara alami yaitu menggunakan perasan daun jeruk nipis yang mengandung bahan beracun yang disebut limonoida, maka dapat berfungsi sebagai larvasida. Tujuan penelitian ini adalah menghitung kematian larva Aedes aegypti akibat penggunaan konsentrasi perasan daun jeruk nipis,mengetahui konsentrasi yang efektif dari perasan daun Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia)yang dapat mematikan larva Aedesaegypti.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah quasi experiment (eksperimen semu). Analisis statistik yang digunakan Anova one way dengan uji lanjut LSD (Least Significant Difference) dan uji Probit.
Hasil Penelitian kematian Larva Aedes aegypti konsentrasi 10% dapat membunuh larva 14,66%, pada konsentrasi 20 % dapat membunuh larva 38,66%, dan pada konsentrasi 30 % dapat membunuh larva 70,66 %.Konsentrasi perasan daun jeruk nipis yang diteliti hanya dapat membunuh larva dengan prosentase paling tinggi yaitu 70,66%. Jadi, dari berbagai konsentrasi yang diteliti tidak ada yang efektif, karena Standar Pengujian Efikasi Pestisida konsentrasi yang efektif > 90%.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah perasan daun jeruk nipis mampu membunuh larva 70,66% dengan konsentrasi 30%. Direkomendasikan dapat membunuh 50% dari sampel larva Aedes aegypti adalah konsentrasi 23.499 % dan konsentrasi larvasida perasan daun jeruk nipis (Citrus aurantifolia) yang dapat membunuh 90% dari sampel larva Aedes aegypti adalah konsentrasi 37.466 %. Ada beda yang bermakna antara berbagai konsentrasi terhadap kematian larva Aedes aegypti. Bagi peneliti selanjutnya sebaiknya menaikkan konsentrasi perasan daun jeruk nipis (Citrus aurantifolia) agar hasilnya lebih efektif.

Daftar bacaan : 26 (1987-2016)
Kata kunci      : Perasan Daun Jeruk Nipis, Larva Aedes aegypti
Klasifikasi      : -
Fulltext

HUBUNGAN KESESUAIAN SPESIFIKASI DEBIT AIR TABUNG UV-C DAN DEBIT OPERASIONAL DENGAN BAKTERI E.COLI PADA DEPOT AIR MINUM ISI ULANG DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS II BATURRADEN KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2017

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang 
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto 
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan Karya 
Tulis Ilmiah, Juli 2017 
Abstrak
Rahmindy Dyar Augustin (dyardoor838@gmail.com)
HUBUNGAN KESESUAIAN SPESIFIKASI DEBIT AIR TABUNG UV-C DAN DEBIT OPERASIONAL DENGAN BAKTERI E.COLI PADA DEPOT AIR MINUM ISI ULANG DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS II BATURRADEN KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2017 
xiv + 83 halaman : gambar, tabel, lampiran

Depot Air Minum Isi Ulang (DAM) di Wilayah Kerja Puskesmas II Baturraden ada 8 DAM. Enam DAM (75%) telah bersertifikat Laik Hygiene Sanitasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas, tetapi masih ditemukan E.coli pada air produknya. Keberadaan E.coli diduga adanya ketidaksesuaian antara spesifikasi debit air tabung UV-C dan debit operasional dengan bakteri E.coli. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian analitik dengan tujuan untuk menganalisis kesesuian spesifikasi debit air tabung UV-C dan debit operasional dengan bakteri E.coli. Uji statistik yang digunakan Korelasi point Biserial. Hasil penelitian diperoleh DAM yang tidak memenuhi syarat secara biologis dua DAM (75%) dan enam DAM (25%) memenuhi syarat. Spesifikasi debit UV-C yang digunakan oleh DAM 2-5 GPM dan debit operasional yang dipakai berkisar 0,1-4,9 GPM. Tidak ada hubungan antara spesifikasi debit UV-C dan debit operasional pada Depot Air Minum Isi Ulang di Wilayah Kerja Puskesmas II Baturraden (p= 0,191). Tujuh DAM (87,5%) DAM memiliki debit operasional sesuai dengan spesifikasi debit air UV-C. Akan tetapi, 25% DAM positif E.coli pada air produknya. Disarankan seluruh DAM menggunakan spesifikasi debit air tabung UV-C sesuai standar yaitu 5 GPM (Galon Per Menit) dan perlu penelitian lebih lanjut dengan melibatkan sampel yang lebih banyak. 

Daftar bacaan : 28 (1990-2016)
Kata kunci      : debit UV-C, DAM, E.coli, kesehatan lingkungan
Klasifikasi      : -
Fulltext

STATUS RESISTENSI VEKTOR DEMAM BERDARAH DENGUE (AEDES AEGYPTI) TERHADAP INSEKTISIDA JENIS FENITROTHION 1% DI KABUPATEN KUDUS PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN 2017

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2017
Abstrak
Rahmayanti Amini (amini.rahmayanti@gmail.com)
STATUS RESISTENSI VEKTOR DEMAM BERDARAH DENGUE (AEDES AEGYPTI) TERHADAP INSEKTISIDA JENIS FENITROTHION 1% DI KABUPATEN KUDUS PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN 2017
XV + 108 halaman: gambar, tabel, lampiran

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit akut akibat infeksi virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti betina. Kasus DBD di Kabupaten Kudus tahun 2012-2016 setiap tahunnya meningkat. Pengendalian vektor nyamuk Aedes aegypti secara kimia dengan menggunakan insektisida. Insektisida yang digunakan secara terus-menerus dapat menyebabkan nyamuk menjadi resisten. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status resistensi nyamuk Aedes aegypti terhadap insektisida Fenitrothion 1% di Kabupaten Kudus Tahun 2017. Jenis penelitian ini termasuk penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui dan menggambarkan kategori resistensi nyamuk Aedes aegypti terhadap insektisida Fenitrothion 1% di Kabupaten Kudus Tahun 2017. Hasil uji resistensi menggunakan metode susceptibility test dengan impregnated paper Fenitrothion 1% yaitu kematian nyamuk uji dari Kecamatan Kaliwungu, Kecamatan Kota Kudus, dan Kecamatan Jati menunjukkan persentase kematian sebanyak 100%, sedangkan untuk Kecamatan Mejobo menunjukkan persentase kematian nyamuk uji sebesar 98,67%. Kesimpulan penelitian yaitu nyamuk Aedes aegypti di Kabupaten Kudus dinyatakan rentan/sensitif terhadap insektisida Fenitrothion 1% karena kematian nyamuk uji >98%. Disarankan Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus menggunakan insektisida Fenitrothion 1% sebagai alternatif cara pengendalian nyamuk Aedes aegypti secara kimia, melakukan pemantauan uji resistensi kembali terhadap insektisida yang digunakan dalam pemberantasan vektor DBD, dan melakukan rotasi atau pergantian jenis insektisida yang digunakan dalam pengendalian nyamuk Aedes aegypti secara kimia.

Daftar bacaan : 41 (1984-2017)
Kata Kunci     : Insektisida, Resistensi, Nyamuk Aedes aegypti, Kesehatan Lingkungan
Klasifikasi      : -
Fulltext

GAMBARAN FAKTOR LINGKUNGAN FISIK PENDERITA DBD DI KELURAHAN TELUK KECAMATAN PURWOKERTO SELATAN KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2017

Kementerian Kesehatan Republiik Indonesia
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Progam Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah 2017
Abstrak
Rahma Widiantari (Rahmawidi96@gmail.com)
GAMBARAN FAKTOR LINGKUNGAN FISIK PENDERITA DBD DI KELURAHAN TELUK KECAMATAN PURWOKERTO SELATAN KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2017
xii+ 63 halaman : gambar, tabel, halaman

Penyakit Demam Berdarah adalaah penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue, yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Berdasarkan laporan Puskesmas Purwokerto Selatan jumlah kasus DBD pada tahun 2016 tercatat 22 kasus. Tujuan penelitian ini adalah menggambarkan kondisi lingkungan fisik rumah penderita DBD antara lain pencahayaan, suhu, kelembaban, jenis tempat penampungaan air, dan kepadatan jentik (CI, HI, BI). Jumlah sampel adalah 16 orang penderita DBD di Kelurahan Teluk Kecamatan Purwokerto Selatan tahun 2017.
Hasil penelitian terhadap 16 responden bahwa responden terbanyak adalah perempuan berjumlah 11 orang (69%), berusia 11-20 tahun berjumlah 8 orang (50%) dan 11 orang pelajar (69%). Ketinggian tempat rata-rata 74 m diatas permukaan laut. Curah hujan 233 mm. pencahayaan rata-rata dalam rumah 61 Lux, bagian luar rumah 543 lux. suhu udara rata-rata bagian dalam rumah 330C, bagian luar rumah 340C. kelembaban udara bagian dalam rumah 56%, bagian luar rumah 58%. Jumlah container yang ditemukan 35 container dengan kepadatan jentik CI= 3,5%, HI= 6,25%, dan BI= 6,25%. Jenis container yang ditemukan antara lain tempayan, bak mandi, ember, kolam ikan, pot, tempat minum burung, kulkas, dispenser, dan botol bekas. Kepadatan jentik CI memenuhi batas WHO, (≤5%), H.I memenuhi batas WHO (≤10%), B.I memenuhi batas WHO (≤50%).Tetapi masyarakat juga harus rutin untuk membersihkan lingkungan rumah dan rutin membersihkan tempat penampugan air minimal seminggu sekali dan dinas kesehatan untuk tetap lebih aktif dalam menggalakkan kegiatan PSN di Kabupaten Banyumas agar kasus DBD di Kabupaten Banyumas dapat berkurang.

Daftar bacaan : 12 (2005-2016)
Kata kunci      : Lingkungan, Fisik, Rumah, DBD
Klasifikasi      : -
Fulltext

DESKRIPTIF HYGIENE SANITASI PENGELOLAAN MAKANAN DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN KELAS IIB KABUPATEN CILACAP TAHUN 2017

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2017
Abstrak
Qorina Nurul Azizah ( qorinanur96@gmail.com )
DESKRIPTIF HYGIENE SANITASI PENGELOLAAN MAKANAN DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN KELAS IIB KABUPATEN CILACAP TAHUN 2017
XV+105 halaman: tabel, gambar lampiran

Makanan merupakan suatu hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Makanan dan  minuman yang dipergunakan untuk masyarakat harus didasarkan pada standar dan atau persyaratan kesehatan. Narapidana berhak mendapatkan pelayanan kesehatan & makanan yang layak maka perlu ada upaya pencegahan penyakit yang salah satunya disebabkan oleh makanan dengan memperhatikan prinsip-prinsip hygiene sanitasi makanan di Lapas Kelas IIB Cilacap dengan enam prinsip hygiene sanitasi makanan antara lain pengamanan bahan makanan, penyimpanan bahan makanan, pengolahan makanan, pengangkutan makanan, penyimpanan makanan jadi dan penyajian makanan. Metode penelitian yang peneliti buat yaitu dengan menggunakan metode deskriptif yaitu dengan melakukan observasi dan wawancara. Sedangkan cara pengumpulan yang dilakukan dalam penelitian adalah observasi, wawancara, pemeriksaan kualitas mikrobiologi makanan.
Hasil penelitian yang diperoleh dari enam prinsip hygiene sanitasi pengelolaan makanan yaitu, pengamanan bahan makanan sebesar 94,8%, penyimpanan bahan makanan sebesar 86,66%, pengolahan makanan sebesar 75,85%, pengangkutan makanan sebesar 84%, penyimpanan makanan jadi sebesar 91,30%, serta penyajian makanan sebesar 95%. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa pengelolaan makanan di Lapas Kelas IIB Cilacap sudah memenuhi syarat, namun perlu ditingkatkan lagi untuk personal hygiene penjamah makanan untuk tidak merokok pada saat memasak, memakai APD saat memasak (celemek, masker, sepatu kedap air, dan penutup kepala). Saran yang dapat diberikan yaitu dalam pengelolaan makanan hendaknya mengacu pada aspek hygiene sanitasi makanan serta pentingnya memelihara dan memperbaiki sanitasi yang sudah
ada untuk menjadi perbaikan.

Daftar bacaan : 17 (1986-2015)
Kata Kunci     : Hygiene, Sanitasi, Makanan, Kesehatan Lingkungan
Klasifikasi      :
Fulltext

GAMBARAN KEJADIAN PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE DI KECAMATAN BUAH BATU KOTA BANDUNG TAHUN 2012 -2013

                                                                                            Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
                                                                                              Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
                                                                                             Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
                                                                                             Program Studi DIII Kesehatan Lingkungan
                                                                                                                  Karya Tulis Ilmiah, Juli 2017
Abstrak
Putri Intan Pertiwi (putrintanpertiwi@gmail.com)
GAMBARAN KEJADIAN PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE DI KECAMATAN BUAH BATU KOTA BANDUNG TAHUN 2012 -2013
XVIII + 67 halaman : gambar, tabel, lampiran

Demam Berdarah Dengue merupakan salah satu penyakit menular yang di sebabkan oleh virus dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Demam Berdarah Dengue terus meningkat seiring dengan kepadatan penduduk. Data dari Dinas Kesehatan Kota Bandung kasus Demam Berdarah Dengue di Kota Bandung paling tinggi pada Kecamatan Buah Batu dengan jumlah kasus
Tahun 2012 sebanyak 407 kasus, Tahun 2013 sebanyak 540 kasus, Tahun 2014 sebanyak 202 kasus, tahun 2015 sebanyak 270, dan tahun 2016 sebanyak 293 kasus. Tujuan dari KTI ini adalah menggambarkan kejadian penyakit Demam Berdarah Dengue berdasarkan waktu penyebaran, tempat penyebaran, penderita, dan menggambarkan cara pemberantasan penyakit Demam Berdarah
Dengue di Kecamatan Buah Batu Kota Bandung dari tahun 2012 sampai tahun 2016. Metode penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian Deskriptif yaitu dengan menggambarkan obyek penelitian berdasarkan pada variabel epidemiologi (waktu,tempat dan orang).
Hasil penelitian menunjukan bahwa kasus Demam Berdarah Dengue di Kecamatan Buah Batu tahuh 2012 sampai 2016 tertinggi pada bulan April sebanyak 230 kasus. Tempat penyebaran paling tinggi adalah Kelurahan Jatisari dengan jumlah kasus (IR:396,9), dengan jumlah penderita terbanyak adalah laki – laki sebanyak 923 kasus, berdasarkan umur penderita tertinggi adalah kelompok umur 10 – 14 tahun sebanyak 613 penderita, berdasarkan pendidikan terbanyak adalah SMP dan pekerjaan paling banyak yaitu pelajar. Cara pemberantasan yaitu foging saat ada kasus. Kesimpulan penelitian adalah kasus tertinggi pada Bulan April di Kelurahan Jatisari, penderita paling banyak laki – laki tingkat pendidikan SMP pekerjaannya sebagai pelajar. Saran yang di berikan adalah memperbaiki perilaku, lebih waspada pada musim hujan menjelang musim kemarau, melakukan 3M plus,dilakukan PSN setiap bulan untuk mrnghindarai kenaikan kasus tiap bulannya, melakukan larvasida dan foging pada saat penemuan kasus. Gunakan lotion anti nyamuk, gunakan kelambu, pasang ovitrap bila diperlukan, memelihara predator jentik. Masyarakat harus lebih waspada pada daerah daerah yang penderita DBD nya lebih banyak.

Daftar Bacaan : 28 (1996 – 2017)
Kata Kunci     : Demam Berdarah Dengue, Kesehatan Lingkungan
Klasifikasi      : -
Fulltext

PENGARUH BERBAGAI KONSENTRASI By-Vii TERHADAP KEMATIAN LARVA NYAMUK Aedes Aegypti

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah, Juni 2017
Abstrak
Putri Dwi Lestari (putridwilestari_smaba@yahoo.co.id)
PENGARUH BERBAGAI KONSENTRASI By-Vii TERHADAPKEMATIAN LARVA NYAMUK Aedes Aegypti Tahun 2017
XV + 68 halaman : gambar, tabel, lampiran

Demam berdarah dengue ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti yang menjadi vektor utama dan Aedes albopictus yang menjadi vektor pendamping. Pengendalian nyamuk yang sering dilakukan identik dengan penggunaaan insektisida. Namun penggunaan insektisida secara terus menerus akan menyebabkan resistensi terhadap spesies sasaran. Cara yang paling banyak dilakukan untuk mengurangi populasi vektor nyamuk DBD stadium larva adalah dengan bahan kimia yang membahayakan kesehatan manusia. Banyak cara yang aman untuk membunuh vektor penyakit DBD dan mencegah berkembangnya, salah satunya dengan menggunakan insektisida hayati By-Vii.By Vii adalah agen hayati yang didalamnya terdapat kandungan aktif jamur Beauveria bassiana. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis konsentrasi By-Vii yang paling efektif terhadap kematian larva Aedes aegypti. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah True Experiment dengan rancangan post test only control group design untuk menghitung kematian larva Aedes aegypti pada konsentrasi 10%, 20%, dan 30% larutan By-Vii. Konsentrasi tersebut dimasukkan kedalam larva trays dengan volume 250 ml yang masing-masing berisi 25 ekor larva Aedes aegypti dan dipaparkan selama 48 jam dengan metode setiap 24 jam diamati. Replikasi sebanyak tiga kali dan data dianalisis menggunakan analisis Kruskal Wallis. Hasil penelitian larutan By-Vii terhadap kematian larva Aedes aegypti mempunyai signifikasi 0,91 (>0,05) yang berarti tidak ada pengaruh konsentrasi By-Vii terhadap kematian larva Aedes aegypti konsentrasi 10% dengan kematian 9,3%, konsentrasi 20% dengan kematian 8%, dan konsentrasi 30% dengan kematian 13,3%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah larutan By-Vii mampu membunuh larva Aedes aegypti sebesar 13,3%. Hal tersebut menunjukkan bahwa larutan By-Vii tidak efektif digunakan sebagai larvasida. Diharapkan penelitian selanjutnya menggunakan waktu pajanan By-Vii terhadap larva lebih dari 48 jam dan menambah konsentrasinya untuk mengetahui keefektifan produk By-Vii.
Daftar bacaan : 27 (1985-2016)
Kata kunci      : larva Aedes aegypti, larutan By-Vii, kesehatan lingkungan
Klasifikasi       : -
Fulltext

Kamis, 26 Oktober 2017

STUDI ANGKA KUMAN PADA KAIN LAP TANGAN YANG DIGUNAKAN RUMAH MAKAN DI KECAMATAN KEBASEN KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2017


Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang 
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2017

ABSTRAK

Afrizal Adi Nugroho (afrizal.a.nugroho@gmail.com)
STUDI ANGKA KUMAN PADA KAIN LAP TANGAN YANG DIGUNAKAN RUMAH MAKAN DI KECAMATAN KEBASEN KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2017
XV + 98 halaman : gambar, tabel, lampiran

Kebersihan fasilitas sanitasi seperti kain lap tangan wastafel yang kurang baik berakibat keberadaan mikroorganisme pathogen pada permukaan kain lap tangan wastafel. Kain lap tangan wastafel harus dijaga kebersihannya, terutama pada kondisi fisik, pergantian, peletakan, pencucian, penyimpanan dan angka kuman kain lap tangan. Tujuan penelitian  adalah untuk mengetahui angka kuman yang terdapat pada kain lap tangan wastafel di rumah makan Kecamatan Kebasen Kabupaten Banyumas. Metode yang digunakan dalam penelitan ini adalah metode deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui analisis data dilakukan melalui analisis laboratorium dengan metode Angka Lempeng Total (ALT) untuk menghitung angka kuman pada permukaan kain lap tangan di rumah makan Kecamatan Kebasen Kabupaten Banyumas.
Hasil penelitian menunjukan bahwa angka kuman pada 9 sampel kain lap tangan yang terdapat pada 3 rumah makan di Kecamatan Kebasen Kabupaten Banyumas yaitu rumah makan A memiliki 4 sampel kain lap tangan yang dijadikan sebagai sampel dengan hasil sebagai berikut. Lap 1 adalah 63 C FU/cm2, lap 2 adalah 37.100 C FU/cm2, lap 3 adalah 10 C FU/cm2, lap 4 adalah 0 C FU/cm2. Rumah makan B memiliki 3 sampel kain lap tangan yang dijadikan sebagai sampel dengan hasil sebagai berikut. Lap 1 adalah 157 C FU/cm2, Lap 2 adalah   1.596 C FU/cm2, lap 3  adalah 563 C FU/cm2. Rumah makan C memiliki 2 sampel kain lap tangan yang dijadikan sebagai sampel dengan hasil sebagai berikut. lap 1 adalah 12.744 C FU/cm2, lap 2 adalah 242 C FU/cm2. Kesimpulan penelitian menunjukan bahwa rata-rata angka kuman pada kain lap tangan adalah 93,826 C FU/cm2. Disarankan kepada setiap pemilik rumah makan agar menjaga fasilitas sanitasi yaitu kain lap tangan dan apa bila kain lap tangan secara organoleptik sudah terlihat kotor makan langsung diganti atau dapat juga dengan menggunakan head drayer sehingga dapat mengurangi kuman yang ada di tangan setelah melakukan aktifitas cuci tangan.

Daftar Bacaan : 14 ( 2001 – 2015 )
Kata Kunci      : Angka kuman Kain lap Tangan, Kesehatan Lingkungan
Fulltext

Rabu, 25 Oktober 2017

TINJAUAN KESEHATAN LINGKUNGAN SEKOLAH DASAR DI KECAMATAN JATILAWANG KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2017


Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi DIII Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2017
Abstrak
Putri Adi Candrasari (putriadicandrasari@gmail.com)
TINJAUAN KESEHATAN LINGKUNGAN SEKOLAH  DASAR DI KECAMATAN JATILAWANG KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2017
Xv + 95 Halaman : Gambar, Tabel, Lampiran

Peningkatan kesehatan lingkungan sekolah sangat penting, karena sekolah merupakan tempat berkumpulnya anak didik, guru, dan orang lain dimungkinkan terjadinya penularan penyakit, hal ini dapat menimbulkan gangguan kesehatan, misalnya menurunkan konsentrasi belajar, meningkatkan risiko penularan penyakit berbasis lingkungan, seperti penyakit kulit, diare, demam berdarah, dan malaria. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui penerapan kesehatan lingkungan sekolah dasar di Kecamatan Jatilawang yang meliputi lingkungan dan bangunan sekolah, kondisi ruang kelas, sarana kesehatan lingkungan dan fasilitas penunjang. Jenis penelitian ini adalah deskriptif yaitu menggambarkan penerapan kesehatan lingkungan sekolah dasar di Kecamatan Jatilawang Kabupaten Banyumas. Cara pengumpulan data yaitu observasi langsung di lapangan, wawancara serta dilakukan pengukuran, meliputi pengukuran pencahayaan, suhu dan kelembaban, pengambilan sampel dengan cara teknik purposive sampling.
Hasil penilaian pemenuhan persyaratan kesehatan secara umum yang mencakup seluruh aspek pada delapan sekolah yang diamati belum memenuhi syarat yaitu meliputi lingkungan dan bangunan sekolah, kondisi ruang kelas, sarana kesehatan lingkungan dan fasilitas penunjang. Hasil penilaian pada SDN 1 Karanglewas dengan skore 68,9 % (MS), SDN 3 Pekuncen dengan skore 60,9% (MS), SDN 1 Kedungwringin dengan skore 66,9 % (MS), SDN 1 Adisara dengan skore 60,9 % (MS), SDN 1 Jatilawang dengan skore 68,9 % (MS), SDN Margasana dengan skore 72,9 % (MS), SDN 1 Tinggarjaya dengan skore 75,9 % (MS) dan SDN Karangwangkal dengan skore 55,9 % (TMS). Kesimpulan yang diambil terdapat 1 sekolah yang belum  memenuhi persyaratan kesehatan yaitu SDN Karangwangkal, 7 sekolah yang memenuhi persyaratan kesehatan yaitu, SDN 1 Karanglewas, SDN 3 Pekuncen, SDN 1 Kedungwringin, SDN 1 Adisara, SDN 1 Jatilawang, SDN Margasana dan SDN 1 Tinggarjaya. Saran yang dapat diberikan adalah pengelola sekolah perlu menyediakan tempat sampah berpenutup, menambah saluran air limbah yang tertutup, menambah penyediaan kamar mandi/ jamban dan peturasan, menyediakan alat pemadam kebakaran dan menyediakan jalur-jalur evakuasi.

Daftar bacaan           : 14 (1998 – 2015)
Kata kunci                : kesehatan lingkungan sekolah dasar, kesehatan lingkungan
Klasifikasi                 : -

KOMPARASI JUMLAH TELUR NYAMUK Aedes aegypti ANTARA OVITRAP AIR RENDAMAN ALANG-ALANG DAN AIR RENDAMAN JERAMI TAHUN 2017


Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Prodi Diploma III Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2017
Abstrak
Pipit Irianti (pipitirianti8@gmail.com)
KOMPARASI  JUMLAH  TELUR  NYAMUK  Aedes  aegypti  ANTARA  OVITRAP  AIR RENDAMAN ALANG-ALANG DAN AIR RENDAMAN JERAMI TAHUN 2017
XV +79 halaman : tabel, gambar, lampiran

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang ditularkan melalui vektor yang dapat menimbulkan wabah serta gangguan kesehatan masyarakat, sehingga perlu dilakukan upaya pengendalian vektor DBD. Pengendalian vektor DBD umumnya menggunakan insektisida kimia. Alternatif cara pengendalian yang aman dan tidak menimbulkan masalah baru yaitu pengendalian fisik menggunakan ovitrap dengan atraktan air rendaman alang-alang dan air rendaman jerami karena mengandung senyawa yang disukai nyamuk. Tujuan penelitian adalah mengetahui perbedaan jumlah telur nyamuk Aedes aegypti yang terperangkap dalam ovitrap antara air rendaman alang- alang konsentrasi 10%, 15%, 20% dan air rendaman jerami konsentrasi 20% (sebagai kontrol). Jenis penelitian adalah true eksperiment dengan desain penelitian Posttest Only Control Group Design yang bertujuan mengetahui jumlah telur nyamuk Aedes aegypti yang terperangkap pada setiap ovitrap dengan menggunakan atraktan air rendaman alang-alang konsentrasi 10%, 15%, 20% dan air rendaman jerami konsentrasi 20% (sebagai kontrol). Pengamatan dilakukan selama tujuh hari dengan tiga kali replikasi.
Hasil penelitian menggunakan analisis one way anova menunjukkan ada perbedaan yang bermakna antara 
air rendaman alang-alang dan air rendaman jerami terhadap jumlah telur nyamuk Aedes aegypti yang terperangkap pada ovitrap, (p=0.01 < α 0,05) serta hasil penelitian menggunakan uji Post hoc test menunjukan secara umum ada beda yang bermakna (p < α 0,05) pada ovitrap air rendaman alang-alang 10% - air rendaman alang-alang 15% p=0,031, air rendaman alang-alang 10% - air rendaman jerami 20% p=0,003, air rendaman alang-alang 15% - air rendaman jerami 20% p=0,000, dan air rendaman alang-alang 20% - air rendaman jerami 20% p=0,000 serta tidak berbeda secara nyata (p > α 0,05) pada ovitrap Air rendaman alang-alang 10% - air rendaman alang-alang 20% p=0,130, dan air rendaman alang-alang 15% - air rendaman alang-alang 20% p=0,383. Kesimpulan penelitian yaitu atraktan yang paling efektif untuk memerangkap telur nyamuk Aedes aegypti adalah air rendaman jerami 20% (sebagai kontrol). Disarankan kepada masyarakat untuk dapat memanfaatkan air rendaman jerami 20% sebagai alat pengendalian vektor, terutama pada telur nyamuk dengan menggunakan lethal ovitrap.

Daftar Bacaan   : 36 (1985-2017)
Kata Kunci       : Atraktan, Ovitrap, Air Rendaman Jerami, Kesehatan Lingkungan 
Klasifikasi         :

DESKRIPSI ANGKA KUMAN PADA ALAT MAKAN DI INSTALASI GIZI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH (RSUD) BUMIAYU KECAMATAN BUMIAYU KABUPATEN BREBES TAHUN 2017


Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi D III Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis lmiah, Juli 2017
Abstrak
Okti Listiyani (olistiyani@yahoo.com)
DESKRIPSI ANGKA KUMAN PADA ALAT MAKAN DI INSTALASI GIZI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH (RSUD) BUMIAYU KECAMATAN BUMIAYU KABUPATEN BREBES TAHUN 2017
xvi + 77 halaman : gambar, tabel, lampiran

Pengelolaan makanan di rumah sakit, sebagai bagian dari sistem pelayanan kesehatan di rumah sakit yang mendukung upaya penyembuhan dan pemulihan penyakit melalui penyelenggaraan makanan yang hygienis dan sehat. Peralatan makan merupakan segala macam alat yang digunakan untuk mengolah dan menyajikan makanan. Salah satu media yang digunakan untuk tumbuh dan berkembangnya jasad renik adalah peralatan, kebersihan peralatan makan yang kurang baik mempunyai peranan penting dalam penyebaran kuman penyakit dan keracunan. Penelitian ini digunakan untuk menghitung jumlah kuman pada peralatan makan di Instalasi  Gizi  Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bumiayu. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan analisa laboratorium untuk mengetahui angka kuman pada peralatan makan di Instalasi Gizi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bumiayu dengan membandingkan standar yang ada.
Hasil penelitian menunjukan angka kuman pada sampel alat makan plato A 1095 koloni/cm2, plato B 453 
koloni/cm2 dan sendok A 555 koloni/cm2, sendok B 1060 koloni/cm2, keadaan sanitasi tempat pengelolaan makanan diperoleh skor 88,6%, status kesehatan penjamah makanan diperoleh skor rata-rata 82%, dan pengetahuan penjamah makanan diperoleh skor rata-rata 94%, serta keberadaan coliform pada sampel air perpipaan 240 MPN/100 ml air. Kesimpulan dari penelitian ini angka kuman pada alat makan plato dan sendok yang digunakan oleh pasien di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bumiayu belum memenuhi syarat kesehatan sesuai dengan Kepmenkes RI No. 1204/MENKES/SK/X/2004 tentang (Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit) adalah bahwa syarat peralatan makan tidak mengandung kuman lebih dari 100  koloni/cm2.  Berdasarkan  hasil  tersebut  diharapkan  pada  para  petugasinst alasi Gizi untuk lebih menjaga kebersihan alat makan terutama pada proses pencucian alat makan sehingga sangat kecil kemungkinan terjadinya kontaminasi pada makanan.

Daftar bacaan            :16 (1985-2014)
Kata kunci                  :Angka Kuman Peralatan Makan, Rumah Sakit, Kesehatan Lingkungan
Klasifikasi                   : -
Fulltext






















































TINJAUAN PENGOLAHAN AIR MINUM DI PDAM KABUPATEN KEBUMEN TAHUN 2017

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2017
Abstrak
Nurul Ralin Fauziah (nurulralin@gmail.com)
TINJAUAN  PENGOLAHAN  AIR  MINUM  DI  PDAM  KABUPATEN  KEBUMEN TAHUN 2017
xv + 123 halaman: tabel, gambar, lampiran

PDAM Tirta Bumi Sentosa merupakan perusahaan milik pemerintah daerah yang bergerak dalam bidang penyediaan air bagi masyarakat untuk memperoleh air minum dengan jumlah yang cukup sesuai syarat kesehatan dan memberikan kontribusi pada pendapatan asli daerah serta mendorong pembangunan perekonomian dalam rangka pembangunan daerah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi pengolahan air minum di PDAM Kabupaten Kebumen. Metode yang digunakan adalah deskriptif. Subyek dalam penelitian ini adalah sarana pengolahan air minum. Pengumpulan data dengan  cara observasi, wawancara dan dokumen. Analisis data yang digunakan berisi hasil penelitian yang dibandingkan dengan standar persyaratan menurut Permenkes RI No. 492/Menkes/Per/IV/2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum.
Hasil penelitian menunjukkan sumber air baku berasal dari sungai, waduk dan mata air yang kemudian diolah dengan sistem pengolahan lengkap. Kuantitas air yang dihasilkan dengan kapasitas produksi 322,50 liter/detik mampu menghasilkan air per hari sebanyak  18.949,54 m3. Kualitas air menunjukkan air tidak berbau, tidak berasa, sisa khlor pada 28 sampel terdapat 5 sampel yang hasilnya 0 mg/liter, sedangkan total coliform yaitu 0 MPN/100 ml Golongan Coliform. Unit operasi pengolahan yang belum memenuhi prosedur yaitu unit intake, koagulasi dan flokulasi. Simpulan dari penelitian ini adalah kualitas air parameter bakteriologis sudah memenuhi syarat, sedangkan parameter warna, kekeruhan, sisa khlor dan pH ada yang belum memenuhi syarat. Kuantitas air sudah mencukupi kebutuhan. Penilaian unit operasi pengolahan diambil dari hasil checklist bahwa unit prasedimentasi, sedimentasi, filtrasi, desinfeksi dan reservoir dalam kategori “Baik”. Saran bagi PDAM agar meningkatkan pemeliharaan dan perawatan unit operasi secara berkala sehingga hasil yang diperoleh lebih optimal.

Daftar bacaan : 19 (1990-2015)
Kata kunci      : Pengolahan Air Minum, Kesehatan Lingkungan 
Klasifikasi       : -