Kamis, 09 Januari 2014

STUDI TENTANG INTENSITAS SUARA DI PABRIK PENGGERGAJIAN KAYU

Kementerian kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang 
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan 
                                                                                                                    Karya Tulis Ilmiah, Juli 2011

ABSTRAK
Laely Anisatul Musyarofah ( epha_cutebgtz@yahoo.com)
STUDI TENTANG INTENSITAS SUARA DI PABRIK PENGGERGAJIAN KAYU UD.VERI PUTRA DESA TAMANSARI KECAMATAN KARANGLEWAS KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2011
70 halaman: tabel, gambar, lampiran. 

Kesehatan Lingkungan merupakan salah satu upaya preventif (pencegahan) kecelakaan kerja, upaya peningkatan kesehatan dan keselamatan kerja. Salah satu kegiatannya adalah pencegahan atau pengendalian kebisingan yang ditimbulkan oleh peralatan-peralatan kerja di tempat kerja. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengukur tingkat kebisingan di ruang penggergajian kayu di Pabrik penggergajian kayu UD. Veri Putra Tahun 2011.
Jenis penelitian yang digunakan adalah observasi dengan metode analisa penelitian deskriptif yaitu menggambarkan tentang kondisi yang sesungguhnya sesuai data yang diperoleh dalam penelitian di penggergajian kayu yang ada di Desa Tamansari, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas. Analisis yang digunakan yaitu analisis tabel yaitu mencocokkan dan membandingkan data hasil pengukuran dengan standar peraturan yang berlaku dan teori yang ada. Salah satu peraturan yang ada yaitu Surat Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 51 tahun 1999 tentang Batas Faktor Fisik di Tempat Kerja dan Tipe Kebisingan untuk Kategori Ruang Kerja.
Hasil pengukuran intensitas kebisingan yang diperoleh pada ruang kerja pabrik penggergajian kayu yaitu 82,35 dBA, berdasarkan Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor: KEP/51/MEN/1999, tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisik di Tempat Kerja adalah sebesar 85 dBA. Maka intensitas kebisingan di Pabrik penggergajian kayu UD. Veri Putra masih dibawah standar. Hasil pengukuran di rumah terdekat adalah 49,26 dBA (jarak 50 m) dan 46,19 dBA (jarak 100 m) [dibawah nilai ambang batas (NAB). kesimpulan Karyawan pada bagian produksi penggergajian kayu UD. Veri Putra di Desa Tamansari, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas tidak mengalami gangguan pendengaran, tetapi mengalami gangguan komunikasi pada saat bekerja. Upaya pengendalian yang dilakukan untuk mengurangi tingkat kebisingan adalah menanam pepohonan di sekitar pabrik dan mesin diservis setiap satu bulan sekali serta dilakukan pemeriksaan kesehatan setiap 6 bulan sekali atau 1 tahun sekali.
   
Daftar bacaan : 18 (1986 s/d 2009) 
Kata kunci      : Intensitas Suara Penggergajian Kayu
 

STUDI PENGOLAHAN LIMBAH CAIR INDUSTRI TAHU MENJADI BIOGAS

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang 
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan 
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2011

Abstrak 
Isna Farida Rahmadani
STUDI PENGOLAHAN LIMBAH CAIR INDUSTRI TAHU MENJADI BIOGAS DI DESA KALISARI KECAMATAN CILONGOK KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2011
XVIII + 92 halaman : lampiran, tabel, gambar 

Tahu merupakan salah satu sumber makanan yang berasal dari kedelai yang mengandung protein tinggi. Proses pembuatan tahu menghasilkan limbah yang apabila tidak diolah dapat mencemari lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui prosedur pengolahan limbah cair industri tahu menjadi biogas di Desa Kalisari Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas tahun 2011.
Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif, dengan memberikan gambaran tentang pengolahan limbah cair industri tahu menjadi biogas melalui Instalasi Biogas yang terdapat di Desa Kalisari. Data berisi hasil pengamatan yang disajikan dalam bentuk narasi dan tabel.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa prosedur pengolahan di Instalasi Biogas meliputi penyaluran limbah ke bak penampungan sementara, pengolahan limbah menjadi biogas di digester, penampungan gas di tangki penampung gas, dan distribusi gas ke rumah tangga. Saat ini, pemanfaatan biogas terbatas sebagai bahan bakar alternatif untuk memasak. Hasil pemeriksaan menunjukkan limbah influen memiliki nilai pH 4, COD 528 mg/liter, dan BOD 2185 mg/liter. Sedangkan untuk limbah efluen memiliki nilai pH 7, COD 124 mg/liter, dan BOD 159 mg/liter.
Kesimpulan dari hasil penelitian adalah Instalasi Biogas di Desa Kalisari merupakan instalasi yang memproduksi biogas dari limbah cair industri tahu, Presentase penggunaan biogas baru sebesar 0,84% dari biogas yang diproduksi setiap harinya. Oleh karena itu, diharapkan biogas yang belum termanfaatkan dapat segera disalurkan ke rumah tangga lain sehingga kelebihan gas tidak terbuang percuma. Selain itu, perlu dioperasikan kembali tricking filter yang terdapat di Instalasi, sehingga BOD limbah efluen yang dihasilkan dapat memenuhi baku mutu lingkungan yang ditetapkan.
 
Daftar bacaan : 24 (1978-2011)
Kata Kunci     : limbah cair industri tahu, biogas, instalasi biogas
Klasifikasi      : -
 
 

STUDI DAYA PREDASI BERBAGAI JENIS IKAN AIR TAWAR TERHADAP LARVA Aedes aegypti

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang 
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan 
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2011

ABSTRAK
Ika Septiana Ruliyanti  ( Ikha.septiana@yahoo.co.id)
STUDI DAYA PREDASI BERBAGAI JENIS IKAN AIR TAWAR TERHADAP LARVA Aedes aegypti DI LOKA LITBANG P2B2 BANJARNEGARA TAHUN 2011
Xv+ 67 Halaman: gambar, tabel, lampiran

Salah satu pengendalian vektor nyamuk diantaranya adalah pengendalian secara biologi yaitu dengan menggunakan predator ikan pemakan larva nyamuk, diantaranya adalah ikan cupang, ikan gupy, ikan beunteur, ikan larvavarous, dan ikan kepala timah. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui jenis ikan yang paling berpotensi memangsa larva nyamuk.
Jenis penelitian ini adalah adalah penelitian Pre Experiment dengan maksud membandingkan perbedaan kemampuan berbagai jenis ikan air tawar dalam memangsa larva nyamuk. Cara pengumpulan data adalah dengan menghitung banyaknya larva Aedes aegypti yang dimakan oleh berbagai jenis ikan air tawar dengan melakukan pencatatan dan pengukuran.
Hasil penelitian ini adalah ikan cupang memakan larva dengan rata-rata 43 ekor, ikan gupy 31 ekor, ikan beunteur 8 ekor, ikan larvavarous 10 ekor dan ikan kepala timah 22 ekor. Metode yang digunakan adalah pengamatan.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah ikan cupang merupakan ikan yang paling berpotensi memangsa larva nyamuk dibandingkan dengan ikan lain yang digunakan untuk percobaan. Saran kepada masyarakat adalah untuk menggunakan ikan cupang ataupun ikan lain yang telah peneliti gunakan untuk percobaan sebagai salah satu cara pengendalian biologi untuk menurunkan populasi jentik nyamuk pada tempat-tempat yang potensial jentik seperti di kolam, genangan air yang selalu penuh, reservoir, bak dan tempayan, dan lain-lain.

Daftar Bacaan : 1981-2011 ( 18)
Kata Kunci      : Berbagai jenis ikan air tawar, Larva Aedes aegypti
Klasifikasi       : -

STUDI EFISIENSI BUBBLE AERTOR DALAM MENURUNKAN KADAR BESI (Fe) AIR SUMUR GALI

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan 
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2011 

Abstrak
Rian Fajriyah Imtichani
STUDI EFISIENSI BUBBLE AERTOR DALAM MENURUNKAN KADAR BESI (Fe) AIR SUMUR GALI DI RT 03 RW 03 DESA GANDRUNGMANIS KECAMATAN GANDRUNGMANGU KABUPATEN CILACAP TAHUN 2011 
xv + 47 halaman, tabel, gambar, lampiran 

Air merupakan kekayaan alam yang dikaruniakan Tuhan Yang Maha Esa sebagai sarana hidup dan kehidupan yang sangat penting dan menyangkut hajat hidup manusia, hewan, maupun tumbuhan. Agar air aman digunakan maka perlu ukuran yang dapat memberikan batas aman konsumsi terhadap suatu kandungan didalamnya, salah satunya kadar besi (Fe). Proses pengelolaan air untuk mendapatkan air yang memenuhi syarat kesehatan, diperlukan beberapa tahap pengolahan untuk perbaikan kualitas air. Salah satu cara perbaikan kualitas air yAitu aerasi. Aerasi adalah proses pengolahan air dengan cara mengontakannya dengan udara.
Jenis penelitian yang digunakan adalah quasi eksperiment. Pengumpulan data dilakukan dengan pemeriksaan kadar besi (Fe) di laboratorium. Data disajikan dalam bentuk narasi terstruktur dan tabel. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji statistik paired  t-test untuk membandingkan kadar besi (Fe) sebelum dan sesudah perlakuan dengan metode aerasi.
Hasil penelitian yang diperoleh adalah kondisi fisik sumur gali belum memenuhi syarat (50 %) yaitu air berbau, berwarna dan berasa, pH rata-rata sumur gali adalah 7,1, suhu rata-rata sumur gali adalah 280C sedangkan  kadar besi (Fe) air sumur gali sebelum perlakuan adalah 3,9 mg/lt dan sesudah perlakuan adalah 0,37 mg/lt. Berdasarkan uji statistik, nilai signifikansi (2-tailed) 0,000 kurang dari (<) nilai α (0,05), sehingga ada perbedaan kadar besi (Fe) air sumur gali antara sebelum dan sesudah dilakukan aerasi menggunakan bubble aerator.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah kadar besi (Fe) sebelum perlakuan adalah 3,9 mg/lt  dan sesudah perlakuan adalah 0,37 mg/lt. Berdasarkan uji statistik, ada perbedaan kadar besi (Fe) air sumur gali antara sebelum dan sesudah dilakukan aerasi menggunakan bubble aerator. Saran bagi petugas sanitasi puskesmas, perlunya informasi tentang upaya yang dapat dilakukan masyarakat menyangkut tentang proses aerasi dan bagi peneliti lanjutan, melakukan proses aerasi dilanjutkan dengan proses filtrasi dan sedimentasi. 

Daftar bacaan  : 1984  2010 ( 19 )
Kata kunci       : kadar besi (Fe), aerasi
Klasifikasi       : - 

STUDI DESKRIPTIF SANITASI LEMBAGA PEMASYARAKATAN

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang 
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan  
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2011 

Abstrak 

Foresta Rizkiana Dewi
STUDI DESKRIPTIF SANITASI LEMBAGA PEMASYARAKATAN KELAS IIA PURWOKERTO TAHUN 2011 
XVI+60 halaman: gambar, tabel, lampiran 

Lembaga Pemasyarakatan (disingkat LP atau LAPAS) adalah tempat untuk melakukan pembinaan terhadap narapidana dan anak didik pemasyarakatan di Indonesia. Berdasarkan survey awal yang dilakukan peneliti di LAPAS Purwokerto ternyata masih dijumpai aspek sanitasi pemukiman yang belum memenuhi syarat kesehatan. Tujuan penelitian keadaan sanitasi sehingga diketahui Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Purwokerto masuk dalam katagori baik atau tidak. 
Metode penelitian yang digunakan deskriptif, data diperoleh dari pengamatan pengukuran dan wawancara, hasilnya diolah dan disajikan dalam bentuk narasi dan tabel, kemudian di analisis dengan membandingkannya dengan persyaratan yang ada.
Hasil presentase sanitasi Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Purwokerto 61,79 % (cukup baik). Sanitasi Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Purwokerto dari kondisi ruang untuk luas kamar per orang 2,63 m2, lantai terbuat dari plesteran, ventilasi 6,45% dari luas lantai, dinding terbuat dari susunan batu bata, atap menggunakan genting, langit-langit tidak rawan kecelakaan, jendela dan pintu dapat dibuka, ditutup dan dikunci dengan baik, hasil pengukuran suhu 29,72
C, kelembaban 79,9%, intensitas cahaya 106,45 lux. Air bersih dari sumur dan PDAM, pembuangan limbah cair dan tinja manusia ke septictank, perbandingan kamar mandi/jamban 1:40. Sampah ditampung di tempat sampah tidak berpenutup, dibuang ke TPS. 
Simpulan bahwa sanitasi Lembaga Pemasyarakayan Kelas IIA Purwokerto masuk dalam katagori cukup baik namum ada beberapa aspek yang belum memenuhi syarat dari kepadatan penghuni, jumlah kamar mandi/jamban dan pengelolaan air limbah. Saran agar Pemerintah memantau dan memperbaiki kondisi sanitasi yang belum baik supaya dapat meningkatkan sanitasi yang ada di Lembaga Pemasyarakatan.

Daftar bacaan : 20 (1985-2009)
Kata kunci      : sanitasi Lembaga Pemasyarakatan
Klasifikasi      : -

Rabu, 08 Januari 2014

STUDI TENTANG PENGGUNAAN PESTISIDA PADA PETANI PENYEMPROT HAMA TANAMAN

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia  
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan 
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2011 

Abstrak 
Fadila Trimaya Saras Wati
STUDI TENTANG PENGGUNAAN PESTISIDA PADA PETANI PENYEMPROT HAMA TANAMAN DI DESA KEMUTUG LOR KECAMATAN BATURRADEN KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2011 
xiv +58 halaman, table, gambar, lampiran

Pestisida sering digunakan sebagai pilihan utama untuk memberantas organisme pengganggu tanaman. Organisme pengganggu tanaman ini dikenal sebagai hama tanaman, penyakit tanaman dan gulma. Tujuan penelitian untuk mengetahui penggunaan pestisida, karakteristik petani (usia, pengetahuan, masa kerja, frekuensi), jenis pestisida yang digunakan, penggunaan alat pelindung diri dan perilaku petani pestisida.
Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif artinya menggambarkan penggunaan pestisida pada petani penyemprot hama tanaman di Desa Kemutug Lor. Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner. Data dianalisis dengan cara deskriptif dan disajikan dalam bentuk narsi serta tabel. 
Hasil penelitian Penggunaan pestisida oleh Kelompok Tani Giri Mulyo belum seluruhnya baik, jenis pestisida yang digunakan oleh petani penyemprot hama tanaman di Kelompok Tani Giri Mulyo Desa Kemutug Lor adalah Confidor 5 WP, Decis 25 EC, Cascade, Marshal 200 SC, Fastack, Demolish 18 EC, Samite, Matador, Folirfros 400 AS, Preficur, Champion 77 WP, Manzate 82 WP, Dithane, Roundup, Rambo, Benlate, Agrept 20 WP, Agrimec 18 EC, Curzate. masa kerja 70 responden (7,89%) merupakan petani penyemprot dengan kategori lama sedangkan sebanyak 6 responden (92,11%) merupakan petani penyemprot dengan kategori baru, dan frekuensi penyemprotan untuk tanaman padi 2 kali dari masa tanam sampai panen, untuk tanaman palawija seperti cabe, kacang panjang, dan lain  lain 4 hari sekali. Penggunaan Alat Pelindung Diri petani Kelompok Tani Giri Mulyo Desa Kemutug Lor yang tidak memenuhi syarat (APD < 5) sebanyak 76 orang (100 %) dan memenuhi syarat (APD > 5) sebanyak 0 (0 %).  Kesimpulan Pada tahap penggunaan pestisida petani tidak memperhatikan dosis yang sesuai dengan petunjuk label, penyimpanan pestisida oleh petani masih kurang baik karena pestisida tidak disimpan dalam keadaan baik serta diletakkan di ruangan terbuka dan dekat dengan jangkauan anak-anak. Saran Petugas penyuluhan pertanian hendaknya memberikan penyuluhan tentangtentang pengelolaan pestisida kepada petani penyemprot hama tanaman sayuran setiap 3 bulan sekali untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan praktek.

Daftar Bacaan : 1975 - 2009 (15)
Kata Kunci     : Petani Penyemprot
Klasifikasi       : -

HUBUNGAN LAMA KERJA DENGAN KAPASITAS PARU PEKERJA BATU KAPUR

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang 
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan Purwokerto 
                                                                                                                   Karya Tulis Ilmiah, Juli 2011

ABTRAK
Dian Puji Lestari(dee_prmbn@yahoo.com)
HUBUNGAN LAMA KERJA DENGAN KAPASITAS PARU PEKERJA BATU KAPUR DESA JATIJAJAR KECAMATAN AYAH KABUPATEN KEBUMEN TAHUN 2011
xix + 76 Halaman, Tabel, Gambar, Lampiran  

Bekerja dalam kondisi lingkungan dengan tingkat paparan debu yang tinggi akan mengganggu kesehatan khususnya kesehatan sistem pernafasan yang imbasnya akan ditampilkan dalam penurunan fungsi faal paru. Tujuan penelitian ini mengetahui  hubungan antara lama kerja dengan kapasitas paru pada pekerja batu kapur di Desa Jatijajar Kecamatan Ayah Kabupaten Kebumen tahun 2011.  Jenis penelitian ini adalah jenis penelitian analitik. Data diperoleh melalui pengukuran dan wawancara, kemudian hasil di analisis menggunakan uji korelasi moment product person ( r ). Populasi ± 70 orang, sampel sebanyak 10 orang dari jumlah seluruh pekerja yang ada, metode pengambilan sampel menggunakan purposive sampling.
Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara lama kerja dengan kapasitas paru. Hasil uji korelasi lama kerja dengan FVC, diperoleh hasil nilai r hitung
sebesar -0,032 dengan nilai p-value 0,931 karena nilai r
 lebih kecil dari r table 0,632 dan nilai p-value lebih besar dari α = 0,05 , maka tidak terdapat hubungan antara lama kerja dengan FVC. Hasil uji korelasi lama kerja dengan FEV 1st, diperoleh hasil nilai r  sebesar -0,001 dengan nilai p-value 0,999 karena nilai r hitunghitung lebih kecil dari r table 0,632 dan nilai p-value lebih besar dari α = 0,05 , maka tidak terdapat hubungan antara lama kerja dengan FEV1 st Kesimpulan yang diambil bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara
lama kerja dengan kapasitas paru. Saran yang dapat diberikan dari  hasil penelitian ini bagi para pekerja batu kapur dan petugas kesehatan adalah melaksanakan pemeriksaan kesehatan secara berkala guna mengetahui kesehatan saluran pernafasan terutama kapasitas paru. Petugas kesehatan secara aktif mengadakan penyuluhan tentang program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K-3). 

Daftar Bacaan : 20 (1982 – 2009)
Kata Kunci     : Lama kerja, Kapasitas paru
Kualifikasi       :