Minggu, 06 November 2016

DESKRIPSI INTENSITAS SUARA PADA BAGIAN PRODUKSI PT. MUARA KAYU SENGON

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2016

Abstrak
Iqbal Budi Santosa (Iqbalbudisantosa13@gmail.com)
DESKRIPSI INTENSITAS SUARA PADA BAGIAN PRODUKSI PT. MUARA KAYU SENGON BANYUMAS TAHUN 2016

Kebisingan diartikan sebagai terjadinya bunyi yang tidak bisa dikehendaki sehingga menggangu atau  membahayakan kesehatan. PT. Muara Kayu Sengon merupakan industri penghasil kayu lapis yang berlokasi di jalan Margasana Kecamatan Jatilawang Kabupaten Banyumas. Proses produksi menggunakan  mesin-mesin dan peralatan yang menghasilkan intensitas suara yang tinggi, yang mana dapat menyebabkan gangguan pekerjaan yang berupa gangguan pendengaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur dan menghitung intensitas suara pada shift pagi dan shift malam, parameter fisik (suhu dan kelembaban), membandingkan hasil rata-rata intensitas suara pada shift pagi dan shift malam dengan regulasi yang berlaku. Metode yang digunakan dalam penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pendekatan cross sectional yang menggunakan analisis tabel dan dibandingkan dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. PER.13/ MEN/ X/ 2011 untuk melihat gambaran umum intensitas suara di bagian produksi PT. Muara Kayu Sengon Banyumas Tahun 2016.
Hasil Pengukuran Intensitas suara pada ruang produksi untuk shift pagi intensitas suara tertinggi yaitu di titik 8 (86,40 dBA) dan hasil pengukuran paling rendah yaitu pada titik 4 (73,72 dBA), hasil pengukuran tertinggi pada shift malam yaitu titik 10 (92,00 dBA), dan hasil pengukuran paling rendah yaitu pada titik 9 (76,43 dBA) . Disimpulkan hasil Intensitas suara pada ruang produksi untuk shift pagi intensitas suara tertinggi yaitu di titik 8 (86,40 dBA) pengukuran pada mesin winjer joint dan hasil pengukuran paling rendah yaitu pada titik 4 (73,72 dBA) pengukuran pada mesin finishing, hasil pengukuran tertinggi pada shift malam yaitu titik 10 (92,00 dBA) pengukuran pada mesin jumping croscut dan hasil pengukuran paling rendah yaitu pada titik 9 (76,43 dBA) pengukuran pada mesin winjer joint. Disarankan PT. Mara Kayu Sengon Banyumas hendaknya menyediakan APD bagi pekerja berupa ear plug, serta perusahaan mengadakan penyuluhan kepada pekerja tentang kegunaan dan manfaat APD.
Daftar Bacaan :16 (2002 - 2015)
Kata Kunci     : Intensitas Suara, Pabrik Kayu
Klasifikasi       :
Full Text

STUDI ANGKA KUMAN UDARA DI RUANG OPERASI RUMAH SAKIT WIJAYAKUSUMA PURWOKERTO TAHUN 2016

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2016

ABSTRAK
Handika Rizki Nugraha (handikarizkinugraha25@gmail.com)
STUDI ANGKA KUMAN UDARA DI RUANG OPERASI RUMAH SAKIT WIJAYAKUSUMA PURWOKERTO TAHUN 2016
xiv + 62 Halaman : gambar, tabel, lampiran

Pasien bedah merupakan pasien yang mempunyai resiko tinggi terjadi infeksi. Infeksi nosokomial paling umum terjadi adalah infeksi luka operasi (ILO). Berdasarkan Kepmenkes 1204/MENKES/SK/X/2004 batas maksimum angka kuman udara pada ruang operasi adalah 10 CFU/m3. Data hasil pengukuran pada tanggal 4 juli 2015 yang dilakukan oleh rumah sakit Wijayakusuma Purwokerto menunjukan bahwa angka kuman udara ruang operasi masih belum memenuhi syarat yaitu dengan rata - rata 130 CFU/m3 (>10 CFU/m3). Ruang operasi perlu pengendalian yang baik yaitu dengan cara desinfeksi ruangan dan menjaga kebersihan ruangan. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui jumlah angka kuman udara di ruang operasi rumah sakit Wijayakusuma Purwokerto.
Jenis Penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif. Sampel ruangan yang di ambil yaitu 2 ruangan operasi. Pengumpulan data dengan cara melakukan pemeriksaan dan perhitungan koloni kuman, wawancara dan observasi. Suhu rata-rata pada Ok 1 yaitu 23,40C dan pada Ok 2 yaitu 24,40C. Kelembaban rata- rata pada Ok 1 yaitu 65,2% dan pada Ok 2 yaitu 77,8%. Pencahayaan ruangan pada Ok1 yaitu 152 dan pada Ok 2 yaitu 104, sedangkan pencahayaan meja operasi pada Ok 1 yaitu 1118 Lux dan pada Ok 2 yaitu 839 Lux. Rata – rata angka kuman pada ruang operasi 1 yaitu 4,886.6 CFU/m3,dan pada ruang operasi 2 yaitu 148,683.4 CFU/m3. Jadi setelah dilakukan pemeriksaan angka kuman di ruang OK 1 dan OK 2 belum memenuhi persyaratan angka kuman udara menurut standar angka kuman udara ruang operasi Kepmenkes 1204/MENKES/SK/X/2004. Saran untuk rumah sakit Wijayakusuma Purwokerto Perlunya pengambilan angka kuman udara secara rutin, dan menambahkan jenis alat untuk mendesinfeksi yaitu dengan sinar UV.

Daftar Bacaan : 6 ( 1990-2012 )
Kata kunci       : Rumah Sakit, Ruang Operasi, Kuman Udara
Klasifikasi        : -
Full Text

SANITASI MAKANAN DI PABRIK MIE “TJAP TIGA ANAK” DESA WLAHAR KULON KECAMATAN PATIKRAJA

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2016

Abstrak
Fitri Permanasari (fitripermana79@gmail.com)
HYGIENE SANITASI MAKANAN DI PABRIK MIE “TJAP TIGA ANAK” DESA WLAHAR KULON KECAMATAN PATIKRAJA KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2016
XVI+57 halaman: tabel, gambar, lampiran

Makanan merupakan kebutuhan pokok manusia untuk dapat melangsungkan kehidupan. Makanan selain  mengandung nilai gizi juga merupakan media untuk berkembang biak mikroba. Salah satu upaya untuk  meningkatkan kualitas makanan adalah dengan cara pengawasan hygiene sanitasi makanan yang mencakup enam prinsip seperti pemilihan bahan baku, penyimpanan bahan makanan, pengolahan makanan,  pengangkutan, penyimpanan, dan penyajian makanan. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan penerapan enam prinsip hygiene sanitasi makanan, untuk mendeskripsikan kualitas mie secara organoleptik, mengukur kandungan boraks, mengukur kualitas mie secara mikrobiologi dengan cara pemeriksaan angka lempeng total. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan tujuan untuk memperoleh gambaran tentang Hygiene Sanitasi Makanan di Pabrik Mie Tjap Tiga Anak menggunakan cheklist.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan enam prinsip hygiene sanitasi makanan di pabrik mie cukup baik dengan prosentase 58%, kualitas mie secara organoleptik sudah baik, hasil pengukuran  kandungan boraks diperoleh hasil bahwa mie kering tidak mengandung boraks, kemudian hasil pemeriksaan angka lempeng total masih di bawah batas maksimum cemaran mikroba pada makanan sesuai Peraturan Kepala Badan POM RI NO HK.00.06.1.52.4011 Tahun 2009. Kesimpulan hygiene sanitasi makanan di pabrik mie belum memenuhi syarat, yang tidak memenuhi syarat, antara lain : tempat penyimpanan bahan makanan, pengolahan makanan dari segi bangunan memerlukan perbaikan, kemudian penjamah makanan tidak berperilaku baik, serta pengangkutan makanan Pengelola pabrik disarankan menambah gudang untuk tempat penyimpanan makanan, membuat ventilasi di ruang produksi, menyediakan alat pelindung diri untuk
penjamah makanan, pengangkutan dan penjemuran dijauhkan dari tempat berdebu, petugas kesehatan  melakukan pengawasan dan inspeksi sanitasi secara rutin enam bulan sekali.

Daftar baca   : 15 (1989-2014)
Kata Kunci   : Hygiene Sanitasi Makanan Pabrik Mie
Klasifikasi     : -
Full Text

KADAR DEBU PADA BAGIAN PRODUKSI PABRIK KAYU LAPIS PT. MUARA KAYU SENGON

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2016

Abstrak
Dipta Hastantoro (hastantoro@gmail.com)
STUDI DESKRIPTIF KADAR DEBU PADA BAGIAN PRODUKSI PABRIK KAYU LAPIS PT.  MUARA KAYU SENGON DESA KARANGANYAR KECAMATAN JATILAWANG KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2016

Pencemaran udara diartikan sebagai adanya bahan-bahan atau zat-zat asing di dalam udara yang menyebabkan perubahan sususan (komposisi) udara dari keadaan normalnya seperti debu. PT. Muara Kayu Sengon merupakan penghasil kayu lapis dan berpotensi untuk menimbulkan kontaminasi di udara tempat kerja berupa partikel debu kayu di dalam ruangan saat karyawaan bekerja sehingga mengakibatkan lingkungan menjadi tercemar oleh partikel debu kayu, sehingga kualitas udara menjadi menurun. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur kadar debu di ruang produksi PT. Muara Kayu Sengon.  
Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan crossectional untuk mendapatkan gambaran tentang kadar debu total di ruang produksi PT. Muara Kayu Sengon Banyumas tahun 2016. Pengukuran kadar debu total dilakukan pada 10 titik di ruang produksi PT. Muara Kayu Sengon Banyumas dengan hasil pengukuran rata-rata adalah 20,5824 mg/m3, hasil tertinggi di titik 8(H) sebesar 37,632 mg/m3 dan terendah di titik 3(C) sebesar 10,08 mg/m3. Standar yang digunakan adalah Permenakertrans No. 13/Men/X/2011 tentang nilai ambang batas faktor fisik dan faktor kimia di tempat kerja adalah 5 mg/m3 dengan kadar tertinggi diperkenankan 10 mg/m3. Rata-rata pengukuran suhu 35,20C dengan persyaratan 18-300C, kelembaban 75,2% dengan persyaratan 65-95%, laju ventilasi 0,1 m/s dengan persyaratan 0,15-0,25 m/s dan arah angin menunjukkan ke arah selatan. Standar yang digunakan adalah Kepmenkes NO. 1405/Menkes/SK/XI/2002 tentang persyaratan kesehatan lingkungan perkantoran dan industri. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan hasil rata-rata kadar debu total di ruang produksi melebihi NAB yaitu 20,5824 mg/m3, suhu melebihi standar yaitu 35,20C, laju ventilasi tidak memenuhi standar yaitu 0,1 m/s. Ruang produksi sebaiknya dilengkapi dengan rekayasa alat untuk mengurangi paparan debu.

Daftar bacaan : 11 (1982-2015)
Kata kunci      : Kadar debu,Kayu
Klasifikasi       : -
Full Text

PENAMBAHAN TAMENG PADA PALU TERHADAP PENGURANGAN RISIKO PEKERJA PENAMBANGAN EMAS

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah, Juni 2016

Abstrak
Mimma Nur Fatiha (mimmanfatiha@gmail.com)
PENGARUH PENAMBAHAN TAMENG PADA PALU TERHADAP PENGURANGAN RISIKO PEKERJA PENAMBANGAN EMAS DI DESA PANINGKABAN KECAMATAN GUMELAR KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2016
XVI + 63 halaman: gambar, tabel, lampiran

Pekerja fisik yang bekerja di lingkungan tidak formal seperti pekerja pemecah batu memiliki potensi yang besar untuk memperoleh celaka, hal ini disebabkan karena aktivitas dilakukan dengan peralatan seadanya, tanpa dilengkapi dengan alat pelindung diri dengan tuntutan produksi maksimal. Tujuan dari penelitian ini adalah menemukan palu yang dapat mengatasi resiko celaka serta memberi rasa aman dan nyaman bagi pekerja untuk beraktifitas.  
Metode penelitian yang digunakan adalah pre eksperimen. Penelitian dilakukan pada 14 pekerja pengolahan emas dibawah koordinasi Bapak Bambang Priyono di Desa paningkaban Kecamatan Gumelar Kabupaten Banyumas. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, pengamatan, pengukuran dan perhitungan.  
Hasil dari penelitian dengan uji statistik Wilcoxon diperoleh nilai Th > Tt (23 > 21) yang artinya ada pengaruh penambahan tameng palu terhadap pengurangan risiko kecelakaan kerja. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ada pengaruh penambahan tameng palu terhadap penurunan risiko kecelakaan kerja. Sebaiknya pekerja pemecah batu menggunakan palu yang diberi tameng.

Daftar bacaan : 17 (1989 – 2015)
Kata kunci      : Tameng Palu
Klasifikasi       : -
Full text

Kamis, 03 November 2016

KEEFEKTIFAN EKSTRAK DAUN PEPAYA (Carica papaya) SEBAGAI INSEKTISIDA ALAMI TERHADAP KEMATIAN LARVA NYAMUK Aedes aegypti

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto 
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah, Juni 2016

Abstrak
Susweni (susweni27@yahoo.co.id)
KEEFEKTIFAN EKSTRAK DAUN PEPAYA (Carica papaya) SEBAGAI INSEKTISIDA ALAMI TERHADAP KEMATIAN LARVA NYAMUK Aedes aegypti
XV + 59 Halaman: gambar, tabel, lampiran

Penyakit Demam Berdarah Dengue salah satu penyakit endemis yang dapat menimbulkan wabah. Salah satu upaya yang penting adalah memutus rantai penularan, yaitu dengan menggunakan insektisida. Pengendalian vector DBD umumnya menggunakan insektisida kimia yang berdampak negative terhadap lingkungan. Daun pepaya merupakan insektisida alami karena mengandung banyak senyawa tanin, alkaloid dan papain yang dapat digunakan untuk membunuh larva Aedes aegypti. Tujuan penelitian ini adalah menghitung kematian larva Aedes aegypti pada konsentrasi 1%, 5% dan 10% ekstrak daun pepaya (Carica papaya), mengetahui konsentrasi yang paling efektif untuk mematikan larva Aedes aegypti, dan mendeskripsikan perbedaan kematian larva Aedes aegypti pada penggunaan berbagai konsentrasi ekstrak daun pepaya.
Metode penelitian ini adalah quasi exsperiment dengan rancangan static group comparation untuk menghitung kematian larva Aedes aegypti pada konsentrasi 1%, 5% dan 10% ekstrak daun pepaya. konsentrasi tersebut dimasukkan kedalam enamel berukuran 200 ml yang masing-masing berisi 25 ekor larva Aedes aegypti, diamati selama 1x24 jam. Penelitian dilakukan dalam tiga kali replikasi, dan data analisis menggunakan Anova (Analysis of Variance).
Hasil penelitian ekstrak daun pepaya (Carica papaya) mempunyai signifikansi 0.001 (Konsentrasi ekstrak daun pepaya yang paling efektif membunuh larva Aedes aegypti yaitu 10%. Bagi peneliti lain untuk mengurangi kepekatan pada ekstrak daun pepaya dapat dilakukan dengan cara filtrasi sehingga dapat memudahkan dalam pengamatan.

Daftar bacaan : 12 (1995-2015)
Kata kunci      : larva Aedes aegypti, ekstrak daun papaya
Klasifikasi       : -
Full Text

KADAR DEBU PLTU KARANGKANDRI DENGAN KEJADIAN PENYAKIT ISPA DI DESA KARANGKANDRI

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang 
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto 
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan 
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2016 

Abstrak 
Ratna Rahmasari (ratnayuna08@gmail.com)
HUBUNGAN KADAR DEBU PLTU KARANGKANDRI DENGAN KEJADIAN PENYAKIT ISPA DI DESA KARANGKANDRI, KECAMATAN KESUGIHAN, KABUPATEN CILACAP TAHUN 2016 
XVI + 76 halaman: tabel, gambar, lampiran 

Salah satu dampak negatif dari kegiatan industri adalah pencemaran udara. PLTU merupakan industri yang menimbulkan pencemaran udara berupa debu, apabila debu masuk ke saluran pernafasan dapat menyebabkan penyakit ISPA. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan kadar debu PLTU Karangkandri dengan kejadian penyakit ISPA di Desa Karangkandri, Kecamatan Kesugihan, Kabupaten Cilacap. Jenis penelitian adalah analitik dengan metode cross sectional. Variabel bebas penelitian yaitu kadar debu PLTU Karangkandri, variabel terikatnya kejadian penyakit ISPA, dan variabel pengganggu meliputi arah angin, kecepatan angin, suhu, kelembaban, curah hujan & kebiasaan merokok anggota keluarga. Data diperoleh dari pengukuran debu menggunakan EPAM 5000 & pemeriksaan ISPA pada responden yang telah didapatkan dari data Puskesmas Kesugihan II, Kabupaten Cilacap. Hasil pengukuran dibandingkan dengan standar dari Permenkes RI No. 1077/Menkes/Per/V/2011 tentang Pedoman Penyehatan Udara Dalam Ruang Rumah yaitu ≤ 70 µg/m3 dalam 24 jam. Data dianalisis menggunakan program SPSS dengan uji Chi-Square (x2 ). Penelitian diperoleh 4 responden yang kadar debu rumahnya melebihi standar, yaitu 572 µg/m3 , 1011 µg/m3 , 2019 µg/m3 , 71 µg/m3 . Responden yang mengalami ISPA sebanyak 33,33%, arah angin dari selatan menuju arah utara, curah hujan sebesar 342 mm, rata-rata kecepatan angin dalam ruang sebesar 0,1 m/s, rata-rata suhu ruang 32,5ºC, rata-rata kelembaban 81% & sebanyak 68,75% responden memiliki anggota keluarga merokok. Menurut uji statistik menggunakan uji Chi Square (x2 ) diperoleh hasil bahwa ada 2 sel yang nilai harapan <5 1.="" 20="" b="" digunakan="" ekspektasi="" exact="" fisher="" maka="" melebihi="" nilai="" pada="" yaitu="" yang="">Disimpulkan
bahwa tidak ada hubungan kadar debu PLTU Karangkandri dengan kejadian penyakti ISPA di Desa Karangkandri, Kecamatan Kesugihan, Kabupaten Cilacap. Disarankan kepada PLTU untuk melakukan pemantauan debu minimal 2 kali dalam setahun, yaitu musim kemarau dan musin hujan & disarankan kepada masyarakat agar pada ventilasi rumah dipasang kawat kasa untuk memininalisir debu masuk ke rumah.

Daftar bacaan : 13 (1994-2014)
Kata kunci      : Debu PLTU, Penyakit ISPA
Klasifikasi       :
Full Text