Senin, 01 September 2014

STUDY SANITASI PENGELOLAAN LINEN DI RSUD

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia  
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang  
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan  
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2014


Abstrak
Alfian Mubarak (iyan_bloom@yahoo.co.id)
STUDY SANITASI PENGELOLAAN LINEN DI RSUD HJ. ANNA LASMANAH BANJARNEGARA TAHUN 2014 
XVI + 90 halaman : gambar, tabel, lampiran 

RSUD Hj. Anna Lasmanah Banjarnegara merupakan rumah sakit Tipe C, dengan nilai (Bed Occupancy Ratio) 72,32%, jumlah tempat tidur 177. Lingkungan rumah sakit yang kurang baik merupakan sumber potensi terjadinya infeksi nosokomial, salah satu lingkungan tersebut adalah pengelolaan linen. Dalam proses pengelolaan linen masih ada beberapa tahap yang belum memenuhi standar, yang meliputi pengumpulan linen yang belum terpisah antara linen infeksius dan non infeksius dan penyimpanan kereta linen yang tidak terlindungi sehingga bisa menjadi potensi cemaran bakteri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat sanitasi pengelolaan linen dan mendiskripsikan proses dan faktor  faktor yang mempengaruhi pengelolaan linen serta mengetahui jumlah angka kuman spora spesies Bacillus sp. pada linen bersih setelah keluar dari proses.
Jenis penelitian ini adalah deskriptif yaitu dengan cara membandingkan hasil penelitian yang dilakukan dengan teori dan peraturan yang berlaku yaitu KepMenkes RI Nomor 1204/Menkes/SK/X/2004 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit.
Tingkat sanitasi pengelolaan linen di RSUD Hj. Anna Lasmanah Banjarnegara dalam katagori cukup baik dengan nilai 58,30%. Hasil pemeriksaan mikrobiologi spora spesies Bacillus sp. pada seprei (136,71 inc), stik laken (152,83 inc2) dan selimut (20,15 inc2). Kesimpulan proses pengelolaan linen masih ada yang belum baik yaitu proses pengumpulan dan pengangkutan linen kotor yang masih tercampur antara linen infeksius dan non infeksius. Peneliti menyarankan untuk pelatihan pengelolaan linen yang baik dan bahaya linen kotor bagi kesehatan serta peningkatan kesadaran tenaga pengelola linen tentang pentingnya alat pelindung diri untuk mencegah terjadinya penyakit akibat kerja.

Kepustakaan : 13 ( 1989  2014 )
Kata kunci    : Pengelolaan, sanitasi dan linen rumah sakit
Klasifikasi    : -
Fulltext

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang 
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan 
Karya Tulis Ilmiah, 7 Juli 2014


Abstrak
Ahlu Ridho Al Afi ( ahluuhuuyy@yahoo.com)
DESKRIPSI KANDUNGAN STAPHYLOCOCCUS AUREUS PADA DAGING AYAM DI PASAR PURWAREJA KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2014
XV + 51 halaman :gambar, tabel, lampiran 

Makanan tidak hanya harus memenuhi gizi dan mempunyai bentuk yang menarik, tetapi juga harus bebas dari mikroorganisme dan bahan-bahan kimia yang dapat menyebabkan penyakit. Contoh  mikroorganisme adalah bakteri Staphylococcus aureus menimbulkan gangguan pencernaan gastroenteritis, keracunan makanan atau toksiskosis usus. Tingkat cemaran di pasar tradisional lebih tinggi dari pada tingkat cemaran di supermarket. Di pasar Purwareja Kabupaten Banjarnegara terdapat pedagang daging ayam yang berjumlah banyak dan sebagian besar dari pedagang belum memperhatikan kebersihan di tempat penjualan, tempat pemotongan daging dan kebersihan individu pedagang. Tujuan penelitian untuk mengetahui ada tidaknya kandungan staphylococcus aureus pada daging ayam di Pasar Purwareja Kabupaten Banjarnegara tahun 2014.  Metode penelitian deskriptif, dengan maksud untuk memperoleh gambaran yang jelas dan nyata tentang kandungan staphylococcus aureus pada daging ayam di Pasar Purwareja Kabupaten Banjarnegara tahun 2014. Cara pengumpulan data dengan cara observasi, wawancara, dan pemeriksaan laboratorium.
Hasil penelitian menunjukan bahwa keseluruhan penelitian terhadap kandungan staphylococcus aureus pada daging ayam melalui pemeriksaan laboratorium dengan hasil rata-rata 2 X 103
koloni/gram, maka kandungan staphylococcus aureus pada daging ayam di Pasar Purwareja Kabupaten Banjarnegara tidak memenuhi syarat. Sanitasi tempat penjualan dan personal hygiene masuk kriteria cukup baik dengan rata-rata presentase 61 % dan 60%.  Kandungan staphylococcus aureus pada daging ayam di Pasar Purwareja Kabupaten Banjarnegara tidak memenuhi syarat batas cemaran mikroba. Untuk mengatasi permasalahan tersebut hendaknya pihak pedagang selalu menjaga kebersihan tempat penjualan, menjaga kebersihan alat-alat pemotong daging ayam,  menggunakan APD (clemek dan masker) yang selalu bersih, serta menambah penutup untuk daging ayam yang akan dijual. 

DaftarBacaan : 13 (1978  2010)
Kata Kunci     : Daging ayam, Pasar
Klasifikasi      :
Fulltext

STUDI ZAT PEWARNA KERUPUK SOTO DIPASAR TRADISIONAL

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang 
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan 
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2014

 Abstrak
Afianty(afi_anty@yahoo.com)
STUDI ZAT PEWARNA KERUPUK SOTO DIPASAR TRADISIONAL EKS KOTATIF PURWOKERTO KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2014. 
XVI+ 58 :halaman: gambar, tabel ,lampiran 

Makan kerupuk cukup potensial terjadinya gangguan kesehatan akibat penyelenggaraan dan pengawasan yang masih jauh dari syarat kesehatan sehingga perlu adanya upaya untuk pengawasan dalam rangka meningkatkan pengamanan makanan kerupuk. Kerupuk soto merupakan jenis kerupuk yang biasa dijual dengan beraneka warna yang menarik. Pewarna yang di gunakan yaitu pewarna alami dan pewarna buatan yang diizinkan dan tidak diizinkan, akan tetapi saat ini masih ada produsen yang menggunakan pewarna buatan yang tidak diizinkan. Hal ini sangat berbahaya karena pewarna tersebut dapat menyebabkan kanker pada manusia yang mengkonsumsi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya zat pewarna buatan yang tidak diizinkan pada kerupuk soto di pasar tradisional eks kotatif purwokerto dan mengetahui tingkat pengetahuan pedagang tentang zat pewarna alami dan pewarna buatan yang diizinkan dan tidak diizinkan. 
Metode penelitian deskriptif dengan cara melakukan pemeriksaan laboratorium dengan jumlah lima sampel dari empat produsen dari jatilawang, cilacap, dan NN. Data diperoleh dari wawancara , dokumentasi dan pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui ada tidaknya zat pewarna buatan yang tidak diizinkan pada kerupuk soto dengan metode metode benang wool.
Hasil pemeriksaan menunjukan bahwa tiga sampel dinyatakan positif menggunakan zat pewarna buatan yang tidak diizinkan dan dua sampel dinyatakan positif menggunakan zat pewarna buatan yang diizinkan.
Kesimpulan bahwa tiga sampel mengandung zat pewarna buatan yang tidak diizinkan dan dua sampel mengandung zat pewarna buatan yang diizinkan. Agar para produsen tidak menggunakan zat pewarna yang berbahaya untuk bahan tambahan makanan disarankan Dinas Kesehatan Kabupaten dan petugas Puskesmas melakukan penyuluhan pada produsen dan pedagang sehingga tidak terjadi penyalahgunaan zat pewarna dalam makanan.

 Daftar bacaan : 9 (1955-2012)
Kata kunci       : Bahan tambahan makanan
Klasifikasi       :
Fulltext

EVALUASI OPERASI DAN PEMELIHARAAN IPAL KOMUNAL



Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2014

Abstrak
Cahyo Setiawan (cahyo.setiawan13@yahoo.com)
EVALUASI OPERASI DAN PEMELIHARAAN IPAL KOMUNAL DI KELURAHAN KARANG PUCUNG KECAMATAN PURWOKERTO SELATAN KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2014
XVII + 109 halaman: gambar, tabel, lampiran.

Salah satu ruang lingkup program Sanitasi Perkotaan Berbasis Masyarakat (SPBM) untuk mengatasi masalah sanitasi adalah dengan penyediaan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Komunal. Tahun 2012 Kelurahan Karang Pucung, Kecamatan Purwokerto Selatan, Kabupaten Banyumas menjadi sasaran pelaksanaan pembangunan IPAL Komunal.  Sebagai tindak lanjut pembangunan IPAL Komunal tersebut adalah pelaksanaan operasi dan pemeliharaan. Hasil survei pendahuluan di Kelurahan Karang Pucung terdapat permasalahan, antara lain belum adanya upaya terpadu antara pengelola dan masyarakat pemanfaat dalam kegiatan operasional dan pemeliharaan, sehingga beberapa bak kontrol ada yang rusak. Tujuan penelitian untuk mengevaluasi pelaksanaan operasi dan pemeliharaan IPAL Komunal di Kelurahan Karang Pucung, Kecamatan Purwokerto Selatan, Kabupaten Banyumas. 
Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif evaluasi yaitu mencari jawaban tentang pencapaian tujuan yang ditetapkan sebelumnya. Penelitian ini dilakukan dengan mendeskripsikan pengelolaan IPAL Komunal pada tahap operasi dan pemeliharaan. Aspek operasi dan pemeliharaan meliputi pembiayaan, pengoperasian, dan pemeliharaan sarana IPAL Komunal, kemudian dibandingkan dengan pedoman teknis operasi dan pemeliharaan yang dibuat oleh Kementerian Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Cipta Karya tahun 2012. 
Hasil evaluasi menggunakan instrumen checklist yang mengacu pada pedoman operasi dan pemeliharaan IPAL Komunal oleh Kementerian Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Cipta Karya tahun 2012, didapatkan nilai 110/ 300 (37%) dan termasuk kategori “Kurang” (nilai <40 bahwa="" baik.="" berkordinasi="" dalam="" dan="" dengan="" dibuat="" ipal="" kegiatan="" kelompok="" kerja="" komunal="" melaksanakan="" menunjukan="" nilai="" operasional="" pemanfaat="" pemanfaatan="" pemelihara="" pemeliharaan="" pengelola="" rencana="" saling="" sebaiknya="" secara="" selaku="" span="" telah="" terkelola="" terpadu.="" tersebut="" tidak="" warga="" yang="">

Daftar bacaan
:
19 (1996 - 2013)
Kata kunci
      :
IPAL Komunal, evaluasi operasi dan pemeliharaan




IDENTIFIKASI BAHAN BERBAHAYA (FORMALIN DAN BORAKS) DALAM MIE BASAH YANG DIJUAL DI PASAR

 
                                                                                           Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
                                                                                             Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
                                                                                            Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
                                                                                Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan
                                                                                                                  Karya Tulis Ilmiah, Juli 2014

Abstrak
Adhar Ariyanto (adharqu@yahoo.com)
IDENTIFIKASI BAHAN BERBAHAYA (FORMALIN DAN BORAKS) DALAM MIE BASAH YANG DIJUAL DI PASAR TRADISIONAL KABUPATEN KEBUMEN TAHUN 2014 
XVI + 50 halaman: gambar, tabel, lampiran

Mie basah merupakan mie mentah yang sebelum dipasarkan mengalami penggodokan dalam air mendidih lebih dahulu, dengan kadar air 52%. Tingginya kadar air membuat mie basah cepat mengalami kerusakan atau pembusukan, karena itu banyak usaha dilakukan untuk menambahkan bahan kimia pengawet. Bahan berbahaya yang sering ditambahkan adalah formalin dan boraks. Penelitian ini. Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi ada tidaknya formalin dan boraks dalam mie basah yang dijual di Pasar Tradisional Kabupaten Kebumen.
Metode penelitian ini adalah deskriptif, dengan tujuan untuk  memperoleh gambaran tentang hasil pemeriksaan ada tidaknya formalin dan boraks dalam mie basah yang dijual di Pasar Tradisional Kabupaten Kebumen. Penelitian ini dilakukan dengan cara pengumpulan data lapangan dan pemeriksaan secara laboratorium yang kemudian hasilnya dibandingkan dengan Permenkes R.I Nomor 033 tahun 2012 tentang Bahan Tambahan Pangan.
Penelitian ini dilakukan terhadap 6 sampel mie basah yang diambil dari 6 pedagang mie basah.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 3 sampel mie basah positif menggunakan formalin yaitu pada sampel D1 dan D2 yang berasal dari 2 pedagang mie basah di Pasar Kutowinangun, serta sampel E yang berasal dari pedagang mie basah di Pasar Prembun. Sedangkan 3 sampel lainnya positif menggunakan boraks yaitu sampel A, B, dan C yang masing-masing berasal dari pedagang mie basah di Pasar Wonokriyo Gombong, Pasar Karanganyar dan Pasar Tumenggungan. Semua sampel yang diamati secara organoleptik memiliki ciri-ciri fisik mie basah yang menggunakan formalin maupun boraks. Tingkat pengetahuan semua pedagang berada dalam kategori kurang baik yaitu antara 47,62% s/d 52,4%.
Kesimpulan penelitian ini adalah 50% mie basah positif menggunakan formalin dan 50% positif menggunakan boraks sehingga mie basah tersebut tidak aman untuk dikonsumsi karena dapat mengganggu kesehatan. Disarankan perlu adanya pembinaan, pengawasan, dan pemeriksaan secara rutin oleh Dinas Kesehatan terhadap penggunaan formalin dan boraks dalam makanan atau bahan makanan khususnya mie basah. 

Daftar bacaan : 12 (1984-2013)
Kata kunci      : Mie Basah, Formalin, Boraks
Klasifikasi      :
Fulltext

STUDI DESKRIPTIF TENTANG KELELAHAN SUBYEKTIF PADA BAGIAN PRODUKSI PERUSAHAAN UMUM PERCETAKAN

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG 
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN PURWOKERTO
PROGRAM STUDI DIPLOMA III KESEHATAN LINGKUNGAN 
                                                                                                KARYA TULIS ILMIAH, 17 JULI 2014
 
ABSTRAK  
ACHMAD AGUNG PRABOWO (bvikers@yahoo.com)
STUDI DESKRIPTIF TENTANG KELELAHAN SUBYEKTIF PADA BAGIAN PRODUKSI PERUSAHAAN UMUM PERCETAKAN UANG REPUBLIK INDONESIA KARAWANG TAHUN 2014 
Xiv +67 halaman: gambar, tabel, lampiran 

Kelelahan (fatigue) merupakan suatu perasaan yang bersifat subyektif. Ada dua jenis kelelahan, yaitu kelelahan fisiologis dan kelelahan psikologis. Kelelahan fisiologis terjadi karena bekerja dengan penggunaan otot-otot badan yang berlebihan, sedangkan kelelahan psikologis biasanya bersumber pada kebosanan. Kedua jenis kelelahan tersebut dapat mengganggu pekerjaan, menurunkan produktivitas, meningkatkan kesalahan, bahkan berpotensi mengakibatkan kecelakaan kerja. Kelelahan kerja merupakan bagian dari permasalahan umum yang sering dijumpai pada tenaga kerja.
Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian deskriptif. Penelitian ini dilakukan dengan maksud untuk mengetahui tentang kelelahan subyektif pekerja pada Bagian Produksi Perum Percetakan Uang Republik Indonesia
Hasil pengukuran menggunakan alat kuesioner, maka didapatkan dari 38 responden para pekerja yang mengalami kelelahan sangat ringan 24 orang dengan persentase 63,2 %, kelelahan ringan 14 orang dengan persentase 36,8%, kelelahan sangat berat dan kelelahan berat tidak ada pekerja yang mengalami dengan persentase 0 %. Untuk jenis kelamin berjumlah 30 orang lakilaki dengan persetanse 78,9 %. Usia pekerja 60,7 % adalah usia pekerja paling rendah berusia 19-25 tahun. Masa kerja pekerja sebagian besar yaitu 1-4 tahun berjumlah 20 orang dengan persentase 52,6 %. Status gizi di perusahaan tersebut sudah normal.
Kesimpulan penelitian terdapat kelelahan ringan dan sangat ringan pada pekerja Bagian Produksi Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia. Pekerja tua yang berusia 50 tahun ke atas diharapkan tidak melakukan pekerjaan yang berat dan sebaiknya pekerja  melakukan variasi sikap kerja berdiri yang monoton dengan melakukan sikap duduk untuk merenggangkan  otot-otot yang tegang akibat 7 jam bekerja. Pada waktu istirahat pekerja diberikan makanan/ snack agar asupan kalori pada pekerja tidak berkurang.

Daftar bacaan  : 9 (1993-2013)
Kata kunci       : Kelelahan Subyektif Pekerja
Klasifikasi       :  
Fulltext

EFISIENSI IPAL KOMUNAL DALAM MENURUNKAN COD

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik  Kesehatan Kemenkes Semarang 
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan 
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2014

Abstrak
Ngizatul Ngainiyah (Ngizatul_0143@yahoo.com)
EFISIENSI IPAL KOMUNAL DALAM MENURUNKAN COD DI KELURAHAN KARANG PUCUNG KECAMATAN PURWOKERTO SELATAN KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2014

XIX + 123 halaman: gambar, tabel, lampiran.
Limbah cair domestik yang dihasilkan dari kegiatan masyarakat dapat berupa pencemaran air yang berpengaruh terhadap kesehatan manusia. Chemical Oxygen Demand (COD) merupakan salah satu parameter air limbah. Kadar COD pada effluent air limbah yang terlalu tinggi menyebabkan oksigen terlarut akan berkurang dengan cepat dan akibatnya biota air akan mati. Salah satu teknologi pengolahan air limbah adalah dengan metode filter anaerobik. Teknologi ini telah diaplikasikan pada Instalasi Pengolahan Air Limbah Komunal. Penelitian sebelumnya tentang efisiensi filter anaerobik dalam menurunkan kadar COD oleh Nusa Idaman Said didapatkan efisiensi sebesar 80%. Penelitian serupa belum pernah dilakukan pada sarana Instalasi Pengolahan Air Limbah Komunal.
Tujuan penelitian untuk mengetahui efisiensi Instalasi Pengolahan Air Limbah Komunal dalam menurunkan kadar COD di Kelurahan Karang Pucung, Kecamatan Purwokerto Selatan, Kabupaten Banyumas.
Jenis penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional yang pengumpulan datanya dilakukan dalam waktu singkat. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah Instalasi Pengolahan Air Limbah Komunal, sedangkan variabel terikatnya adalah kadar COD.
Hasil penelitian ini diketahui kadar COD rata – rata air limbah pada inlet Instalasi Pengolahan Air Limbah Komunal sebesar 155, 5 mg/ liter dan outlet Instalasi Pengolahan Air Limbah Komunal sebesar 28,16 mg/ liter. Hasil analisis statistik diperoleh nilai signifikan kurang dari 0,05 yaitu 0,028.
Kesimpulan penelitian ini adalah efisiensi Instalasi Pengolahan Air Limbah Komunal dalam menurunkan kadar COD sebesar 81,9%. Nilai tersebut menunjukkan bahwa Instalasi Pengolahan Air Limbah Komunal sudah efisien dalam menurunkan kadar COD (efisien jika persen penurunan 80% – 90%). Masyarakat pemanfaat Instalasi Pengolahan Air Limbah sebaiknya ikut berperan serta dalam upaya pemeliharaan dan perawatan Instalasi Pengolahan Air Limbah Komunal. 

 Daftar bacaan : 30 (1976 - 2014)
Kata kunci : Instalasi Pengolahan Air Limbah Komunal,
                     COD (Chemical Oxygen Demand)
Klasifikasi  : -
Fulltext