Senin, 16 Desember 2013

STUDI KOMPARASI VARIASI DIAMETER BATU APUNG SEBAGAI MEDIA FILTER UNTUK MENURUNKAN DETERJEN DALAM AIR

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang 
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan 
                                                                                                              Karya Tulis Ilmiah, 03 Juli 2012

Abstrak
Fajar Surya Utama (edhotzz@yahoo.com)
STUDI KOMPARASI VARIASI DIAMETER BATU APUNG SEBAGAI MEDIA FILTER UNTUK MENURUNKAN DETERJEN DALAM AIR TAHUN 2012 
 XV + 64 halaman : lampiran, tabel, gambar

Deterjen merupakan salah satu unsur yang dapat menimbulkan pencemaran terhadap lingkungan. Oleh karena itu perlu usaha pengolahan agar deterjen yang terkandung dalam air tidak menjadi masalah khususnya pada ekosistem air. Salah satu cara pengolahan yaitu dengan batu apung.
Tujuan penelitian ini adalah menganalisis penurunan kadar deterjen pada variasi diameter batu apung.
Metode penelitian ini adalah metode quacy experiments dengan menggunakan media saring batu apung yang diharapkan dapat menjadi media adsorpsi dan jika dilihat dari karakteristik batu apung itu sendiri mempunyai porositas yang cukup tinggi. Penelitian ini dilakukan di Pemerintahan Provinsi Jawa Barat Dinas Kesehatan Unit Pelaksanaan Teknik Dinas Balai Pengembangan Laboratorium Kesehatan Jl. Sederhana No. 5 Bandung. Data yang disajikan dalam bentuk narasi dan numerik.
Hasil penelitian menunjukan adanya penurunan kadar deterjen dengan media saring batu apung rata-rata 2,49 mg/lt. Penurunan kadar deterjen dengan batu apung diameter 0,1  0,5 cm adalah 1,88 mg/lt, batu apung dengan diameter 0,5  1 cm adalah 2,17 mg/lt dan batu apung dengan diameter 1  2 cm adalah 2,31 mg/lt. Peneliti menyimpulkan sesuai PP N0 82 tahun 2001 tentang
Pengelolaan Kualitas Air Dan Pengendalian Pencemaran Air, bahwa kadar deterjen maksimal adalah 0,2 mg/lt berarti masih belum memenuhi syarat tidak ada perbedaan yang bermakna antara variasi diameter batu apung terhadap penurunan kadar deterjen bahwa semakin kecil variasi diameter saring batu apung pengaruh penurunan kadar deterjen yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan diameter yang lebih besar (0,0033771 < 3,11) Ho ditrima.
Kesimpulan penelitian adalah semakin kecil diameter batu apung, semakin luas kontak air dengan batu apung. Rata-rata kemampuan batu apung dalam menurunkan kadar deterjen di air adalah 14%. Aplikasi pengolahan sederhana dalam menurunkan kadar deterjen. Peneliti selanjutnya untuk penggunaan batu apung dalam menurunkan paremeter deterjen seperti PO, pH, COD dan BOD.   

Daftar bacaan : 12 (1982 - 2009) 
Kata kunci      : Deterjen, Batu Apung
Klasifikasi       :  -

STUDI KOMPARASI JUMLAH ANGKA KUMAN UDARA RUANG PERAWATAN KENANGA KELAS 2 DAN 3 DI RSUD

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang 
Jurussan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan 
                                                                                                                   Karya Tulis Ilmiah, Juni 2012

Abstrak
Dyah Moriska Candra (cha_luph_taa@rocketmail.com)
STUDI KOMPARASI JUMLAH ANGKA KUMAN UDARA RUANG PERAWATAN KENANGA KELAS 2 DAN 3 DI RSUD Prof. Dr. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO TAHUN 2012
XVIII + 98 halaman : gambar, tabel, lampiran

RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto mempunyai nilai BOR 108,10 % dengan kapasitas tempat tidur 497 buah. Rumah sakit  mempunyai dampak negatif yaitu sumber penularan infeksi nosokomial.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan jumlah angka kuman udara di ruang perawatan kenanga kelas 2 dan 3.       
Jenis penelitian observasional analitik dengan metode pendekatan cross sectional. Jenis variabel yang digunakan, yaitu variabel bebas (kondisi ruang perawatan kenanga kelas 2 dan 3), variabel terikat (angka kuman udara), variabel pengganggu (suhu, kelembaban, pencahayaan, luas lubang ventilasi, pelaksanaan desinfeksi, kepadatan hunian). Analisis data menggunakan uji Independent T-test.        Kondisi ruang perawatan kenanga kelas 2 dan 3 termasuk katagori baik, dengan jumlah skor yang sama (84,84%).
Hasil penelitian Ruang perawatan kenanga tidak dilaksanakan desinfeksi pada saat penelitian. Rata-rata angka kuman udara kelas 2 adalah 54 CFU/m3, kelas 3 adalah 149 CFU/m3, masih dibawah persyaratan KEPMENKES RI No. 1204/MENKES/SK/X/2004 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit (200-500 CFU/m). Rata-rata suhu ruang perawatan kenanga kelas 2 (27,87C), kelas 3 (28,5C). Rata-rata kelembaban ruang perawatan kenanga kelas 2 (62,27%), kelas 3 (59,65%). Rata-rata pencahayaan ruang perawatan kenanga kelas 2 (145,3 Lux), kelas 3 (87,5 Lux). Rata-rata luas lubang ventilasi ruang perawatan kenanga kelas 2 (0%) dari luas lantai, kelas 3 sebesar 4,35% dari luas lantai. Rata-rata kepadatan hunian ruang perawatan kenanga kelas 2 (17 m2/orang), kelas 3 (4,13 m/orang). Hasil uji Independent T-test diketahui tidak ada perbedaan yang bermakna antara jumlah angka kuman udara ruang perawatan kenanga kelas 2 dan 3 karena nilai signifikan (2-tailed) lebih besar dari α (0,05), yaitu 0,054.         Peneliti menyimpulkan jumlah angka kuman udara ruang perawatan kenanga kelas 2 dan 3 masih memenuhi syarat. Peneliti menyarankan, perlu adanya jadwal pelaksanaan desinfeksi udara di ruangan secara rutin dengan didukung pengaturan ruangan untuk pasien baru, untuk peneliti lain dapat menambah jumlah variabel yang digunakan, seperti perilaku pasien, penunggu pasien, dan cuaca pada saat pengambilan sampel. 

Daftar bacaan : 28 (1981-2012)
Kata kunci      : Ruang perawatan kenanga, angka kuman udara
Klasifikasi       : - 

HUBUNGAN ANTARA SANITASI ASRAMA, PENGETAHUAN DAN PERSONAL HYGIENE SANTRI DENGAN KEJADIAN SCABIES DI PONDOK PESANTREN

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang 
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan  
                                                                                                                   Karya Tulis Ilmiah, Juni 2012
 
Abstrak 
Dwi Ari Budhiarti (dwiari.budhiarti_@yahoo.co.id)
HUBUNGAN ANTARA SANITASI ASRAMA, PENGETAHUAN DAN PERSONAL HYGIENE SANTRI DENGAN KEJADIAN SCABIES DI PONDOK PESANTREN ROUDHLOTUL QURAN DESA SIRAU KECAMATAN KEMRANJEN KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2012
XVI + 63 halaman: gambar, tabel, lampiran 

Scabies merupakan salah satu penyakit kulit menular yang disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei. Di Indonesia scabies dikenal sebagai penyakit kudis. Kulit terasa gatal di malam hari dan terdapat vesikula kecil berisi cairan bening. Reservoir Scabies adalah manusia, penularan terjadi secara langsung dari orang ke orang ataupun lewat perantara benda. Banyak faktor yang mempengaruhi penularan penyakit scabies, diantaranya kondisi sanitasi lingkungan yang buruk, pengetahuan dan personal hygiene.
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara sanitasi asrama, pengetahuan dan personal hygiene santri dengan kejadian Scabies di Pondok Pesantren Roudhlotul Quran Desa Sirau Kecamatan Kemranjen Kabupaten Banyumas.
Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional. Variabel penelitian ini meliputi variabel bebas (sanitasi asrama, pengetahuan santri, personal hygiene santri), variabel terikat (kejadian scabies) dan variabel pengganggu (kualitas air). Sampel penelitian ini adalah santri yang tinggal di Pondok Pesantren Roudhlotul Quran Sirau. Penentuan sampel dengan menggunakan propotional random sampling  sebanyak 40 orang. analisis data menggunakan uji  statistik Chi Square (x2).
Hasil penelitian menggunakan uji statistik Chi Square (x2) analisis bivariat sanitasi asrama (p= 0,194, OR= 3,231) tidak ada hubungan antara sanitasi asrama dengan kejadian scabies, pengetahuan (p= 0,155, OR= 0,152) tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan kejadian scabies, personal hygiene (p= 0,012, OR= 12) ada hubungan antara personal hygiene dengan kejadian scabies di  Pondok Pesantren Roudhlotul Quran Sirau.  
Kesimpulanya faktor risiko sanitasi asrama dan pengetahuan tidak ada hubungan dengan kejadian scabies, sedangkan faktor risiko personal hygiene
menunjukkan ada hubungan dengan kejadian scabies di Pondok Pesantren Roudhlotul Quran. Saran berdasarkan hasil penelitian santri pondok pesantren hendaknya selalu menerapkan personal hygiene yang baik dalam kehidupan sehari-hari dan menjaga kebersihan lingkungan.

Kepustakaan  : 26 (1998-2012)
Kata kunci     : Scabies, pondok pesantren, personal hygiene
Klasifikasi      : -

STUDI TENTANG ANTROPOMETRI PEKERJA DENGAN SARANA MEJA DAN KURSI KERJA

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang 
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan 
Karya Tulis Ilmiah, 26 Juni 2012

Abstrak
Danang Sadewo (danang_sadewo@ymail.com)
STUDI  TENTANG ANTROPOMETRI PEKERJA DENGAN SARANA MEJA DAN KURSI KERJA DI BAGIAN PRODUKSI PT. SUTANTO ARIFCHANDRA ELEKTRONIC KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2012
 xvii+53 halaman : tabel, gambar, lampiran

Ergonomi merupakan ilmu penerepan untuk menyerasikan pekerjaan dan lingkungan terhadap tenaga kerja. Salah satu indikator ergonomi yaitu penerapan antropometri dengan sarana meja dan kursi kerja yang sesuai dengan ukuran tubuh pekerja yang menggunakannya. Sehingga tidak menyebabkan kelelahan dan menurunnya produktifitas kerja.
Tujuan penelitian ini  untuk mengetahui kesesuaian antara antropometri pekerja dengan sarana meja dan kursi kerja yang digunakan di bagian packing produksi AV dan LV di PT. Sutanto Arifchandra Elektronic Sokaraja
Jenis penelitian ini adalah deskriptif. Subyek dalam penelitian ini adalah bagian packing produksi AV dan LV di PT. Sutanto Arifchandra Elektronic dengan jumlah pekerja 30 pekerja. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan pengukuran.  
Hasil penelitian menunjukan bahwa antropometri pekerja, sarana meja dan sarana kursi pekerja, belum sesuai pada bagian packing produksi AV dan LV di PT. Sutanto Arifchandra Elektronic Sokaraja. Sehingga dapat menyebabkan penyakit akibat kerja dan menurunnya produktifitas kerja.
Berdasarkan hasil tersebut disimpulkan bahwa belum sesuai antara antropometri pekerja dengan sarana meja dan kursi kerja. Untuk mencegah menurunnya produktifitas kerja maka hendaknya menggunakan sarana meja dan kursi yang sesuai dengan antropometri pekerja.

Daftar bacaan : 10 (2004 - 2012)
Kata kunci      : Kesesuain Antara Antropometri Pekerja dengan Sarana Meja dan Kursi Kerja 
Klasifikasi       : -

STUDI KOMPARASI ANGKA KUMAN PADA HANDLE PINTU BANGSAL DAN RUANG ADMINISTRASI DI RUMAH SAKIT

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah, Juni 2012 


ABSTRAK 
Catur Wulan Febriyanti (caca_wulans@yahoo.com)
STUDI KOMPARASI ANGKA KUMAN PADA HANDLE PINTU BANGSAL DAN RUANG ADMINISTRASI DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KEBUMEN TAHUN 2012 
xvi + 99 halaman : halaman, gambar, tabel, lampiran 

Angka kuman menurut Yenice Derek (2008) adalah mikroorganisme pathogen atau non pathogen menurut pengamatan secara visual atau dengan kaca pembesar pada media penanaman yang diperiksa, kemudian dihitung berdasarkan lempeng total.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan angka kuman pada handle pintu bangsal dan ruang administrasi mengetahui angka kuman pada handle pintu bangsal dan menganalisis perbedaan angka kuman pada handle pintu Bangsal dan Ruang Administrasi di RSUD Kebumen.
Metode penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan jenis penelitian analisis inferensial yaitu memeriksa angka kuman pada handle pintu bangsal dan handle pintu administrasi kemudian menganalisis adanya perbedaan angka kuman handle pintu bangsal dan handle pintu ruang
administrasi dengan menggunakan uji statistik yaitu uji komparasi.
Hasil pemeriksaan angka kuman pada handle pintu bangsal Peristi 1358 koloni/cm2, ICU 2240 koloni/cm2, bangsal Cempaka (kamar E2) 1088 koloni/cm, bangsal Bougenvil (kamar A2) 1355 koloni/cm2, bangsal Terate (kamar A4) 1235 koloni/cm2, bangsal Kenanga (ruang B) 1928 koloni/cm2, bangsal Dahlia (kamar A2) 1295 koloni/cm2, bangsal Melati (ruang C1) 1558 koloni/cm, bangsal Anggrek (kamar B4) 1733 koloni/cm2, sehingga didapatkan rata-rata angka kuman pada handle pintu bangsal adalah 1532 koloni/cm2. Angka kuman pada handle pintu di ruang administrasi yaitu ruang rekam medik 708 koloni/cm, ruang pendaftaran 125 koloni/cm2, ruang keuangan 218 koloni/cm, ruang kepegawaian 365 koloni/cm2, sehingga didapatkan rata-rata angka kuman pada handle pintu ruang administrasi adalah 354 koloni/cm2. Berdasarkan hasil uji statistik dengan menggunakan uji komparasi tentang perbedaan angka kuman pada handle pintu bangsal dan handle pintu ruang adminstrasi diperoleh hasil p=0,000, p-value lebih kecil dari 0,05 sehingga Ho ditolak yang artinya ada perbedaan yang signifikan antara angka kuman pada handle pintu bangsal dan pada handle pintu ruang administrasi RSUD Kebumen tahun 2012. Berdasarkan hasil tersebut disarankan kepada pihak rumah sakit untuk melakukan pembersihan setiap hari dengan menggunakan desinfektan terhadap handle pintu yang ada di rumah sakit. 

Daftar bacaan  : 29 (1992-2012)
Kata kunci       : Angka kuman pada handle pintu 
Klasifikasi        :

HUBUNGAN IKLIM KERJA DENGAN KELELAHAN SUBYEKTIF PEKERJA

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang 
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan 
Karya Tulis Ilmiah, Juni 2012

Abstrak   
Astri Dame Ria (astri_tawakal@yahoo.co.id)
HUBUNGAN IKLIM KERJA DENGAN KELELAHAN SUBYEKTIF PEKERJA  DI PT. ASAHIMAS FLAT GLASS Tbk CIKAMPEK TAHUN 2012 
XII + 96 halaman: gambar, tabel, lampiran 

Iklim kerja yang panas dapat mempengaruhi kondisi pekerja. Salah satu akibat dari iklim kerja yang kurang baik adalah kelelahan pada pekerja. Kelelahan merupakan salah satu resiko terjadinya penurunan derajat kesehatan tenaga kerja. Lelah bagi setiap orang akan mempunyai arti tersendiri dan bersifat subyektif.
Tujuan penelitian ini adalah mengukur iklim kerja pada bagian produksi, mengukur kelelahan subyektif pada pekerja bagian produksi dan menganalisis hubungan antara iklim kerja dengan kelelahan subyektif di PT. Asahimas Flat Glass Tbk Cikampek.
Jenis penelitian yang digunakan yaitu jenis penelitian observasional dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling sebanyak 76 orang. Uji statistik yang digunakan yaitu korelasi Spearmen dimana peneliti ingin mengetahui hubungan antara iklim kerja dengan kelelahan subyektif pada pekerja.
Hasil pengukuran iklim kerja pada bagian Departemen Tempered menunjukkan 2 unit kerja yang melebihi NAB dan 5 unit kerja yang masih dibawah nilai NAB. Hasil penilaian kuesioner kelelahan kerja subyektif menunjukkan kelelahan sangat ringan dirasakan oleh 47 orang, kelelahan ringan 29 orang. Untuk kelelahan berat dan sangat berat tidak ada yang merasakan. Hasil korelasi diperoleh nilai sig > α sehingga tidak ada hubungan antara iklim kerja dengan kelelahan subyektif pada pekerja. Kelelahan kerja disebabkan oleh faktor pengganggu yang lain.
Kesimpulan penelitian tidak terdapat hubungan antara iklim kerja dengan kelelahan subyektif pada pekerja di PT. Asahimas Flat Glass Tbk Cikampek. Perlu dilakukan pengendalian terhadap iklim kerja. Pekerja berusia 54 tahun ke atas harus mempunyai beban kerja yang lebih ringan serta variasi waktu kerja dan waktu istirahat lebih banyak daripada pekerja yang lebih muda.
 
Daftar bacaan   :    9 (1991 - 2009)
Kata kunci        :    Iklim kerja dan kelelahan
Klasifikasi        :
  

STUDI TENTANG PENGENDALIAN KECELAKAAN KERJA



Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Politekenik Kesehatan Kemenkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Karya Tulis Ilmiah, 29 Juni 2012

Abstrak
Ari Susia Dewanti (arisusiadewanti@yahoo.com)
STUDI TENTANG PENGENDALIAN KECELAKAAN KERJA DI UNIT FINISH MILL PT. HOLCIM INDONESIA Tbk. CILACAP PLANT TAHUN 2011
xvi + 110 halaman, tabel, gambar, lampiran

Bahan, alat, mesin, proses produksi dan lingkungan kerja berpotensi menimbulkan bahaya dan mengakibatkan kecelakaan kerja. Identifikasi bahaya, penilaian risiko dan pengendalian risiko di PT. HOLCIM Indonesia Tbk. Cilacap Plant merupakan hal yang wajib dilaksanakan sesuai ketentuan dari OHSAS 18001 untuk meminimalisir kecelakaan kerja. 

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bahaya, penilaian risiko dan pengendalian risiko yang ada di unit finish mill PT. HOLCIM Indonesia Tbk. Cilacap Plant. 

Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif. Data yang digunakan adalah data sekunder tahun 2011. Subyek penelitian ini adalah identifikasi bahaya, penilaian risiko dan pengendalian risiko kecelakaan kerja di Unit Finish Mill PT. Holcim Indonesia Tbk. Cilacap Plant. pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi dan dokumentasi. Data disajikan dalam bentuk tabel, gambar, diagram dan narasHasil penelitian ini yaitu sumber bahaya yang ada di Unit Finish Mill ada 112 bahaya, meliputi bahan, alat, mesin, proses produksi dan lingkungan kerja. Penilaian risiko terhadap bahaya tersebut ada 3 yaitu low, medium dan substantial yang terbagi dalam 4 risiko substansial, 15 risiko medium dan 93 risiko rendah. Pengendalian risiko yang dilakukan dengan 3 upaya yaitu teknis (engineering), administrasi dan alat pelindung diri.
Simpulan dari penelitian ini yaitu sumber bahaya di Unit Finish Mill PT.HOLCIM Indonesia Tbk. Cilacap Plant berasal dari bahan, alat, mesin, proses produksi dan lingkungan kerja. Penilaian risiko bahaya yang ada di Unit Finish Mill ada 3 yaitu low, medium dan substantial. Upaya pengendalian yang dilakukan yaitu pengendalian teknis (engineering), administrasi dan alat pelindung diri. Saran bagi OHS department agar dalam HIRARC dicantumkan ditampilkan langsung sub jenis pengendalian yang direkomendasikan, agar tiap manager area memahami dan dapat dengan mudah menentukan pengendalian apa yang akan diterapkan. Bagi pekerja agar bekerja sesuai dengan SOP yang sudah ada dan menggunakan APD saat bekerja serta saling mengingatkan dalam penggunaan APD.

Daftar bacaan : 1970-2012 (22)
Kata kunci       : identifikasi bahaya, penilaian risiko, pengendalian risiko, HIRARC
Klasifikasi       : -
Full text