Kamis, 27 September 2018

UPAYA PENGENDALIAN PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS 1 PURWOKERTO TIMUR TAHUN 2018

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah, Mei 2018

Abstrak
Nur Laily Rahmadiani (nurlailyrd@gmail.com)
UPAYA PENGENDALIAN PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS 1 PURWOKERTO TIMUR TAHUN 2018
LXXIV + 40 halaman: gambar, tabel, lampiran

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia dengan jumlah penderitanya cenderung meningkat dan penyebarannya semakin luas. Penyakit ini ditularkan oleh nyamuk Aedes aegepty, pemberantasan penyakit ini selain memberikan pengobatan pada penderita dapat dilakukan dengan cara pengendalian pada vektornya.
Tujuan penelitian: untuk mengetahui upaya pengendalian penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah kerja Puskesmas 1 Purwokerto Timur pada tahun 2016.
Metode penelitian: deskriptif yaitu pengumpulan data dilakukan dengan cara penelusuran data dilapangan dan di Puskesmas serta wawancara. Data disajikan dalam bentuk narasi tersturktur, gambar, tabel dan grafik. Analisis hasil menggunakan analisis berupa gambar, tabel dan grafik.
Hasil penelitian: bahwa alur dari kasus DBD berawal dari kegiatan surveilans epidemiologi yang terdiri dari pengumpulan data, penyajian dan analisis data, penyebarluasan dan umpan balik, laporan, rekomendasi dan alternatif tindak lanjut. Kemudian penyelidikan epidemiologi yang dilakukan sebanyak 6 kali pada 2 penderita DD dan 4 penderita DBD (+) serta ± 20 rumah sekitar penderita. Dari hasil penyelidikan epidemiologi dapat dilihat hasil perhitungan HI yang akan menjadi langka tindak lanjut upaya pengendalian yang akan dilakukan. Bila hasil HI ≥ 5% maka dilakukan pengendalian berupa PSN, Larvasida, Penyuluhan dan Fogging seluas radius 200 meter dari penderita atau ± 300 rumah. Sedangkan bila perhitungan HI < 5% maka upaya pengendalian yang dilakukan hanya PSN, Larvasida, dan Penyuluhan seluas radius 200 meter dari penderita atau ± 300 rumah saja tanpa dilakukan Fogging. Kasus DBD yang ditemukkan di Puskesmas 1 Purwokerto Timur dari tahun 2015-2017 sebanyak 174 penderita dengan usia terbanyak pada golongan umur 15-28 tahun, paling sering muncul pada bulan Maret 2016. Kelurahan Mersi menjadi tempat tertinggi yang terkenal penyakit DBD.
Kesimpulan: program pengendalian penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah kerja Puskesmas 1 Purwokerto Timur dikatakan berhasil karena dapat menurunkan angka kasus DBD selama 3 tahun dari tahun 2015-2017. Tahun 2015 jumlah kasus DBD sebanyak 81 penderita, tahun 2016 turun menjadi 75 penderita dan pada tahun 2017 mengalami penurunan drastis yang hanya ditemukan 18 penderita. Sarannya adalah pemberdayaan tenaga sanitasi yang ada di Puskesmas lebih aktif dalam program pengendalian dan pencegahan DBD serta surveilans epidemiologi.

Daftar Bacaan   :  19 (2003 – 2016)
Kata Kunci        :  Upaya Pengendalian Penyakit Demam Berdarah Dengue(DBD).
Klasifikasi         :   -

STUDI HYGIENE SANITASI PEMBUATAN TAHU DI HOME INDUSTRI TAHU DESA REMPOAH KECAMATAN BATURRADEN KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2018

Politeknik Kesehatan Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah, Mei 2018

ABSTRAK
Nugroho Adhi Pradana (nadhip97@gmail.com)
STUDI HYGIENE SANITASI PEMBUATAN TAHU DI HOME INDUSTRI TAHU DESA REMPOAH KECAMATAN BATURRADEN KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2018
xviii+ 127 halaman : tabel, gambar, lampiran.

Makanan merupakan faktor yang sangat penting dalam kehidupan manusia, karena makanan sebagai sumber tenaga bagi tubuh dan kebutuhan dasar bagi pertumbuhan manusia. Makanan yang dikonsumsi bukanlah hanya sekedar memenuhi gizi danmempunyai bentuk yang menarik, tetapi juga makanan harus aman dalam arti tidak mengandung mikroorganisme dan bahan-bahan kimia yang dapat menyebabkan penyakit (Nur Cahyani, 2011, h.1). Kasus penyakit bawaan makanan (foodborne disease) dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut antara lain kebiasaan mengolah makanan secara tradisional, penyimpanan dan penyajian yang tidak bersih dan tidak memenuhi persyaratan hygiene (Fathonah S, 2005) (Fajriansyah, 2017, h.14).
Tujuan penelitian: ini adalah mendeskripsikan gambaran hygiene sanitasi pembuatan tahu pada home industri tahu di Desa Rempoah Kecamatan Baturraden Kabupaten Banyumas Tahun 2018.
Metode penelitian: observasional deskriptif. Pengumpulan data dengan data primer diperoleh dari hasil observasi dan wawancara kepada pemilik dan pekerja di industri tahu serta uji laboratorium terhadap hasil produksi tahu di Desa Rempoah, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas yang dilakukan di Laboratorium Kesehatan Masyarakat Kabupaten Banyumas, serta data sekunder sekunder diperoleh dari pemilik industri tahu di Desa Rempoah, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas.
Hasil penelitian: menunjukan penilaian sanitasi pada proses pemilihan bahan makanan, pengangkutan makanan dan bahan makanan memenuhi syarat karena memperoleh skor ≥76%. Penyimpanan Bahan Makanan, Pengolahan Makanan, Penyimpanan Makanan, Penjamah Makanan, Peralatan Pengolah Makanan, Tempat Pengolahan Makanan, dan Fasilitas Sanitasi tidak memenuhi syarat karena memperoleh skor Hygiene sanitasi pembuatan tahu di home industri tahu Desa Rempoah Kecamatan Baturraden Kabupaten Banyumas tidak memenuhi syarat. Permasalahan hygiene sanitasi dapat diatasi dengan Menyediakan pakaian kerja, Menyediakan wadah bahan makanan yang tertutup sehingga tidak terjadi potensi pencemaran terhadap kedelai, Lantai pada tempat pengolahan tahu, sebaiknya selalu dibersihkan dan dibuat kedap air, Disediakan tempat sampah yang tertutup dan kedap air, Sebaiknya pencucian menggunakan air yang mengalir dan memenuhi persyaratan air bersih, Alat yang digunakan untuk pengangkutan makanan (tahu) sebaiknya menggunakan bahan dari alumunium, Mengikutsertakan penjamah dalam pelatihan hygiene sanitasi makanan, Kandang hewan ternak sebaiknya di tempatkan jauh dari tempat pengolahan makanan, menyediakan wastafel pada tempat yang tidak jauh dari tempat pengolahan tahu, Kondisi fisik bangunan sebaiknya diperbaiki untuk menghindari potensi pencemaran.

Daftar bacaan   : 28 (1995 – 2018)
Kata Kunci        : Hygiene sanitasi, Tahu, Kesehatan Lingkungan
Klasifikasi         :  -
Fulltext




HYGIENE SANITASI PE MBUATAN SOHUN PT. SOKA INDAH DESA KARANGSOKA KECAMATAN KEMBARAN KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2018

Politeknik Kesehatan Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah, Juni 2018

Abstrak
Izza Anzili Rizqi (izzaanzili1905@gmail.com)
HYGIENE SANITASI PEMBUATAN SOHUN PT. SOKA INDAH DESA KARANGSOKA KECAMATAN KEMBARAN KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2018
xviii + 107 halaman : tabel, gambar, lampiran

Sohun merupakan suatu produk bahan makanan kering yang dibuat dari pati denganbentuk khas. Pemanfaatan sohun masih terbatas sebagai campuran  makanan seperti sup, soto, bakso, kimlo dan salad. Sohun sering digunakan dalam makanan vegetarian atau ditambahkan dalam minuman, manisan atau
dessert soups. Seiring dengan pemanfaatan sohun, mengkonsumsi mie harus memperhatikan kualitas dari mie tersebut. Kualitas mie yang tidak baik dapat mengganggu kesehatan, penurunan derajat kesehatan disebabkan keadaanhigiene sanitasi buruk. Tujuan penelitian: mengetahui skor penilaian penerapan hygiene sanitasi pembuatan sohun di PT. Soka Indah Desa Karangsoka Kecamatan Kembaran Kabupaten Banyumas.
Jenis penelitian: deskriptif, Pengumpulan data dengansumber data primer dari inspeksi sanitasi meliputi observasi, wawancara dan pengukuran udara fisik (suhu, kelembaban dan pencahayaan) serta sumber data sekunder dari administrasi kantor PT. Soka Indah. 
Hasil penelitian: menunjukan skor penilaian hygiene sanitasi pada pemilihan bahan makanan memenuhi syarat karena karena diperoleh skor 100%. Penyimpanan bahan makanan, pengolahan makanan, pengangkutan makanan, pengemasan makanan, penyimpanan makanan dan fasilitas sanitasi tidak memenuhi syarat karena diperoleh skor Kondisi sanitasi pembuatan sohun secara keseluruhan tidak memenuhi syarat karena diper oleh skor 58,4%. Kesimpulan: Hygiene sanitasi pembuatan sohun PT. Soka Indah Desa Karangsoka Kecamatan Kembaran Kabupaten Banyumas tidak memenuhi syarat, permasalahan hygiene sanitasi dapat diatasi dengan upaya perhatian khusus untuk memperbaiki terhadap prinsip higiene sanitasi pengelolaan sohun dari proses pemilihan bahan makanan, penyimpanan bahan makanan, pengolahan makanan, pengangkutan makanan, pengemasan makanan dan penyimpanan makanan, fasilitas sanitasi dan kondisi suhu, kelembaban dan pencahayaan di masing-masing ruang kerja PT. Soka Indah.
Daftar bacaan    :   36 (1992–2018)
Kata kunci          :   Hygiene Sanitasi Pembuatan Sohun
Klasifikasi           :

SANITASI PASAR WAGE PURWOKERTO KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2018

                                                                                              Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
                                                                                             Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
                                                                                 Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan
                                                                                                                   Karya Tulis Ilmiah, Mei 2018

Abstrak
Nurlaeli Oktariana (octhahaw@gmail.com)
SANITASI PASAR WAGE PURWOKERTO KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2018
Xvii+69 : Tabel, Gambar, dan Lampiran

Pasar memiliki posisi yang sangat penting untuk menyediakan pangan yang aman, dan pasar tersebut dipengaruhi oleh keberadaan produsen hulu (penyedia bahan segar), pemasok, penjual, konsumen, manajer pasar, petugas yang berhubungan dengan kesehatan dan tokoh masyarakat. Oleh karena itu, komitmen dan partisipasi aktif para stakeholder dibutuhkan untuk mengembangkan pasar sehat. Tujuan penelitian: ini adalah untuk mengetahui keadaan sanitasi lingkungan Pasar Wage Purwokerto dan dibandingkan dengan KEPMENKES RI NO 519/MENKES/SK/VI/2008 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Pasar Sehat.
Jenis penelitian: yang dilakukan yaitu penelitian deskriptif observasional, dengan mendeskripsikan variabel – variabel penelitian dengan cara melakukan observasi pada kualitas lingkungan Pasar Wage Purwokerto. Variabel-variabel penelitian yang disajikan dalam bentuk tabel dan narasi kemudian dibandingkan dengan standar dan peraturan yang berlaku yaitu KEPMENKES RI NO 519/MENKES/SK/VI/2008 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Pasar Sehat.
Hasil: Keadaan sanitasi Pasar Wage Purwokerto berdasarkan hasil penilaian terdapat 5 (lima) kriteria dari 10 kriteria di mana Pasar Wage tidak memenuhi syarat yaitu: pengelolaan sampah 20%, tempat cuci tangan 0%, binatang penular penyakit 0%, kualitas makanan dan bahan pangan 44%, pelaksanaan desinfeksi 0%. Lima kriteria yang dipenuhi persyaratannya oleh Pasar Wage Purwokerto yaitu: lokasi 100%, bangunan 77,7%, air bersih 66,6%, kamar mandi dan toilet 66,6%, drainase 66,6%.
Kesimpulann: adalah komponen lokasi, bangunan dan sanitasi dikategorikan kurang memenuhi persyaratan dengan skor 57,81%. Skor di peroleh dari pemenuhan pada 64 kriteria. Sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 519/Menkes/SK/VI/2008 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Pasar Sehat. Saran yang dapat diberikan sebaiknya pengelola pasar lebih memperbaiki sanitasi pasar yang kurang memenuhi syarat agar lebih baik.
Daftar bacaan    : 18 (2005-2018)
Kata kunci         :
Klasifikasi         :

STUDI OPERASIONAL DAN PEMELIHARAAN FASILITAS AIR BERSIH PADA PROGRAM PENYEDIAAN AIR MINUM DAN SANITASI BERBASIS MASYARAKAT (PAMSIMAS) DI DESA KALIJARAN, KECAMATAN KARANGANYAR, KABUPATEN PURBALINGGA TAHUN 2018

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah, Mei 2018

Abstrak
Haris Setiawan (harisawan248@gmail.com)
STUDI OPERASIONAL DAN PEMELIHARAAN FASILITAS AIR BERSIH PADA PROGRAM PENYEDIAAN AIR MINUM DAN SANITASI BERBASIS MASYARAKAT (PAMSIMAS) DI DESA KALIJARAN, KECAMATAN KARANGANYAR, KABUPATEN PURBALINGGA TAHUN 2018
XV+59 halaman: tabel, gambar, lampiran.

Pemerintah Indonesia untuk mencapai 100% akses masyarakat terhadap air minum yang aman dan yang layak secara berkelanjutan. Air untuk keperluan higiene sanitasi tersebut digunakan untuk pemeliharaan kebersihan perorangan seperti mandi dan sikat gigi, serta untuk keperluan cuci bahan pangan, peralatan makan, dan pakaian. Selain itu, air untuk higiene sanitasi dapat digunakan untuk air baku air minum. Hasil observasi lapanagan pada bulan Desember 2017 didapatkan masalah sebagai berikut, pipa konsumen mengalami kebocoran, ada beberapa sambungan pipa yang tidak terpasang dengan baik, penanganan petugas yang kurang cepat, dan belum ada pemeriksaan kualitas air secara rutin. Tujuan penelitian : Mengevaluasi operasional dan pemeliharaan PAMSIMAS di Desa Kalijaran, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Purbalingga.
Jenis penelitian : observasional dengan analisis deskriptif. Penelitian ini dilakukan dengan mendeskripsikan pengelolaan sarana penyediaan air bersih Pamsimas pada tahap operasi dan pemeliharaan. Hasil yang diperoleh kemudian dibandingkan dengan pedoman pelaksanaan operasi dan pemeliharaan.
Hasil : observasi dan wawancara menunjukan sarana air bersih yang dibangun meliputi sumber air (sumur gali) sudah baik. Bak reservoir dan saluran perpipaan dikatakan tidak baik, karena ada komponen yang tidak terpenuhi. Untuk operasional sudah baik, dan untuk pemeliharaan tidak baik, karena ada komponen yang tidak terpenuhi.
Kesimpulan : Evaluasi yang dilakukan menggunakan quisioner penilaian operasional dan pemeliharaan pamsimas, didapatkan nilai 88,2 %. Nilai tersebut dikategorikan sangat baik. Saran untuk Dinas terkait (Dinas kesehatan Kabupaten Purbalingga dan Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Purbalingga) melakukan pengawasan baik untuk kualitas air dan sarana air bersih.

Daftar Bacaan : 18 (1998 – 2018 )
Kata Kunci      : Studi Operasional dan Pemeliharaan Pamsimas
Klasifikasi       : -

DESKRIPSI HASIL INSPEKSI JAMBAN KELUARGA PENDERITA DIARE DI DESA LIMPAKUWUS SUMBANG KEBUPATEN BANYUMAS TAHUN 2018

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah, Mei 2018

Abstrak
Sri Rejeki (rejekis061@gmail.com)
DESKRIPSI HASIL INSPEKSI JAMBAN KELUARGA PENDERITA DIARE DI DESA LIMPAKUWUS SUMBANG KEBUPATEN BANYUMAS TAHUN 2018
xvi+75 halaman: gambar, tabel, lampiran

Penyediaan sarana pembuangan tinja atau jamban adalah bagian dari usaha sanitasi yang cukup penting perannya, khususnya dalam usaha pencegahan penyakit saluran pencernaan. Diare merupakan salah satu penyakit berbasis lingkungan dengan faktor lingkungan yang paling dominan yaitu sarana penyediaan air bersih dan pembuangan tinja. Tujuan penelitian: untuk mengetahui sanitasi sarana pembuangan tinja penderita diare di Desa Limpakuwus, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas Tahun 2018.
Jenis penelitian: deskriptif untuk mengetahui gambaran kondisi sarana pembuangan tinja pada penderita diare. Cara pengumpulan data dengan wawancara dan observasi menggunakan alat pengumpul data berupa cheklist, kuesioner dan dokumen. Analisis data secara deskriptif yaitu membandingkan antara data yang ada pada tabel distribusi frekuensi dengan ketentuan yang tertera dalam persyaratan sarana pembuangan tinja.
Hasil penelitian: dapat disimpulkan bahwa jenis sarana pembuangan tinja yang digunakan oleh penderita diare adalah septik tank leher angsa 66,66%, bukan septik tank leher angsa 16,66%, bukan septik tank bukan leher angsa 16,66%, sementara tidak ditemukan jenis septik tank bukan leher angsa. Sedangkan pemenuhan persyaratan sarana pembuangan tinja penderita diare, tidak mencemari permukaan tanah 100%, tidak mencemari air tanah 100%, tidak mencemari air permukaan 66,66% sedangkan yang mencemari air permukaan 33,33%, tidak mudah terjangkau oleh lalat atau bebas vektor 38,88% sedangkan yang mudah terjangkau vektor 61,11%, tidak ada kontak dengan tinja segar 100%, estetis 55,55% sedangkan yang tidak estetis 44,44%, sederhana dalam penggunaan dan pemeliharaan 72,22% sedangkan yang sulit dalam penggunaan dan pemeliharaan 27,77%.
Melihat hasil penelitian tersebut penulis menyarankan perlu adanya upaya perbaikan terhadap sarana pembuangan tinja serta menyediakan bangunan penampung tinja atau septik tank untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Daftar bacaan : 21 (1986-2018)
Kata kunci      : Sarana Pembuangan Tinja, Penderita Diare
Klasifikasi      : -

Selasa, 25 September 2018

SANITASI RUMAH PENDERITA PENYAKIT TB PARU BTA (+) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PETANAHAN KECAMATAN PETANAHAN KABUPATEN KEBUMEN TAHUN 2018.

                                                                                              Kementrian Kesehatan Republik Indonesia
                                                                                              Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
                                                                                             Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
                                                                                 Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan
                                                                                                                   Karya Tulis Ilmiah, Mei 2018
Abstrak
SUKADI
SANITASI RUMAH PENDERITA PENYAKIT TB PARU BTA (+) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PETANAHAN KECAMATAN PETANAHAN KABUPATEN KEBUMEN TAHUN 2018.
X + 52 halaman :15 lampiran, 12 tabel 2 gambar.

Upaya kesehatan yang dilakukan pemenrintah Indonesia adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan secara terpadu terintegrasi dan berkesinambunngan untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarkat dalam bentuk peningkatan kesehatan, mencegah , pengobatan penyakit dan pemeliharaan kesehatan oleh pemerintah dan/atau masyarakat sesuai uu kesehatan No.36 Tahun2009 pasal 11. TB.Paru BTA (+) merupakan penyakit yang banyak dijumpai didaerah /Negara yang sedang berkembang seperti Indonesia. Hal ini didukung karena kondisi kesehatan lingkunga yang kurang baik. Wilayah kerja Puskesmas Petanahan merupakan wilayah yang angka kesakitan Penyakit TB Paru BTA (+) cukup tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aspek kesehatan lingkungan apa saja yang mempengaruhi terjadinya penyakit TB Paru BTA (+) di wilayah kerja Puskesmas Petanahan
Metode  deskriptif, sedangkan dalam menganalisis hasil menggunakan analisis tabel.  
Hasil penelitian dilakukan terhadap penderita Penyakit TB Paru BTA (+) yang ada di wilayah kerja Puskesmas Petanahan, diketahui kelembaban 0% memenuhi syarat, pencahayaan alami yang memenuhi syarat 12,5%, kondisi ventilasi yang memenu nuhi syarat 37,5 % kepadatan penghuni yang memenuhi syarat 68.75%, suhu yang memenuhi syarat 100 %, tidak ada pemisahan alat makan, lantai yang memenuhi syarat 87,5 %, kondisi sanitasi 22 % berkriteria cukup. Hasil tersebut menunjukkan tingginya angka kesakitan Penyakit TB Paru BTA (+) di wilayah kerja Puskesmas Petanahan, mungkin dipengaruhi oleh aspek-aspek Kesehatan Lingkungan Diharapkan agar pihak Puskesmas lebih giat dalam melakukan penyuluhan tentang kesehatan lingkungan dan melakukan pengawasan terhadap aspek phsyiologis rumah dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat masyarakat dan masyarakat harus ikut berpartisipasi aktif untuk meningkatkan kesehatan lingkungan
.
Daftar bacaan :16 ( 1978 – 2018 )
Kata kunci      : Sanitasi , Rumah , TB.Paru
Klasifikasi      :
Fulltext