Selasa, 23 September 2014

DESKRIPSI INTENSITAS SUARA PADA UNIT RAW MILL PT. HOLCIM INDONESIA Tbk CILACAP PLANT TAHUN 2015

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi DIII Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah Juli 2015 

Abstrak
Bangun Adhi Gunawan (bangungunawan28@gmail.com)
DESKRIPSI INTENSITAS SUARA PADA UNIT RAW MILL PT. HOLCIM INDONESIA Tbk CILACAP PLANT TAHUN 2015 
XVI + 114 halaman : gambar, tabel, lampiran

Menurut teori H.L Blum, salah satu parameter kualitas lingkungan yang perlu diawasi adalah bising. Unit Raw Mill merupakan salah satu unit dalam proses pembuatan semen yang bertujuan untuk menghancurkan dan mencampur bahan baku agar terhomogenisasi dengan cara proses penggilingan menggunakan mesin yang menghasilkan suara yang tidak dikehendaki oleh pekerja PT. Holcim. Menurut hasil wawancara dengan OHS (Occupational Health Safety) PT. Holcim Indonesia Tbk Cilacap Plant,  intensitas suara unit Raw Mill  yaitu berkisar antara 80-90 dB. Oleh karena itu, peneliti ingin mengetahui intensitas suara pada Unit Raw Mill PT. Holcim Indonesia Tbk. Cilacap Plant 2015.
Metode peneltian yang digunakan yaitu dengan menganalisis secara deskriptif, yaitu menggambarkan tentang kondisi yang sesungguhnya sesuai data yang diperoleh dalam pengukuran intensitas suara pada Unit Raw Mill PT. Holcim Indonesia Tbk Cilacap Plant. 
Hasil pengukuran intensitas suara pada Unit Raw Mill adalah titik I 96,49 dB, titik II 93,24 dB, titik III 91,29 dB, titik IV 83,89 dB dan titik V 81,15. Jenis alat pelindung diri yang digunakan pekerja di Unit Raw Mill adalah earplug, helmet, rompi, googles, kacamata, safety glass dan masker. Keluhan yang dirasakan adalah keluhan pekerja yang mengalami tuli adalah 0 %, sulit berkomunikasi 100 %, kurang konsentrasi 70 %, gangguan tidur 40 % dan telinga berdengung 80 %. Hasil tersebut diperoleh dengan cara wawancara dari 10 responden di Unit Raw Mill. Kesimpulan bahwa rata-rata intensitas suara Unit Raw Mill tergolong tinggi dan melebihi NAB kebisingan untuk waktu kerja selama 8 jam. Upaya pengendalian kebisingan yang dilakukan perlu ditambah seperti pengcoveran mesin yang menjadi sumber bising agar kesehatan dan keselamatan kerja terjamin dan dapat meminimalisir resiko bahaya terhadap pekerja.

Daftar bacaan : (1979-2015) 27 bacaan
Kata kunci      : Intensitas suara, upaya pengendalian bising, lama paparan, APD 
                         keluhan pekerja
Klasifikasi      : -
Full Text
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang 
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan 
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2014

Abstrak
Yulian Irfan Widodo  ( dodozscream@gmail.com )
HUBUNGAN LINGKUNGAN FISIK RUMAH DENGAN KEJADIAN PENYAKIT INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT  ( ISPA )  PADA BALITA DI DESA KARANGRAU KECAMATAN BANYUMAS KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2014 
XVII + 95 halaman: gambar, tabel,lampiran

Penyakit infeksi saluran pernafasan akut  ( ISPA )  merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang utama.Karena masih tingginya angka kejadian penyakit ISPA terutama pada balita.Kondisi lingkungan rumah yang buruk akan meningkatkan resiko terjadinya ISPA. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan lingkungan fisik rumah dengan kejadian penyakit ISPA pada balita.
Metode yang digunakan adalah analitik dengan pendekatan case control.Jumlah responden sebanyak 46 orang, 23 sebagai kasus dan 23 sebagai kontrol.Variabel yang diteliti adalah suhu, kelembaban, pencahayaan, ventilasi, jenis lantai dan kepadatan penghuni. Analisis menggunakkan SPSS versi 17 dengan uji Chi Square dan OR dengan CI 95% dan α 0,05.
Hasil penelitian menunjukkan lingkungan fisik rumah yang memiliki hubungan adalah kelembaban dengan nilai P-value = 0,044 OR = 4,286, ventilasi dengan nilai P-value = 0,001 OR = 10,200, jenis lantai dengan nilai Pvalue = 0,022 OR = 11,733, kepadatan penghuni dengan nilai P-value = 0,018 OR = 5,313. Suhu dan pencahayaan merupakan lingkungan fisik rumah yang tidak memiliki hubungan bermakna tetapi berisiko.
Kesimpulan penelitian ini adalah lingkungan fisik rumah dapat menjadi faktor risiko terjadinya ISPA.Faktor yang memiliki hubungan bermakna adalah kelembaban, ventilasi, jenis lantai dan kepadatan penghuni.Peneliti menyarankan masyarakat untuk membiasakan membuka jendela setiap hari sehingga memperlancar sirkulasi udara dan rumah mendapat pencahayaan yang cukup.

Daftar bacaan : 23  ( 1986 – 2014 )
Kata kunci      : Lingkungan Fisik, Rumah, ISPA
Klasifikasi      :
Fulltext
KementerianKesehatanRepublik Indonesia 
PoliteknikKesehatanKemenkes Semarang 
JurusanKesehatanLingkunganPurwokerto
Program Studi Diploma III KesehatanLingkungan 
KaryaTulisIlmiah, Juni 2014

Abstrak
WistikariLaksaMusliema ( wisti.laksa@gmail.com )
SURVEI PAPARAN RADIASI PADA AREA PEMERIKSAAN KEAMANAN MENGGUNAKAN X-RAY DI BANDAR UDARA HUSEIN SASTRANEGARA BANDUNG TAHUN 2014 
XIV + 93halaman: gambar, tabel, lampiran

Salah satu dampak penurunan kualitas lingkungan dan gangguan kesehatan manusia adalahr adiasiX-Ray di area pemeriksaan keamanan bandar udara yang menggunakan radioaktif dan dapa tmembahayakan operator dan pengunjung atau penumpang pesawat yang melewatinya. Tujuanpenelitian adalah untuk mengetahui paparan radiasipada area pemeriksaan keamanan menggunakan X-Ray, membandingkannya  dengan peraturan yang berlaku dan mengetahui keluhan yang dialamioleh operator di Bandar Udara Husein Sastranegara Bandung tahun 2014.
Jenis penelitian ini merupakan analisis deskriptif, yaitumelakukan pengukuran paparan radiasipada area pemeriksaan keamanan di bandar udara yaitu X-Ray dengan menggunakan alat yang disebut Survey meter dan membandingkannya dengan peraturan yang berlaku.
Hasilpenelitian menujukkan bahwa paparan radiasi X-Ray di pintu utamaCheck-in, keberangkatan domestik dan internasional sertakargo, yaitu menunjuk kanangka 0,2 mSv; 0,3 mSv; 0,4 mSv; 0,5 mSv; 0,6 mSv; 0,7 mSv; 0,8 mSv; 1 mSv; 2 mSv; 3 mSv; 4 mSv; 4,8 mSv; dan 5mSv. Berdasarkan peraturan yang berlaku paparan radiasipada area pemeriksaan keamanan bandar udara yang menggunakan alat X-Ray berkisarantara 0,2 mSvsampaidengan 5 mSv, sehinggamasihamanuntuk operator X-Ray, pengunjung  ( penumpang )  dan personil bandara lainnya karena masih di bawah batas dosis yang ditetapkan oleh Bapeten yaitu 5mSv. Keluhan yang dialami operator X-Ray diantaranya adalah pusing, kelelahan mata, vertigo, kekhawatiran operator yang sedang hamil bagi janinnya. Saran kepada instansi terkait adalah untuk melakukan monitoring paparan radiasi dan perlu dilakukan penelitian lanjut untuk mengetahui tindakan pemantauan dan alat pelindung diri yang lebih tepat, sehingga dapat menurunkan risiko bahayaX-Ray di bandar udara.

Daftarbacaan : 21  ( 2006 – 2014 )
Kata kunci     :RadiasiX-Ray
Klasifikasi     : -
Fulltext
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang  
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto 
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan  
Karya Tulis Ilmiah, Juni 2014

Abstrak
Kusma Windi Astuti (kusmawindiastuti@ymail.com)
STUDI ANGKA KUMAN LINEN SESUDAH DIKELOLA BAGIAN LAUNDRY RSUD KRT SETJONEGORO WONOSOBO TAHUN 2014
 XVI +105 Halaman, Gambar, Tabel,Lampiran  

RSUD KRT Setjonegoro Wonosobo merupakan Rumah Sakit tipe C dengan jumlah tempat tidur 236. Lingkungan rumah sakit yang kurang baik merupakan sumber potensi terjadinya infeksi nosokomial salah satu factor penyebabnya adalah linen. Jika penanganan linen dilakukan tidak baik maka dapat menyebabakan penyebaran penyakit dari ruangan satu ke ruang yang lain, dari orang sakit ke orang sehat, ataupun dari pasien ke petugas rumah sakit. Tujuan penelitian ini adalah untuk menghitung angka kuman linen setelah dikelola oleh bagian laundry. 
Jenis penelitian menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan crossectional, yaitu dengan cara membandingkan hasil penelitian yang dilakukan dengan teori dan peraturan yang berlaku yaitu KEPMENKES RI. NO.1204 / MENKES / SK / X / 2004 tentang persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit. Standar kuman bagi linen bersih setelah keluar dari proses tidak mengandung 6x10 3
spora spesies Bacilus per inci persegi. Pengambilan mikroba pada permukaan bahan (linen) dengan menggunakan cara swab (usap), yaitu mengusap permukaan linen dengan kapas steril / cotton bud seluas 4 x 4 cm. Jenis linen yang diambil yaitu dug lubang sedang, perlak, stik laken, jas operasi, seimut, dan sarung bantal. 
Hasil pemeriksaa diperoleh bahwa angka kuman linen di RSUD KRT Setjonegoro Wonosobo masih memenuhi syarat. Pada sampel dug lubang sedang yaitu 2635 inci persegi, perlak 1658,5 inci persegi, stik laken yaitu 15,5 inci persegi jas operasi 15,5 inci persegi, sarung bantal yaitu 3363,8 inci persegi, dan selimut yaitu 16434 inci persegi.
Kesimpulanya adalah walaupun hasil pemeriksaan angka kuman pada linen masih memenuhi syarat dan belum pernah terjadi infeksi nosokomial sebaiknya dilakukan upaya untuk mencegah terjadinya  infeksi nosokomial. Peneliti menyarankan kepada pihak pengelola laundry untuk lebih memperhatikan proses pengelolaan linen dan petugas yang perlu diberi pembekalan atau pelatihan tentang pengelolaan linen rumah sakit.

Daftar Bacaan  : 15 (1988-2013)
Kata Kunci      :  Angka Kuman, Pengelolaan Linen
Klasifikasi       :
Fulltext
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan 
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2014

Abstrak
Wildan Sani Rahmansyah  ( wildan.rahmansyah@yahoo.com )
PENGARUH KAPASITAS PRODUKSI TERHADAP KADAR BOD LIMBAH INDUSTRI TAHU DI DESA KALISARI KECAMATAN CILONGOK KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2014
xvi+82 halaman, tabel, gambar, lampiran

Limbah dengan kadar BOD tinggi dapat menimbulkan masalah polusi jika dibuang langsung ke dalam suatu perairan, karena akibat pengambilan oksigen ini akan segera mengganggu seluruh keseimbangan ekologik dan bahkan dapat menyebabkan kematian ikan biota perairan lainnya. 11 % dari 259 industri tahu di Desa Kalisari membuang limbah cairnya secara langsung ke sungai tanpa melalui pengolahan terlebih dahulu. Tujuan penelitian ini untuk mengkalkulasi dan menganalisis hasil produksi tahu dengan kadar BOD limbah cair industri pembuatan tahu di desa Kalisari Kecamatan Cilongok Tahun 2014.
Jenis penelitian ini termasuk penelitian analisis inferensial dengan pendekatan crossectional.
Metode pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling dan random sampling, sampel yang diambil sebanyak 11 sampel. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi dan pengukuran secara langsung meliputi pH, suhu, debit, kadar BOD. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah kapasitas produksi tahu, variabel terikat adalah kadar BOD limbah industri tahu, dan variabel pengganggu adalah pH, suhu, debit limbah, kebutuhan air bersih, banyaknya bahan baku yang digunakan. Produksi tahu industri pertama sebanyak 40 kg, kedua 22 kg, ketiga 26 kg, keempat 70 kg, kelima 130 kg, keenam 220 kg, ketujuh 80 kg, kedelapan 36 kg, kesembilan 80 kg, kesepuluh 50 kg, kesebelas 50 kg. Kadar BOD limbah tahu industri tahu pertama 7481,76 mg/L, kedua 6595,49, ketiga 6783,26 mg/L, keempat 7535,98 mg/L, kelima 6951,89 mg/L, keenam 7680,37 mg/L, ketujuh 7189,25 mg/L, kedelapan 7366,67 mg/L, kesembilan 7579,95 mg/L, kesepuluh 6926,35 mg/L, kesebelas 9004,81 mg/L. Rata-rata suhu limbah tahu yang diperiksa yaitu 63,45°C, pH limbah tahu 5, debit limbah tahu 0,134 L/detik, kebutuhan air bersih sebanyak 6480 L, dan kebutuhan kedelai sebanyak 73 kg.
Kesimpulan uji paired t test diperoleh nilai signifikan 0,651 > 0,05, sehingga tidak ada pengaruh kapasitas produksi terhadap kadar BOD limbah industri tahu. Saran untuk pemilik industri agar menyalurkan limbah ke IPAL komunal, sehingga tidak mencemari lingkungan sungai maupun lingkungan lainnya.

Daftar bacaan : 19  ( 1984-2013 )
Kata kunci     : Produksi Tahu, BOD Tahu
Klasifikasi      : -
Fulltext
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang 
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan 
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2014

Abstrak
Widya Kresna Nurprihanto (widyakresna8@gmail.com )
STUDI KOMPARASI PEMAKAIAN SARINGAN ARANG SEKAM PADI DENGAN PASIR SUNGAI DALAM MENURUNKAN KEKERUHAN AIR SUMUR GALI DI DESA PELUMUTAN KECAMATAN KEMANGKON KABUPATEN PURBALINGGA TAHUN 2014. 
XVI + 74 halaman : gambar, tabel, lampiran  
 
Air merupakan unsur yang sangat pokok di alam serta merupakan kebutuhan yang sangat vital bagi seluruh makhluk hidup. Salah satu masalah penyediaan air bersih yaitu kekeruhan yang dapat mengakibatkan adanya gangguan kesehatan. Penyaringan merupakan salah satu upaya mengatasi kekeruhan. Filtrasi dapat menggunakan media seperti arang sekam padi dan pasir sungai.  
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan pemakaian saringan arang sekam padi dengan pasir sungai dalam menurunkan kekeruhan air sumur gali.
Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen. Penelitian dilakukan di sumur gali milik responden di desa pelumutan kecamatan kemangkon kabupaten purbalingga. Pengumpulan data dilakukan dengan pengukuran, pengamatan dan pencatatan.        Hasil penelitian ini diketahui rata-rata sebelum perlakuan arang sekam padi 18 NTU dan sesudah perlakuan menjadi 16,3 NTU ketebalan 10 cm, 13,7 NTU ketebalan 20 cm, 10,3 NTU ketebalan 30 cm, 7,3 NTU ketebalan 40 cm, dan 5,3 NTU ketebalan 50 cm. Rata-rata sebelum perlakuan pasir sungai 18 NTU dan sesudah perlakuan menjadi 16 NTU ketebalan 10 cm, 15,3 NTU ketebalan 20 cm, 12,3 NTU ketebalan 30 cm, 10,3 NTU ketebalan 40 cm, dan 8,3 NTU ketebalan 50 cm. Suhu sebelum perlakuan 28OC dan sesudah perlakuan 27-28 OC. pH air sebelum perlakuan 7 dan sesudah perlakuan 7-8. Berdasarkan analisis data menggunakan uji paired t test diperoleh nilai tabel >  t, artinya ada perbedaan penggunaan saringan arang sekam padi dengan pasir sungai sebagai media saring dalam menurunan kekeruhan air sumur gali.        Kesimpulan dari penelitian ini adalah ada perbedaan penurunan kekeruhan air sumur gali menggunakan arang sekam padi dan pasir sungai sebagai media saring. Sebelum perlakuan kekeruhan 18 NTU dan sesudah perlakuan arang sekam padi ketebalan efektif 50 cm rata-rata hasil pengukuran 5,3 NTU, untuk pasir sungai rata-rata hasil pengukuran 8,3 NTU (arang sekam lebih efektif dibandingkan pasir sungai dalam menurunkan kekeruhan air sumur gali). Untuk selanjutnya perlu dilakukan penelitian lanjutan pemakaian saringan arang sekam padi dan pasir sungai dimulai dari ketebalan 60 cm dan seterusnya untuk mendapatkan hasil yang memenuhi syarat.  

Daftar bacaan : 16 (1983-2013)
Kata kunci      : Kekeruhan, Arang Sekam Padi, Pasir Sungai
Klasifikasi      : -
Fulltext
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang 
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan 
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2014

Abstrak
Umi Chanifah (chanifahumi84@yahoo.co.id)
HUBUNGAN SANITASI ASRAMA DAN PERSONAL HYGIENE DENGAN KEJADIAN SCABIES DI PONDOK PESANTREN TAHFIDZUL QUR’AN (PPTQ)
AL-ASY’ARIYYAH WONOSOBO TAHUN 2014 
XVI + 102 : gambar, tabel, lampiran 

Salah satu tempat umum adalah pondok pesantren, prevalensi penyakit Scabies di Pondok Pesantren dipengaruhi oleh kondisi sanitasi lingkungan yang tidak memenuhi syarat dan personal hygiene yang buruk. Kejadian Scabies terjadi setiap tahun pada Santri di PPTQ Al-Asy’ariyyah, dan masih menjadi sebagai prioritas utama. 
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara Sanitasi asrama dan personal hygiene (perilaku cucitangan, perilaku mandi, perilaku berpakaian dan perilaku tidur) santri dengan kejadian Scabies. 
Metode penelitian ini adalah observasional dengan pendekatan Cross sectional . dengan jumlah hunian 22 kamar santri dan 90 orang santri sebagai subjek penelitian. Pengumpulan data dengan observasi, wawancara dan pengukuran. Pengolahan data dengan menggunakan editing, coding, saving dan tabulating. Data dalam penelitian disajikan dalam bentuk tabel dan narasi. Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat dan analisis bivariat dengan analisa uji statistic chi square
Hasil penelitian menunjukan sanitasi asrama di PPTQ Al-Asy’ariyyah dalam kondisi Kurang baik (100%) dan Personal hygiene yang dimiliki santri 13,3% baik, 73,3% kurang baik dan 13,3% kurang baik. Santri yang menderita Scabies ada 58 santri (64,4%) dan yang tidak menderita Scabies ada 32 Santri (35,6%). Kesimpulan dalam penelitian ini adalah ada hubungan antara sanitasi asrama dan personal hygiene dengan kejadian Scabies di Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an (PPTQ) Al-Asy’ariyyah Wonosobo Tahun 2014 . Karena pvalue 0,005 < 0,05 maka Ho ditolak Disarankan bagi pondok pesantren untuk memperbaiki sanitasi asrama, bagi santri agar lebih mengutamakan kesehatan pribadi masing-masing dan bagi dinas kesehatan untuk membantu menangani kasus Scabies di pondok pesantren.

Daftar bacaan : 11 (2000-2013)
Kata kunci      : Sanitasi , personal hygiene, Scabies
Klasifikasi      : - 
Full text