Selasa, 25 Maret 2014

TINJAUAN EPIDEMIOLOGI PENYAKIT INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT (ISPA) DI DESA

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang 
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan 
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2010


ABSTRAK
Tatag Fajar Subekhi (tatagfajar@gmail.com) 
TINJAUAN EPIDEMIOLOGI PENYAKIT  INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT (ISPA) DI DESA SAMBENG WETAN KECAMATAN KEMBARAN KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2010 
XVII + 52 : Gambar, Lampiran, Tabel

Penyakit ISPA di Desa Sambeng Wetan menduduki peringkat pertama dari 10 besar penyakit terbukti dari bulan Januari sampai April 2010sebanyak 129 kasus. Tujuan penelitian untuk mengetahui epidemiologi penyakit ISPA pada penderita ISPA di Desa Sambeng Wetan Kecamatan Kembaran Kabupaten Banyumas Tahun 2010.
Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif. Jumlah sampel seluruhnya ada 26 sampel dari populasi yang ada. Pengumpulan  data umum dan data khusus dengan wawancara, obsevasi, dan pengukuran di lapangan.
Hasil penelitian didapatkan jumlah penderita ISPA di Desa Sambeng Wetan sebanyak 26 orang, terdiri dari laki-laki 8 orang (30,8%) dan permpuan 18 orang (69,2%). Penyakit ISPA kebanyakan terjadi pada kelompok umur 0-10 tahun yaitu 12 orang (46,2%), sebagian besar tingkat pendidikan penderita masih rendah yaitu SD/MI yaitu 12 orang (46,2%). Penderita ISPA kebanyakan terjadi pada penderita dengan status imunisasi yang tidak lengkap yaitu 14 orang (53,8%), tingkat ekonomi penderita paling banyak pada tingkat ekonomi yang memenuhi kebutuhan hidup tidak layak sebanyak 17 orang (65,4%). Penderita terbanyak pada wilayah RT 5 RW 1 dan RT 6 RW 1 yaitu masing-masing 4 orang (15,3%), dari bulan Januari sampai April 2010 puncak kejadian penyakit ISPA terjadi pada bulan Maret yaitu 12 orang (46,2%).
Kesimpulan menanggulangi penyakit ISPA, masyarakat khususnya bayi/balita harus secara rutin melakukan vaksinasi/imunisasi, selain itu perlu adanya penyuluhan berkesinambungan dari puskesmas, serta dilakukan pelatihan dan pemberdayaan terhadap masyarakat tentang koperasi serta usaha kecil dan menengah dari pemerintah kabupaten.

Daftar bacaan : 16 (1985-2009)
Kata Kunci     : Epidemiologi, ISPA
Klasifikasi      : -

ANALISIS KUANTITATIF BAKTERI COLIFORM PADA DEPOT AIR MINUM ISI ULANG

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia   
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang  
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto 
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan  
                                                                                                       Karya Tulis Ilmiah, Juli 2010 
 
Abstrak
Surya Andalas Putra (uye_andalas@yahoo.com)
ANALISIS KUANTITATIF BAKTERI COLIFORM PADA DEPOT AIR MINUM ISI ULANG DI PURWOKERTO KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2010 
xviii + 54 halaman: gambar, tabel, lampiran

Air adalah materi esensial di dalam kehidupan. Tidak satupun mahluk hidup di dunia ini yang tidak memerlukan dan tidak mengandung air. Keberadaan Depot Air Minum Isi Ulang terus meningkat sejalan dengan dinamika keperluan masyarakat terhadap air minum yang bermutu dan aman untuk dikonsumsi. Meski lebih murah, tidak semua Depot Air Minum Isi Ulang terjamin keamanan produknya. Keberadaan kandungan mikrobiologi yaitu total bakteri Coliform  pada air minum yang melebihi standar maksimum yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 492/MENKES/PER/IV/2010 dapat merugikan kesehatan pada konsumen air minum isi ulang.    
Tujuan penelitian untuk mengetahui ada atau tidaknya kandungan bakteri Coliform pada air hasil olahan Depot Air Minum Isi Ulang yang ada di Purwokerto Kabupaten Banyumas.
Metode penelitian  deskriptif dengan  Hasil pemeriksaan yang dilaksanakan pada laboratorium mikrobiologi Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto Poltekkes Kemenkes Semarang menunjukkan jumlah MPN Bakteri Coliform / 100 ml air sampel adalah 0 (nol).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas air tersebut telah sesuai dengan standar yang ada yaitu Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 492/MENKES/PER/IV/2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum yang mensyaratkan kandungan bakteri Coliform pada 100 ml air sampel adalah 0 (nol). Demi menjaga kualitas air minum yang dikonsumsi masyarakat, perlu dilakukan pengawasan kualitas air minum secara internal dan eksternal. Pengawasan secara internal dilaksanakan oleh penyelenggara air minum untuk menjamin kualitas air yang diproduksi memenuhi syarat kesehatan, serta pengawasan eksternal yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota dengan rutin sesuai ketentuan yang berlaku. 

Daftar bacaan : 13 (1983 – 2010)
Kata kunci      : Coliform, air minum, DAMIU
Klasifikasi      : -

STUDI PENERAPAN PRINSIP ERGONOMI TERHADAP MEJA DAN KURSI PEKERJA

 Kementrian Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang 
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Karya Tulis Ilmiah, 27 Juli 2010  

Abstrak
Suparsono(No2_Scoot@yahoo.co.id)
STUDI PENERAPAN PRINSIP ERGONOMI TERHADAP MEJA DAN KURSI PEKERJA PADA BAGIAN GUNTING DI PT. TIGA PUTRA ABADI PERKASA KABUPATEN PURBALINGGATAHUN 2010 
Xiii + 49 hal : Gambar + Tabel + Lampiran 

Ergonomi merupakan ilmu yang penerapanya berusaha untuk menyerasikan pekerjaan dan lingkungan terhadap tenaga kerja atau sebaliknya dengan tujuan tercapainya produktifitas yang setinggi-tingginya dan jelas, salah satu indikator ergonomi atau tidaknya suatu pekerjaan adalah kursi dan meja yang sesuai dengan ukuran tubuh pekerja yang menggunakannya, sehingga tidak menimbulkan kelelahan atau keluhan fisik bagi pekerja yang menggunakannya.
Tujuan penelitian  mengetahui antropometri pekerja yang bekerjanya menggunakan meja dan kursi, Mengetahui ukuran  meja dan kursi yang dipergunakan, Mengetahui kesesuaian antropometri pekerja dengan meja dan kursi yang dipergunakan, Untuk mengetahui jenis keluhan yang dialami pekerja di PT. Tiga Putra Abadi Perkasa Purbalingga
Jenis penelitian ini adalah deskriptif, dengan jumlah responden 25 orang perajin biulu mata palsu. Data diperoleh dengan cara observasi dan wawancara dengan menggunakan kuesioner serta pengukuran terhadap meja dan kursi perajin khususnya pada bagian gunting yang ada di PT. Tiga Putra Abadi Perkasa Purbalingga.
Hasil penelitian antropometri perajin, meja dan kursi perajin, kesesuaian antropometri perajin, bulu mata palsu yang ada di PT. Tiga Putra Abadi Perkasa Purbalingga belum memenuhi syarat karena perajin masih mengalami keluhan-keluhan fisik yaitu: sakit pada bagian kaki, merasakan sakit di kedua bagian lengan, sakit pada bagian pinggang, sakit pada leher,dan pada bagian kepala.
Upaya pencegahan yang dapat dilakukan yaitu dengan menggunakn meja dan kursi yang ergonomis yang sesuia dengan antropometri perajin, perajin bulu mata palsu harus lebih memperhatikan sikap duduk yang baik dan benar.  

Daftar Bacaan : 51. (9 1989-2009)
Kata Kunci      : Ergonomi Meja dan Kursi Perajain Bulu Mata Palsu
Klasifikasi       :

HUBUNGAN SIKAP KERJA DAN KELELAHAN KERJA

kementrian Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang 
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi  Diploma III Kesehatan Lingkungan 
Karya Tulis Ilmiah, Juni 2010

Abstrak
Siska Indriyani She_skha_chuby@yahoo.co.id
HUBUNGAN SIKAP KERJA DAN KELELAHAN KERJA PADA BAGIAN PRODUKSI PT. HOLCIM INDONESIA Tbk CILACAP TAHUN 2010. 
xviii+57 halaman : table, gambar, grafik, lampiran

Sikap kerja dinamis, dapat mengurangi resiko kecelakaan ataupun tingkat kelelahan pekerja. Seringnya terjadi kecelakaan kerja disuatu tempat kerja karena sikap kerja yang masih salah ataupun karena pekerja telah mengalami kelelahan kerja. 
Metode penelitian observasonal dengan metode pendekatan crossectional.
Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan antara sikap kerja dengan kelelahan pekerja yang terjadi pada pekerja bagian produksi PT. Holcim Indonesia Tbk Cilacap.
Hasil penelitian adalah pekerja bagian produksi yang bekerja pada shift 1 sebanyak 56 orang. Dengan menggunakan software pengolah data statistik data yang ada diolah dengan menggunakan uji korelasi chi square. Level signifikan yang dipakai adalah 0,05 menggunakan tabel kontingensi 3 x 2, dengan degree of freedom (df) = 2, X2 = 0,425 dan didapatkan nilai P (taraf signifikansi) = 0,809. Dengan p ≥ α maka menunjukan hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat tidak signifikan. Sedangkan nilai koefisien kontingensi sebesar 0,086 menunjukan hubungan antara sikap kerja dan kelelahan kerja sangat lemah.
Kesimpulan  sikap kerja tidak mempengaruhi kelelahan kerja. Sikap kerja duduk ataupun berdiri dapat menyebabkan kelelahan berat jika tidak dilakukan dengan benar. Kondisi lingkungan dan karakteristik responden dapat mempengaruhi kelelahan kerja. Disarankan kepada pihak perusahaan untuk memperhatikan kondisi lingkungan kerja, memberi waktu istirahat kepada pekerja yang mengalami kelelahan, dan melakukan cek kesehatan rutin minimal 1 tahun sekali. 

Daftar bacaan : 17 (1989-2010)
Kata Kunci     : Kelelahan kerja
Klasifikasi       : - 

STUDI EVALUASI KEBISINGAN DI BENGKEL

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang 
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan 
Karya Tulis Ilmiah, Agustus 2010

Abstrak
Sinta Amelya ( sintaamelya@yahoo.com )
STUDI EVALUASI KEBISINGAN DI SATUAN KERJA BENGKEL UTAMA BAGIAN FABRIKASI PT. BUKIT ASAM  ( PERSERO )  Tbk TANJUNG ENIM TAHUN 2010.
XII + 60 halaman: gambar, tabel, lampiran.

Upaya untuk mewujudkan lingkungan kerja yang sehat,  memerlukan pengawasan dan pemantauan terhadap beberapa parameter yang dapat mempengaruhi kesehatan, salah satu parameter kualitas lingkungan adalah kebisingan. Kebisingan dari suatu alat kerja merupakan faktor yang mengganggu dan membahayakan bagi kesehatan tenaga kerja diantaranya adalah te rjadinya gangguan pendengaran. Tujuan penelitian untuk mengetahui jenis mesin yang menimbulkan kebisingan, intensitas kebisingan, keadaan tenaga kerja dan upaya pengendalian yang dilakukan oleh PT. Bukit Asam ( Persero)  Tbk.
Jenis penelitian yang digunakan adalah observasi dengan metode analisis univariat. Subyek penelitian ini adalah intensitas kebisingan pada mesin -mesin yang ada di satuan kerja bengkel utama bagian fabrikasi PT. Bukit Asam  ( Persero )  Tbk dengan jumlah 13 orang. Data intensitas kebis ingan di bandingkan dengan standar nilai ambang batas kebisingan sesuai dengan peraturan Menteri Tenaga Kerja No.51 Tahun 1999 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisik di Tempat Kerja.
Hasil penelitian menunjukkan kisaran intensitas kebisingan 75,2 – 103 dB pada mesin-mesin di bagian fabrikasi, sehingga pekerja mengalami gangguan yang berupa rasa tidak nyaman dan kurang konsentrasi saat bekerja. Mesin di fabrikasi yang menimbulkan kebisingan meliputi mesin las, mesin gerenda, mesin roll, mesin bor, alat-alat pukul, mesin gunting, mesin lipat, mesin bending track plate, dan mesin pemanas ( hitter ) .
Kesimpulan hasil pengukuran intensitas kebisingan dengan kisaran 75,2-103 dB. Paling rendah 75,2 dB yang berarti aman untuk pemaparan 8 jam dan paling tinggi 103 dB yang berarti tidak aman untuk waktu pemaparan lebih dari 8 jam. Peneliti menyarankan PT. Bukit Asam  ( Persero)  Tbk melakukan pengukuran kebisingan berkala setiap tahun ditempat kerja untuk dievaluasi sebagai upaya mendeteksi titik -titik rawan gangguan pendengaran.

Daftar bacaan : 17 ( 1987-2008)
Kata Kunci     : K3, Kebisingan
Klasifikasi      : - 

STUDI HUBUNGAN PEMAKAIAN AIR KOLAM RENANG DENGAN KUALITAS AIR KOLAM RENANG

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan  
Program Studi D III Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2010 
  
ABSTRAK 
Sidik Pramono (Akuadalah41@yahoo.co.id)
STUDI HUBUNGAN PEMAKAIAN AIR KOLAM RENANG TIRTA ASRI DENGAN KUALITAS AIR KOLAM RENANG DI DESA WALIK KECAMATAN KUTASARI KABUPATEN PURBALINGGA TAHUN 2010 
xiv + 53 halaman: gambar, tabel dan lampiran 

Kolam renang merupakan salah satu sarana umum yang sering digunakan oleh masyarakat yang digunakan untuk berenang, berekreasi serta jasa pelayanan lainnya menggunakan air bersih yang telah diolah sebagai sarana utamanya. Permenkes Nomor 416/Menkes/Per/IX1990, menyatakan bahwa syarat air kolam renang meliputi syarat fisik, kimia dan mikrobiologis. 
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kualitas air kolam dengan kualitas air kolam renang Tirta Asri Desa Walik Kecamatan Kutasari Kabupaten Purbalingga yang meliputi kualitas fisik (bau, benda terapung dan kejernihan), kimia (pH dan sisa klor) dan mikrobiologis (coliform).
Metode penelitian deskriptif dan membandingkan hasil pemeriksaan dengan Permenkes RI No.416/Menkes/Per/IX1990, mengenai persyaratan air kolam renang.
Hasil penelitian menunjukan bahwa secara fisik kualitas air kolam renang Tirta Asri Desa Walik Kecamatan Kutasari Kabupaten Purbalingga tidak berbau, jernih, namum ada benda terapung. Kualitas kimia yaitu pH rata-rata 7 dan sisa klor rata-rata 0,1(mg/lt). Sedangkan kualitas mikrobiologi belum memenuhi persyaratan yang ditentukan.
Kesimpulan pengukuran didapatkan hasil kaulitas fisik air kolam yaitu tidak berbau,ada benda terapung dan jernih. Kualitas kimia pH rata-rata 7 dan sisa khlor rata-rata 0,1 mg/lt, serta kualitas mikrobiologis sebelum pemakaian air kolam yaitu 170 MPN/100ml dan 49 MPN/100ml dan setelah pemakaian air kolam yaitu 110 MPN/100ml dan 1600 MPN/100ml. Sehingga perlu dilakuanknya penjagaan dan perawatan yang lebih intensif baik terhadap kualitas air kolam renang maupun pengunjung kolam renang. 

Daftar bacaan  : 08 (1984-2009)
Kata kunci       : Kolam renang, kualitas air kolam renang-
Klasifikasi       :

STUDI PENGELOLAAN LINEN DI RUMAH SAKIT

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang 
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto 
Program studi Diploma III kesehatan lingkungan 
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2010

ABSTRAK  
Sanaa Binti Bachruddin (Prasya_pradista@yahoo.co.id)
STUDI PENGELOLAAN LINEN DI RUMAH SAKIT TK III 04. 06. 01 WIJAYAKUSUMA PURWOKERTO TAHUN 2010 
XVII + 61 halaman: gambar, tabel dan lampiran 

Linen kotor merupakan salah satu sumber kontaminasi yang ada di Rumah Sakit. Jika penanganan linen dilakukan secara tidak baik, maka dapat menyebabkan penyebaran penyakit dari pasien ke pasien, dari pasien ke pengunjung, ataupun dari pasien ke petugas Rumah Sakit. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan lokasi dan bangunan pengelolaan linen, penanganan linen kotor, penanganan linen bersih, dan penggunaan alat pelindung diri.
Jenis penelitian menggunakan metode deskriptif yaitu dengan cara membandingkan hasil penelitian yang dilakukan dengan teori dan peraturan yang berlaku yaitu KepMenkes RI Nomor 1204/menkes/SK/X/2004. Hasil penelitian yang diperoleh bahwa pengelolaan linen di Rumah Sakit TK III 04. 06. 01 Wijayakusuma Purwokerto cukup baik dengan nilai 73% berdasarkan kriteria penilaian menurut Suharsimi Arikunto (1998, h.246)
Kesimpulan yang dapat di ambil bahwa pengelolaan linen di Rumah Sakit TK III 04. 06. 01 Wijayakusuma Purwokerto sudah baik dan saran yang dapat peneliti sampaikan adalah upaya yang dapat dilakukan dengan meningkatkan lagi sanitasi pengelolaan linen dan upaya pencegahan kontaminasi. Penanggulangan yang dilakukan dari mulai pengumpulan linen sampai pendistribusian, dan tenaga atau pengelola linen dalam penggunaan Alat Pelindung Diri yang baik dan benar menurut syarat kesehatan.

Daftar bacaan :  11 (1981-2009)
Kata kunci      :  Pengelolaan linen
Klasifikasi      :   -