Senin, 16 Desember 2013

PENGARUH PEMAKAIAN ARANG SEKAM PADI SEBAGAI MEDIA FILTRASI TERHADAP KEKERUHAN AIR

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik  Kesehatan Kemenkes Semarang 
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan 
                                                                                                                   Karya Tulis Ilmiah, Juni 2012
  
Abstrak  
Asfi Sumastuti (asficalm@rocketmail.com)
PENGARUH PEMAKAIAN ARANG SEKAM PADI SEBAGAI MEDIA FILTRASI TERHADAP KEKERUHAN AIR DI LABORATURIUM JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN PURWOKERTO TAHUN 2012 
XVI + 53 halaman: gambar, tabel, lampiran.

Air merupakan unsur yang sangat pokok di alam serta merupakan
kebutuhan yang sangat vital bagi seluruh makhluk hidup. Salah satu masalah penyediaan air bersih yaitu kekeruhan. Dengan adanya kekeruhan dapat mengakibatkan adanya gangguan kesehatan. Filtrasi merupakan salah satu upaya mengatasi kekeruhan. Filtrasi dapat menggunakan beberapa media. Media filtrasi arang sekam padi dalam menurunkan kekeruhan belum pernah dilakukan sebelumnya.
Tujuan peneltian untuk mengetahui pengaruh pemakaian arang sekam padi sebagai media filtrasi terhadap kekeruhan air di Laboraturium Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto.
Jenis penelitian yang digunakan adalah Quasi Experiment dengan metode pre test and post test design yang bertujuan untuk mengetahui penurunan kekeruhan air antara sebelum dan setelah melalui media filtrasi arang sekam padi dengan variasi ketebalan (10 cm, 20 cm, 30 cm, 40 cm, dan 50 cm). Variabel bebasnya variasi ketebalan arang sekam padi dan variabel terikatnya tingkat kekeruhan air.
Hasil penelitian ini diketahui rata-rata tingkat penurunan kekeruhan untuk masing-masing ketebalan dari kekeruhan awal 20 NTU menjadi 16,2 NTU untuk ketebalan 10 cm, 13,8 NTU untuk ketebalan 20 cm, 11,4 untuk ketebalan 30 cm, 7,6 NTU untuk ketebalan 40 cm, dan 5,4 NTU untuk ketebalan 50 cm. Berdasarkan analisis statistik diperoleh p value yang signifikan yaitu kurang dari 5%. 
Kesimpulan  ini adalah rata-rata air sebelum perlakuan sebesar 20 NTU dan rata-rata sesudah perlakuan dengan variasi ketebalan 10 cm = 16,2 NTU, ketebalan 20 cm = 13,8 NTU, ketebalan 30 cm = 11,4 NTU, ketebalan 40 cm = 7,6 NTU, dan ketebalan 50 cm = 5,4 NTU. Terdapat pengaruh variasi ketebalan arang sekam padi dalam menurunkan kekeruhan air (p value < α = 0,05). Kepada peneliti selanjutnya agar mendesain filter dengan detention time atau waktu penahanan yang sama dengan cara mengatur debit (Q) pada masing-masing ketebalan filter arang sekam padi.
 
Daftar bacaan : 23 (1976 - 2011)
Kata kunci      : Kekeruhan, arang sekam padi
Klasifikasi       : -

STUDI SANITASI KOLAM RENANG DI OBJEK WISATA

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang  
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan 
                                                                                                                   Karya Tulis Ilmiah, Juni 2012
 
Abstrak
Okti Anisatun Muflihah
STUDI SANITASI KOLAM RENANG DI OBJEK WISATA KEBUNKU WATERPARK PURWOKERTO KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2012 
xvi + 118 halaman: tabel, gambar, lampiran

Objek Wisata Kebunku Waterpark merupakan salah satu objek wisata di Purwokerto, yang merupakan salah satu tempat  tempat umum yang perlu mendapatkan perhatian dan pengawasan sanitasi.  Sanitasi kolam renang yang memenuhi syarat bertujuan untuk memutuskan rantai penularan penyakit. 
Tujuan penelitian untuk meneliti sanitasi di Kebunku Waterpark Purwokerto yang meliputi sanitasi bagian luar, sanitasi bagian dalam, fasilitas sanitasi dan mengukur sisa chlor di kolam waterpark anak.
Metode penelitian menggunakan metode deskriptif yaitu menggambarkan tentang keadaan sanitasi, sanitasi bagian luar, sanitasi bagian dalam dan fasilitas sanitasi di Objek Wisata Kebunku Waterpark Purwokerto, Kecamatan Purwokerto Utara, Kabupaten Banyumas, serta mengukur sisa chlor.  Teknik penilaian sanitasi menggunakan PerMenKes RI no. 061/ MENKES/ Per./I/1991.
Hasil penilaian dengan check list sanitasi kolam renang belum memenuhi persyaratan kesehatan dengan persentase 55,1%.  Sanitasi bagian luar memenuhi persyaratan kesehatan dengan persentase 88,2%, sedangkan sanitasi bagian dalam belum memenuhi persyaratan karena hasilnya 40,9% dan fasilitas sanitasi kolam renang mendapat hasil 75,4% yaitu sudah memenuhi persyaratan kesehatan.  Hasil pengukuran sisa chlor rata-rata 5,71 mg/lt pada kolam waterpark anak belum memenuhi  persyaratan menurut PerMenKes RI No. 416/ MenKes/ Per/ IX/ 1990 tentang Nilai Ambang Batas (NAB) sisa chlor pada air kolam renang adalah 0,2  0,5 mg/lt.
Kesimpulan sanitasi secara keseluruhan dan sisa chlor pada kolam waterpark anak di Kebunku Waterpark belum memenuhi persyaratan kesehatan.  Peneliti menyarankan kamar pancuran bilas, jamban, peturasan dan kamar mandi sesuai dengan rata-rata jumlah pengunjung perhari dan jumlah karyawan.  Chlorinasi dilakukan secara kontinyu.  

Daftarbacaan : 11 ( 1990  2011 )
Kata kunci     : Sanitasi, KolamRenang
Klasifikasi      : -

STUDI SALMONELLA PADA AYAM GORENG TEPUNG PADA PEDAGANG

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia  
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang 
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan  
                                                                                                                  Karya Tulis Ilmiah, Juni 2012

Abstrak
Anggun Bangkit Hutami  (anggun_bh@rocketmail.com)
STUDI SALMONELLA PADA AYAM GORENG TEPUNG PADA PEDAGANG DI KECAMATAN PURWOKERTO TIMUR KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2012
XVII+  71 halaman: gambar, tabel, lampiran 

Ayam goreng tepung merupakan hidangan yang dibuat dari daging ayam yang diberi tepung dan digoreng menggunakan minyak goreng.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya Salmonella pada ayam goreng tepung, serta mengetahui hygiene sanitasi hygiene sanitasi pengolahan ayam goreng tepung pada pedagang ayam goreng tepung di Kecamatan Purwokerto Timur.
Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif, yaitu data yang diperoleh kemudian dibandingkan dengan standar yang ada.
Hasil penelitian yang didapat, hygiene sanitasi pengelolaan  ayam goreng tepung di 8 tempat mulai dari pemilihan bahan makanan, penyimpanan bahan makanan, pengolahan makanan, penyimpanan makanan, dan penyajian makanan sudah cukup baik yaitu dengan skor 63,38%. Berdasarkan pemeriksaan 8 sampel ayam goreng tepung di laboratorium dapat diketahui bahawa semua sampel negative Salmonella sehingga memenuhi standar yang telah ditentukan yaitu negative (nol).
Peneliti menyimpulkan yaitu sanitasi pengelolaan ayam goreng tepung di 8 tempat  sudah cukup baik yaitu dengan skor 63,38%, serta dari 8 sampel ayam goreng tepung negative Salmonella. Hal tersebut berdasarkan Peraturan Badan Pengawasan Obat dan Makanan RI No.HK.00.06.1.52.4011 tahun 2009 tentang penetapan batas maksimal cemaran mikroba dan kimia dalam makanan. Saran yang dapat diberikan yaitu saat pengolahan makanan sebaiknya mengacu pada aspek hygiene sanitasi makanan agar tidak terjadi kontaminasi.

Daftar bacaan : 26(1987-2012)
Kata kunci      : Salmonella, Ayam goreng tepung
Klasifikasi       :
 

HUBUNGAN SANITASI SARANA AIR BERSIH DAN JAMBAN DENGAN KEJADIAN DIARE DI DESA GUNUNG LURAH KECAMATAN CILONGOK KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2012



Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah, Juni 2012

Abstrak
HUBUNGAN SANITASI SARANA AIR BERSIH DAN JAMBAN DENGAN KEJADIAN DIARE DI DESA GUNUNG LURAH KECAMATAN CILONGOK KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2012
XVIII +109 halaman: gambar, tabel, lampiran

Sarana air bersih dan jamban yang tidak memenuhi syarat kesehatan berpotensi menyebabkan tercemarnya air, tanah serta menjadi tempat bersarang vektor penyakit. Dua faktor tersebut penyebab timbulnya penularan berbagai macam penyakit saluran pencernaan, diantaranya penyakit diare. Data Puskesmas I Cilongok  berkaitan dengan jumlah penderita diare, diketahui bahwa Desa Gunung Lurah merupakan desa dengan penderita diare tertinggi yaitu tahun 2009 (183 orang), 2010 (125 orang) dan 2011 (159 orang). 
Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan sanitasi sarana air bersih dan jamban dengan kejadian diare di Desa Gunung Lurah Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas Tahun 2012.
Jenis penelitian ini adalah Analisis Inferensial (uji hipotesis) dengan pendekatan Case Control. Populasi dalam penelitian ini yaitu populasi kasus dan populasi kontrol. Sampel penelitian ini yaitu sampel kasus seluruh populasi sebanyak 20 dan kontrol sebanyak 20. Variabel terikat adalah kejadian diare sedangkan variabel bebasnya sanitasi sarana air bersih dan jamban. Analisis data menggunakan uji Chi Square (X2), Odds Ratio(OR) dan Koefisien Asosiasi (Phi).
Hasil penelitian kondisi sanitasi sarana air bersih kelompok kasus  sebanyak 18 unit (90%) dan pada kelompok kontrol sebanyak 10 unit (50%) sanitasi sarana air bersih dengan tingkat risiko tinggi. Kondisi sanitasi jamban kelompok kasus18 unit (90%) dan pada kelompok kontrol sebanyak 11 unit (55%) sanitasi jamban dengan tingkat risiko tinggi. Uji statistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara sarana air bersih (X2=5,833; p=0,016; OR= 9,00 (95% CI=1,638-49,446);  Phi=0,436) dan jamban (X2=4,514; p=0,034; OR=7,364 (95% CI=1,377-40,548); Phi=0,392) dengan kejadian diare di Desa Gunung Lurah Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas Tahun 2012.
Simpulan dari penelitian ini adalah ada hubungan sanitasi sarana air bersih dan jamban dengan kejadian diare. Saran kepada masyarakat diharapkan memperbaiki sanitasi sarana air bersih dengan perbaikan pipa/selang penyalur air dan untuk jamban diadakan jambanisasi misalnya dengan cara arisan jamban sehingga masyarakat dapat memiliki jamban yang memenuhi syarat kesehatan.

Daftar Bacaan
:  42 (1990-2012)
Kata Kunci
:  sanitasi, sarana air bersih, jamban, diare
Klasifikasi
Full text
: -

DESKRIPSI HYGIENE SANITASI PEMBUATAN BAKSO PADA PEDAGANG BAKSO DI PASAR INDUK BREBES DI KECAMATAN BREBES TAHUN 2012,

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang 
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkunga
Karya Tulis Ilmiah, Juni 2012

Abstrak 
Aghnia Izzatul Laili (izza_funny92@yahoo.com)
DESKRIPSI HYGIENE SANITASI PEMBUATAN BAKSO PADA PEDAGANG BAKSO DI PASAR INDUK BREBES DI KECAMATAN BREBES TAHUN 2012,
 XVI + 69 halaman : gambar, tabel, Lampiran 

Makanan mempunyai peranan yang sangat penting dalam kesehatan masyarakat. Makanan yang menarik, nikmat dan tinggi gizinya akan menjadi tidak berarti sama sekali jika tidak aman untuk dikonsumsi, ini dapat disebabkan karena makanan dapat sebagai perantara untuk pertumbuhan mikrorganisme patogenik dan organisme lain penyebab penyakit. Keadaan sanitasi pembuatan bakso pada pedagang bakso di Pasar Induk Brebes terdapat permasalahan dalam personal hygiene penjamah makanan pada saat pengolahan bakso. Dari keenam prinsip hygiene sanitasi makanan dan peran penjamah makanan tersebut, ditujukan untuk mencapai tujuan tersedianya makanan yang sehat bagi masyarakat.
Tujuan penelitian untuk mengetahui hygiene sanitasi pembuatan bakso pada pedagang bakso dan mengukur jumlah mikroba ALT (Angka Lempeng Total).
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif yaitu untuk memperoleh gambaran secara objektif tentang sanitasi tempat pembuatan bakso pada pedagang bakso di Kecamatan Brebes Kabupaten Brebes dengan cara pengambilan data menggunakan instrument ceklist, dafar pertanyaan dan uji laboratorium. 
Hasil inspeksi hygiene sanitasi pembuatan bakso dari 10 pedagang bakso seluruhnya masuk dalam kategori memenuhi syarat (≥76%). Pemeriksaan Angka Lempeng Total (ALT) dari 10 sampel yang diambil seluruhnya memenuhi syarat Peraturan Kepala Badan POM RI No. HK.00.06.1.52.4011 tahun 2009 tentang Penetapan Batas Maksimum Cemaran Mikroba dan Kimia Dalam Makanan untuk jenis makanan Daging olahan dan Daging ayam olahan (bakso, sosis, naget, burger) bahwa Angka Lempeng Total batas maksimum makanan adalah 1 x 105 koloni/g.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah hygiene sanitasi pembuatan bakso rata-rata memenuhi syarat 82,68 %, kualitas makanan secara organoleptik sudah memenuhi syarat 100% dan kualitas makanan secara mikrobiologi ratarata sudah memenuhi syarat. Saran yang dapat diberikan bagi pemilik yaitu disediakan celemek, tempat khusus penyimpanan bahan, tempat pengolahan yang bersih, alat pengangkutan berpenutup, pencucian menggunakan air yang mengalir. Saran bagi Dinas Kesehatan mengadakan penyuluhan tentang hygiene sanitasi makanan dan pemeriksaan kesehatan setiap 3 bulan sekali.

Daftar Bacaan : (1995-2010)
Kata Kunci      : Hygiene Sanitasi Makanan dan Minuman
Klasifikasi        :

STUDI KADAR MERKURI (Hg) PADA AIR SUNGAI TAJUM SEKITAR PENAMBANGAN EMAS TRADISIONAL

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan
 Karya Tulis Ilmiah, Juni 2012

ABSTRAK 
Tri Sofiana (Sofia_lens@yahoo.com)
STUDI KADAR MERKURI (Hg) PADA AIR SUNGAI TAJUM SEKITAR PENAMBANGAN EMAS TRADISIONAL DESA PANINGKABAN KECAMATAN GUMELAR KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2012 
xvi + 96 halaman : halaman, gambar, tabel, lampiran

 Kegiatan penambangan emas di Desa Paningkaban dilakukan dengan
cara tradisional dengan peralatan seadanya, yaitu dengan sistem tambang bawah tanah. Sistem  pengolahannya dengan menggunakan merkuri yang berpotensi untuk menimbulkan pencemaran lingkungan. Limbah hasil penambangan sebagian dibuang ke Sungai Tajum, Sungai tajum merupakan sungai yang mempunyai peranan besar bagi masyarakat Desa Paningkaban.
Tujuan pemelitian ini adalah untuk mengetahui kadar merkuri (Hg) pada air sungai Tajum dan membandingkan dengan Peraturan Pemerintah (PP) Republik Indonesia No. 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.
Metode penelitian ini adalah deskriptif yaitu menggambarkan kadar merkuri (Hg) yang terdapat pada Air Sungai Tajum dan membandingkan dengan Peraturan Pemerintah (PP) Republik Indonesia No. 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. 
Hasil penelitian kadar merkuri (Hg) pada sampel air sungai Tajum pada jarak 50 m sebelum kawasan penambangan adalah 0,00458 ppm, pada titik pembuangan limbah 0,0144 ppm, pada tempat pembuangan limbah (sumber) 0,0438 ppm, pada jarak 50 m setelah kawasan penambangan emas Desa Paningkaban 0,00641 ppm. Dengan jumlah pemakaian merkuri per hari mencapai 1-3 Kg dan limbah yang dibuang 77,52-593,695 liter per hari. Dibandingkan dengan Peraturan Pemerintah (PP) Republik Indonesia No. 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air, kadar merkuri (Hg) pada air air yang peruntukannya dapat digunakan untuk pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut adalah 0,002 mg/l. 
Kesimpulan bahwa kadar merkuri pada ke empat titik sampel sudah melebihi standar baku mutu merkuri (Hg) pada air. Disarankan Pemerintah Desa Paningkaban sebaiknya lebih mengawasi penggunaan merkuri dan pembuangan limbah pada penambangan emas. Penambang membuat tempat penampungan limbah dengan sistem fito remidiasi. 

Daftar Bacaan    : 21 (1991-2011)
Kata Kunci         : Merkuri
Klasifikasi           : -
 

STUDI PENGOLAHAN AIR LIMBAH DI RUMAH SAKIT

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto 
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah, Juni 2012

Abstrak
Dwi Astuti  ( dhoewick_ast1003@yahoo.com )
STUDI PENGOLAHAN AIR LIMBAH DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Prof. Dr. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO TAHUN 2012 
XVI+98 Halaman: Gambar, Tabel, Lampiran

RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto yang beroperasi dari tahun 1995 mengalami peningkatan jumlah tempat tidur dari 392 tempat tidur menjadi 600 tempat tidur. Hal ini menyebabkan nilai BOR  ( Bed Occupancy Ratio )  atau angka penggunaan tempat tidur melebihi nilai BOR ideal yang sekiranya 60% 85%, yaitu  mencapai 98,95%. Hal ini menyebabkan air limbah bertambah banyak. Dahulu IPAL mengolah air limbah dengan debit 120 m/hari, sekarang menjadi 300 m3/hari pada musim kemarau dan 700 m3/hari pada musim penghujan. IPAL dikategorikan baik jika menghasilkan effluent yang memenuhi baku mutu air limbah.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui unit-unit pengolah limbah, debit air limbah, suhu, pH, BOD, COD, TSS dan efisiensi penurunan kadar pencemar air limbah.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian observasional dengan analisis deskriptif. Penelitian ini dilakukan dengan pengumpulan data lapangan dan laboratorium yang dianalisis kemudian dibandingkan dengan peraturan yang berlaku.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa unit-unit pengolahan air limbah adalah pemisah sabun, pemisah minyak, pompa inlet, saringan putar, bak equalisasi, bak aerasi, bak clarifier, bak penampung lumpur, pompa untuk mengalirkan lumpur. Debit air limbah yang diolah adalah 422 m
/hari. Kualitas effluent yaitu pH 7, suhu 28oC, BOD 6,8 mg/lt, COD 80 mg/lt, TSS 15 mg/lt telah memenuhi Peraturan Daerah Propinsi Jawa Tengah No. 10 Tahun 2004 tentang baku mutu air limbah dengan nilai maksimal pH 6-9, suhu 30oC, BOD 30 mg/l, COD 80 mg/l, TSS 30 mg/l. Prosentase penurunan kadar parameter air limbah yaitu BOD 83,75%, COD 60%, TSS 93,7%.
Kesimpulan dari penelitian yang telah dilaksanakan, bahwa pengolahan air limbah belum baik, karena debit air limbah yang diolah melebihi kriteria desain, sebagai akibatnya kadar COD berada pada batas baku mutu air limbah yaitu 80 mg/lt. Dapat disarankan agar dibangun IPAL baru yang sesuai dengan debit air limbah yang dihasilkan.

Daftar bacaan : 22  ( 1979-2010 )
Kata kunci     : air limbah, rumah sakit
Klasifikasi      : -