Rabu, 03 Oktober 2018

DESKRIPSI KASUS DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) BERDASARKAN VARIABEL EPIDEMIOLOGI DI WILAYAH PUSKESMAS KALIMANAH TAHUN 2015-2017

Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang 
Jurusan Kesehatan Lingkungan Lingkungan Purwokerto 
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan 
Karya Tulis Ilmiah, Mei 2017 

Abstrak
Dian Sefriana Wulandari (diansefriana25090@gmail.com)
DESKRIPSI KASUS DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) BERDASARKAN VARIABEL EPIDEMIOLOGI DI WILAYAH PUSKESMAS KALIMANAH TAHUN 2015-2017 
xvi + 55 halaman : gambar, tabel, lampiran

Demam Berdarah Dengue adalah penyakit demam akut yang disebabkan oleh virus Dengue. Penyakit ini ditemukan di daerah tropis dan disebarkan kepada manusia oleh nyamuk Aedes sp. Data dari Dinas Kesehatan Purbalingga wilayah Puskesmas Kalimanah merupakan wilayah dengan kasus tertinggi di Kabupaten Purbalingga pada tahun 2017 sebanyak 23 kasus. Tujuan penelitian ini adalah menggambarkan kejadian penyakit Demam Berdarah Dengue berdasarkan waktu penyebaran, tempat penyebaran, penderita. 
Jenis Penelitian Deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan cara penelusuran data dan wawancara. Data disajikan dalam bentuk narasi terstruktur, grafik, dan tabel. Analisis data dilakukan dengan cara analisis tabel dan grafik. 
Hasil penelitian bahwa kasus DBD di Wilayah Puskesmas Kalimanah pada tahun 2015 sampai dengan tahun 2017 tertinggi pada bulan Januari sebanyak 17 kasus. Tempat penyebaran tertinggi adalah Desa Babakan dengan jumlah kasus sebanyak 22 kasus. Berdasarkan penderita yang meliputi umur dan jenis kelamin yaitu untuk umur tertinggi pada usia 26 tahun sampai dengan 45 tahun dengan jumlah 31 kasus, jenis kelamin penderita terbanyak pada penderita DBD adalah laki-laki dengan jumlah 47 kasus. Kesimpulan penelitian adalah adalah kasus tertinggi pada bulan Januari di Desa Babakan, penderita paling banyak pada umur 26-45 tahun dan berjenis kelamin laki-laki. Saran yang diberikan adalah memperbaiki perilaku, meningkatkan kewapadaan setiap bulan untuk mengurangi kasus dengan cara PSN, melakukan kegiatan 3M plus. Masyarakat segera melaporkan ke pelayanan kesehatan terdekat apabila terjadi tanda dan gejala penyakit DBD agar dapat ditindak lanjuti oleh intansi yang berwenang. 

Daftar Bacaan :  19 (2006-2017) 
Kata Kunci      :  Demam Berdarah Dengue, Kesehatan Lingkungan 
Klasifikasi       : -

STUDI ASPEK KESEHATAN LINGKUNGAN PADA PENDERITA PENYAKIT DIARE DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PADAMARA DI KECAMATAN PADAMARA KABUPATEN PURBALINGGA TAHUN 2018

                                                                                              Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
                                                                                             Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
                                                                                 Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan
                                                                                                                   Karya Tulis Ilmiah, Mei 2018

Abstrak
Mayliani Istiqomah (maylianiistiqomah22@gmail.com)
STUDI ASPEK KESEHATAN LINGKUNGAN PADA PENDERITA PENYAKIT DIARE DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PADAMARA DI KECAMATAN PADAMARA KABUPATEN PURBALINGGA TAHUN 2018
XVI+ halaman: gambar, tabel, lampiran

Penyakit diare disebabkan oleh 3 agen yaitu virus, bakteri dan parasit. Ketiga agen tersebut merupakan salah satu faktor penyebab penyakit diare, karena aspek kesehatan lingkungan yang tidak memenuhi syarat. Data dari puskesmas di Kecamatan Padamara pada tahun 2017 sebesar 1.257 penduduk dengan jumlah penderita diare umur 1-4 tahun sebanyak 236 penderita dan umur 20-44 tahun sebanyak 198 penderita. Tujuan penelitian mengetahui keadaan sarana air bersih, sarana pembuangan tinja, sarana pembuangan air limbah, sarana pembuangan sampah, mengetahui higiene sanitasi makanan dan minuman, higiene perorangan dan hasil pemeriksaan kualitas bakteriologis sumber air bersih, pada penderita diare di Wilayah Kerja Puskesmas Padamara Kecamatan Padamara Tahun 2018.
Metode penelitian menggunakan metode deskriptif yaitu menggambarkan keadaan yang sebenarnya dan membandingkan dengan teori yang ada. Cara pengumpulan data adalah wawancara, observasi lapangan, dokumentasi, dan pemeriksaan kualitas bakteriologis pada air bersih. Analisis data adalah menggunakan analisis tabel.
Hasil penelitian penderita diare di wilayah kerja Puskesmas Padamara di Kecamatan Padamara Kabupaten Purbalingga dapat diketahui bahwa pada sarana sumur gali, perpipaan, jamban leher angsa, sarana pembuangan air limbah memenuhi syarat kesehatan. Sarana perlindungan mata air PMA 100% tidak memenuhi syarat pada aspek konstruksi bangunan, dan kualitas bakteriologis yang terdapat bakteri patogen E.coli : >240 dan Koli Tinja : 12. Hal ini tidak memenuhi syarat secara bakteriologis. Pada jamban empang 100% tidak memenuhi syarat sarana konstruksi dan pembuanganya. Sarana pembuangan sampah 59% tidak memenuhi syarat disebabkan sampah berserakan, tidak ada pemisahan sampah organik dan anorganik. Higiene sanitasi makanan dan minuman 29% tidak memenuhi syarat disebabkan tidak tersedia tempat cuci tangan khusus. Higiene perorangan 90% tidak memenuhi syarat disebabkan tidak melakukan kebiasaan mencuci tangan dengan sabun antiseptik saat sebelum dan sesudah aktivitas keseharian.
Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah keadaan aspek kesehatan lingkungan terkait diare yang tidak memenuhi syarat antara lain higiene perorangan, pengelolaan sampah, sarana pembuangan tinja dan sarana air bersih. Saran yang dapat diberikan adalah perlu adanya upaya dari masyarakat untuk melakukan perbaikan terhadap sarana sanitasi rumah penderita diare, meningkatkan kebersihan, kebiasaan hidup bersih dan sehat.
Daftar bacaan  :  12  (2010 – 2017)
Kata kunci      :   Diare, Kesehatan Lingkungan
Klasifikasi      :

DETEKSI RHODAMIN B PADA JAJANAN MIE LIDI DI SEKOLAH DASAR NEGERI KELURAHAN GRENDENG KECAMATAN PURWOKERTO UTARA KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2018

                                                                                              Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
                                                                                              Jurusan Kesehatan Lingkungan Puwokerto
                                                                                 Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan
                                                                                                                  Karya Tulis Ilmiah, Mei 2018

Abstrak
 Dini Viviana Rosi (dhinivivi@gmail.com)
DETEKSI RHODAMIN B PADA JAJANAN MIE LIDI DI SEKOLAH DASAR NEGERI KELURAHAN GRENDENG KECAMATAN PURWOKERTO UTARA KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2018
xv + 56 Halaman : tabel, gambar, lampiran

Makanan yang memenuhi standar kesehatan, yakni makanan yang bebas dari zat-zat berbahaya seperti pewarna sistesis, pengawetan, serta pemanis buatan yang dilarang. Mie lidi merupakan salah satu jenis makanan jajanan biasanya dijual dengan rasa yang menarik, mudah didapat dan harganya relatif murah sehingga digemari oleh anak-anak. Hal ini sering dimanfaatkan pedagang untuk mendapatkan keuntungan yang besar dikarenakan zat pewarna sistesis harganya lebih murah dan warna makanan terlihat lebih menarik. Tujuan penelitian untuk mengetahui ciri fisik mie lidi, deteksi Rhodamin B pada mie lidi yang dijual di SD Negeri Kelurahan Grendeng.
Jenis penelitian ini termasuk penelitian deskriptif. Sampel yang diteliti mie lidi sebanyak 3 sampel. Responden pada penelitian ini yaitu pedagang mie lidi di SD Negeri Kelurahan Grendeng Purwokerto Utara sebanyak 3 responden. Deteksi Rhodamin B pada mie lidi menggunakan metode Test kit di Laboratorium Kesehatan Banyumas.
Hasil uji organoleptik yang dilakukan oleh 3 orang panelis mahasiswa bahwa ke tiga sampel terindikasi menggunakan Rhodamin B dengan ciri fisik ke tiga sampel mie lidi yang berwarna merah mencolok dengan rasa balado. Hasil deteksi Rhodamin B pada mie lidi di SD Negeri Grendeng didapat hasil negatif Rhodamin B. Hasil tingkat pengetahuan responden tentang bahaya Rhodamin B pada jajanan mie lidi adalah responden pedagang 1 30%, responden pedagang 2 26%, dan responden pedagang 3 43%.
Kesimpulan tidak terdapat kandungan Rhodamin B pada mie lidi yang dijual di SD Negeri Kelurahan Grendeng, Kabupaten Banyumas. Saran yang peneliti rekomendasikan adalah konsumen sebaiknya mencermati setiap produk yang akan dibeli dengan cara membaca jenis dan jumlah pewarna yang digunakan dalam produk tersebut, pastikan label tercantum izin dari BPOM dan konsumen dalam membeli makanan dan minuman pilih makanan atau minuman yang warnanya tidak terlalu mencolok agar terhindar dari bahan pewarna berbahaya pada makanan dan minuman.
Daftar bacaan : 17 ( 1994 - 2018 )
Kata kunci      : Rhodamin B, Mie lidi
Klasifikasi      :

TINJAUAN KEBERADAAN FORMALIN PADA IKAN TONGKOL DI PASAR SEGAMAS KABUPATEN PURBALINGGA TAHUN 2018

                                                                                           Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
                                                                                             Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
                                                                                            Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
                                                                             Program Studi Diploma DIII Kesehatan Lingkungan
                                                                                                                 Karya Tulis Ilmiah, Mei 2018

Abstrak
Resi Okta Fia Rohyani (resioktafiarohyani.xiak3@gmail.com)
TINJAUAN KEBERADAAN FORMALIN PADA IKAN TONGKOL DI PASAR SEGAMAS KABUPATEN PURBALINGGA TAHUN 2018
XVI + 46 halaman : tabel, gambar, lampiran

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 033 Tahun 2012 Tentang Bahan Tambahan Pangan, formalin adalah salah satu bahan tambahan pangan yang dilarang digunakan dan bukan untuk bahan tambahan pangan. Formalin merupakan larutan formaldehida dalam air dengan kadar 36-40%. Fungsi formalin yang sebenarnya adalah sebagai antiseptik, desinfektan, antihidrolik, mengawetkan mayat serta bahan biologi dan patologi lain. Formalin yang digunakan untuk mengawetkan ikan tongkol dapat membahayakan kesehatan manusia. Tujuan penelitian untuk mengetahui ada tidaknya formalin pada ikan tongkol di Pasar Segamas Kabupaten Purbalingga.
Metode penelitian ini deskriptif dengan menggambarkan ada tidaknya formalin pada ikan tongkol di Pasar Segamas. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, mengamati, dan memeriksa sampel ikan tongkol di Laboratorium Kesehatan Kabupaten Purbalingga.
Hasil pemeriksaan formalin pada ikan tongkol di Laboratorium Kesehatan Kabupaten Purbalingga menunjukan bahwa dari 3 sampel ikan tongkol di Pasar Segamas positif 1 menggunakan formalin. Ciri-ciri fisik ikan tongkol yang mengindikasikan menggunakan formalin pada ikan tongkol, dari kriteria bau tidak amis, warna putih bersih, tekstur kaku/kenyal dan tidak ada rasa. Dan tingkat pengetahuan pedagang ikan tongkol di Pasar Segamas Kabupaten Purbalingga sudah cukup baik dan ada yang kurang baik.
Kesimpulan menunjukan 1 sampel ikan tongkol yang diperiksa positif menggunakan formalin. Saran agar masyarakat lebih berhati-hati dalam memilih makanan, tidak hanya melihat dari penampilan makanan yang menarik saja. Para pedagang ikan tongkol sebaiknya mengawetkan ikan tongkol dengan cara yang alami agar tidak membahayakan konsumen. Saran kerjasama dengan Dinas Kesehatan kabupaten Purbalingga untuk meningkatkan pemeriksaan dan penyuluhan rutin tentang bahan tambahan pangan yang aman serta bahan yang dilarang untuk tambahan makanan.
Daftar Bacaan : 16 ( 1994- 2012 )
Kata Kunci     : Formalin pada ikan tongkol
Klasifikasi      :  KLASIFIKASI

DESKRIPSI JUMLAH Escherichia coli PADA DEPOT AIR MINUM TIDAK BERIJIN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS 1 TAMBAK KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2018

                                                                                             Health Polytechnic Kemenkes of Semarang
                                                                                     Departement Health of Environment Purwokerto
                                                                            Program Study Diploma of III Health of Environment
                                                                                                                   Karya Tulis Ilmiah, Mei 2018

Abstrak
Amelia Yunita (amelia.bonita.4@gmail.com)
DESKRIPSI JUMLAH Escherichia coli PADA DEPOT AIR MINUM TIDAK BERIJIN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS 1 TAMBAK KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2018
XVI + 89 halaman: gambar, tabel, lampiran

Setiap produsen pada Depot Air Minum (DAM) wajib untuk menjamin air minum yang diproduksi aman bagi kesehatan. Untuk menjaga kualitas air minum agar aman dikonsumsi oleh masyarakat harus terjamin hygiene sanitasinya, yang meliputi tenaga kerja atau pengelola DAM yang sehat dan berperilaku bersih dan sehat, air baku berasal dari sumber air yang bersih, kualitas air minum yang sehat dan aman
Jenis penelitian deskriptif untuk memeriksa kualitas air minum dan mendiskripsikan tentang hygiene sanitasi pengelolaan air minum pada DAM di wilayah kerja Puskesmas 1 Tambak Kabupaten Banyumas.
Hasil penelitian menunjukkan kualitas mikrobiologi air minum pada DAM di wilayah kerja Puskesmas 1 Tambak sebanyak 40% tidak terkontaminasi oleh bacteri E.coli dan 60% yang terkontaminasi oleh bakteri E.coli, kualitas fisik air minum pada DAM di wilayah kerja Puskesmas 1 Tambak telah memenuhi syarat secara fisik yaitu tidak berwarna tidak berbau dan tidak berasa, sumber air yang digunakan pada DAM di wilayah kerja Puskesmas 1 Tambak berasal dari sumur bor, sumur gali dan pamsimas, cara pengolahan air di DAM di wilayah kerja Puskesmas 1 Tambak menggunakan UV ada 60% dan menggunakan UV dan RO 40%, kondisi sanitasi DAM di wilayah kerja Puskesmas 1 Tambak 100% dengan kategori tidak memenuhi syarat.
Disarankan Pemilik DAM memeriksakan sampel air minum isi ulang secara rutin setiap 1 bulan sekali, pemilik DAM harus memperhatikan hygiene sanitasi DAM, mengajukan permohonan izin usaha sesuai dengan ketentuan yang diterbitkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, pengelola DAM yang terlibat langsung perlu untuk memeriksakan kesehatan secara berkala, DKK Banyumas perlu meningkatkan penyuluhan hygiene sanitasi kepada masing-masing DAM sehingga produk air minum isi ulang terjamin kualitasnya dan meningkatkan pembinaan dan pengawasan pengelolaan DAM secara rutin.

Daftar bacaan : 42 (1981-2015)
Kata kunci      : Escherichia coli, Depot Air Minum
Klasifikasi      : -
Fulltext

Jumat, 28 September 2018

STUDI DESKRIPTIF KOLAM RENANG DREAMLAND PARK DESA PANCASAN KECAMATAN AJIBARANG KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2018

                                                                                              Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
                                                                                  Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan
                                                                                             Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
                                                                                                                   Karya Tulis Ilmiah, Mei 2018

Abstrak
Iqbal Nur Pratama (Iqbalnurpratama268@gmail.com)
STUDI DESKRIPTIF KOLAM RENANG DREAMLAND PARK DESA PANCASAN KECAMATAN AJIBARANG KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2018
XV + 77 halaman :gambar, tabel, lampiran

Objek Wisata Kolam Renang Dreamland Park Pancasan merupakan salah satu objek wisata di Banyumas, yang merupakan salah satu tempat – tempat umum yang perlu mendapatkan perhatian dan pengawasan sanitasi. Sanitasi kolam renang yang memenuhi syarat bertujuan memutus rantai penularan penyakit. Tujuan penelitian ini bertujuan untuk meneliti sanitasi di Objek Wisata Kolam Renang Dreamland Park Pancasan yang meliputi sanitasi bagian luar, sanitasi bagian dalam, dan mengukur sisa chlor di kolam Dewasa.
Metode penelitian: menggunakan metode deskriptif yaitu menggambarkan tentang keadaan sanitasi, sanitasi bagian luar meliputi lokasi, lingkungan, tempat sampah, Tempat Penampungan Sampah semetara (TPS), dan tempat parkir, sanitasi bagian dalam meliputi tata bangunan, kontruksi bangunan, persyaratan kesehatan kamar/ruang, persyaratan kesehatan fasilitas sanitasi, pengeloaan sampah, dan kualitas air kolam renang di Objek Wisata Kolam RenangDreamland Park Pancasan, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas, serta mengukur sisa chlor. Teknik penilaian sanitasi menggunakan Permenkes RI no.061/Menkes/Per/1/1991 yang dikembangkan sesuai penelitian ini.
Hasil: penilaian dengan checklist dan kuesioner kolam renang belum memenuhi persyaratan kesehatan. Sanitasi bagian luar Objek Wisata Kolam Renang Dreamland Park Pancasan didapatkan hasil penilaian keseluruhan checklist adalah 93,5%, kategori cukup baik dan hasil penilaian kuesioner adalah 100%, kategori cukup baik. sanitasi bagian dalam Objek Wisata Kolam Renang Dreamland Park Pancasan didapatkan hasil penilaian keseluruhan checklist adalah 74%, kategori cukup baik dan hasil penilaian kuesioner adalah 62,5%, kategori cukup baik. Hasil pengukuran sisa chlor rata-rata 0,08 mg/lt. Pada kolam renang anak belum memenuhi persyaratan menurut Permenkes RI No. 32 tahun 2017 tentang salah satu daftar persyaratan kualitas air kolam renang sisa chlor adalah 1 – 1,5 mg/lt.
Kesimpulan: sanitasi secara keseluruhan dan sisa chlor pada kolam renang anak di Objek Wisata Kolam Renang Dreamland Park Pancasan belum memenuhi persyaratan kesehatan. Peneliti menyarankan perlu ditingkatkannya pemantauan kebersihan di dreamland Park Pancasan, memasang tata tertib untuk pengunjung dan himbauan yang bersifat mengajak untuk menjaga kebersihan dipasang disetiap kegiatan pengunjung, pembuatan TPS, tempat cuci tangan, peturasan, sarana pembuangan air limbah, dan dilakukan chlorinasi secara kontinyu.

Data Bacaan :11 (1991-2017)
Kata Kunci   : Sanitasi,Kolam Renang
Klasifikasi    : -
Fulltext

Kamis, 27 September 2018

Studi Deskriptif Sanitasi Kolam Renang Taman Sari Rasa Di Kelurahan Karang Jati Kecamatan Sampang Kabupaten Cilacap Tahun 2018

                                                                                           Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
                                                                                            Jurusan Kesehatan Lingkungan Puwokerto
                                                                               Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan
                                                                                                                           Tugas Akhir, Mei 2018

Abstrak
Wisnu Widi Pratomo (wisnu1856@gmail.com)
Studi Deskriptif Sanitasi Kolam Renang Taman Sari Rasa Di Kelurahan Karang Jati Kecamatan Sampang Kabupaten Cilacap Tahun 2018
Xv + 76 halaman : tabel, gambar, lampiran

Objek Wisata Kolam Renang Taman Sari Rasa merupakan salah satu objek wisata di Cilacap, yang merupakan salah satu tempat - tempat umum yang perlu mendapatkan perhatian dan pengawasan sanitasi. Sanitasi kolam renang yang memenuhi syarat bertujuan memutus rantai penularan penyakit. Tujuan penelitian: untuk meneliti sanitasi di Objek Wisata Kolam Renang Taman Sari Rasa yang meliputi sanitasi bagian luar, sanitasi bagian dalam, dan mengukur sisa chlor di kolam renang.
Metode penelitian:  deskriptif yaitu menggambarkan tentang keadaan sanitasi, sanitasi bagian luar meliputi lokasi, lingkungan, tempat sampah, Tempat Penampungan Sampah semetara (TPS), dan tempat parkir, sanitasi bagian dalam meliputi tata bangunan, kontruksi bangunan, persyaratan kesehatan kamar/ ruang, persyaratan kesehatan fasilitas sanitasi, pengeloaan sampah, dan kualitas air kolam renang di Objek Wisata Kolam Renang Taman Sari Rasa Kelurahan Karang Jati, Kecamatan Sampang, Kabupaten Cilacap, serta mengukur sisa chlor. Teknik penilaian sanitasi menggunakan Permenkes RI no. 061/ Menkes/ Per/ 1/ 1991. Sedangkan pengukuran air menggunakan Permenkes RI No. 32 Tahun 2017. yang dikembangkan sesuai penelitian ini.
Hasil: pengukuran dengan checklist dan kuesioner kolam renang belum memenuhi persyaratan kesehatan. Sanitasi bagian luar Objek Wisata Kolam Renang Taman Sari Rasa didapatkan hasil penilaian keseluruhan checklist adalah 74,07%, kategori cukup baik dan hasil penilaian kuesioner adalah 75%, kategori cukup baik. Dan sanitasi bagian dalam Objek Wisata Kolam Renang Taman Sari Rasadidapatkan hasil penilaian keseluruhan checklist adalah 79,5%, kategori baik dan hasil penilaian kuesioner adalah 66,66%, kategori kurang baik. Hasil pengukuran sisa chlor pada kolam renang di Objek Wisata Taman Sari Rasa pada pagi hari 2,2 mg/l, siang hari 0,75 mg/l, sore hari 0,5 mg/l belum memenuhi syarat. Menurut Permenkes No 32 Tahun 2017 sisa chlor bebas yang memenuhi syarat adalah antara 1-1,5mg/l.
Kesimpulan: sanitasi secara keseluruhan dan sisa chlor belum memenuhi persyaratan, kesehatan. Peneliti menyarankanperlu ditingkatkannya pemantauan kebersihan di Objek Wisata Kolam Renang Taman Sari Rasa, memasang tata tertib untuk pengunjung dan himbauan yang bersifat mengajak untuk menjaga kebersihan dipasang disetiap kegiatan pengunjung, pembuatan TPS, tempat cuci tangan, peturasan, sarana pembuangan air limbah, dan dilakukan chlorinasi secara kontinyu.

Daftar bacaan :  14 (1985 – 2017)
Kata kunci      :  Sanitasi, kolam renang
Klasifikasi      :   -
Fulltext