Selasa, 08 November 2016

HUBUNGAN JENIS PEKERJAAN DENGAN KEJADIAN KECACINGAN PERUT

Departemen Kesehatan Republik Indonesia 
Program Studi Diploma IV Kesehatan 
 Lingkungan Jurusan Kesehatan   Lingkungan Purwokerto Poltekkes 
 Depkes Semarang  Skripsi,  1 Juli 2008 

Abstrak
Tuty Andayani   
HUBUNGAN JENIS PEKERJAAN DENGAN KEJADIAN KECACINGAN PERUT DI DESA SIRKANDI KEC. PURWAREJA KLAMPOK KAB. BANJARNEGARA  
xiv + 52 halaman + 15 tabel + 2 gambar + 8 lampiran   

Kecacingan adalah suatu bentuk infeksi oleh cacing yang ditularkan melalui perantara tanah kepada manusia. Infeksi cacing dewasa menyebabkan gangguan pencernaan, perdarahan, anemia, alergi dan iritasi usus sedangkan  bentuk larvanya dapat menyebabkan reaksi alergi dan kelainan jaringan di tempat hidupnya. Kondisi yang kronis akibat kecacingan akan menurunkan produktivitas kerja. Kelompok pekerja yang jenis pekerjaannya selalu berinteraksi dengan tanah mempunyai risiko terinfeksi cacing perut.  Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan jenis pekerjaan dengan kejadian kecacingan perut di Desa Sirkandi Kec. Purwareja Klampok Kab. Banjarnegara . Jenis penelitian ini adalah survey explanatory dengan pendekatan Cross sectional. Populasi penelitian ini adalah 40 orang pembuat batu bata dan 50 orang pembuat anyaman bambu, sampel diambil sebanyak 50% dari populasi yang dibagi secara proporsional.   Pengumpulan data dilakukan dengan pemeriksaan laboratorium dan wawancara dengan responden. Penderita kecacingan perut pada pembuat batu bata sebesar 35 % sedangkan pada pembuat anyaman bambu hanya 4 %. Data dianalisis dengan uji Chi Square dengan tujuan ujinya mencari hubungan. Hasil uji ternyata tidak memenuhi syarat, karena mempunyai nilai harapan (expected), lebih dari 20% yaitu 50%, sehingga jenis uji statistiknya menggunakan exact fisher, dimana nilai “p” 0,015 untuk uji dua sisi, nilai ini lebih kecil dari nilai α = 5 %. Kesimpulan dari uji ini membuktikan bahwa hipotesis nihilnya ditolak artinya ada hubungan antara jenis pekerjaan dengan kejadian kecacingan perut dengan koefisien asosiasi 0,374 dengan katagori asosiasi lemah.  Pekerja hendaknya memperhatikan kebersihan perorangan dan menggunakan alat pelindung diri berupa  sarung tangan dan sepatu panjang. Petugas kesehatan hendaknya melaksanakan pengawasan dan pembinaan bagi tenaga kerja sesuai tugas dan kewenangannya.

Kepustakaan   : 20 (1990 - 2008) 
Kata Kunci      : Jenis pekerjaan, Kecacingan, Tanah,
Full Text 

JENIS PEKERJAAN DENGAN KEJADIAN KECACINGAN PERUT DI DESA SIRKANDI

Departemen Kesehatan Republik Indonesia 
Program Studi Diploma IV Kesehatan 
 Lingkungan Jurusan Kesehatan   Lingkungan Purwokerto Poltekkes 
 Depkes Semarang  Skripsi,  1 Juli 2008 

Abstrak
Tuty Andayani   
HUBUNGAN JENIS PEKERJAAN DENGAN KEJADIAN KECACINGAN PERUT DI DESA SIRKANDI KEC. PURWAREJA KLAMPOK KAB. BANJARNEGARA  
xiv + 52 halaman + 15 tabel + 2 gambar + 8 lampiran   

Kecacingan adalah suatu bentuk infeksi oleh cacing yang ditularkan melalui perantara tanah kepada manusia. Infeksi cacing dewasa menyebabkan gangguan pencernaan, perdarahan, anemia, alergi dan iritasi usus sedangkan  bentuk larvanya dapat menyebabkan reaksi alergi dan kelainan jaringan di tempat hidupnya. Kondisi yang kronis akibat kecacingan akan menurunkan produktivitas kerja. Kelompok pekerja yang jenis pekerjaannya selalu berinteraksi dengan tanah mempunyai risiko terinfeksi cacing perut.  Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan jenis pekerjaan dengan kejadian kecacingan perut di Desa Sirkandi Kec. Purwareja Klampok Kab. Banjarnegara . Jenis penelitian ini adalah survey explanatory dengan pendekatan Cross sectional. Populasi penelitian ini adalah 40 orang pembuat batu bata dan 50 orang pembuat anyaman bambu, sampel diambil sebanyak 50% dari populasi yang dibagi secara proporsional.   Pengumpulan data dilakukan dengan pemeriksaan laboratorium dan wawancara dengan responden. Penderita kecacingan perut pada pembuat batu bata sebesar 35 % sedangkan pada pembuat anyaman bambu hanya 4 %. Data dianalisis dengan uji Chi Square dengan tujuan ujinya mencari hubungan. Hasil uji ternyata tidak memenuhi syarat, karena mempunyai nilai harapan (expected), lebih dari 20% yaitu 50%, sehingga jenis uji statistiknya menggunakan exact fisher, dimana nilai “p” 0,015 untuk uji dua sisi, nilai ini lebih kecil dari nilai α = 5 %. Kesimpulan dari uji ini membuktikan bahwa hipotesis nihilnya ditolak artinya ada hubungan antara jenis pekerjaan dengan kejadian kecacingan perut dengan koefisien asosiasi 0,374 dengan katagori asosiasi lemah.  Pekerja hendaknya memperhatikan kebersihan perorangan dan menggunakan alat pelindung diri berupa  sarung tangan dan sepatu panjang. Petugas kesehatan hendaknya melaksanakan pengawasan dan pembinaan bagi tenaga kerja sesuai tugas dan kewenangannya.

Kepustakaan   : 20 (1990 - 2008) 
Kata Kunci      : Jenis pekerjaan, Kecacingan, Tanah, 

JENIS PEKERJAAN DENGAN KEJADIAN KECACINGAN PERUT

Departemen Kesehatan Republik Indonesia 
Program Studi Diploma IV Kesehatan 
 Lingkungan Jurusan Kesehatan   Lingkungan Purwokerto Poltekkes 
 Depkes Semarang  Skripsi,  1 Juli 2008 

Abstrak
Tuty Andayani   
HUBUNGAN JENIS PEKERJAAN DENGAN KEJADIAN KECACINGAN PERUT DI DESA SIRKANDI KEC. PURWAREJA KLAMPOK KAB. BANJARNEGARA  
xiv + 52 halaman + 15 tabel + 2 gambar + 8 lampiran   

Kecacingan adalah suatu bentuk infeksi oleh cacing yang ditularkan melalui perantara tanah kepada manusia. Infeksi cacing dewasa menyebabkan gangguan pencernaan, perdarahan, anemia, alergi dan iritasi usus sedangkan  bentuk larvanya dapat menyebabkan reaksi alergi dan kelainan jaringan di tempat hidupnya. Kondisi yang kronis akibat kecacingan akan menurunkan produktivitas kerja. Kelompok pekerja yang jenis pekerjaannya selalu berinteraksi dengan tanah mempunyai risiko terinfeksi cacing perut.  Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan jenis pekerjaan dengan kejadian kecacingan perut di Desa Sirkandi Kec. Purwareja Klampok Kab. Banjarnegara . Jenis penelitian ini adalah survey explanatory dengan pendekatan Cross sectional. Populasi penelitian ini adalah 40 orang pembuat batu bata dan 50 orang pembuat anyaman bambu, sampel diambil sebanyak 50% dari populasi yang dibagi secara proporsional.   Pengumpulan data dilakukan dengan pemeriksaan laboratorium dan wawancara dengan responden. Penderita kecacingan perut pada pembuat batu bata sebesar 35 % sedangkan pada pembuat anyaman bambu hanya 4 %. Data dianalisis dengan uji Chi Square dengan tujuan ujinya mencari hubungan. Hasil uji ternyata tidak memenuhi syarat, karena mempunyai nilai harapan (expected), lebih dari 20% yaitu 50%, sehingga jenis uji statistiknya menggunakan exact fisher, dimana nilai “p” 0,015 untuk uji dua sisi, nilai ini lebih kecil dari nilai α = 5 %. Kesimpulan dari uji ini membuktikan bahwa hipotesis nihilnya ditolak artinya ada hubungan antara jenis pekerjaan dengan kejadian kecacingan perut dengan koefisien asosiasi 0,374 dengan katagori asosiasi lemah.  Pekerja hendaknya memperhatikan kebersihan perorangan dan menggunakan alat pelindung diri berupa  sarung tangan dan sepatu panjang. Petugas kesehatan hendaknya melaksanakan pengawasan dan pembinaan bagi tenaga kerja sesuai tugas dan kewenangannya.

Kepustakaan   : 20 (1990 - 2008) 
Kata Kunci      : Jenis pekerjaan, Kecacingan, Tanah,
Full Text 

STUDI HUBUNGAN POLA HIDUP SEHAT TERHADAP PENYAKIT DIARE PADA BALITA

  
Departemen Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Depkes Semarang 
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto 
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan Purwokerto 
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2009 

ABSTRAK  
Citra Adhityarini 
STUDI HUBUNGAN POLA HIDUP SEHAT TERHADAP PENYAKIT DIARE PADA BALITA DI DESA KEMBANGAN KECAMATAN BUKATEJA KABUPATEN PURBALINGGA TAHUN 2009 
xix+63  halaman : tabel, gambar, lampiran  

Diare merupakan salah satu masalah kesehatan utama dari masyarakat Indonesia. Hal ini di dukung karena kondisi kesehatan lingkungan yang jelek dan kebiasaan cara hidup yang tidak sehat. Desa Kembangan merupakan wilayah yang angka kesakitan diarenya cukup tinggi, yaitu mencapai 10%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui angka kejadian diare pada balita, mengetahui gambaran mengenai kebiasaan cuci tangan, pemanfaatan air bersih dan penggunaan jamban masyarakat Desa Kembangan, mengetahui apakah terdapat hubungan antara kebiasaan cuci tangan, pemanfaatan air bersih dan penggunaan jamban terhadap penyakit diare pada balita di Desa Kembangan Kecamatan Bukateja Kabupaten Purbalingga.  
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analitik inferensial dengan pendekatan Cross sectional, sedangkan dalam menganalisis hasil menggunakan analisa uji statistik Chi Squere (X†). 
Hasil penelitian dilakukan terhadap sampel balita yang ada di Desa Kembangan, diketahui ada peningkatan kejadian diare pada balita sebesar 20%, responden yang biasa cuci tangan 21,82%, memanfaatkan air bersih 60,9%, menggunakan jamban 41,8%. Terdapat hubungan antara kebiasaan cuci tangan terhadap penyakit diare pada balita dengan nilai P = 0,028 (P<0 20="" air="" antara="" atribut="" balita="" bersih="" dan="" dengan="" diare="" esiko="" hubungan="" jamban="" nilai="" p="0,699" pada="" pemanfaatan="" penggunaan="" penyakit="" ra="20,7%," relatif="" rr="2,74," terdapat="" terhadap="" tidak="">0,05).  
Hal ini kemungkinan karena kurang mengertinya masyarakat tentang pentingnya pola hidup bersih dan sehat serta tingkat ekonomi yang rendah. Diharapkan agar pihak Puskesmas lebih giat dalam melakukan penyuluhan tentang kesehatan lingkungan dan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) serta masyarakat harus ikut berpartisipasi aktif untuk meningkatkan kesehatan desannya sendiri. Daftar bacaan  : 10 (1981  2009) Kata kunci  : Pola Hidup Bersih dan Sehat, Diare Balita 

HUBUNGAN POLA HIDUP SEHAT TERHADAP PENYAKIT DIARE PADA BALITA DI DESA KEMBANGAN

  
Departemen Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Depkes Semarang 
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto 
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan Purwokerto 
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2009 

ABSTRAK  
Citra Adhityarini 
STUDI HUBUNGAN POLA HIDUP SEHAT TERHADAP PENYAKIT DIARE PADA BALITA DI DESA KEMBANGAN KECAMATAN BUKATEJA KABUPATEN PURBALINGGA TAHUN 2009 
xix+63  halaman : tabel, gambar, lampiran  

Diare merupakan salah satu masalah kesehatan utama dari masyarakat Indonesia. Hal ini di dukung karena kondisi kesehatan lingkungan yang jelek dan kebiasaan cara hidup yang tidak sehat. Desa Kembangan merupakan wilayah yang angka kesakitan diarenya cukup tinggi, yaitu mencapai 10%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui angka kejadian diare pada balita, mengetahui gambaran mengenai kebiasaan cuci tangan, pemanfaatan air bersih dan penggunaan jamban masyarakat Desa Kembangan, mengetahui apakah terdapat hubungan antara kebiasaan cuci tangan, pemanfaatan air bersih dan penggunaan jamban terhadap penyakit diare pada balita di Desa Kembangan Kecamatan Bukateja Kabupaten Purbalingga.  
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analitik inferensial dengan pendekatan Cross sectional, sedangkan dalam menganalisis hasil menggunakan analisa uji statistik Chi Squere (X†). 
Hasil penelitian dilakukan terhadap sampel balita yang ada di Desa Kembangan, diketahui ada peningkatan kejadian diare pada balita sebesar 20%, responden yang biasa cuci tangan 21,82%, memanfaatkan air bersih 60,9%, menggunakan jamban 41,8%. Terdapat hubungan antara kebiasaan cuci tangan terhadap penyakit diare pada balita dengan nilai P = 0,028<0 20="" air="" antara="" atribut="" balita="" bersih="" dan="" dengan="" diare="" esiko="" hubungan="" jamban="" nilai="" p="0,699" pada="" pemanfaatan="" penggunaan="" penyakit="" ra="20,7%," relatif="" rr="2,74," terdapat="" terhadap="" tidak="">Hal ini kemungkinan karena kurang mengertinya masyarakat tentang pentingnya pola hidup bersih dan sehat serta tingkat ekonomi yang rendah. Diharapkan agar pihak Puskesmas lebih giat dalam melakukan penyuluhan tentang kesehatan lingkungan dan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) serta masyarakat harus ikut berpartisipasi aktif untuk meningkatkan kesehatan desannya sendiri.

Daftar bacaan  : 10 (1981  2009)
Kata kunci       : Pola Hidup Bersih dan Sehat, Diare Balita
Klasifikasi        :
Full Text

DESKRIPSI INTENSITAS SUARA DI TEMPAT KARAOKE

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Semarang 
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto 
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan 
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2016 

Abstrak 
Lelita Nur Meiyani (lelitanurmeiyani@gmail.com)
DESKRIPSI INTENSITAS SUARA DI TEMPAT KARAOKE HAPPY PUPPY PURWOKERTO TAHUN 2016 
 xvii + 80 Halaman : gambar, tabel, lampiran

Karaoke adalah usaha yang menyediakan tempat dan fasilitas menyanyi dengan atau tanpa pemandu lagu. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui tingkat intensitas suara di tempat karaoke Happy Puppy Purwokerto yang meliputi intensitas suara di tempat kerja,tempat pengunjung berkaroke, dampak kebisingan dan cara pengendalian kebisingan.  
Metode Penelitian ini yaitu observasi dan wawancara dengan menggunakan observasional yaitu mendeskripsikan kondisi tingkat intensitas suara di Tempat Karaoke Happy Pappy Purwokerto dan menggunakan pendekatan cross sectional. 
Hasil pengukuran rata-rata intensitas suara pada tempat karaoke Happy Puppy Purwokerto untuk tempat kerja pekerja adalah 70,7 Desibel (dB), tempat pengunjung berkaraoke adalah 92,24 Desibel (dB). Upaya pengendalian kebisingan yang dilakukan adalah secara teknis, administasi. Keluhan yang dirasakan pada pekerja adalah sulit berkomunikasi 18,5 %, kurang konsentrasi 48,15 %, gangguan tidur 22% dan keluhan yang tidak dirasakan adalah sulit mendengar dan terdengar suara mendenging. Kesimpulan intensitas suara di Tempat Karaoke Happy Puppy Purwokerto tidak melebihi NAB kebisingan untuk waktu kerja selama 8 jam dan pengunjung berkaraoke selama 1 jam. Upaya dalam mengurangi kebisingan perlu ditambah lagi peredam suara sehingga tidak terdengar suara dari dalam tempat pengunjung berkaraoke, pemeriksaan pendengaran untuk pekerjanya sehingga dapat meminimalisir risiko bahaya yang dapat terjadi pada diri pekerja. 
Daftar bacaan  : 28 (1991-2014)
Kata kunci        : Intensitas suara di tempat karaoke
Klasifikasi         : -
Full Text

KOHORT DENSITAS LARVA PADA FOGGING FOCUS DI DESA KEDUNGRANDU

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2016

Abstrak
Muti’atun Cinta Muliani (mutiatuncinta4@gmail.com)
KOHORT DENSITAS LARVA PADA FOGGING FOCUS DI DESA KEDUNGRANDU KECAMATAN PATIKRAJA KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2016
XVI+109 halaman: tabel, gambar, lampiran

Salah satu upaya dalam menurunkan angka kesakitan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan cara memutus mata rantai vektor. Fogging focus menggunakan insektisida dapat mengendalikan perkembangbiakan vektor. Fogging focus dilaksanakan dalam 2 siklus. Fogging pertama untuk membunuh nyamuk dewasa dan fogging kedua untuk membunuh larva dari fogging pertama yang sudah menjadi nyamuk dewasa. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektifitas fogging focus yang ditinjau dari densitas larva di Desa Kedungrandu Kecamatan Patikraja Kabupaten Banyumas. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode deskriptif dengan pendekatan kohort yang dilakukan untuk mengetahui densitas larva 2 hari sebelum fogging ke-1, 3 hari setelah fogging ke-1, 3 hari setelah fogging ke-2, dan 6 hari setelah ke-2 dan analisisnya menggunakan uji statistik One-way ANOVA. Populasi yaitu rumah dengan radius 200 meter dari titik pengukuran yang dilakukan fogging focus. Variabel pengukuran meliputi suhu, kelembaban, dan pencahayaan. Hasil uji statistik One-way ANOVA menunjukkan (p0,005)<0 2="" 3="" 6="" ada="" analisis="" antara="" artinya="" dan="" dengan="" densitas="" ditolak="" fogging.="" fogging="" hari="" hasil="" ho="" hoc="" ke-1="" ke-1dan="" ke-2.="" ke-2="" kemudian="" lanjut="" larva="" menunjukkan="" p="" perbedaan="" post="" sebelum="" sesudah="" setelah="" setelahfogging="" signifikan="" statistik="" tidak="" uji="">dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa efektifitas fogging focus efektif menurunkan densitas larva sampai dengan 3 hari setelah fogging ke-2. Kegiatan yang dapat memberantas larva secara efektif adalah PSN yang dilakukan secara berkala dan menjaga kebersihan rumah.Daftar baca  : 37 (1981-2016)Kata Kunci   :  Fogging focus, densitas larva  Klasifikasi     : -Full Text