Kamis, 12 November 2015

KUALITAS FISIK UDARA DI TERMINAL BUS BULUPITU PURWOKERTO KABUPATEN BANYUMAS


Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 

Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang 
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan 
                                                                                                                       Karya Tulis Ilmiah, Juli 2015

Abstrak
Anugrah Putradana (anugrahputradana@yahoo.com)
KUALITAS FISIK UDARA DI TERMINAL BUS BULUPITU PURWOKERTO KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2015
XIV + 54 halaman : gambar, tabel, lampiran

Terminal Bus Bulupitu Purwokerto Kabupaten Banyumas merupakan tempat sarana transportasi darat tipe A dengan jam operasi 24 jam, pengunjung atau penumpang terminal mencapai 5000 per hari. Masalah yang terjadi pada pengunjung 50% merasa kebisingan, 15% cepat pegal, 20% kepanasan, 15% merasa pening. Tujuan mengukur kualitas fisik udara berupa intensitas suara, intensitas pencahayaan, suhu dan kelembaban.  Metode penelitian deskriptif. Penelitian ini dilakukan di ruang pengelola terminal, ruang tunggu pengunjung dan ruang pedagang. Pengukuran dilakukan selama tiga hari. Waktu yang diperlukan pagi dan sore. Pengukuran intensitas suara, intensitas cahaya, suhu dan kelembaban kemudian dibandingkan dengan nilai ambang batas.  Hasil Penelitian intensitas suara pada hari pertama 65,48 dB(A)73,76 dB(A) dengan rata-rata 69,72 dB(A), hari kedua 64,18 dB(A)71,99 dB(A) dengan rata-rata 67,42 dB(A), dan hari ketiga 55,24 dB(A)71,39 dB(A) dengan rata-rata 63,48 dB(A). Hasil pengukuran intensitas cahaya pada hari pertama 16 Lux  715 Lux dengan rata-rata 178,33 Lux, hari kedua 15 Lux235 Lux dengan rata-rata 87,33 Lux, dan hari ketiga 16 Lux1035 dengan rata-rata 245,66 Lux. Hasil pengukuran suhu hari pertama 28”C30”C dengan rata-rata 28,6”C, hari kedua 30”C32”C dengan rata-rata 31,16”C, hari ketiga 27”C30”C dengan rata-rata 28,5”C. Hasil pengukuran kelembaban hari pertama 52%-70% dengan rata-rata 60,5%, hari kedua 48%-57% dengan rata-rata 51,33% dan hari ketiga 45%-58% dengan rata-rata 52,83%. 
Kesimpulan empat pengukuran yang terdiri intensitas suara, intensitas cahaya, suhu, kelembaban memenuhi syarat. Saran dapat dilakukan membuat celah pada atap dengan kaca agar cahaya alami dapat masuk, menambah pencahayaan buatan, mengganti pencahayaan yang sudah tidak layak, pengecatan kembali dinding yang sudah kusam.

Daftar Bacaan  : 13 (1987-2014)
Kata Kunci      : Kualitas Fisik Udara, Terminal Klasifikasi 
Klasifikasi        :
Full text

Selasa, 10 November 2015

STUDI SANITASI PENGELOLAAN LINEN DI RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH GOMBONG KABUPATEN KEBUMEN

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang  
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan 
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2015


Abstrak
Yoga Dwi Prasetyo (yogadwiprasetyo8@gmail.com)
STUDI SANITASI PENGELOLAAN LINEN DI RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH GOMBONG KABUPATEN KEBUMEN TAHUN 2015 
XV + 71 halaman : gambar, tabel, lampiran

 Menurut World Health Organization (WHO), rumah sakit adalah bagian integral dari suatu organisasi sosial dan kesehatan dengan fungsi menyediakan pelayanan paripurna (komprehensif), penyembuhan penyakit (kuratif) dan pencegahan penyakit (preventif) kepada masyarakat. Rumah sakit juga merupakan pusat pelatihan bagi tenaga kesehatan dan pusat penelitian medik. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat sanitasi pengelolaan linen di Rumah Sakit Pelayanan Kesehatan Umum (PKU) Muhammadiyah Gombong Kabupaten Kebumen.  Jenis penelitian ini adalah deskriptif yaitu dengan  cara membandingkan hasil penenlitian yang dilakukan dengan teori dan peraturan yang berlaku yaitu KepMenKes RI Nomor 1204/MenKes/SK/X/2004 tentang persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit. Data yang diperoleh dikumpulkan dengan wawancara dan observasi, pengukuranya menggunakan checklist kuesioner dan pengukuran angka kuman.  Tingkat sanitasi pengelolaan linen di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gombong Kabupaten Kebumen termasuk dalam kategori memenuhi syarat dengan nilai 69,61%. Hasil pemeriksaan mikrobiologi spora spesies Bacillus sp. pada linen kotor ruang rawat inap (7482 CFU/inc2), linen kotor ruang IBS (0 CFU/inc2), linen bersih ruang rawat inap (2205,9 CFU/inc2
) dan linen bersih ruang IBS (0 CFU/inc2).   Peneliti menyimpulkan proses pengelolaan linen di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gombong Kabupaten Kebumen masih ada yang belum memenuhi syarat yaitu pengangkutan, penerimaan, dan pengangkutan linen bersih. Peneliti menyarankan untuk pelatihan pengelolaan linen yang baik, memperbaiki linen kotor dengan menambahkan tutup dan bahaya linen kotor bagi kesehatan serta peningkatan kesadaran tenaga pengelola linen tentang pentingnya alat pelindung diri untuk mencegah terjadinya penyakit akibat kerja.

Kepustakaan : 11 (1989 – 2014)
Kata Kunci   : Pengelolaan, sanitasi dan linen rumah sakit
Klasifikasi     : -
Full Text

EFEKTIVITAS BERBAGAI MEREK INSEKTISIDA PADA RENDAMAN KELAMBU TERHADAP DAYA BUNUH NYAMUK Anopheles Spp

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang 
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan 
Karya Tulis Ilmiah, 29 Juli 2015


Abstrak
Vivi Lusi Nurbuwati (lucyvivi.007@gmail.com)
EFEKTIVITAS BERBAGAI MEREK INSEKTISIDA PADA RENDAMAN KELAMBU TERHADAP DAYA BUNUH NYAMUK Anopheles Spp DI BALAI LITBANG P2B2 BANJARNEGARA  TAHUN 2015
XVI+ 62halaman: gambar, tabel, lampiran.  

Indonesia program eliminasi malaria diterjemahkan dalam program gebrak malaria, yang dibagi dalam beberapa tahapan capaian. Upaya pemberantasan bertumpu pada dua aspek besar yaitu memberikan diagnosis sedini mungkin secara adequat dan menekan densitas vektor. Hasil survey pendahuluan yang dilakukan oleh Hosain dkk disimpulkan bahwa nyamuk Aedes aegypti lebih rentan terhadap kelambu celup permetrin daripada Anopheles gambiae yang lebih rentan daripada Culex quinque fasciatus. Bahan insektisida yang digunakan adalah merek “B” dengan kandungan sipermetrin 0,10%,transflurin 0,06% dan imiprotin 0,05%. Bahan aktif insektisida merek “V” dengan konsentrasi transflutrin 21,3%. Bahan aktif yang terkandung dalam merek “H” adalah propoksur 1,18% dan d-aletrin 0,22%. Tujuan penelitian untuk mengetahui efektivitas berbagai merek insektisida pasaran terhadap daya bunuh nyamuk Anopheles spp pada rendaman kelambu selama 15 menit. Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimen yaitu suatu penelitian dengan melakukan kegiatan percobaan (pra eksperimen) yang bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya efektivitas berbagai merek insektisida pasaran terhadap daya bunuh nyamuk Anopheles spp yang menggunakan desain penelitian the statistic group comparasion yaitu suatu rancangan penelitian yang menggunakan dua kelompok subjek diantaranya kelompok perlakuan dan kelompok kontrol dilakukan pengukuran setelah diberi perlakuan. Hasil pengujian kelambu berbagai merek insektisida didapatkan kematian nyamuk Anopheles spp pada rendaman kelambu berbagai merek insektisida berturut-turut adalah 90% pada kelambu merek “H”, 80% pada kelambu merek “B” dan 70% pada kelambu merek “V”. Didapatkan pada uji One way anova efektivitasberbagai merek insektisida dengan kematian nyamuk tidak memiliki perbedaan (0,998>0,05). Perlu dilakukan pengujian kelambu dengan merek insektisida yang memiliki kandungan bahan aktif yang sama dan dengan percobaan jumlah dosis yang sama dan lebih rendah.

Daftar bacaan : 23 (2003 - 2014)
Kata kunci     : Kelambu Insektisida Pasaran, Anopheles Spp
Klasifikasi     : 
Full Text

STUDI INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH TAHU DI DESA KALISARI KECAMATAN CILONGOK

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang 
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan 
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2015

Abstrak
Vivi Kusumastuti ( vivigmt@gmail.com)
STUDI INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH TAHU DI DESA KALISARI KECAMATAN CILONGOK KABUPATEN BANYUMAS  TAHUN 2015 
XV + 105 halaman: gambar, tabel, lampiran.  

Tahu merupakan salah satu sumber makanan yang berasal dari kedelai dan mengandung protein tinggi. Proses pembuatan tahu tidak hanya menghasilkan tahu sebagai sumber makanan, akan tetapi juga menghasilkan bahan buangan seperti ampas tahu dan air limbah. Tujuan penelitian ini adalah untuk  mendeskripsikan instalasi pengolahan air limbah tahu di Desa Kalisari Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas tahun 2015. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitik yaitu mendeskripsikan instalasi pengolahan air limbah tahu dengan cara melihat perbandingan struktur organisasi pengelola IPAL, sistem pengolahan air limbah, perbandingan antara pH,  COD dan suhu yang berasal dari saluran inlet dan outlet IPAL dengan penyaluran air limbah  sistem pompa dan sistem gravitasi  Hasil penelitian menunjukan bahwa struktur organisasi instalasi pengolahan air limbah tahu pada masing-masing biolita terdiri dari ketua, sekretaris, bendahara dan seksi perawatan. Sistem pengolahan air limbah terdiri dari bak penyaring, bak penangkap, digester, gas holder, bak Buffle reactor (khusus biolita 4) dan outlet dengan menggunakan sistem biofilter UASB (Upflow Anaerobic  Sludge Blanket) dan menghasilkan biogas yang di salurkan kembali ke warga desa. Hasil pemeriksaan menunjukan limbah influen pada seluruh Biolita memiliki nilai pH 4 - 5, nilai COD  700 mg/l - 10.600 mg/l, serta suhu sebesar 38 oC - 60oC. Sedangkan pada outlet seluruh Biolita memiliki nilai pH 7 sampai 8, kadar COD sebesar 340 mg/ L -  3.520 mg/l, serta kadar suhu sebesar 31 oC - 36
 oC.  Beban pencemaran COD pada seluruh Biolita berkisar antara  0,32 kg/ton - 17,3kg/ton. Menurut baku mutu yang ada, nilai pH dan suhu telah memenuhi syarat. Beban pencemaran  COD pada Biolita 1 dan 2 telah memenuhi syarat, tetapi kadar COD pada seluruh IPAL belum memenuhi syarat yang berlaku. Masalah-masalah yang dimiliki IPAL bersistem Pompa lebih kompleks di bandingakan dengan IPAL bersistem gravitasi.  Kesimpulan penelitian adalah IPAL bersistem pompa dan sistem gravitasi secara berurutan kelebihan utamanya adalah dapat ditempatkan dimana saja dan biaya operasional lebih murah. Kekurangan sistem pompa masih tergantung pada arus listrik. Di sarankan menggunakan sistem jaringan gravitasi, pengaktifan kembali Trickling filter pada Biolita 1.  Lumpur aktif yang terdapat di dalam digester dapat dimanfaatkan menjadi pupuk organik. 

Daftar bacaan : 32  (1983 - 2014)
Kata kunci     : IPAL Tahu
Klasifikasi     : -
Full Text

STUDI KUALITAS AIR BERSIH SUMUR GALI DI DUSUN JAPUN DESA KEWANGUNAN KECAMATAN PETANAHAN KABUPATEN KEBUMEN

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia  
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang   
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto 
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan   
                                                                                                                 Karya Tulis Ilmiah, Juli 2015 

Abstrak 
Tutut Mugi Rahayu (tututmugi.rahayu@yahoo.com)
STUDI KUALITAS AIR BERSIH SUMUR GALI DI DUSUN JAPUN DESA KEWANGUNAN KECAMATAN PETANAHAN KABUPATEN KEBUMEN TAHUN 2015
XIV + 90 halaman : gambar, tabel, lampiran  

Masyarakat di Desa Kewangunan Kecamatan Petanahan Kabupaten Kebumen sebanyak 3118 jiwa umumnya memenuhi kebutuhan air untuk keperluan sehari – hari dari sumber air yang berupa sumur gali. Kualitas air sumur gali yang ada di Dusun Japun secara fisik tampak keruh baik musim kemarau maupun musim penghujan sehingga mengganggu pemanfaatan air yang ada. Untuk mengetahui permasalahan yang ada maka peneliti telah mengadakan penelitian dengan judul Studi Kualitas Air Bersih Sumur Gali di Dusun Japun Desa Kewangunan Kecamatan Petanahan Kabupaten Kebumen Tahun 2015 Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasidan wawancara. Data diolah secara deskriptif dilakukan dengan analisis tabel dan prosentase untuk menggambarkan kondisi kualitas air bersih pada sumur gali di Dusun Japun Desa Kewangunan.
Hasil penelitian menunjukan bahwa dari 14 sampel sumur gali di Dusun Japun Desa Kewangunan Kecamatan Petanahan Kabupaten Kebumen yang menjadi objek penelitian, setelah dibandingkan dengan Permenkes RI no. 416/Menkes/per/XI/1990 tentang Syarat – Syarat Pengawasan Kualitas Air Bersih kondisi fisik meliputi (bau, rasa, warna, kekeruhan dan zat padat terlarut), kondisi kimia yaitu kandungan Fe (Besi) dan kondisi mikrobiologi yaitu kandungan coliform sudah memenuhi syarat kesehatan. Upaya yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan yang ada yaitu dengan cara memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang sanitasi sumur gali yang memenuhi syarat kesehatan. Disarankan masyarakat harus benar – benar memperhatikan keadaan sanitasi di sekitar sumur gali agar selalu dalam keadaan bersih sehingga tidak mempengaruhi kualitas air sumur gali.
 
Daftar Bacaan : 10 (1985 - 2013)
Kata Kunci     : Kualitas air bersih, Sumur gali 
klasifikasi         : -
Full Text

HUBUNGAN LINGKUNGAN FISIK RUMAH DENGAN KEJADIAN TB PARU BTA (+) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS II KEMBARAN

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia  
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang  
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan 
Karya Tulis Ilmiah, 7 Juli 2015



Abstrak
Tri Wahyuni (tri_wahyuni58@yahoo.com)
HUBUNGAN LINGKUNGAN FISIK RUMAH DENGAN KEJADIAN TB PARU BTA (+) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS II KEMBARAN KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2015 
xvi +80 halaman : gambar, tabel, lampiran 

Salah satu faktor yang berhubungan dengan kejadian Tb Paru BTA positif adalah lingkungan fisik rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan. Puskesmas II Kembaran merupakan puskesmas yang paling tinggi Tb Paru BTA (+) yaitu sebesar 69 orang (2013). Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan dan besarnya nilai resiko antara lingkungan fisik rumah dengan kejadian Tb Paru BTA (+) di wilayah kerja Puskesmas II Kembaran tahun 2015.  Metode Penelitian ini bersifat observasional dengan menggunakan metode case control. Sampel sebanyak 60 orang, terdiri dari 30 kasus dan 30 kontrol. Variabel yang diteliti meliputi luas jendela ruang keluarga, luas jendela kamar, luas ventilasi ruang keluarga, luas ventilasi kamar, kepadatan penghuni, jenis lantai dan jenis dinding. Analisis data menggunakan analisis univariat dan bivariat. Seluruh perhitungan menggunakan program computer dan dianalisis dengan uji statistik Chi Square dan OR dengan CI 95%dan α: 0,05.  Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: Luas jendela ruang keluarga (p=0,229;OR=1,974), luas jendela kamar (p=0,531;OR=1,818), luas ventilasi ruang keluarga (p=0,026; OR= 0,229), luas ventilasi kamar (p=1,000;OR= 0,643), kepadatan penghuni (p=0,004;OR=7,875), jenis lantai (p=0,026;OR=10,545),dan jenis dinding (p=0,004;OR= 7,875)   Kesimpulan dari peneliti ini adalah ada hubungan antara luas ventilasi ruang keluarga, kepadatan penghuni, jenis lantai, jenis dinding dengan kejadian Tb Paru BTA Positif dan tidak ada hubungan antara luas jendela ruang keluarga, luas jendela kamar, luas ventilasi kamar dengan kejadian Tb paru BTA positif. Disarankan untuk penderita Tb Paru BTA positif untuk menambah luas ventilasi minimal 10% dari luas lantai, kepadatan penghuni minimal 9 m / orang, memasang jenis lantai yang kedap air, dan mengganti jenis dinding dengan pasangan batu bata yang diplester. 

Daftar bacaan :  28 (1986- 2014)
Kata kunci      :  Lingkungan Fisik Rumah, Tb paru
Klasifikasi       : -  
Full Text

STUDI TELUR CACING NEMATODA USUS PADA LUMPUR BUANGAN IPAL

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang 
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan 
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2015



Abstrak
Tri Mulyani  ( trimulyani2201@yahoo.com )
STUDI TELUR CACING NEMATODA USUS PADA LUMPUR BUANGAN IPAL RUMAH SAKIT SE KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2015. 
xviii + 116 halaman, gambar, tabel, lampiran.

Kabupaten Banjarnegara ada tiga rumah sakit yaitu RSUD Hj Anna Lasmanah, RS Islam, dan RS Emanuel. Menurut Dinas Kesehatan Kabupaten Banjarnegara ketiga rumah sakit tersebut belum pernah dilakukan penelitian telur cacing nematoda usus pada lumpur buangan IPAL. Tujuan penelitian mengetahui telur cacing nematoda usus pada lumpur buangan IPAL rumah sakit se Kabupaten Banjarnegara tahun 2015. Jenis penelitian deskriptif. Sampel diambil dari lumpur buangan IPAL Rumah Sakit Emanuel dan Rumah Sakit Islam. Hasil penelitian menunjukkan Rumah Sakit Emanuel menggunakan IPAL RBC dilengkapi pengolahan lumpur buangan. Rumah Sakit Islam menggunakan IPAL DEWATS dan tidak ada pengolahan lumpur. RSUD Hj. Anna Lasmanah tidak memiliki IPAL dan unit pengolahan lumpur. Hasil pemeriksaan telur cacing nematoda usus pada lumpur buangan IPAL Rumah Sakit Emanuel dan Rumah Sakit Islam Banjarnegara adalah positif. Hasil identifikasi telur cacing nematoda usus yang ditemukan adalah telur cacing tambang.
Kesimpulan menunjukkan bahwa lumpur buangan IPAL rumah sakit se Kabupaten Banjarnegara tercemar telur cacing tambang. Peneliti menyarankan untuk rumah sakit yang belum memiliki IPAL, segera membangun IPAL. Sebaiknya, dilakukan pengolahan lumpur buangan IPAL dengan cara mengatur suhu pemanasan yaitu 50oC selama 13 hari.

Kepustakaan : 41  ( 1994-2015)
Kata Kunci   : Lumpur IPAL, Rumah Sakit, Telur Cacing Nematoda Usus
Klasifikasi      : -
Full Text