Jumat, 06 November 2015

PENGARUH BERBAGAI DOSIS UMBI GADUNG RACUN ( Dioscorea hispida ) TERHADAP KEMATIAN TIKUS MENCIT PUTIH

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang 
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan Purwokerto 
Karya Tulis Ilmiah, Juni 2015


ABSTRAK 
Ari Rahmawati  ( rahmaary1806@gmail.com )
PENGARUH BERBAGAI DOSIS UMBI GADUNG RACUN  ( Dioscorea hispida )  TERHADAP KEMATIAN TIKUS MENCIT PUTIH  ( Mus musculus strain albino ) TAHUN 2015 
XV + 71 halaman, tabel, gambar, lampiran

Tikus merupakan salah satu satwa liar yang menjadi hama yang mengganggu dalam kehidupan manusia. Pengendalian tikus sudah cukup banyak dilakukan oleh masyarakat baik secara fisik maupun secara kimia. Salah satunya dengan memanfaatkan tumbuhan alami yang mengandung racun, contohnya adalah umbi gadung yang mengandung senyawa dioskorin yang bersifat toksik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh berbagai dosis umbi gadung yang tepat dan efektif untuk dijadikan rodentisida alami terhadap kematian tikus mencit putih.
Metode penelitian  eksperimental di laboratorium. Penelitian dilakukan dengan metode umpan . Umpan dibuat berbentuk pelet dari tepung ikan, dedak, kemiri dan umbi gadung. Tikus dibagi menjadi 4 kelompok yang ditempatkan ke dalam kontainer, masing- masing container berisi 6 ekor berdasarkan dosis umbi gadung yaitu 250 gram, 500 gram dan 750 gram. Penelitian dilakukan selama 48 jam. Pengumpulan data dilakukan dengan cara pengamatan secara langsung terhadap objek yang diteliti.
Hasil penelitian menunjukkan terdapat 4 ekor tikus yang mati yaitu 3 ekor dari kontainer 4 dosis 750 gram dan 1 ekor  dari kontainer 3 dosis 500 gram. Kesimpulan  ada 4 ekor tikus yang mati dari 24 ekor tikus percoban. Adapun tikus yang mati paling banyak adalah tikus pada kontainer 4 sehingga hal ini menunjukan bahwa dosis 750 gram adalah dosis yang paling efektif.
Saran agar dosis umbi gadung ditingkatkan lebih tinggi lagi agar rodentisida yang dihasilkan lebih efektif. Untuk peneliti yang lain jika akan melanjutkan penelitian yang serupa sebaiknya tikus tidak dicampur namun dipisah-pisah yaitu satu tikus diletakkan dalam satu kontainer agar lebih mudah dalam pengamatannya dan lebih efektif.

Daftar bacaan : 23  (  1989 – 2014 )
Kata Kunci : Tikus Mencit Putih, Umbi Gadung
Klaifikasi :

PENGARUH PEMAKAIAN PERASAN JERUK NIPIS SEBAGAI DESINFEKTAN TERHADAP JUMLAH ANGKA KUMAN PIRING MAKAN

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang 
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan 
                                                                                                             Karya Tulis Ilmiah,  06 Juli 2015

Abstrak
APRIYATI NINGSIH (n_apriyati@yahoo.co.id)
PENGARUH PEMAKAIAN PERASAN JERUK NIPIS SEBAGAI DESINFEKTAN TERHADAP JUMLAH ANGKA KUMAN PIRING MAKAN DI KOST WIJAYA KUSUMA BATURRADEN TAHUN 2015
XIV + 67 halaman : gambar, tabel, lampiran

Salah satu sumber kontaminasi utama dalam pengolahan pangan berasal dari penggunaan wadah dan alat-alat pengolahan yang kotor dan mengandung mikroba dalam jumlah cukup tinggi. Pencegahan kontaminasi pada alat makan dapat dilakukan dengan pencucian alat makan. Desinfektan alami seperti jeruk nipis dapat di gunakan setelah proses pencucian khususnya piring makan.
Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh pemakaian perasan jeruk nipis sebagai desinfektan terhadap jumlah angka kuman piring makan.
Jenis penelitian, pre-eksperiment dengan dengan desain pre test and post test control group design. Sampel yang digunakan adalah simple random sampling yaitu seluruh piring kotor yang ada dalam satu hari diambil secara acak berjumlah 3 buah sampel. Pengumpulan data dilakukan dengan pengamatan dan pemeriksaan laboratorium. Uji statistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji Anova.  Hasil penelitian yaitu pemeriksaan jumlah angka kuman piring makan sebelum dan sesudah di beri perlakuan dengan perasan jeruk nipis.Rata-rata Prosentase penurunan jumlah angka kuman dengan pemberian jeruk nipis konsentrasi 5% sebesar 75,35%; konsentrasi jeruk nipis 10% sebesar 83,34%; konsentrasi  jeruk nipis 15% sebesar 57,07 %. Berdasarkan hasil analisis SPSS dengan uji Anova diketahui F hitung (45,814) > F(5,14). Kesimpulan bahwa ada pengaruh pemakaian perasan jeruk nipis sebagai desinfektan terhadap jumlah angka kuman piring makan di Kost Wijaya Kusuma Baturraden. tabel Berdasarkan hasil tersebut perasan jeruk nipis berpengaruh terhadap jumlah angka kuman piring makan. Saran masyarakat dalam pencucian piring makan setelah di cuci, direndam dengan air perasan jeruk nipis untuk mengurangi jumlah angka kuman piring makan.

Daftar bacaan : 24 (1988 - 2013)
Kata kunci      : Perasan Jeruk Nipis dengan Angka Kuman
Klasifikasi      : -
Full Text
                 

Kamis, 05 November 2015

KUALITAS FISIK UDARA DI TERMINAL BUS BULUPITU PURWOKERTO

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang 
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan 
                                                                                                                   Karya Tulis Ilmiah, Juli 2015

Abstrak
Anugrah Putradana (anugrahputradana@yahoo.com)
KUALITAS FISIK UDARA DI TERMINAL BUS BULUPITU PURWOKERTO KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2015
XIV + 54 halaman : gambar, tabel, lampiran 

Terminal Bus Bulupitu Purwokerto Kabupaten Banyumas merupakan tempat sarana transportasi darat tipe A dengan jam operasi 24 jam, pengunjung atau penumpang terminal mencapai 5000 per hari. Masalah yang terjadi pada pengunjung 50% merasa kebisingan, 15% cepat pegal, 20% kepanasan, 15% merasa pening. Tujuan mengukur kualitas fisik udara berupa intensitas suara, intensitas pencahayaan, suhu dan kelembaban.  Metode penelitian deskriptif. Penelitian ini dilakukan di ruang pengelola terminal, ruang tunggu pengunjung dan ruang pedagang. Pengukuran dilakukan selama tiga hari. Waktu yang diperlukan pagi dan sore. Pengukuran intensitas suara, intensitas cahaya, suhu dan kelembaban kemudian dibandingkan dengan nilai ambang batas.  Hasil Penelitian intensitas suara pada hari pertama 65,48 dB(A)73,76 dB(A) dengan rata-rata 69,72 dB(A), hari kedua 64,18 dB(A)71,99 dB(A) dengan rata-rata 67,42 dB(A), dan hari ketiga 55,24 dB(A)71,39 dB(A) dengan rata-rata 63,48 dB(A). Hasil pengukuran intensitas cahaya pada hari pertama 16 Lux  715 Lux dengan rata-rata 178,33 Lux, hari kedua 15 Lux235 Lux dengan rata-rata 87,33 Lux, dan hari ketiga 16 Lux1035 dengan rata-rata 245,66 Lux. Hasil pengukuran suhu hari pertama 28”C30”C dengan rata-rata 28,6”C, hari kedua 30”C32”C dengan rata-rata 31,16”C, hari ketiga 27”C30”C dengan rata-rata 28,5”C. Hasil pengukuran kelembaban hari pertama 52%-70% dengan rata-rata 60,5%, hari kedua 48%-57% dengan rata-rata 51,33% dan hari ketiga 45%-58% dengan rata-rata 52,83%. 
Kesimpulan empat pengukuran yang terdiri intensitas suara, intensitas cahaya, suhu, kelembaban memenuhi syarat. Saran dapat dilakukan membuat celah pada atap dengan kaca agar cahaya alami dapat masuk, menambah pencahayaan buatan, mengganti pencahayaan yang sudah tidak layak, pengecatan kembali dinding yang sudah kusam.  

Daftar Bacaan : 13 (1987-2014)
Kata Kunci      : Kualitas Fisik Udara, Terminal Klasifikasi 
Klasifikasi       :
Full Text

EFISIENSI BAMBU AIR (Equisetum hymale) SEBAGAI FITOREMEDIATOR KADAR BIOLOGICAL OXYGEN DEMAND PADA LIMBAH CAIR INDUSTRI TAHU DI DESA PREMBUN, KECAMATAN TAMBAK, KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2015.

Politeknik Kesehatan Semarang 
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan 
                                                                                                                    Karya Tulis Ilmiah, Juli 2015
ABSTRAK
Andhyka Septyana Nugraha (andhykanugraha@yahoo.com)
EFISIENSI BAMBU AIR (Equisetum hymale) SEBAGAI FITOREMEDIATOR KADAR BIOLOGICAL OXYGEN DEMAND PADA LIMBAH CAIR INDUSTRI TAHU DI DESA PREMBUN, KECAMATAN TAMBAK, KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2015. 
XV + 77 halaman : gambar, tabel, lampiran

Industri tahu merupakan salah satu jenis usaha industri rumahan (home industri) yang menghasilkan tahu dari bahan kedelai. Desa Prembun Kecamatan Tambak Kabupaten Banyumas terdapat 1 pabrik tahu. Rata-rata limbah cair yang dihasilkan setelah proses pembuatan tahu sebesar 360 liter/ hari dengan konsentrasi BODsebesar 15.611,56 mg/liter. Metode yang digunakan untuk menurunkan beban BOD  pada limbah tahu adalah metode Fitoremediator menggunakan tanaman Bambu air (Equisetum hymale) dengan media lahan basah buatan aliran bawah permukaan Subsurface Flow Wetlands. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui efisiensi Bambu air (Equisetum hymale) sebagai fitoremediator terhadap penurunan konsentrasi BOD.  Metode Penelitian ini menggunakan jenis penelitian Pre experiment dengan metode pre and post test design yang bermaksud untuk mengetahui ada atau tidak adanya perbedaan antara pemakaian tanaman Bambu air (Equisetum hymale) dengan media (Subsurface Flow Wetlands) terhadap penurunan konsentrasi BOD
. Sampel dalam penelitian ini sebanyak delapan sampel sebagai replikasinya diambil sebanyak tiga kali dan dua sampel sebagai kontrol.  Hasil penelitian sebagai berikut debit influent 0,22 liter/menit dan debit effluent 0,020 liter/menit, parameter suhu influent 30,2C dan suhu effluent 26,10 C, parameter pH influent 3,82 dan pH effluent 7,95, parameter BOD influent 15.611,56 mg/liter dan BOD effluent 1.561,16 mg/liter dengan efisiensi penurunan sebesar 89,99%. Hasil analisis statistik menggunakan uji paired t-test menghasilkan nilai signifikan (P Value) sebesar 0.000, yang artinya nilai sig (P value) < α (0.05) sehingga terdapat perbedaan yang signifikan. 
Kesimpulan tanaman Bambu air (Equisetum hymale) dengan media (Subsurface Flow Wetlands) dapat menurunkan konsentrasi BOD dengan nilai penurunan yang signifikan. Saran dalam penelitian ini adalah tanaman Bambu air (Equisetum hymale) dengan media sistim lahan basah buatan aliran bawah permukaan (Subsurface Flow Wetlands) diharapkan untuk dirancang ulang supaya hasil penurunan konsentrasi BOD lebih efisien dan  memenuhi baku mutu air limbah.

Daftar bacaan : 39 (1983-2013)
Kata kunci      : Bambu air, Fitoremediator, BOD
Klasifikasi
Full Text

STUDI KONTAMINASI Escherechia coli PADA PERALATAN MAKAN (GELAS) YANG DIGUNAKAN OLEH PEDAGANG ES DAWET DI KECAMATAN SOKARAJA KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2015


                                                                                           Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
                                                                                             Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang
                                                                                            Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
                                                                                             Program Studi D III Kesehatan Lingkungan
                                                                                                                   Karya TulisI lmiah, Juli 2015

Abstrak
Akbar Sandi Perdana (akbarsandi69@yahoo.co.id)
STUDI KONTAMINASI Escherechia coli PADA PERALATAN MAKAN (GELAS) YANG DIGUNAKAN OLEH PEDAGANG ES DAWET DI KECAMATAN SOKARAJA KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2015 
 xvi + 86 halaman: gambar, tabel, lampiran

Kebersihan peralatan makan yang kurang baik mempunyai peranan penting dalam penyebaran kuman penyakit dan keracunan. Permasalahan penjual es dawet mencuci peralatan makanan atau minuman menggunakan air sumur tercemar. Tujuan dari penelitian, untuk mengetahui keberadaan Escherechia coli pada peralatan makan (gelas) yang digunakan oleh pedagang es dawet di Kecamatan Sokaraja Kabupaten Banyumas. 
Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan analisa laboratorium untuk mengetahui angka kuman Escherechia coli pada peralatan makan yang digunakan oleh pedagang es dawet di Kecamatan Sokaraja Kabupaten Banyumas.
Hasil penelitian menunjukan bahwa pada hasil pemeriksaan laboratorium usap peralatan makan yang digunakan oleh pedagang es dawet di Kecamatan Sokaraja Kabupaten Banyumas belum memenuhi syarat kesehatan sesuai dengan Permenkes RI No. 1096/Menkes/PER/2011 adalah bahwa syarat peralatan makan tidak mengandung Escherechia coli. Kesimpulan 5 sampel peralatan makan gelas yang digunakan oleh pedagang es dawet di Kecamatan Sokaraja Kabupaten Banyumas semuanya mengandung kuman Escherechia coli (positif), hasil pemeriksaan menunjukan sampel gelas Toh ditemukan  50, sampel gelas An 230, sampel gelas Dar 230, sampel gelas Sul >24.000 dan sampel gelas Fua 3500.  Saran pedagang es dawet  untuk lebih menjaga kebersihan hygiene sanitasi makanan terutama pada proses pencucian alat makan sehingga sangat kecil kemungkinan terjadinya kontaminasi pada makanan.    

Daftar Bacaan  : 30 (1989-2013)
Kata Kunci       : Escherchia coli, alat makan
Klasifikasi        :
Full Text

STUDI PROSES PENANGANAN LINEN DI RUMAH SAKIT EMANUEL BANJARNEGARA TAHUN 2015

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia  
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang  
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan  
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2015

Abstrak
Agnesti Endang Legowati (agnestiendang_legowati@yahoo.com)
STUDI PROSES PENANGANAN LINEN DI RUMAH SAKIT EMANUEL BANJARNEGARA TAHUN 2015 
XVI + 75 halaman : gambar, tabel, lampiran 

Rumah Sakit Emanuel Banjarnegara merupakan rumah sakit Tipe C, dengan nilai (Bed Occupancy Ratio) 64,88%, jumlah tempat tidur 180. Lingkungan rumah sakit yang kurang baik merupakan sumber potensi terjadinya infeksi nosokomial, salah satu lingkungan tersebut adalah penanganan linen. Dalam proses penanganan linen ada beberapa tahap yang belum memenuhi standar, yang meliputi pengangkutan menggunakan kereta linen yang tidak terlindungi sehingga menjadi potensi cemaran bakteri. Tujuan penelitian untuk mengetahui proses penanganan linen dan mendiskripsikan proses penanganan linen, jumlah rata-rata linen kotor, jenis linen serta mengetahui jumlah angka kuman spora spesies Bacillus sp. pada linen bersih setelah keluar dari proses.
Jenis penelitian deskriptif yaitu dengan cara membandingkan hasil penelitian yang dilakukan dengan teori dan peraturan yang berlaku yaitu KepMenkes RI Nomor 1204/Menkes/SK/X/2004 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit.
Hasil Penelitian, Proses penanganan linen di Rumah Sakit Emanuel Banjarnegara termasuk dalam katagori cukup baik dengan nilai 70%. Hasil pemeriksaan mikrobiologi spora spesies Bacillus sp. pada seprei (0,62 inc2), sarung bantal (19,22 inc), sarung guling (4,96%) dan selimut (127,72 inc2). Kesimpulan proses penanganan linen ada yang belum baik yaitu proses pengangkutan linen kotor, karena troli yang digunakan masih sama antara linen infeksius dan non infeksius tetapi kantongnya sudah terpisah. Peneliti menyarankan untuk pelatihan penanganan linen yang baik dan bahaya linen kotor bagi kesehatan serta peningkatan kesadaran tenaga penanganan linen tentang pentingnya alat pelindung diri untuk mencegah terjadinya penyakit akibat kerja.

Kepustakaan : 14 ( 1989  2014 )
Kata kunci    : Penanganan dan linen rumah sakit
Klasifikasi    :
Full Text

STUDI INTENSITAS SUARA DI BAGIAN PRODUKSI PT. RAJA BESI SEMARANG TAHUN 2015

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia  
Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang   
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto 
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan   
                                                                                                                 Karya Tulis Ilmiah, Juli 2015 

Abstrak
Afif Ma’rifatuluthfi (Marifatuluthfi_afif@yahoo.com)
STUDI INTENSITAS SUARA DI BAGIAN PRODUKSI PT. RAJA BESI SEMARANG TAHUN 2015 
XV + 109 halaman : gambar, tabel, lampiran   

Lingkungan yang sehat mencakup lingkungan tempat kerja yang terbebas dari unsur-unsur yang menimbulkan gangguan kesehatan seperti kebisingan yang melebihi ambang batas. PT. Raja Besi adalah salah satu perusahaan bergerak dibidang produksi besi pipa olahan dengan proses produksi menggunakan mesin – mesin yang biasanya menghasilkan intensitas suara yang mengganggu pendengaran pekerja. Berdasarkan permasalahan.Tujuan penelitian mengetahui intensitas suara di pabrik besi bagian produksi PT. Raja Besi Semarang Tahun 2015. 
Metode penelitian deskriptif yaitu untuk menggambarkan kondisi pabrik besi bagian produksi PT.Raja Besi Semarang dengan sajian tabel dan narasi data. 
Hasil intensitas suara dibagian produksi di PT. Raja Besi Semarang dengan 13 titik lokasi pengukuran setelah dibandingkan dengan Permenakertras No.PER.13/MEN/X/2011 Tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika dan Faktor Kimia di tempat kerja ada 8 lokasi yang melebihi NAB, dan ada 5 lokasi yang tidak melebihi NAB. Upaya pengendalian yang dilakukan untuk sumber bising dilakukan perawatan mesin secara rutin dalam 1 bulan sekali. Sedangkan, upaya pengendalian bising pada tenaga kerja yaitu dengan cara pengaturan jam kerja dan terdapat Standar Operasional Prosedur (SOP) untuk melaksanakan pekerjaan sesuai dengan prosedur yang ada. Kesimpulan penelitian ini adalah intensitas suara yang dihasilkan dibagian produksi PT. Raja Besi Semarang melebihi nilai ambang batas (NAB). Sedangkan upaya pengendalian yang dilakukan untuk mengurangi kebisingan adalah perawatan mesin-mesin. Saran peneliti diharapkan pengelola pabrik dapat  meghimbau pekerja supaya memakai alat pelindung diri kebisingan berupa ear- plug. 

Daftar bacaan : 13 (1987 - 2014)
kunci   : Intensitas suara, Industri
Klasifikasi   : -  
Full Text