Selasa, 09 Juni 2009

Larva Distroyer untuk bunuh jentik nyamuk

Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Karya Tulis Ilmiah, Juni 2008

Abstrak

Rini Ambarwati
PENGARUH LARVA DISTROYER DENGAN VARIASI DAYA LISTRIK UNTUK MEMBUNUH JENTIK NYAMUK Aedes aegypti TAHUN 2008
xv+64 halaman, tabel, gambar, lampiran

Nyamuk Aedes aegypti merupakan vektor utama Demam Berdarah Dengue (DBD). Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah banyak diciptakan alat yang memanfaatkan listrik arus bolak – balik (Alternating Current) untuk membunuh nyamuk seperti Electrical Mosquito Killer (3 Watt), Mosquito Repeller (5 Watt) dan Smart Insect Killer (7 – 9 Watt). Alat tersebut memiliki waktu kontak yang singkat (£ 1 menit) untuk membunuh nyamuk, sehingga bukan hal yang tidak mungkin apabila alat dimodifikasi dengan pengaturan daya listrik tertentu maka dalam waktu kontak yang relatif singkat dapat dipergunakan untuk membunuh jentik – jentik nyamuk.

Penulis telah melakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh Larva Distroyer dengan variasi daya listrik 3 Watt, 5 Watt, 7 Watt dan 9 Watt untuk membunuh jentik nyamuk Aedes aegypti dengan waktu kontak 1 menit.

Jenis Penelitian adalah True Experimental dengan desain rancangan Post test only group design untuk mengetahui pengaruh Larva Distroyer dengan variasi daya listrik untuk membunuh jentik nyamuk Aedes aegypti. Kontainer yang digunakan adalah toples kaca dengan jumlah jentik nyamuk tiap kontainer sebanyak 15 ekor dan volume air 500 ml, waktu kontak 1 menit dengan jarak antar elektroda yaitu 8 cm. Replikasi dilakukan sebanyak 4 kali.
Selama penelitian suhu air dalam kontainer berkisar antara 26,14 s/d 26,20 0C, pH air berkisar antara 6,8 – 7,0. Jentik nyamuk Aedes aegypti yang mati setelah terkena Larva Distroyer yaitu 3 Watt=5 ekor (33 %), 5 Watt=8 ekor (53 %), 7 Watt=12 ekor (80 %) dan 9 Watt=15 ekor (100 %).

Hasil uji Anova antar perlakuan bahwa nilai signifikan (0,000) < nilai α (0,05) sehingga Ho ditolak, artinya ada beda yang bermakna dari pengaruh Larva Distroyer dengan variasi daya listrik untuk membunuh jentik nyamuk Aedes aegypti. Uji lanjut dari Anova (LSD) menunjukkan bahwa daya listrik 9 Watt mempunyai beda yang bermakna dengan daya listrik 3 Watt, 5 Watt dan 7 Watt.

Daftar bacaan : 23 (1985 s/d 2007)
Kata Kunci : Larva Distroyer, Variasi daya listrik, Membunuh jentik
nyamuk Aedes aegypti.

Salmonella pada daging sapi

Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Depkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Karya Tulis Ilmiah, Juni 2008

Abstrak

Yusta Aknisia
“STUDI KANDUNGAN BAKTERI SALMONELLA PADA DAGING SAPI SEGAR YANG DIJUAL DI PASAR KECAMATAN KUTOARJO KABUPATEN PURWOREJO TAHUN 2008”
xiv + 37 : tabel = halaman + lampiran

Kondisi Sanitasi yang baik menjadi penting di tempat penjualan daging untuk mencegah timbulnya pencemaran bakteri terhadap daging yang dijual khususnya bakteri Salmonella berdasarkan Keputusan Dirjen POM No. 03726/B/SK/VII/89 tentang batas maksimum cemaran mikroba dalam makanan adalah nol atau negatif. Kualitas daging yang dijual tidak terlepas dari pengaruh sanitasi disekitar lingkungan tempat penjualan dan 6 prinsip pengelolaan makanan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kandungan bakteri Salmonella sp pada daging sapi segar yang dijual di Pasar Kecamatan Kutoarjo Kabupaten Purworejo dan kondisi sanitasi tempat penjualan daging sapi tersebut.

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif yaitu memberi gambaran tentang ada tidaknya bakteri Salmonella sp pada daging sapi segar yang dijual di Pasar Kecamatan kutoarjo Kabupaten Purworejo. Sampel daging sapi segar yang diperiksa adalah sebanyak 40% dari 25 pedagang sehingga diperoleh 10 pedagang daging sapi, masing-masing pedagang diambil 100 gram. Jenis datanya yaitu data umum meliputi keadaan geografis pasar dan data khusus yaitu hasil pemeriksaan Laboratorium dan kondisi sanitasi tempat penjualan daging. Data dalam penelitian disajikan dalam bentuk narasi dan tabel. Analisis data yang digunakan adalah analisis tabel dan analisis deskriptif.

Hasil penelitian tentang kandungan bakteri Salmonella sp pada daging sapi segar yang dijual di Pasar Kecamatan Kutoarjo Kabupaten Purworejo adalah positif sebanyak 90 % dari 10 sampel daging sapi yang di periksa sedangkan hasil penilaian kondisi sanitasi tempat penjualan daging adalah cukup baik, jadi ada ketimpangan antara kondisi sanitasi yang cukup baik dengan hasil pemeriksaaan laboratorium. semestinya kondisi sanitasi yang baik, pemeriksaan Salmonella sp dilaboartorium adalah negatif.

Kesimpulan dari penelitian yaitu pada daging sapi yang di jual positif mengandung Salmonella dan kondisi sanitasi tempat penjualan daging menurut kriteria cukup baik. Saran bagi pengelola pasar yaitu menyediakan tempat sampah dan memperbaiki SPAL yang tidak kedap air, bagi pedagang agar lebih mengutamakan kebersihan dan keamanan daging serta kebersihan tempat penjualan, dan bagi pembeli agar cermat dalam memilih daging sapi yang baik dan dapat mengelola daging dengan benar.

Daftar bacaan :10 (1986 – 2007)
Kata kunci : Salmonella, daging sapi segar, pasar daging
Klasifikasi :

Kecoak di Kereta Api

Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Karya Tulis Ilmiah, Juni 2008
Intisari

Wiwit Damayanti
STUDI IDENTIFIKASI DAN PENGUKURAN KEPADATAN KECOAK PADA KERETA API LOGAWA DI STASIUN KERETA API PURWOKERTO TAHUN 2008
XIV+49 halaman: gambar, tabel, lampiran, diagram

Kecoak adalah serangga dengan bentuk tubuh oval, piupih dorso-ventral, kepalanya tersembunyi dibawah pronotum, dilengkapi dengan sepasang mata majemuk dan satu mata tunggal, antena panjang, sayap dua pasang, tiga pasang kaki. Pronotum dan sayap licin, tidak berambut dan tidak bersisik, berwarna coklat tua. Kecoak juga merupakan suatu jenis jenis insekta yang mengganggu manusia. Kecoak dapat bertindak sebagai vektor, khususnya sebagai vektor mekanis yaitu sebagai pembawa bibit penyakit dan dipindahkan ke makanan, dan bila termakan manusia maka dapat menularkan penyakit. Kereta api adalah alat transportasi manusia, selain itu besar kemungkinan kecoak hidup di dalam gerbong kereta api.

Metode dari penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan secara cross sectional karena hanya menggambarkan fakta yang ada berupa identifikasi kecoak dan kepadatan kecoak, setelah data diperoleh maka akan dianalisa tabel yaitu setelah data terbentuk dalam tabel kemudian dianalisa secara deskriptif.

Lima gerbong yang diperiksa mendapatkan hasil bahwa gerbong satu (K3-65534 PWT) masuk dalam kategori kepadatan sedang karena memiliki nilai Z kepadatan -0,87833, Gerbong dua (K3-65534 PWT) masuk dalam kategori kepadatan sedang karena memiliki nilai Z kepadatan 0,87831, gerbong tiga ( K3-93513 PWT) masuk dalam kategori kepadatan tinggi karena memiliki nilai Z kepadatan 1,07349, gerbong empat G4 (K3-93701PWT) masuk dalam kategori kepadatan sedang karena memiliki nilai Z kepadatan 0,039036, kereta makan masuk dalam kategori kepadatan tinggi karena memiliki nilai Z kepadatan 1,07349. Spesies yang ditemukan adalah P.americana, P. australasiae, B. germanica.

Peneliti mendapat kesimpulan bahwa kepadatan kecoak di masing-masing gerbong dalam kategori sedang dan tinggi, untuk itu perlu mendapat perhatian lebih dari pihak stasiun dan para penumpang. Peneliti juga menyarankan agar lebih meningkatkan kebersihan gerbong serta melakukan pengendalian secara kimia menurut bionomik kecoak.

Daftar bacaan : 10 (1979-2005)
Kata kunci : kecoak
Klasifikasi :

Lubang asap dapur penderita ISPA

Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Depkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah, Juni 2008

ABSTRAK

Wakhid Anwar
STUDI KORELASI LUBANG ASAP DAPUR RUMAH DENGAN PENDERITA INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT (ISPA) DI DESA BEJI KECAMATAN PANDANARUM KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2008
XIII + 50 : Gambar, Lampiran, Tabel

Rumah merupakan kebutuhan dasar manusia dan determinan kesehatan. Kondisi lubang asap dapur yang tidak memenuhi syarat menjadi penyebab timbul penyakit ISPA, karena asap tidak bisa keluar dan terhirup manusia. Penyakit ISPA di desa Beji menduduki peringkat pertama dari 10 besar penyakit, terbukti dari bulan Juli sampai Desember 2007 sebanyak 245 kasus. Penelitian ini dilaksanakan untuk menganalisa hubungan antara lubang asap dapur rumah dengan penderita ISPA di Desa Beji Kecamatan Pandanarum Kabupaten Banjarnegara Tahun 2008.
Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian observasional dengan pendekatan Cross Sectional. Jumlah sampel seluruhnya ada 58 sampel dari populasi yang ada. Pengumpulan data umum dan data khusus dengan cara wawancara, observasi, dan pengukuran di lapangan.
Hasil penelitian Kondisi Lubang asap dapur perumahan penduduk desa Beji rata-rata tidak memenuhi syarat sebanyak 54 rumah (93%) sedangkan memenuhi syarat 4 rumah (7%) dari 58 rumah sampel penelitian. Jumlah penderita ISPA di desa Beji sebanyak 52 orang (89,7%) dan Non ISPA 6 orang (10,3 %), terdiri dari laki-laki 25 orang (48 %) dan perempuan 27 orang (52% ). Penyakit ISPA kebanyakan terjadi pada kelompok umur 0-10 tahun. Signifikansi hubungan lubang asap dapur rumah dengan penderita ISPA tersebut digunakan uji Chi-Square. Berdasarkan hasil analisis data dengan uji statistic Chi-Square didapatkan df = 1 dan taraf kesalahan 5% (taraf kepercayaan 95%) dan nilai p = 0,049 yang menunjukkan bahwa Ho ditolak, dengan kategori hubungan sedang.
Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara lubang asap dapur rumah dengan penderita ISPA di Desa Beji kecamatan Pandanarum kabupaten Banjarnegara Tahun 2008. Untuk menanggulangi penyakit ISPA, perlu perbaikan kondisi sanitasi perumahan terutama pengadaan lubang asap dapur dibuat memenuhi syarat kesehatan yaitu ≥10% luas lantai dapur. Selain itu perlu adanya penyuluhan berkesinambungan dari puskesmas.

Daftar bacaan : 15 (1985-2007) Kata Kunci : Lubang asap dapur rumah, Penderita ISPA
Klasifikasi : -

Kuman pada lantai rumah sakit

Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Depkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah, Juni 2008

Abstrak

Tria Widiastuti
STUDI KOMPARASI JUMLAH KUMAN PADA LANTAI SEBELUM DAN SESUDAH PEMBERIAN DESINFEKTAN DI RUANG PERAWATAN BANGSAL ANAK RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BREBES TAHUN 2008
XII + 63 halaman: Tabel, gambar, lampiran

RSUD Brebes merupakan Rumah Sakit Umum milik Pemerintah Daerah Brebes yang bertugas memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. RSUD Brebes berstatus rumah sakit type C dengan kapasitas tempat tidur 115 buah dan angka BOR adalah 71,10 %. Rumah sakit selain sebagai tempat pelayanan kesehatan, dapat berperan sebagai tempat penularan penyakit, terutama ruang perawatan pasien. Sebagai tempat berkumpulnya orang sakit, ruang perawatan mempunyai kemungkinan besar untuk terjadinya infeksi nosokomial. Infeksi nosokomial dapat terjadi melalui perantara benda hidup dan benda mati.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan jumlah kuman pada lantai sebelum dan sesudah pemberian desinfektan di ruang perawatan bangsal anak Rumah Sakit Umum Daerah Brebes.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian analitik. Pengumpulan data dengan cara observasi, wawancara, pengukuran, pemeriksaan dan perhitungan jumlah kuman. Pengolahan data dengan cara editing, coding, dan tabulating. Data dalam penelitian disajikan dalaam bentuk tabel dan narasi. Analisis data yang digunakan adalah uji t test (pre-post). Berdasarkan hasil uji t test pada penelitian ini, menunjukkan terdapatnya perbedaan jumlah kuman lantai antara sebelum dan sesudah pemberian desinfektan.

Kesimpulan dari penelitian ini adalah pemberian desinfektan pada saat pengepelan dapat menghambat perkembangan jumlah kuman pada lantai. Peneliti menyarankan dalam pengepelan ruang perawatan selalu menggunakan desinfektan, dan untuk menjaga agar angka kuman lantai tetap dibawah standar, dengan dilakukan pemeriksaan angka kuman secara teratur maksimal tiga bulan sekali oleh petugas.



Kepustakaan : 14 (1985 – 2004)
Kata Kunci : Rumah Sakit, Kuman lantai, Desinfektan
Klasifikasi :

Aspek psikologis perumahan

Health Departement of Republic Indonesia
Health Polytechnic of Semarang
Environmental Health Faculty of Purwokerto
Diploma III Environmental Health Majoring
Scientific Research, June 2008


Abstract
Tarno
“Study of Physiologist Aspect of Housing at Beji Sub-district, Pandanarum District, Banjarnegara Regency year of 2008
Xiii + 35 pages: picture, table, enclosure.

House is one of human primary need that has function as shelter or a place to live and protect from weather and other living creature, also a place the family grow. That’s why, a healthy, safe, harmonic, and well arranged is needed, so that it functions and use can be fulfilled properly.
Physiologist sanitation condition highly related to the health of human live inside. Housing sanitation research could be useful to investigating the reality of housing sanitation condition and it related factors. The research hoped to be useful in suggesting and input as the society condition.

Research about physiologist aspect included in the descriptive research, its aim is give a brief description and explaining the data in order investigating the true condition of housing sanitation.

The data collected trough: observation, measurement and interview with respondent. The analysis used is table, comparing the theory and realm.
The analysis result shows that the physiologist aspect of Beji Sub-district housing, Pandanarum District, Banjarnegara regency, which qualify the health standard (5.17%) and which didn’t qualify the health standard is (94.83%)

Counseling and mentoring from the Health Public Service officer, related department, must be held through good program arrangement, and the society participation is needed. So that optimum result could be obtained for increasing society health welfare in common and environmental housing health, especially for Beji Sub-district, Pandanarum District, Banjarnegara Regency.

Reference : 11 (1985 – 2002)
Keyword : House
Classification : -

Pencemaran pestisida air mata air dieng

oleh : Syafria Hermayanti

A. Kesimpulan
Setelah dilakukan penelitian pada mata air Pegunungan Dieng di Desa Bakal Kecamatan Batur Kabupaten Banjarnegara dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Kandungan pestisida golongan Organophosfat, Organoklorin, dan golongan Karbamat pada mata air Pegunungan Dieng di Desa Bakal Kecamatan Batur Kabupaten Banjarnegara tahun 2008, tidak terdeteksi oleh pemeriksaan laboratorium dengan menggunakan metode pemeriksaan KLT (Kromatografi Lapis Tipis).
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya pencemaran pestisida pada mata air Pegunungan Dieng di Desa Bakal Kecamatan Batur Kabupaten Banjarnegara seperti jenis tanah / topografi, jenis pestisida, konsentrasi pestisida yang digunakan petani, letak mata air, peresapan air, hujan, metode pemeriksaan, mempengaruhi tidak tercemarnya mata air terebut oleh pestisida.

B. Saran
1. Diharapkan agar dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap mata air tersebut dengan metode HPLC (High Performance Layer Cromatografi).
2. Diharapkan agar dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap parameter pestisida yang lain sesuai dengan golongan dan bahan aktif yang dipakai oleh masyarakat desa Bakal Kecamatan Batur Kabupaten Banjarnegara.
3. Diharapkan agar dilakukan penelitian terhadap kandungan pestisida pada tanah sekitar lahan pertanian, air sungai di sekitar lahan petanian, dan air yang terdapat pada bak penampungan kedua yang telah melalui pipa distribusi.

Pencemaran tanah oleh telur cacing

Depertemen Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2008

Abstrak
Susiana Wulan Fitriawati

STUDI KORELASI SANITASI JAMBAN DENGAN PENCEMARAN TANAH OLEH TELUR NEMATHODA USUS DI DESA KUWARISAN KECAMATAN KUTOWINANGUN KABUPATEN KEBUMEN TAHUN 2008
xii + 49 halaman: gambar, tabel, lampiran
.
Lingkungan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi derajad kesehatan manusia. Lingkungan fisik tanah merupakan tempat yang mudah tercemar. Salah satu indikator pencemar tanah adalah telur Nemathoda Usus. Sanitasi jamban diindikasikan berpengaruh terhadap terjadinya pencemaran tanah oleh telur Nemathoda Usus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keadaan sanitasi jamban, pencemaran tanah oleh telur Nemethoda Usus, serta hubungan antara sanitasi jamban dengan pencemaran tanah oleh telur Nemathoda Usus di Desa Kuwarisan, Kecamatan Kutowinangun, Kabupaten Kebumen.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis inferensial dengan pendekatan cross sectional. Sampel yang diteliti sebanyak 62 rumah. Data diperoleh dari kegiatan wawancara, observasi, serta pemeriksaan sampel tanah di laboratorium.

Penelitian yang telah dilaksanakan diperoleh hasil bahwa 66,13 % sanitasi jamban yang memenuhi syarat kesehatan, sedangkan 33,87 % sanitasi jamban yang tidak memenuhi syarat sanitasi jamban. Pemeriksaan sampel tanah di laboratorium menyatakan bahwa 22,59 % sampel tanah yang diperiksa mengandung telur Nemathoda Usus. Hal tersebut menunjukan bahwa terjadi pencemaran tanah oleh telur Nemathoda Usus di Desa Kuwarisan, Kecamatan Kutowinangun, Kabupaten Kebumen. Sampel tanah yang diperiksa diambil dari tanah di sekitar rumah dengan sanitasi jambannya memenuhi syarat kesehatan maupun yang sanitasi jambannya tidak memenuhi syarat sanitasi kesehatan. Berdasarkan data tersebut, maka dapat diketahui bahwa tidak ada hubungan antara sanitasi jamban dengan pencemaran tanah oleh telur Nemathoda Usus.

Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat diambil kesimpulan bahwa 66,13 % sanitasi jamban yang memenuhi syarat kesehatan, sedangkan 33,87 % sanitasi jamban yang tidak memenuhi syarat sanitasi jamban, terjadi pencemaran tanah oleh telur Nemathoda Usus di Desa Kuwarisan, Kecamatan Kutowinangun, kabupaten Kebumen, dan tidak ada hubungan antara sanitasi jamban dengan pencemaran tanah oleh Nemathoda Usus. Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan hygiene perorangan.

Daftar bacaan : ( 1987 – 2003 )
Kata kunci : Sanitasi jamban, pencemaran tanah oleh telur Nemathoda Usus
Klasifikasi :

Sanitasi Sumur Gali

Oleh : Sukarlan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Sebanyak 270 sumur gali yang diperiksa, 180 sumur gali (66,7%) memenuhi syarat kesehatan (MS), dan 90 sumur gali (33,3%) tidak memenuhi syarat kesehatan (TMS).
2. Faktor-faktor yang paling mempengaruhi kondisi sanitasi sumur gali di Desa Pucakwangi adalah
a. Lantai dibuat kurang 0,20 m dari tanah yaitu sebanyak 78.52%
b. Diameter lantai kurang 1 m dari dinding sumur dan tidak kedap air sebanyak 70,00%
c. Pengunaan ember tidak dilengkapi dengan kayu penggulung tali atau tidak menggunakan kerekan yaitu sebanyak 70,00%
d. Dinding sumur tidak kedap air sedalam tiga meter dari permukaan tanah yaitu 68,89%
e. Bibir sumur tidak kedap air setinggi 0,5-0,7 m dari permukaan tanah yaitu sebanyak 67,04%

IPAL industri tekstil

Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan
Program Studi Diploma Iii Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah, Juni 2008


INTI SARI

Sujarwo
STUDI KINERJA INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH BERSAMA INDUSTRI TEKSTIL CV. EZRITEX DAN PT. BINTANG TRI PUTRATEX DI KOTA PEKALONGAN TAHUN 2008
xiv + 63 halaman : Gambar, Tabel, Lampiran

CV. Ezritex dan PT. Bintang Tri Putratex merupakan dua dari 17 perusahaan yang diduga ikut andil dalam pencemaran air Sungai Banger. Industri tersebut berpotensi untuk mencemari lingkungan dengan debit air limbah 475 M3/hari. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kinerja Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang ada. Dengan mengetahui kinerja dari Instalasi Pengolahan Air Limbah maka dapat diketahui apakah IPAL yang ada berfungsi dengan baik dan kualitas dari air limbah yang dibuang ke badan air memenuhi syarat atau tidak berdasarkan Perda Jateng No. 10 tahun 2004.

Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian diskriptif. Pengumpulan data diperoleh di lapangan dan laboratorium dengan cara observasi, wawancara, pengukuran dan pemeriksaan yang kemudian dianalisis.

Hasil penelitian menyebutkan bahwa kualitas fisik air limbah industri tekstil CV. Ezritex dan PT. Bintang Tri Putratex (suhu, warna, bau dan kekeruhan) sudah memenuhi syarat, sedangkan kualitas kimia untuk nilai BOD5 adalah 78,8 mg/lt dan TSS adalah 136 mg/lt, tetapi kualitas tersebut bila dibandingkan dengan Peraturan Daerah Jawa Tengah Nomor 10 Tahun 2004 tentang Baku Mutu Air Limbah, air limbah IPAL Bersama tidak memenuhi syarat karena standar untuk parameter BOD5 60 mg/lt dan parameter TSS 50 mg/lt. Kinerja IPAL Bersama industri tekstil CV. Ezritex dan PT. Bintang Tri Putratex berdasarkan hasil perhitungan peneliti tidak optimal karena IPAL hanya mampu menurunkan parameter BOD5 sebesr 19,18 %, dan parameter TSS sebesar 14,74 %.

Peneliti menyimpulkan bahwa kinerja IPAL tersebut masih belum optimal, dan menyarankan untuk mengoptimalkan kinerjanya dengan melakukan perbaikan pada unit-unit yang bermasalah, meliputi : Unit Screening dan Equalisasi, Unit Aerasi dan Unit Filtrasi.

Daftar bacaan :14 (1977-2007)
Kata kunci : IPAL
Klasifikasi :

Borak pada kerupuk gendar

Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah, Juni 2008


Abstrak

Siwi Triana Lestari
STUDI KANDUNGAN BORAKS PADA KERUPUK GENDAR YANG DIJUAL DI PASAR MRANGGEN KABUPATEN DEMAK TAHUN 2008
XIII + 57 halaman: gambar, tabel, lampiran

Banyak jenis makanan yang diperdagangkan mengandung zat tambahan makanan yang berbahaya bagi kesehatan. Salah satunya adalah boraks, yang biasa disebut masyarakat dengan nama bleng, garam bleng, air bleng atau pijer sebagai salah satu bahan pembuatan kerupuk gendar. Berdasarkan PERMENKES RI NO. 1168/MENKES/PER/X/1999 penggunaan boraks dan jenis bahan tambahan berbahaya lainya dalam makanan tidak diperbolehkan karena berbahaya bagi kesehatan manusia. Gambaran tersebut membuat penulis tertarik untuk melakukan penelitian boraks pada kerupuk gendar yang dijual di Pasar Mranggen Kabupaten Demak dimana di daerah tersebut banyak dijual kerupuk gendar dan masyarakat gemar mengkonsumsinya, adapun tujuan penulis yaitu ingin mengetahui apakah kerupuk gendar tersebut mengandung boraks atau tidak dan berapa prosentase kerupuk gendar yang mengandung boraks.

Jenis penelitian ini adalah deskriptif, yaitu menggambarkan kandungan boraks pada kerupuk gendar yang dijual di Pasar Mranggen Kabupaten Demak dan dengan menggunakan pendekatan cross sectional.
Sampel kerupuk gendar yang diperiksa sebanyak 22 sampel yang diambil dari Pasar Mranggen Kabupaten Demak dan hasil pemeriksaan kandungan boraks menunjukkan bahwa dari 22 sampel yang diperiksa di laboratorium dengan menggunakan metode nyala api hasilnya 100% positif mengandung boraks.

Dari hasil penelitian ini maka dapat diambil kesimpulan bahwa kerupuk gendar yang dijual di Pasar Mranggen Kabupaten Demak, tidak baik dikonsumsi dan berbahaya bagi kesehatan karena mengandung boraks. Saran yang diberikan kepada Puskesmas setempat diharapkan untuk melakukan penyuluhan kepada masyarakat, para pedagang dan produsen kerupuk gendar mengenai bahaya boraks bagi kesehatan manusia dan mengadakan pemantauan serta pengambilan sampel yang dicurigai mengandung bahan tambahan berbahaya.


Daftar Pustaka : 13 (1986 – 2007)
Kata Kunci : Kandungan Boraks, Kerupuk Gendar
Klasifikasi :

Daun Babadotan untuk bunuh lalat

Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Depkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi DIII Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Karya Tulis Ilmiah, Juni 2008

Abstrak
Sinta Ratna Dewi Yuli Saputri
EFEKTIVITAS EKSTRAK DAUN BABADOTAN (Ageratum conyzoides) TERHADAP KEMATIAN LALAT Musca domestica TAHUN 2008
XVI + 97 halaman, gambar, tabel, lampiran

Dipandang dari sudut kesehatan, kepadatan lalat merupakan masalah yang penting karena lalat merupakan vektor penyakit secara mekanis (Mechanical transmisition). Berbagai macam penyakit yang dapat ditularkan oleh lalat khususnya lalat rumah (Musca domestica) adalah typhus, para typhus, disentri amuba dll. Adanya bahaya yang ditimbulkan oleh lalat tersebut, maka perlu diadakan suatu pengendalian. Penggunaan insektisida nabati dari ekstrak daun Babadotan (Ageratum conyzoides) merupakan salah satu alternatif untuk pengendalian lalat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas ekstrak daun Babadotan (Ageratum conyzoides) terhadap kematian lalat Musca domestica.

Metode penelitian yang digunakan adalah true experimental (eksperimen sesungguhnya) dengan desain post test only group design (rancangan eksperimen sederhana) dengan memberikan berbagai konsentrasi ekstrak daun Babadotan (Ageratum conyzoides), yaitu konsentrasi 10 %, 30 %, 50 %, 70 %, dan 90 % pada masing – masing kurungan percobaan yang berisi 25 ekor lalat Musca domestica. Setelah 24 jam dihitung kematian lalat Musca domestica dan replikasi dilakukan sebanyak 3 kali.

Hasil penelitian diketahui rata – rata kematian lalat Musca domestica pada konsentrasi 10 % kematiannya 41 %, konsentrasi 30 % kematiannya 65 %, konsentrasi 50 % kematiannya 75 %, konsentrasi 70 % kematiannya 85 %, dan konsentrasi 90 % kematiannya 93 %. Hasil analisis probit ekstrak daun Babadotan (Ageratum conyzoides) diketahui LC 50 0,17 % dan LC 90 1,04. Hasil uji anova pada pengamatan 24 jam menunjukkan ada perbedaan yang bermakna berbagai konsentrasi ekstrak daun Babadotan (Ageratum conyzoides) terhadap kematian lalat Musca domestica.

Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa ekstrak daun Babadotan (Ageratum conyzoides) dapat digunakan sebagai insektisida nabati untuk pengendalian lalat. Penulis menyarankan adanya usaha untuk memberantas vektor lalat dengan insektisida nabati khususnya ekstrak daun Babadotan (Ageratum conyzoides) agar tidak terjadi resistensi pada vektor penyakit dan tidak terjadi pencemaran lingkungan.

Daftar Bacaan : 23 (1985 – 2008)
Kata Kunci : Lalat, insektisida, ekstrak tanaman
Klasifikasi :

Pengolahan lindi di TPA

Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Depkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Karya Tulis Ilmiah, Juni 2008

Abstrak
Singgih Tri Pambudi
STUDI HASIL PENGOLAHAN LINDI TPA DI DESA TRITIH LOR KECAMATAN JERUKLEGI KABUPATEN CILACAP TAHUN 2008
xiv +55 halaman, tabel, gambar, lampiran

TPA Tritih Lor adalah tempat pembuangan akhir di Cilacap yang mencangkup daerah pelayanan sebagian wilayah Kota Cilacap yaitu meliputi area dengan luas 4.166,156 Ha. Saat ini TPA Jeruklegi memiliki satu buah instalasi pengolah air lindi, yang hanya terdiri dari enam buah bak pengendap (settling pond). Air hasil pengolahan dialirkan ke saluran irigasi, meskipun terdapat instalasi pengolahan lindi, air hasil pengolahan tersebut masih berwarna hitam pekat dan berbau tidak sedap. Pada musim hujan, enam bak pengolah ini tidak mampu menampung air lindi yang dihasilkan TPA, sehingga mencemari areal sawah penduduk sekitar. Hal ini dikarenakan inlet dari instalasi air lindi yang sudah tidak berfungsi lagi dan air yang masuk merupakan aliran permukaan dari sampah. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui sarana pengolahan lindi TPA Tritih Lor, melakukan pemeriksaan kualitas air lindi berupa pemeriksaan COD, pH , suhu dan pengukuran debit.

Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan crossectional yaitu menggambarkan bagaimana proses pengolahan lindi TPA di Desa Tritih Lor Kecamatan Jeruk Legi Kabupaten Cilacap. Penyajian data dalam bentuk tabel dan narasi.

Hasil penelitian yang diperoleh, besar COD rata-rata sebesar 939 mg/l, suhu 25°C, pH 10 dan dengan debit 579.6 ml/s. Sarana-sarana yang terdapat di TPA meliputi: papan penunjuk lokasi, jalan akses ke TPA, jalan operasi primer dan sekunder, kantor TPA, kamar mandi, bangunan komposting, saluran draenase, sel, pipa lindi, kolam pengolah lindi, daerah penyangga, mesin pencacah sampah, excavator, wheel track loader, bulldozer.

Kesimpulan dari penelitian ini adalah Instalasi Pengolahan Lindi TPA Tritih Lor kurang berfungsi secara optimal, yang disebabkan saluran pipa dari TPA menuju bak pengolahan sudah tidak ada, kondisi bangunan yang mengalami banyak kerusakan akibat longsoran sampah sehingga perlu adanya perbaikan instalasi agar air lindi yang dibuang ke badan air telah sesuai dengan standar.

Daftar bacaan : 14 (1984-2005)
Kata kunci : Limbah
Klasifikasi : -

Tinja untuk pengomposan sampah

Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Depkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Karya Tulis Ilmiah, Juni 2008

Abstrak


Singgih Catur Pambudi
PENGARUH PENCAMPURAN LUMPUR TINJA TERHADAP LAMANYA WAKTU PADA PENGOMPOSAN SAMPAH ORGANIK DI KOTA PURWOKERTO TAHUN 2008
XV + 56 halaman : Lampiran, tabel, gambar

Sampah menjadi masalah yang penting untuk kota yang padat penduduknya karena volume sampah yang sangat besar melebihi kapasitas lahan TPA. Upaya untuk membantu mengatasi permasalahan sampah di TPA Gunung Tugel Purwokerto maka perlu adanya peningkatan pengelolaan sampah yang efektif yaitu dengan pengomposan. Proses pengomposan dapat mereduksi sampah lebih dari 60%. Tujuan penelitian dilakukan untuk mencari komposisi optimal campuran antara sampah organik dengan lumpur tinja, mengetahui kandungan unsur hara makro bahan dan kompos matang (C,N,P,K), mencari pengaruh penambahan lumpur tinja dengan sampah organik terhadap lamanya waktu pengomposan.

Metode yang digunakan adalah eksperimental sesungguhnya dengan desain rancangan eksperimen sederhana. Pengumpulan data dengan wawancara, pengamatan dan pemeriksaan.
Pengomposan dilakukan dengan rasio pencampuran sampah : lumpur tinja (kg/kg) = (10:0,10:1,10:2,10:3,10:4,10:5), metode pengomposan yang digunakan adalah open windrow.

Hasil yang diperoleh adalah laju kematangan tercepat menurut SNI 19-7030-2004 yaitu pada variasi 10:3(14 hari) dan komposisi unsur hara makro yang optimal menurut SNI 19-7030-2004 adalah 10:5.

Kesimpulan penelitian adalah ada pengaruh pencampuran lumpur tinja dengan sampah organik terhadap lamanya waktu pengomposan yaitu lamanya waktu pengomposan tercepat ada pada variasi 3 dengan komposisi 10:3 sedangkan komposisi unsur hara makro yang optimal adalah 10:5.

Saran penulis adalah perlu adanya pemisahan sampah organik dengan sampah non organik pada timbulan awal untuk mempermudah proses pengomposan dan untuk masyarakat dalam mengurangi timbulan sampah di TPA Gunung Tugel Purwokerto dapat dilakukan dengan pengomposan.
.
Daftar bacaan : 9 (1983-2003)
Kata kunci : Kompos, Sampah organik, Lumpur tinja
Klasifikasi :

Kesukaan Nyamuk Aedes sp bertelur

Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Depkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah, Juni 2008

Abstrak

Rusli Al Hanzah.
STUDI KOMPARASI KESUKAAN BERTELUR NYAMUK Aedes sp TERHADAP JENIS TEMPAT PENAMPUNGAN AIR DI KELURAHAN PURWOKERTO LOR KECAMATAN PURWOKERTO TIMUR KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2008
XI + 48 : Gambar, lampiran

Kelurahan Purwokerto Lor adalah salah satu kelurahan yang terletak di daerah endemis DBD yaitu Kecamatan Purwokerto Timur, Kabupaten Banyumas. Angka insiden Demam Berdarah di Kelurahan Purwokerto Lor periode Januari s/d Maret 2008 sebanyak 9 kasus. Demam berdarah merupakan penyakit akut yang ditemukan di daerah tropis dengan penyebaran geografis yang mirip dengan malaria. Penyakit menular ini disebabkan oleh virus dengue yang dibawa nyamuk Aedes sp, menyebabkan gangguan pada pembuluh darah kapiler dan dapat menimbulkan kematian. Salah satu aspek fisik yang mempengaruhi perkembangbiakan nyamuk Aedes sp adalah tempat air dan kebiasaan Aedes sp dalam meletakkan telurnya pada tempat penampungan air dipengaruhi oleh jenis, volume dan warna penampungan air.

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui jumlah tempat penampungan air yang terbuat dari tanah liat, ember plastik, kaleng bekas, potongan bambu dan tempurung kelapa yang positif terdapat telur Aedes sp serta mengetahui ada tidaknya perbedaan kesukaan bertelur nyamuk Aedes sp terhadap jenis tempat penampungan air di Kelurahan Purwokerto Lor.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian pra Eksperimen. Pengumpulan data dengan cara pengamatan langsung (observasi) di tempat penelitian dan dari pengukuran jumlah jenis tempat penampungan air yang positif terdapat telur Aedes sp. Data dalam penelitian disajikan dalam bentuk tabel dan narasi. Analisis data yang digunakan adalah uji Chi-Square (χ2 > 1 sampel), yaitu untuk menguji ada tidaknya perbedaan kesukaan bertelur nyamuk Aedes sp terhadap jenis tempat penampungan air.

Kesimpulan penelitian ini adalah tidak ada perbedaan kesukaan bertelur nyamuk Aedes sp terhadap jumlah jenis kontainer yang positif terdapat telur di Kelurahan Purwokerto Lor Kecamatan Purwokerto Timur Kabupaten Banyumas.

Kepustakaan : 16 (1985 - 2007)
Kata kunci : Aedes sp, Kesukaan bertelur, Jenis tempat air
Klasifikasi : -

Studi Daya Bunuh Bakteri Bacillus thuringiensis H-14 Terhadap Larva Nyamuk Aedes aegypti

(oleh Rusmiyati, AMd)

Kesimpulan :
Berdasarkan hasil penelitian studi daya bunuh bakteri Bacillu thuringiensis h-14 terhadap larva nyamuk Aedes aegypti kemudian dilakukan pembahasan maka penulis dapat menyimpulkan bahwa:
1). Pengukuran kadar beberapa parameter lingkungan antara lain : suhu air berkisar 260C-260C ph air awal 6,89-6,56 dan Kelembaban ruang penelitian berkisar antara 86%-87%.
2). Kematian larva Aedes aegypti pada penggunaan bakteri Bacillus thuringiensis H-14 masing-masing konsentrasi berbeda-beda, pada konsentrasi 0,01 ml/ 100ml air kematian larva mencapai rata-rata kematian 37%, pada konsentrasi 0,03 ml/ 100 ml air kematian larva Aedes aegypti mencapai rata-rata kematian 57%, pada konsentrasi 0,05 ml/ 100 ml air kematian larva mencapai 85%, pada konsentrasi 0,07ml/ 100 ml air mencapai kematian 100%, pada konsentrasi 0,09 ml/ 100ml air mencapai kematian 100% dan pada konsentrasi 0,10 ml/ 100 ml air kematian 100%.
3). Konsentrasi bakteri Bacillus thuringiensis H-14 yang dapat membunuh 50% larva nyamuk Aedes aegypti adalah 0,02 ml/ 100ml air .
4).
50Konsentrasi bakteri Bacillus thuringiensis H-14 yang dapat membunuh 90% larva nyamuk Aedes aegypti adalah 0,05 ml/ 100ml air.
5). Ada perbedaan kematian (daya bunuh) larva Aedes aegypti pada konsentrasi bakteri Bacillus thuringiensis H-14 0.01ml/ 100ml air dengan konsentrasi 0,07 ml/ 100ml air; 0,09ml/100ml air dan 0,10 ml/ 100ml air, sedangkan untuk konsentrasi 0,07ml/100ml air dengan 0,09 ml/ 100 ml air tidak ada perbedaan kematian larva Aedes aegypti, dan 0,07 ml/ 100ml air dengan 0,10 ml/ 100 ml air tidak ada perbedaan kematian larva Aedes aegypti .

Saran
1. Perlu uji lanjutan sebelum hasil ini diterapkan dimasyarakat.
2. Bagi peneliti selanjutnya dapat diujikan mengenai efek residu bakteri Bacillus thuringiensis H-14.

Penurunan BOD memakai Multi Soil Layering (MSL)

Depkes Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Karya Tulis Ilmiah, Juni 2008

Abstrak
Rini Hartati

EFISIENSI ALAT MULTI SOIL LAYERING (MSL) DALAM MENURUNKAN KADAR COD PADA AIR LIMBAH DI PERUSAHAAN BATIK HADIPRIJANTO KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2008
Xvii+ 51 Halaman : gambar, tabel, lampiran.

Limbah cair Perusahaan Batik Hadiprijanto Banyumas mengandung bahan baku kain mori dari jenis prima, volisina dan primisima dan bahan tambahan obat (napto), zat warna, air, sabun, kaporit, natrium hidrosulfat, kanji, asam sulfat, malam/lilin. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui sistem pengolahan air limbah, mengetahui kadar COD pada air limbah sebelum dan sesudah pengolahan dengan MSL dan mengetahui efisiensi alat MSL dalam menurunkan kadar COD di Perusahaan Batik Hadiprijanto Banyumas.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen semu. Data primer diperoleh dari hasil pengukuran COD dan data – data Perusahaan Batik Hadiprijanto Banyumas.

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa Multi Soil Layering (MSL) efektif menurunkan COD berkisar 80,38 – 95,58 %. COD sebelum proses pengolahan dengan MSL berturut – turut sebesar 1008 mg/lt, 820 mg/lt, 792 mg/lt, sedangkan COD setelah pengolahan dengan MSL berturut – turut MSL pada kecepatan 40 ml/menit/450cm2 berkisar antara sebesar 128 mg/lt, dengan kecepatan 50 ml/menit/450cm2 berkisar antara 37,33 mg/lt, dengan kecepatan 60 ml/menit/450cm2 COD berkisar antara 169,33 mg/lt.

Kesimpulan yang diambil dari penelitian ini adalah Multi Soil Layering mempunyai efisiensi yang lebih baik dalam penurunan kadar COD air limbah Perusahaan Batik Hadiprijanto berkisar 80,38 – 95,58 % dengan hasil rata – rata sesudah diolah secara berturut – turut sebesar 128 mg/lt 37,33 mg/lt, 169,33 mg/lt. Menurut PERDA Propinsi Jateng No 10 Tahun 2004 kadar COD maksimal air limbah perusahaan batik (tekstil) yang diperbolehkan yaitu sebesar 150 mg/lt.

Daftar bacaan : 27 (1976 – 2007)
Kata kunci : COD pengolahan limbah cair perusahaan batik
Klasifikasi : -

Rhodamin B pada Es Lilin

Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Depkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Karya Tulis Ilmiah, Juni 2008

Abstrak

Rina Dwi Anggraini Sudardjo
STUDI KANDUNGAN ZAT PEWARNA SINTETIS RHODAMIN B DAN METANIL YELLOW PADA ES LILIN YANG DIJUAL PEDAGANG DI BEBERAPA SD NEGERI KECAMATAN BOBOTSARI KABUPATEN PURBALINGGA TAHUN 2008
XII + 53 halaman: gambar, lampiran

Es lilin merupakan salah satu jenis makanan jajanan biasanya dijual dengan beraneka bentuk dan warna yang menarik. Pewarna yang digunakan yaitu pewarna sintetis makanan, akan tetapi saat ini masih ada produsen makanan yang menggunaan pewarna berbahaya seperti Rhodamin B dan Metanil Yellow sebagai pewarna makanan. Hal ini sangat berbahaya karena pewarna tersebut dapat menyebabkan kanker pada manusia yang mengkonsumsinya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya kandungan Rhodamin B dan Metanil Yellow pada es lilin di SD Negeri Kecamatan Bobotsari dan mengetahui tingkat pengetahuan pedagang es lilin mengenai pewarna tersebut.

Penelitian ini menggunakan metode diskriptif yaitu dengan cara melakukan pemeriksaan di laboratorium dengan jumlah sampel sepuluh sampel, es lilin berwarna merah lima buah dan es lilin berwarna kuning lima buah. Data diperoleh dari hasil wawancara, observasi, dokumentasi dan pemeriksaan labolatorium kandungan Rhodamin B dan Metnil Yellow pada es lilin dilakukan dengan metode Kromatography Lapisan Tipis (KLT).

Hasil pemeriksan menunjukan bahwa lima sampel es lilin berwarna merah negatif mengandung Rhodamin B dan lima sampel es lilin yang berwarna kuning negatif mengandung Metanil Yellow atau aman untuk digunakan namun dengan jumlah dosisi yang ditentukan. Pewarna yang digunakan oleh pedagang antara lain esen dan pasta.

Hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa sepuluh es lilin yang diambil sebagai sampel dari lima sampel berwarna merah 0% mengandung Rhodamin B dan lima sampel es lilin berwarna kuning 0% mengandung Metanil Yellow. Apabila masyarakat membeli pewarna disarankan terlebih dahulu memperhatikan label, tanggal kadaluaarsa dan komposisi yang tercantum pada kemasan tersebut sehingga tidak terjadi penyalahgunaan pewarna dalam makanan dan minuman.

Daftar bacaan : 11 ( 1985-2007 )
Kata Kunci : Bahan Tambahan Makanan
Klasifikasi :

Kesehatan lingkungan penderita diare

Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Poltekes Depkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Karya Tulis Ilmiah, Juni 2007

Abstrak

RETNO PUJI LESTARI
STUDI ASPEK KESEHATAN LINGKUNGAN PADA PENDERITA DIARE
DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS WIRUN KECAMATAN KUTOARJO KABUPATEN PURWOREJO TAHUN 2008
X + 41 halaman : lampiran, tabel, gambar.

Upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan secara optimal dan berkesinambungan terus digalakkan, salah satunya adalah untuk menurunkan angka kesakitan sampai ketitik tertentu yang tidak membahayakan.
Diare merupakan penyakit yang banyak dijumpai di daerah / negara yang sedang berkembang seperti Indonesia. Hal ini di dukung karena kondisi kesehatan lingkungan yang jelek. Wilayah kerja Puskesmas Wirun merupakan wilayah yang angka kesakitan diarenya cukup tinggi dibanding dengan wilayah kerja Puskesmas lain. Di wilayah kerja Puskesmas Wirun angka diarenya menduduki urutan pertama. Jumlah kasusnya mencapai 216 kasus (18,32%).
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aspek kesehatan lingkungan apa saja yang mempengaruhi terjadinya penyakit diare di wilayah kerja Puskesmas Wirun Kecamatan Kutoarjo Kabupaten Purworejo.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, sedangkan dalam menganalisis hasil menggunakan analisis tabel.

Hasil penelitian dilakukan terhadap penderita diare yang ada di wilayah kerja Puskesmas Wirun, di ketahui yang belum mempunyai sarana air bersih sendiri 32%, yang buang air besar tidak dijamban tetapi di sungai 19%, tidak memiliki saluran pembuangan air limbah 23%, belum memiliki tempat sampah 23%, tempat sampah tertutup 23% dan tidak menyimpan makanan di lemari 41% serta tidak mencuci tangan sehabis buang air besar 0 %. Hal ini kemungkinan karena kurang mengertinya masyarakat tentang pentingnya pola hidup bersih dan sehat serta tingkat ekonomi yang masih rendah. Hasil tersebut menunjukkan tingginya angka kesakitan diare di wilayah kerja Puskesmas Wirun belum tentu dipengaruhi oleh aspek-aspek kesehatan lingkungan.

Diharapkan agar pihak Puskesmas lebih giat dalam melakukan penyuluhan tentang kesehatan lingkungan dan melakukan pengawasan terhadap sarana air bersih dan resiko pencemaran serta masyarakat harus ikut berpartisipasi aktif untuk meningkatkan kesehatan lingkungan desanya sendiri.

Daftar bacaan : 17 (1978-1992)
Kata kunci : Penyakit Diare
Klasifikasi : -

Pengaruh Getaran pada Nyeri tubuh

Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2008

Intisari

Purwanti
"STUDI PENGARUH GETARAN SELURUH TUBUH TERHADAP KELUHAN NYERI PUNGGUNG BAWAH PADA SOPIR BUS DI TERMINAL GIWANGAN YOGYAKARTA TAHUN 2008"
ix + halaman, tabel, lampiran


Bus banyak digunakan pada industri maupun sebagai sarana transportasi untuk memindahkan penumpang maupun barang dari suatu tempat ke tempat yang lain. Nyeri punggung bawah (NPB) merupakan salah satu masalah kesehatan kerja yang utama. Di Terminal Bus Giwangan belum pernah dilakukan pengukuran tentang intensitas getaran yang dialami oleh sopir bus yang berhubungan dengan kondisi kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara paparan getaran seluruh tubuh dengan kejadian NPB pada sopir bus.

Jenis penelitian yang digunakan dalam Karya Tulis Ilmiah ini adalah cross sectional. Analisis statistic yang dipakai menggunakan software SPSS 10.0 dengan uji korelasi tata jenjang spearman (rho). Penyajian data dilakukan dalam bentuk narasi terstruktur, grafik dan tabel.

Hasil menunjukkan bahwa besarnya nilai signifikasi (p) sebesarnya 0,024 dimana nilai tersebut lebih kecil dari α = 0,05 (p<0,05), sehingga Ho ditolak.
Kesimpulan dalam penelitian ini adalah ada hubungan antara paparan getaran seluruh tubuh dengan kejadian NPB pada sopir bus. Penulis menyarankan bagi pihak pengelola Terminal Bus Giwangan untuk memberikan penyuluhan tentang pentingnya isolasi vibrasi untuk mengurangi keluhan nyeri yang dirasakan oleh sopir.

Daftar bacaan : 11 (1994-2007)
Kata Kunci : Terminal – Intensitas Getaran
Klasifikasi : -

Flourida pada air tanah (sumur)

Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Karya tulis ilmiah, Juli 2008

Abstrak

Nenny Kurnia Astuti
STUDI KANDUNGAN FLUORIDA (F) PADA AIR TANAH DI KABUPATEN PURWOREJO TAHUN 2008
xii + 36 halaman : gambar, tabel, lampiran

Fluorida (F) terdapat dalam air tanah melalui proses alami, karena pencucian batuan dasar atau lapisan tanah fluorida larut dalam air tanah, sedemikian rupa sehingga air sumur gali merupakan sumber fluorida yang cukup tinggi. Akibat dari kekurangan fluorida dapat menyebabkan caries gigi sedangkan kelebihan fluorida dapat menyebabkan fluoresis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan dan perbedaan kandungan fluorida pada berbagai jenis tanah di Kabupaten Purworejo.

Peneliti menggunakan metode deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi dan pengukuran kandungan fluorida pada sampel air. Pengolahan data dilakukan dengan editing, coding dan tabulating. Penyajian data dilakukan secara naratif dengan menggunakan tabel dan mangunakan analisis statistik Anova Oneway.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan fluorida pada air tanah di Kabupaten Purworejo berdasarkan hasil analisis statistik Anova Oneway nilai significan (p) 0.770 lebih dari (α) 0,05 sehingga tidak adanya perbedaan antar berbagai jenis tanah latosol, alluvial dan regosol. Kandungan fluorida rata- rata pada jenis tanah latosol 0,20 mg/l, alluvial 0,16 mg/l dan regosol 0,22 mg/l..

Kesimpulan penelitian adalah kandungan fluorida pada air tanah di Kabupaten Purworejo belum melebihi ambang batas maksimum 1,5 mg/l menurut Permenkes RI N0 416 /MENKES/PER/IX/1990 dan maksimum yang diperbolehkan 1,0 mg/l menurut WHO.

Penulis menyarankan Dinas Kesehatan Kabupaten Purworejo agar melakukan program penambahan asupan fluorida dengan cara fluoridasi air minum dan penambahan menu makanan yang mengandung fluorida selain penggunaan pasta gigi.
Daftar bacaan : 21 ( 1982 – 2007 )
Kata kunci : Kandungan Fluorida ( F ) di tanah
Klasifikasi : -

Mikroorganisme udara dalam bus AC

Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Depkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program studi Diploma III Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah, Juni 2008


ABSTRAK

Narulita Budi Susanti
STUDI KOMPARASI JUMLAH MIKROORGANISME UDARA PADA BUS AC DAN NON AC JURUSAN PURWOKERTO-SEMARANG TAHUN 2008
Xiv + 47: Gambar, Tabel, Lampiran

Bus merupakan angkutan umum yang digunakan oleh masyarakat pada umumnya. Peranannya sangat penting dalam memperlancar mobilitas orang serta barang dari satu kota ke kota lain. Untuk kenyamanan penumpang selama perjalanan, digunakan Air Conditioner (AC) sebagai penyejuk dan penghawaan ruangan. Salah satu media yang berperan dalam penularan dan penyebaran penyakit adalah udara. Penelitian dilaksanakan untuk mengetahui jumlah mikroorganisme udara pada bus AC dan non AC, kondisi kebersihan ruangan, serta adanya perbedaan jumlah mikroorganisme udara pada bus AC dan non AC jurusan Purwokerto-Semarang.

Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian Observasional dengan pendekatan Cross sectional. Jumlah sampel seluruhnya ada enam buah sampel dari populasi yang ada. Pengumpulan data umum dan data khusus didapat dengan wawancara, observasi, pengukuran, pemeriksaan dilapangan dan laboratorium.

Hasil penelitian jumlah mikroorganisme udara tertinggi pada bus AC adalah 2813 koloni/cm², sedangkan terendah adalah 1670 koloni/cm². Untuk bus non AC tertinggi sebanyak 6797 koloni/cm², dan terendah 5742 koloni/cm². Perhitungan dengan uji-t menggunakan SPSS didapat 0,001.

Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa ada perbedaan yang significant jumlah mikroorganisme udara pada bus AC dan non AC jurusan Purwokerto-Semarang. Untuk mengurangi jumlah mikroorganisme udara sesuai dengan hasil yang diperoleh, maka perlu dilakukan pembersihan dan pencucian bus secara rutin minimal sehabis bus beroperasi, lebih ditingkatkan perawatan dan pembersihan input dan output AC serta dilakukan pengecekan secara rutin terhadap AC sehingga kita dapat mengetahui suhu yang dikeluarkan, membasmi mikroorganisme dengan desinfeksi.

Daftar bacaan : 16(1982-2007)
Kata kunci : Mikroorganisme udara
Klasifikasi : -

Meja Cuci Ergonomis

Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2008

Abstrak

Indriasih Wijayanti
PENGARUH PENGGUNAAN MEJA KURSI CUCI ERGONOMIS TERHADAP PENGURANGAN KELUHAN RASA SAKIT PINGGANG BURUH CUCI PAKAIAN DI RW III KELURAHAN SOKANEGARA PURWOKERTO TIMUR TAHUN 2008
xv+41 halaman: gambar, tabel, lampiran

Keluhan rasa sakit pinggang berakibat pada pengurangan kapasitas kerja. Buruh cuci pakaian bekerja selama 1-3 jam setiap hari. Faktor timbulnya rasa sakit pinggang adalah sikap kerja buruh cuci pakaian dan sarana cuci yang digunakan tidak sesuai ukuran tubuh. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh pengurangan keluhan rasa sakit pinggang buruh cuci pakaian setelah menggunakan meja kursi cuci ergonomis.

Jenis penelitian yang digunakan adalah pra eksperimen rancangan the one group pre and post test design. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, pengukuran dan observasi. Data disajikan dalam bentuk tabel, narasi, dan gambar. Analisis data yang digunakan adalah uji Wilcoxon.

Berdasarkan hasil penelitian, kelompok umur terbanyak 34 – 35 tahun sebanyak 40%. Masa kerja terbanyak 7 – 8 tahun sebesar 50%, dan jumlah cucian per hari 24 – 25 potong sebesar 60%. Data antropometri responden antara lain panjang lengan atas maksimal 26 cm, minimal 24 cm. Panjang lengan bawah maksimal 32 cm, minimal 30 cm. Panjang tungkai atas maksimal 44 cm, minimal 40 cm. Dan panjang tungkai bawah maksimal 39 cm, minimal 36 cm. Keluhan rasa sakit pinggang sebelum perlakuan sejumlah 14 item jawaban “selalu” setelah bekerja. Setelah perlakuan menjadi 0 item jawaban “selalu”. Hasil uji statistik dengan menggunakan uji Wilcoxon yaitu Thitung = 21 > Ttabel = 8 (α = 0,05).

Kesimpulan penelitian ini adalah ada perbedaan keluhan rasa sakit pinggang responden sebelum dan sesudah diberi perlakuan. Buruh cuci pakaian sebaiknya bekerja dengan sikap kerja bergantian dan menghindari sikap duduk paksa.

Daftar bacaan : 11 (1991 – 2008)
Kata kunci : Meja Kursi Cuci Ergonomis
Klasifikasi :

Jenis kecoak di rumah sakit

Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Depkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program D III Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah, Juni 2008

Abstrak
Indah Permatasari
STUDI IDENTIFIKASI KECOA DAN KEPADATANNYA DI RUMAH SAKIT UMUM KARDINAH KOTA TEGAL TAHUN 2008
XII + Halaman : Tabel, Gambar, dan Lampiran

Rumah Sakit merupakan sarana umum yang melakukan pelayanan kesehatan untuk peningkatan mutu pelayanan. Salah satu kegiatan rumah sakit adalah untuk mencegah timbulnya penyebaran penyakit yang ditularkan melalui serangga atau vektor penyakit. Kecoa adalah salah satu serangga yang termasuk dalam ordo Orthoptera. Famili Blattidae merupakan satu-satunya anggota dari ordo Orthoptera yang paling sering dijumpai. Di Indonesia, Blattidae lebih dikenal dengan nama kecoa atau lipas (cockroach) yang menjadi serangga pengganggu di rumah sakit. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui spesies, kepadatan, dan pengendalian kecoa di Rumah Sakit Umum Kardinah Kota Tegal Tahun 2008.

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif yaitu membandingkan antara teori/standar dengan hasil survei. Pengumpulan data untuk penelitian dilakukan dengan cara pengukuran mengenai kepadatan kecoa di rumah sakit dan identifikasi kecoa. Subyek penelitian ini adalah kecoa di RSU Kardinah di Kota Tegal.

Spesies kecoa yang ada di RSU Kardinah Kota Tegal yang diukur dengan perangkap satu malam mennghasilkan kecoa sebanyak 7 ekor yang terdiri dari 2 spesies yaitu P. australasiae sebanyak 2 ekor (28,6%) dan P. americana sebanyak 5 ekor (71,4%). Kepadatan kecoa di RSU Kardinah Kota Tegal adalah kepadatan dilakukan pada titik yang telah ditentukan, jadi kepadatan kecoa rendah, tindakan pengendalian tidak menjadi masalah. Pengendalian kecoa di RSU Kardinah Kota Tegal dapat dilaksanakan dengan penyemprotan pada siang hari secara kimiawi menggunakan bahan kimia (insektisida) yaitu 2% chlordane / malathion.

Penulis menyarankan bagi Rumah Sakit Umum Kardinah Kota Tegal sebaiknya periksa kebersihan kamar mandi / WC dan perlu melaksanakan pengendalian serangga dan tikus secara rutin 3 bulan sekali.

Daftar Bacaan : 11 (1967-2003)
Kata Kunci : Kecoa
Klasifikasi : -

Hygiene Sanitasi Pembuatan kue Cucur

Jurusan Kesehatan Lingkungan
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan
Purwokerto
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2008

Absrak

Imroatul Istiqomah
STUDI HYGIENE SANITASI TEMPAT PEMBUATAN CUCUR DI KELURAHAN PASARBATANG BREBES KECAMATAN BREBES KABUPATEN BREBES TAHUN 2008
xiv + halaman: tabel, gambar, lampiran

Makanan jajanan sekarang ini sangat banyak, murah, mudah diperoleh dan digemari oleh lapisan masyarakat. Kondisi makanan jajanan saat ini banyak menimbulkan kasus keracunan yang merugikan konsumen. Hal ini diperlukan adanya pengawasan pada makanan jajanan agar memenuhi persyaratan kualitas makanan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui sanitasi pengamanan bahan makanan, penyimpanan bahan makanan, pengolahan makanan, pengangkutan makanan, penyimpanan makanan, penyajian makanan, serta kualitas makanan.

Metode penelitian yang dilakukan dengan metode deskriptif, cara pengumpulan data dengan wawancara, observasi, pemeriksan kualitas makanan jadi. Cara analisa data yaitu membandingkan antara hasil dengan teori.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa hygiene sanitasi makanan memenuhi syarat, pada pengamanan bahan makanan rata-rata 89,62%, penyimpanan bahan makanan rata-rata 64,29%, pengolahan makanan rata-rata 68%, pengangkutan makanan rata-rata 63,4%, penyimpanan makanan rata-rata 63,4%, dan penyajian makanan rata – rata 75%. Hasil pemeriksan sampel makanan pada lima pedagang cucur masih di bawah standar sesuai dengan Surat Keputusan Dirjen POM No.03726/B/SK/VII/1989 tentang batas cemaran mikroba pada makanan yaitu 106 koloni/ gr sedangkan sampel milik ibu Wati belum memenuhi syarat karena sudah melebihi standar yaitu 3,0x106 (3,6x106).

Kesimpulan dari penelitian tersebut adalah hygiene sanitasi makanan pada tempat pembuata cucur yang meliputi 6 prinsip yaitu pengamanan bahan makanan dengan kategori baik, penyimpanan bahan makanan dengan kategori cukup baik, pengolahan makanan dengan kategori cukup baik, pengangkutan makanan dengan kategori cukup baik, penyimpanan makanan dengan kategori cukup baik, dan penyajian makanan dengan kategori cukup baik.

Disarankan kepada penjamah agar meningkatkan sanitasi pengelolaan makanan, Puskesmas setempat untuk mengadakan penyuluhan tentang hygiene dan sanitasi makanan, serta meningkatkan pengawasan pada tiap tahapan pengelolaan.

Daftar bacaan : 15 (1986-2008)
Kata Kunci : Sanitasi makanan
Klasifikasi : -

Borak pada daun singkong

Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah, Juni 2008

Abstrak

Hana Uzlifa Naimah
STUDI KANDUNGAN BORAKS DALAM LALAPAN DAUN SINGKONG PADA RUMAH MAKAN PADANG DI TERMINAL BUS PURWOKERTO
TAHUN 2008
vi+40 halaman:, tabel, lampiran

Boraks merupakan garam natrium Na2B4O710H2O yang banyak dgunakan diberbagai industri non pangan, khususnya industri kertas, gelas, pengawet kayu dan keramik. Penggunaan boraks dalam makanan mempunyai sifat dapat menimbulkan efek kenyal pada adonan serta dapat memperpanjang masa simapn suatu bahan makanan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya kandungan boraks pada lalapan daun singkong.

Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif, yaitu untuk menggambarkan ada tidaknya kandungan boraks pada sayur daun singkong yang dijual di rumah makan padang di Terminal Bus Purwokerto. Jumlah sampel yang dimbil sebanyak lima sampel lalapan daun singkong dari amsing-masing rumah makan padang yang ada di Terminal Bus Purwokerto, sampel diambil denagn metode porposif. Sedangkan populasinya yaitu semua lalapan daun singkong pada rumah makan padang di Terminal Bus Purwokerto.

Hasil pemeriksaan kandungan boraks pada sayur daun singkong yang dijual di Terminal Bus Purwokerto menunjukkan bahwa dari lima sampel yang diambil dua sampel (40%) sayur daun singkong positif mengandung boraks dan tiga sampel (60%) sayur daun singkong negatif mengandung boraks.

Dari hasil penelitian maka dapat diambil kesimpulan bahwa sayur daun singkong yang dijual pada Rumah Makan Padang di Terminal Bus Purwokerto belum aman untuk dikonsumsi karena mengandung boraks. Kepada masyarakat dan penjual sebaiknya tidak menggunakan borak sebagai bahan pengawet.

Daftar bacaan : 12 (1991-2007)
Kata kunci : Boraks, Rumah makan Padang, Terminal Bus Purwokerto.
Klasifikasi :

Minggu, 07 Juni 2009

APD pekerja plastik daur ulang

Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Depkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2008

Abstrak

Ferry Andriana
Studi Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) Pada Pekerja Industri Daur Ulang Plastik Bekas Desa Banjarparakan Kecamatan Rawalo Kabupaten Banyumas Tahun 2008
xv+36 : gambar, tabel, lampiran

Pemakaian alat pelindung diri merupakan salah satu upaya pencegahan preventif dari penyakit dan kecelakan kerja terutama bagi pekerja di Industri Daur Ulang Plasti Bekas yang setiap harinya berhadapan dengan lingkungan kerja . Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis alat pelindung diri, penggunaan alat pelindung diri, pada pekerja Industri Daur Ulang Plastik Bekas di Desa Banjarparakan.
Jenis penelitian ini adalah diskritif yang bertujuan hanya untuk menggambarkan keadaan penggunaan alat pelindung diri pada pekerja industri daur ulang plastik. Subyek penelitian adalah pekerja industri daur ulang plastik bekas. Sampel sejumlah 42 responden dan cara pengumpulan data yaitu wawancara dan observasi dengan menggunakan kuesioner kepada responden dan ceklist. Jumlah pekerjaan, jenis pekerja, tingkat pendidikan, pengawasan. Jenis alat pelindung diri yang ada yaitu masker 14,51%, tutup kepala 28,22%, sepatu boot 8,06% sarung tangan 15,32% dan pakaian kerja 33,87%. Jenis alat pelindung diri yang ada tidak semua pekerja memakai alat pelindung diri.
Faktor yang mempengaruhi penggunaan alat pelindung diri adalah pihak pengusaha dalam menyediakan alat pelindung diri, tingkat pendapatan, umur, dan tingkat pendidikan. Jenis alat pelindung diri yang ada adalah sarung tangan, masker, topi pengaman, pakaian kerja, sepatu boot. Tingkat pemakaian alat pelindung diri yang ada pada Industri Daur Ulang Plastik sudah cukup baik. Disarankan kepada pengusaha untuk menyediakan alat pelindung diri bagi pekerjanya.

Daftar bacaan : 5 (1994-2006)
Kata Kunci : Penggunaan APD, Industri
Klasifikasi :-

Karbon monoksida (CO) di terminal bus

Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Depkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Karya Tulis Ilmiah, Juni 2008

Abstrak

Eka Triana
“Studi Komparasi Kadar Karbon Monoksida (CO) di Udara pada Tempat Kedatangan dan Pemberangkatan Bus di Terminal Bus Giwangan Yogyakarta Tahun 2008”.
xviii+62: tabel, gambar, lampiran

Pengukuran kadar CO di udara Terminal Giwangan Yogyakarta, khususnya di tempat kedatangan dan pemberangkatan, belum pernah dilakukan selama terminal dioperasikan. Studi ini bertujuan untuk mengetahui tentang kadar CO di tempat kedatangan dan pemberangkatan bus di Terminal Bus Giwangan Yogyakarta Tahun 2008 serta untuk mengetahui perbedaan yang bermakna.
Jenis penelitian ini adalah observational dengan pendekatan cross sectional. Analisis statistik yang dipakai menggunakan software SPSS 10.0 dengan independent sample T test dan U Mann-Whitney Test untuk membandingkan kadar CO di udara pada tempat kedatangan dan pemberangkatan bus di Terminal Bus Giwangan Yogyakarta Tahun 2008. Angka tersebut dibandingkan dengan Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta No. 153 tahun 2002, tentang Baku Mutu Udara Ambien Daerah di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kadar CO rata-rata pada tempat kedatangan sebesar 5,8045 ppm dan pada tempat pemberangkatan adalah 4,9572 ppm. Hasil tersebut menunjukan adanya perbedaan yang signifikan, namun belum melampaui ketentuan yang berlaku. Nilai ambang batas kualitas udara ambient menurut Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta No. 153 tahun 2002, yaitu 35 ppm. Perbedaan kadar CO di udara disebabkan oleh suhu, kelembaban, arah angin, kecepatan angin, tekanan udara, jumlah kendaraan, kondisi kendaraan, jenis kendaraan, bahan bakar, konstruksi bangunan titik pengukuran, kegiatan di sekitar lokasi pengukuran dan lamanya menghidupkan mesin sebelum mobil berangkat.
Upaya untuk mengantisipasi tingginya kadar CO di udara sekitar terminal, khususnya pada tempat kedatangan dan pemberangkatan bus adalah penanganan pada sumber, proteksi pada penerima dan pengawasan lingkungan. Hal tersebut hendaknya dilakukan secara komprehensif, baik teknis, administrasi maupun lingkungan.

Daftar Bacaan : 24 (1991-2008)
Kata Kunci : Kadar CO, Terminal
Klasifikasi : -

Karbon monoksida di perusahaan batik

Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Karya Tulis Ilmiah, Juni 2008

Abstrak

Diyah Ayu Affriani
STUDI KANDUNGAN CO PADA KUALITAS UDARA DI PERUSAHAAN BATIK HADI PRIYANTO BANYUMAS TAHUN 2008
xii + 46 halaman: gambar, tabel, lampiran

Karbon monoksida (CO) merupakan salah satu bahan polutan yang umum terjadi di udara. Gas ini dihasilkan dari proses oksidasi bahan bakar yang tidak sempurna, seperti bensin, minyak tanah dan kayu bakar. Selama ini banyak diantara kita beranggapan bahwa masalah polusi udara semata-mata terjadi di udara bebas (out door), padahal kita belum menyadari bahwa polusi di dalam ruangan (indoor) ternyata mempunyai dampak lebih besar. Paparan dari gas CO pada kadar 100 ppm dapat menyebabkan pusing, sakit kepala, kadar 250 ppm menyebabkan kehilangan kesadaran serta kematian cepat pada 1000 ppm. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar CO di Perusahaan Batik Hadi Priyanto Banyumas karena pada proses pembuatan batik terjadi pembakaran tidak sempurna dari penggunaan kompor minyak tanah secara kontinyu untuk melelehkan lilin batik.
Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif dengan maksud untuk memperoleh gambaran yang jelas dan nyata tentang kandungan CO pada kualitaas udara di Perusahan Batik Hadi Priyanto Banyumas.
Hasil penelitian di Perusahaan Batik kadar CO terutama di ruang produksi setelah dianalisis data menggunakan analisis statistik rata-rata hitung, kadar CO rata-rata 2,41 part per million. Berdasarkan hasil tersebut ternyata kadar CO di Perusahaan Batik belum melebihhi standar NAB bahan-bahan kimia udara di tempat kerja yang ditetapkan sesuai Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja Nomor SE-01/MENAKER/1997 untuk parameter CO adalah konsentrasi 25 ppm.
Sebaiknya di dalam ruang produksi di pasang blower (exhauster), dan setiap pekerja harus menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) seperti masker saat bekerja atau saat berada di ruang produksi serta perlu dilakukan penyuluhan mengenai penerapan hyperkes dan keselamatan kerja secara berkala 1 bulan – 3 bulan sekali.

Daftar bacaan : (1980 - 2007)
Kata kunci : CO (karbon monoksida)
Klasifikasi :

Buah mahkota dewa sebagai larvasida

Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Poltekkes Depkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Karya Tulis Ilmiah, Juni 2008
Abstrak
Dewi Indri Astuti
PENGARUH PEMAKAIAN BERBAGAI KONSENTRASI EKSTRAK BUAH MAHKOTA DEWA {Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl} SEBAGAI INSEKTISIDA ALAMI TERHADAP KEMATIAN LARVA NYAMUK Aedes aegypti TAHUN 2008
Xv + 84 halaman, tabel, gambar, lampiran.

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit menular yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti betina sebagai vektor yang mengandung virus dengue dalam tubuhnya. Adapun alternatif praktis dan ramah lingkungan dalam pengendalian vektor ini yaitu dengan penggunaan insektisida hayati dari buah mahkota dewa guna pengendalian terhadap larva nyamuk Aedes aegypti.

Jenis penelitian yang digunakan adalah True experiment dengan metode penelitian One Way Anova dan desain Postest Only Control Group. Kontainer yang digunakan adalah enamel dengan volume 500 ml, volume air masing-masing enamel adalah 250 ml. Larva nyamuk yang digunakan sebanyak 20 ekor pada masing-masing enamel yaitu Aedes aegypti instar III- IV, dengan waktu kontak selama 24 jam. Replikasi penelitian dilakukan 3 kali pengulangan.
Selama penelitian temperatur udara lokasi penelitian berkisar antara 26° s/d 28° C, kelembaban udara antara 86 % s/d 87 %, temperatur air perindukan larva 25,4° s/d 26,9° C, pH air perindukan larva pH 6,8 s/d 7,6.

Hasil perhitungan kematian larva Aedes aegypti selama waktu kontak 24 jam dengan replikasi 3 kali pengukuran yaitu konsentrasi 10 ppm = 43,5 %, 20 ppm = 50 %, 30 ppm = 56,5 %, 40 ppm = 70 %, 50 ppm = 83,5 % dan kontrol = 1,5 %.

Hasil analisis Probit LC50 = 18,364 ppm dan LC90 = 130,894 ppm, sedangkan analisis Anova antar perlakuan bahwa nilai signifikan (0,027) kurang dari α ( 0,05), sehingga Ho ditolak, artinya ada beda yang bermakna antara berbagai konsentrasi (10 ppm, 20 ppm, 30 ppm, 40 ppm, 50 ppm) ekstrak buah mahkota dewa terhadap kematian larva Aedes aegyptii. Uji lanjut dari Anava (LSD) menunjukkan bahwa ada beda yang bermakna yaitu antara kontrol dengan konsentrasi 20 ppm, 30 ppm, 40 ppm, 50 ppm, sedangkan antar konsentrasi lain ada beda tetapi tidak signifikan.

Insektisida hayati tidak dapat bertahan lama, maka harus memperhatikan waktu penyimpanan dan harus disimpan pada tempat tidak tembus cahaya untuk mengurangi fotolisis dari zat aktif yang terkandung didalamnya.

Daftar bacaan : 22 (1985 s/d 2007)
Kata kunci : Insektisida Hayati, Ekstrak buah mahkota dewa
Klasifikasi : -

Pengelolaan sampah pasar

Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Politekknik Kesehatan Depkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2008

Abstrak

Chiska Oktaviani
STUDI TENTANG SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH DI PASAR RAHAYU KECAMATAN SIDAREJA KABUPATEN CILACAP TAHUN 2008
xii + 61 : tabel, gambar, lampiran

Sampah diartikan sebagai benda yang tidak dipakai, tidak diinginkan dan di buang. Pengelolaan sampah adalah suatu bidang yang berhubungan dengan pengaturan terhadap penimbulan, penyimpanan sementara, pengumpulan, pemindahan dan pengangkutan, pemrosesan dan pembuangan sampah dengan suatu cara sesuai dengan prinsip-prinsip terbaik dari kesehatan masyarakat, ekonomi, teknik, perlindungan alam, keindahan dan pertimbangan lingkungan lainnya dan juga mempertimbangkan sikap masyarakat.
Tujuan penelitian yaitu untuk memperoleh gambaran yang jelas dan nyata tentang sistem pengelolaan sampah di pasar Rahayu Kecamatan Sidareja Kabupaten Cilacap Tahun 2008.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Pengumpulan data dengan cara wawancara, obsaervasi, dan pengukuran. Pengolahan data dengan editing dan tabulating. Analisis data yang digunakan secara deskriptif, menggambarkan hasil penelitian dengan analisis tabel. Membandingkan teori dengan kenyataan yang ada di lapangan.
Kesimpulan dari penelitian adalah pengelolaan sampah di pasar Rahayu Sidareja telah baik dengan beberapa permasalahan seperti tidak semua pedagang di pasar memiliki tempat sampah, jenis tempat sampah dan Tempat Penampungan Sementara (TPS) belum memenuhi persyaratan kesehatan serta petugas kebersihan tidak menggunakan Alat Pelindung Diri. Pada aspek ketenagaan tenaga kebersihan belum dimanfaatkan secara optimal karena tidak ada pembagian waktu kerja. Penulis menyarankan supaya pengelola pasar dapat mengkoordinir pedagang untuk menyediakan tempat sampah pada setiap los atau kios yang ditempati serta penggunaan APD dan merencanakan pembagian waktu kerja bagi petugas kebersihan.

Kepustakaan : 14 (1980-2003)
Kata kunci : Pasar, Sampah, Pengelolaan sampah
Klasifikasi : -

Coliform pada es teh

Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Karya Tulis Ilmiah, Juni 2008


Abstrak

Asih Sugiarti
STUDI KANDUNGAN BAKTERI Coliform PADA ES TEH YANG DIJUAL PEDAGANG KAKI LIMA DI ALUN-ALUN PURWOKERTO TAHUN 2008
xiii + 88 hal : gambar, tabel, lampiran

Salah satu yang mempengaruhi terhadap peningkatan derajat masyarakat adalah penyediaan makanan dan minuman yang memenuhi syarat kesehatan, keadaan ini berkaitan dengan minuman yang disediakan oleh pedagang kaki lima termasuk pedagang makanan dan minuman yang menjual es teh di sekitar Alun-alun Purwokerto. Pengelolaan es teh yang kurang baik dapat menyebabkan kerusakan maupun pencemaran mikroorganisme, khususnya bakteri Coliform yang dapat terjadi mulai dari penyediaan bahan, penyimpanan bahan, pengolahan bahan, pengangutan minuman dan penyajian minuman yang dapat menimbulkan penyakit bagi konsumen khususnya pada pengunjung Alun-alun Purwokerto terutama penyakit saluran pencernaan.
Penelitian ini merupakan peneliti deskriptif untuk memperoleh gambaran nyata tentang kualitas es teh dilihat dari adanya kandungan bakteri Coliform pada masing-masing sampel. Jumlah kandungan bakteri Coliform pada masing-masing sampel adalah sampel es teh yang dijual pedagang kaki lima di Alun-alun Purwokerto dan menggambarkan sanitasi tempat penjualan es teh tersebut.
Hasil inspeksi tempat penjualan dalam kategori baik (76 % - 100 %), kategori cukup (56 % - 75 %), kategori kurang baik (40 % - 55 %) dan kategori tidak baik (< 40 %).
Hasil pemeriksaan laboratorium pada 17 sampel es teh menunjukkan bahwa 88,23 % melebihi standar atau batas maksimum cemaran mikroba yang telah ditentukan. Hasil inspeksi tempat penjualan es teh pada pedagang kaki lima yaitu berkategori baik 84,29 %.
Dengan adanya penelitian ini menjadi tindak lanjut dari Dinas Kesehatan Banyumas untuk melakukan pemeriksaan pada makanan dan minuman tersebut serta adanya pengawasan kepada para pedagang kaki lima.

Daftar bacaan : 18 (1989 – 2003)
Kata kunci : Bakteri Coliform, Hygiene Sanitasi Makanan dan Minuman

Penyusutan volume sampah denganpengomposan

Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Depkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Karya Tulis Ilmiah, Juni 2008

Abstrak

Arum Riyanti
STUDI KOMPARASI PENYUSUTAN VOLUME SAMPAH ORGANIKPASAR BUMIAYU PADA PENGOMPOSAN MENGGUNAKAN INOKULUM RAGI TEMPE CAIR ”GANEFATI” ANTARA METODE AEROB DAN ANAEROB DI KECAMATAN BUMIAYU KABUPATEN BREBES TAHUN 2008”

vii + 53 halaman : 1 gambar, 4 tabel, 5 grafik, 3 lampiran

Masalah sampah masih menjadi masalah besar bagi lingkungan, masyarakat, maupun dinas terkait. Sampah memberikan dampak negatif yang sangat besar bagi kehidupan manusia. Sumber sampah yang terbanyak dari pemukiman dan pasar tradisional, sebagian besar merupakan sampah organik. Pengelolaan sampah organik dengan teknologi pengomposan menggunakan inokulum sebagai stater kompos yang menggunakan bakteri merupakan alternatif yang dapat diterapkan. Ragi tempe dapat digunakan pada proses pengomposan karena mengandung jamur Rhizopus oligosporus yang membantu proses penguraian bahan kompos sehingga terjadi penyusutan volume. Tujuan penelitian untuk mengetahui penyusutan volume sampah organik pasar pada pengomposan dengan menggunakan inokulum ragi tempe cair ”Ganefati” antara metode aerob dan anaerob, serta mengetahui perbandingan penyusutan yang terjadi.
Metode penelitian yang dipakai yaitu pra eksperimental dengan rancangan penelitian the one group pre and post test. Pengumpulan data dengan wawancara dan pengukuran di lapangan. Pengolahan data dengan editing, coding, tabulating, analisis dan interpretasi. Penyajian data dilakukan dalam bentuk narasi, tabel dan grafik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyusutan volume dengan metode aerob lebih besar dari pada dengan metode anaerob. Hasil rata-rata penyusutan volume dengan metode aerob sebesar 76,66 liter atau sebesar 76,66 %, penyusutan dengan menggunakan metode anaerob rata-rata sebesar 57,66 liter atau sebesar 57,66 %, dan perbandingan penyusutan volume tersebut sebesar 2,35%, selisih hasil proses pengomposan 19 liter atau 19 % dari volume awal bahan kompos yaitu 100 liter.
Penulis menyarankan pihak Pihak Dinas Kebersihan dan Pertamanan menyediakan sarana pengangkutan yang berbeda antara sampah organik dan anorganik, memberikan pembinaan pentingnya penanganan sampah pada awal penimbulan dan pelatihan tenaga kebersihan pasar dalam penanganan sampah. Pihak Pasar dapat memisahkan sampah organik dan anorganik dari penimbulannya yaitu pedagang.

Daftar bacaan : 20 ( 1983 – 2007 )
Kata kunci : penyusutan volume sampah
Klasifikasi :

Salmonella pada ikan pindang

Depertemen Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Semarang
Jurusan Kesehatanlingkungan Purwokerto
Karya Tulis Ilmiah, Juni 2008

Abstrak

Aptiningsih
STUDI KANDUNGANG SALMONELLA PADA IKAN PINDANG DI USAHA DAGANG DUA PUTRID DESA ADISARA KECAMATAN JATILAWANG KABUPATEN BANYUMAS
TAHUN 2008
Xv + 46 halaman : table, gambar, lampiran

Ikan pindang merupakan salah satu bahan makanan yang mudah tercemar oleh mikroorganisme atau bahan-bahan kimia yang dapat menimbulkan penyakit pada manusia. Ikan pindang supaya layak untuk dikonsumsi, perlu dilakukan tindakan sanitasi yaitu mulai dari penerimaan ikan segar, pengamanan, pewadahan, cara mengolah, dan tempat penyimpanannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya kandungan Salmonella pada ikan segar, mengetahui kualitas air yang digunakan untuk mencuci ikan, suhu yang digunakan untuk memasak ikan, kandungan Salmonella pada ikan pindang yang baru diolah, kondisi wadah ikan pindang, kondisi tempat penyimpanan ikan pindang, dan mengetahui kandungan Salmonella pada ikan pindang yang telah disimpan.

Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional dengan menggunakan analisis deskriptif terhadap data yang ada dan dituangkan dalam bentuk narasi. Pengumpulan data dilakukan dengan cara pemeriksaan kandungan Salmonella pada ikan segar, kandungan Salmonella pada ikan pindang yang baru diolah, dan kandungan Salmonella pada ikan pindang yang telah disimpan, serta wawancara dengan pengolah ikan pindang dan observasi dengan checklist.

Hasil pemeriksaan terhadap kandungan Salmonella pada ikan segar dan kandungan Salmonella pada ikan pindang yang telah disimpan positif menganduing Salmonella, sedangkan kandungan Salmonella pada ikan pindang yang baru diolah negative (tidak menganduing Salmonella). Kondisi air yang digunakan untuk mencuci ikan sudah memenuhi syarat fisik air bersih dan syarat kuantitas. suhu yang digunakan untuk memasak ikan sudah memenuhi syarat, tetapi kondisi wadah dan tempat penyimpanannya belum memenuhi syarat.

Kepada pemilik pengolahan ikan pindang disarankan untuk melengkapi fasilitas-fasilitas yang belum tersedia, seluruh penjamah harus memiliki surat keterangan sehat dari dokter, serta kondisi wadah dan tempat penyimpanan dibuat sedemikian rupa sehingga kontaminasi terhadap ikan pindang daapat dikurangi.

Daftar bacaan : 11 (1986-2006)
Kata kunci : Kandunagn Salmonella
Klasifikasi :

Kapur tohor untuk penurunan kesadahan

Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan DepKes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2008

ABSTRAK

Anton Widianto
STUDI PENGARUH BERBAGAI KONSENTRASI KAPUR TOHOR TERHADAP PENURUNAN KADAR KESADAHAN AIR SUMUR BOR DI DESA KARANGNANAS KECAMATAN SOKARAJA KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2008
xi + 47 Halaman, Tabel, Lampiran

Kesadahan air dapat menimbulkan kerugian seperti menyebabkan pengerakan pada peralatan logam untuk memasak, pemakaian sabun menjadi boros, penyumbatan pada pipa logam dan menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan yaitu Cardiovascular disease maupun Urolithiasis. Salah satu metode untuk menurunkan kesadahan adalah dengan pengendapan menggunakan kapur tohor. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pembubuhan larutan kapur tohor dengan konsentrasi 298 mg/l, 348 mg/l, 398 mg/l, 448 mg/l dan 498 mg/l terhadap penurunan kesadahan air sumur bor.

Jenis penelitian ini adalah Pra Experiment dengan desain The Static Group Comparation. Data diperoleh dari pengamatan, dan pengukuran kemudian diolah dengan editing, coding, saving dan tabulating. Analisis data menggunakan ANOVA.

Rata-rata kesadahan air sumur bor pada pembubuhan kapur tohor dengan konsentrasi 298 mg/l sebesar 57,14 mg/l sebagai CaCO3, pada pembubuhan kapur tohor konsentrasi 348 mg/l sebesar 60,00 mg/l sebagai CaCO3, pada pembubuhan kapur tohor konsentrasi 398 mg/l sebesar 59,29 mg/l sebagai CaCO3, pada pembubuhan kapur tohor konsentrasi 448 mg/l sebesar 59,64 mg/l sebagai CaCO3 dan pada pembubuhan kapur tohor konsentrasi 498 mg/l sebesar 62,50 mg/l sebagai CaCO3. Hasil uji ANOVA nilai Significance = 0,001 < 0,05 (nila á) sehingga Ho ditolak.

Kesimpulan penelitian ini adalah ada pengaruh yang bermakna dari pembubuhan kapur tohor terhadap penurunan kesadahan air sumur bor. Kepada warga masyarakat yang mempunyai masalah air bersih terutama kesadahan supaya melakuakan penurunan kesadahan dengan kapur tohor yang secara ekonomis lebih murah dan mudah didapatkan. Hendaknya kepada peneliti lain dalam penelitian menggunakan air yang mempunyai kesadahan di atas standar kesehatan dan larutan kapur tohor dengan konsentrasi lebih kecil dari 298 mg/l.

Daftar bacaan : 19 (1975-2007)
Kata kunci : kesadahan, air sumur bor, kapur tohor
Klasifikasi :

Bawang putih untuik pengawetan ikan

Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah, Juni 2008

Abstrak

Annisa Rahmiati Khasanah
PENGARUH PEMBERIAN BAWANG PUTIH (Allium sativum) TERHADAP KEAWETAN DAGING IKAN CAKALANG (Katsuwonus pelamis) DI DESA KARANGMANGU KECAMATAN BATURRADEN KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2008
+ 53 halaman: gambar, tabel, lampiran

Ikan merupakan jenis bahan makanan yang mudah rusak sehingga membutuhkan pengamanan yang tepat. Pengamanan bahan makanan yang diakukan oleh orang banyak adalah dibuat menjadi ikan asin, bahkan ada yang menambahkan formalin. Formalin berbahaya bagi kesehatan maka pada penelitian ini dicari alternatif lain yaitu dengan menggunakan bawang putih. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah bawang putih dapat digunakan untuk mengawetkan daging ikan cakalang dengan melihat jumlah angka kumannya.

Penelitian ini termasuk penelitian true experimen dengan design post test only group. Data yang dikumpulkan adalah suhu, kelembaban, dan ciri-ciri fisik yang terlihat pada daging ikan cakalang selama proses pengawetan. Selain itu juga dilakukan pemeriksaan jumlah angka kuman pada daging ikan cakalang tersebut. Analisis data yang digunakan adalah analisa statistik dengan anova one way pada tingkat koreksi 10% (a=0,1) dengan menggunakan software SPSS 10,0.
Setelah dilakukan analisis data didapatkan bahwa pada alfa 0,1 terdapat pengaruh pemberian bawang putih terhadap lama waktu ketahanan daging ikan cakalang dengan konsentrasi 2 gr/100 gr dan 3 gr/100 gr. Dalam waktu simpan selama 2 x 24 jam secara organoleptik terdapat perbedaan ciri fisik yang terlihat antara daging ikan cakalang yang tidak menggunakan bawang putih dan yang menggunakan bawang putih.

Meskipun pada penelitian ini terdapat pengaruh pada konsentrasi 2 gr/100 gr dan konsentrasi 3 gr/100 gr, tetapi rata-rata angka kuman pada tiap-tiap konsentrasi masih melebihi ambang batas jumlah angka kuman yaitu 107. Jadi belum ditemukan konsentrasi yang paling baik digunakan untuk pengawetan daging ikan cakalang. Peneliti yang lain dapat melakukan penelitian dengan menggunakan waktu simpan yang lebih pendek dan dapat juga dengan menggunakan jenis rempah-rempah yang lain.

Daftar bacaan: 18 (1985-2007)
Kata kunci : Bawang putih dan Ikan Cakalang
Klasifikasi :

Serai sebagai repelent

Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program studi DIII Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah, Juni 2008

Abstrak
Aldila Okasiana Africh Nugroho
KEMAMPUAN EKSTRAK DAUN SERAI (Cymbopogon nardus) SEBAGAI ZAT PENOLAK (repellent) NYAMUK Aedes aegypti.
XIV+43 halaman: tabel, lampiran

Penyakit demam berdarah merupakan penyakit menular yang menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Salah satu upaya untuk mengatasi masalah tersebut dilakukan dengan cara pengendalian vektor demam berdarah. Pengendalian vektor demam berdarah umumnya menggunakan insektisida sintetis, namun penggunaannya berdampak negatif terhadap lingkungan. Serai merupakan salah satu tumbuhan yang dapat digunakan sebagai salah satu alternatif untuk pengendalian vektor demam berdarah karena mengandung sitronelol yang bersifat racun terhadap serangga, dalam hal ini serai dapat digunakan sebagai repellent penolak nyamuk.

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui penolakan nyamuk Aedes aegypti terhadap ekstrak serai selama 120 menit.. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental dengan perlakuan untuk mengetahui angka hinggap nyamuk Aedes aegypti dengan menggunakan konsentrasi 0%, 2%, 4%, 6%, 9%, 12% masing-masing dengan 18 ekor nyamuk yang dikontakan selama 5 menit dalam waktu yang ditentukan sampai dengan 120 menit. Penelitian ini dilakukan sebanyak 3 kali pengulangan. Setiap perlakuan dilakukan perhitungan jumlah angka yang hinggap pada perlakuan yang kemudian data tersebut dianalisis probit untuk mengetahui keefektifan ekstrak serai selama 120 menit dan dianalisis anova untuk mengetahui perbedaan konsentrasi 2%, 4%, 6%, 9%, dan 12%.

Hasil penelitian menggunakan analisis anova menunjukkan ada perbedaan penggunaan ekstrak serai (Cymbopogon nardus) dengan konsentrasi 2%, 4%, 6%, 9%, 12% selama 120 menit. Hasil analisis probit diperoleh konsentrasi 12% mempunyai keefektifan sampai dengan menit ke-120 mencapai 70% dengan tingkat kepercayaan 95% dan interval interal konsentrasinya antara 10,4 % sampai dengan 12,4%. Hal ini membuktikan bahwa serai dapat digunakan untuk penolak/repellent nyamuk Aedes aegypti.

Daftar bacaan : 14 (1985-2008)
Kata kunci : Repellent, Aedes aegepty dan Cymbopogon nardus.
Klasifikasi :

Kualitas mikrobiologis alat makan

Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Karya Tulis Ilmiah, Juni 2008

Abstrak

Aisty Maulani
STUDI KUALITAS MIKROBIOLOGIS PADA ALAT MAKAN DI RESTORAN CINTA ALAM KECAMATAN BATURRADEN KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2008
xv + 44 halaman, 2 tabel, 2 gambar, 8 lampiran

Restoran penting sekali dipandang dari sudut kesehatan, karena dari restoran tersebut dapat menimbulkan terjadinya keracunan makanan dan penyakit infeksi yang membahayakan kesehatan. Salah satu upaya untuk mencegah terjadinya kontaminasi pada makanan adalah dengan cara pencucian pada alat makan menggunakan detergen agar bebas dari mikroorganisme. Berdasarkan observasi penulis di Restoran Cinta Alam Kecamatan Baturraden Kabupaten Banyumas digunakan detergen cair dalam proses pencucian alat makan, namun belum diketahui jumlah kuman pada alat makan setelah proses pencucian. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui jumlah kuman pada alat makan dengan metode Total Plate Count, pemisahaan sisa-sisa makanan, sarana pencucian alat makan, penirisan dan sanitasi tempat penyimpanan alat makan serta penggunaannya.

Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif, dari data yang diperoleh kemudian dibandingkan dengan standar yang ada.
Hasil penelitian diperoleh, jumlah kuman rata-rata pada mangkuk 1,3x104, piring 1,1 x 10 3, gelas 6,3 x 10 0, garpu 1,7 x 10 4 dan sendok 2,0 x 10 3. Pemisahan sisa-sisa makanan dilakukan di restoran, terdapat sarana pencuci 3 bak, dan dilakukan penirisan. Keadaan sanitasi tempat penyimpanan alat makan diperoleh skor 85,7 % dikategorikan baik. Penggunaan alat makan telah sesuai dengan fungsinya masing-masing.

Kesimpulan dari penelitian ini adalah jumlah kuman rata-rata pada alat makan tidak memenuhi standar Ditjen PPM & PLP Dep Kes RI yang menyebutkan jumlah kuman maksimum pada alat makan 100 koloni/cm2 kecuali pada gelas 6,3 x 100. Saran bagi pihak pengelola restoran agar dalam proses pencucian alat makan dilakukan proses desinfeksi dengan air panas pada alat makan atau dengan sinar matahari pagi pada pukul 09.00-11.00. Untuk memperoleh hasil akhir alat makan yang sehat dan aman perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut : scrapping, flusing, washing, rinsing, disinfection dan toweling. Pada proses toweling lap/kain yang digunakan sebaiknya lap yang bersih serta sering diganti untuk sejumlah penggunaan/ sekali pakai (single use), disetrika dan berwarna putih.

Daftar bacaan: 10 (1985-2003)
Kata kunci: Kualitas Mikrobiologis-Restoran
Klasifikasi: -

TSS limbah pabrik gula

Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Depkes Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan
Karya Tulis Ilmiah, Juni 2008


Abstrak

Ade Irma Fitriani S.
STUDI KANDUNGAN TSS AIR LIMBAH PABRIK GULA SUMBERHARJO DAN BADAN AIR PENERIMA DI KABUPATEN PEMALANG TAHUN 2008
XI + 45 : Gambar, lampiran

Pabrik gula Sumberharjo milik PTP Nusantara IX (PERSERO) merupakan salah satu industri pangan yang menghasilkan gula untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Disamping itu, pabrik gula juga menghasilkan limbah cair dan padat yang dapat menimbulkan gangguan lingkungan, apabila limbah cair tersebut dibuang langsung ke badan air dan tidak dikelola secara benar sehingga melampaui baku mutu yang ditetapkan, maka masyarakat dan lingkungan sekitar pabrik yang akan terkena dampaknya.

Tujuan penelitian ini adalah mengukur kandungan TSS air limbah pabrik gula, dan badan air penerima jarak 50 m sebelum ataupun sesudah efluen serta menginterpretasikan karakteristik air limbah pabrik gula dan badan air penerima

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Pengumpulan data dengan cara wawancara, observasi, pengambilan sampel, dan pemeriksaan. Pengolahan data dengan cara editing, coding, dan tabulating. Data dalam penelitian disajikan dalam bentuk tabel dan uraian kalimat. Analisis data yang digunakan adalah membandingkan dengan Perda No.10 tahun 2004 tentang baku mutu air limbah industri dan Peraturan Pemerintah No.82 tahun 2001 tentang pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemapan air.

Kesimpulan penelitian ini adalah bahwa kandungan TSS air limbah rata-rata 1,68 mg/lt, badan air penerima jarak 50 m sebelum efluen rata-rata 2,28 mg/lt dan sesudah efluen rata-rata 0,9 mg/l belum melampaui ambang batas sesuai dengan Perda No. 10 tahun 2004 tentang baku mutu air limbah, untuk TSS kadar maksimumnya adalah 50 mg/lt, sedangkan menurut Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001 tentang pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air, TSS untuk badan air kelas III yang diperbolehkan maksimal 400 mg/lt. Penulis menyarankan pihak perusahaan selalu menjaga mutu limbah yang dihasilkan dengan mengukur debit yang keluar, dan melakukan pengukuran terhadap parameter penting seperti BOD, COD, TSS, Suhu dan pH secara rutin (3 bulan sekali) agar tidak menimbulkan permasalahan di lingkungan.

Kepustakaan : 24 (1987 - 2004)
Kata Kunci : Pabrik gula, Air limbah, Kandungan TSS
Klasifikasi : -

Elektrocoagulasi untuk penurunan BOD

Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2007

Abstrak

Vivi Ratna Juwita
“STUDI EFEKTIVITAS ELEKTROKOAGULASI DALAM MENURUNKAN BOD AIR LIMBAH RUMAH SAKIT MARGONO SOEKARJO TAHUN 2007”
xv + 37 hal : gambar, tabel, lampiran

Rumah Sakit merupakan unit pelayanan kesehatan yang menghasilkan air limbah dan mempunyai potensial mencemari lingkungan khususnya parameter BOD. Air limbah rumah sakit juga merupakan media penularan berbagai macam penyakit yang diakibatkan karena air limbah yang tidak diolah terlebih dahulu sebelumdibuang ke badan air dan kualitasnya harus selalu dikontrol dengan rutin dan berkesinambungan. Karya Tulis Ilmiah ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas elektrokoagulasi dalam menurunkan BOD air limbah di Rumah Sakit Margono Soekarjo tahun 2007, kemudian hasil penelitian dibandingkan dengan Peraturan Daerah Propinsi Jawa Tengah N0. 10 Tahun 2004 tentang Baku mutu air limbah Rumah Sakit khususnya tentang kadar maksimal BOD yaitu sebesar 30 mg/lt.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pra eksperimen dengan jenis pre and post test design. Data primer dan data sekunder diperoleh dari hasil pengukuran BOD dan data dari Rumah Sakit Margono Soekarjo.
Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa elektrokoagulasi efektif menurunkan BOD sebesar 68,7 %. BOD rata-rata sebelum proses elektrokoagulasi yaitu 62 mg/lt sedangkan BOD rata-rata sesudah proses elektrokoagulasi yaitu 19,4 mg/lt.

Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah elektrokoagulasi efektif dalam menurunkan kandungan BOD air limbah rumah sakit. Prosentase efektivitas elektrokoagulasi dalam menurunkan air limbah yaitu sebesar 68,7% dengan hasil rata-rata sesudah diolah yaitu 19,4%. Menurut Peraturan Daerah Propinsi Jawa Tengah No. 10 Tahun 2004 kadar BOD maksimal air limbah rumah sakit yang diperbolehkan yaitu 30 mg/lt.

Daftar Bacaan : 18 (1984 – 2005)
Kata Kunci : BOD, Elektrokoagulasi dan Air Limbah
Klasifikasi : -

Limbah pabrik tahu

Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2007

Abstrak
Sulastri
STUDI TENTANG PENGELOLAAN LIMBAH CAIR PABRIK TAHU DI DESA CIPEUJEUH WETAN KECAMATAN LEMAHABANG KABUPATEN CIREBON TAHUN 2007.
xiii+ 45 halaman : gambar, tabel, lampiran.

Limbah cair industri pangan mengandung sejumlah karbohidrat, protein, garam, dan sisa bahan kimia yang digunakan dalam pengolahan makanan termasuk di dalamnya industri tahu. Pengelolaan limbah cair pabrik tahu di Desa Cipeujeuh terdiri dari sistem pengumpulan dan sistem pengolahan. Penduduk yang memproduksi tahu kebanyakan tinggal disepanjang aliran sungai Ciputih, sehingga limbah cair hasil produksi tahu langsung dibuang ke sungai tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengelolaan limbah cair pabrik tahu, debit, kualitas limbah cair tahu berdasarkan parameter BOD, pH dan suhu kemudian dibandingkan dengan standar baku mutu yang berlaku.

Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif, yaitu untuk menggambarkan pengelolaan limbah cair pabrik tahu. Cara mengumpulkan data dengan wawancara, observasi, pengukuran, dan pemeriksaan. Analisis data membandingkan dengan standar baku mutu limbah cair Kep.51/MENLH/10/1995 untuk air limbah dan PP No.82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air untuk Badan Air.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa debit limbah yang dihasilkan dari seluruh pabrik tahu adalah 11,63 m3/hari. Debit air sungai sebelum 50m dengan rata-rata 0,35 m3/dt dan setelah 50m dengan rata-rata 1,2 m3/dt. Kandungan BOD air limbah rata-rata 186,1 mg/lt; kandungan BOD air sungai sebelum 50m rata-rata 5,96 mg/lt dan setelah 50m rata-rata11,53 mg/lt; pH air limbah rata-rata 65; pH air sungai sebelum dan setelah 50m rata-rata 7; suhu air limbah rata-rata 520C dan suhu air sungai sebelum dan setelah 50m rata-rata 270C.

Berdasarkan hasil penelitian maka penulis menyimpulkan bahwa kandungan BOD air limbah tidak memenuhi syarat dan kandungan BOD air sungai yang peruntukannya dapat digunakan untuk mengairi pertanaman atau persawahan. pH air limbah dan air sungai masih memenuhi syarat, suhu air limbah tidak memenuhi syarat. Disarankan kepada industri tahu untuk tidak membuang air limbahnya langsung ke sungai tetapi diolah terlebih dahulu melalui proses pengolahan air limbah serta air sungai tidak digunakan untuk keperluan sehari-hari.

Daftar bacaan : 16 (1987-2006)
Kata kunci : pengelolaan limbah cair, tahu, BOD.
Klasifikasi : -

Sanitasi rumah penderita TB Paru

Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Semarang
Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto
Karya Tulis ilmiah, Juli 2007

Abstrak

Siti Furchoni
HUBUNGAN ASPEK FISIOLOGIS RUMAH DENGAN KEJADIAN TB PARU
DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KALIBAGOR KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2007
xiv + 49 halaman: gambar, tabel lampiran

Salah satu faktor yang berhubungan dengan penyakit TB Paru adalah aspek fisiologis rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan. Puskesmas Kalibagor merupakan Puskesmas yang paling banyak suspek TB Paru yaitu sebesar 793 orang. BTA (+) sebanyak 64 orang pada tahun 2006. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dan besarnya nilai risiko antara aspek fisiologis rumah dengan kejadian TB Paru.

Penelitian ini adalah bersifat observasional dengan analisis inferensial menggunakan pendekatan Case Control. Sampel sebanyak 50 orang terdiri dari 25 orang kelompok kasus dan 25 orang kelompok kontrol. Variabel yang diteliti meliputi pencahayaan alami, ventilasi, kelembaban dan jenis lantai. Analisis menggunakan program SPSS versi 10 menggunakan uji Chi Square dan OR dengan CI= 95% dan α = 0,05.
Hasil penelitian menunjukan hubungan yang bermakna antara aspek fisiologis rumah dengan kejadian TB Paru yaitu: pencahayaan alami kamar tidur (p < 0,05), ventilasi ruang keluarga (p < 0,05), ventilasi kamar tidur (p < 0,05), kelembaban ruang keluarga (p < 0,05 ), kelembaban kamar tidur (p < 0,05). Pencahayaan alami ruang keluarga (OR = 2,786), pencahayaan alami kamar tidur (OR = 6,729), ventilasi ruang keluarga (OR = 3,778), ventilasi kamar tidur (OR = 6,729 ), kelembaban ruang keluarga (OR = 4,571), kelembaban kamar tidur (OR = 7,111), jenis lantai ruang keluarga dan kamar tidur (OR = 2,923)
Kesimpulan dari penelitian ini ada hubungan yang bermakna antara aspek fisiologis rumah dengan kejadian TB Paru di wilayah kerja Puskesmas Kalibagor Kabupaten Banyumas. Disarankan jendela dan ventilasi di buka setiap hari, lantai kedap air dan pemasangan genting kaca.

Daftar bacaan : 26 (1978- 2007)
Kata kunci : Aspek fisiologis rumah, TB Paru, Puskesmas Kalibagor
Klarifikasi :

Santasi rumah dengan kasus ISPA pada balita

Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Semarang
Jurusan Kesehatan lingkungan Purwokerto
Karya Tulis Ilmiah, Juli 2007



Abstrak

Sri Hartini
STUDI KORELASI ASPEK FISIOLOGIS RUMAH DENGAN KASUS ISPA PADA BALITA DI ASRAMA POLRI KABUPATEN CILACAP TAHUN 2007
XIV + 60 Halaman : gambar, tabel, lampiran

Lingkungan yang paling dekat dengan manusia adalah rumah sehingga perumahan yang tidak sehat akan membahayakan manusia. Aspek fisiologis rumah yang merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi kejadian penyakit ISPA. Berdasarkan hal tersebut penelitian dilakukan di asrama Polri Kabupaten Cilacap yang bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan aspek fisiologis rumah dengan kasus ISPA pada balita di asrama tersebut.

Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional dengan analisis inferensial dan pendekatan cross sectional. Sampel dalam penlitian ini adalah semua balita di asrama Polri Kabupaten Cilacap sejumlah 31 balita. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan uji Chi-Square dan Ratio Prevalence.

Hasil penelitian didapat dari analisis dengan menggunakan uji Chi-Square dan Ratio Prevalence dengan program SPSS 10.0 diperoleh nilai Asymp.Sig pencahayaan 1,00 dengan nilai RP 0,98, Asymp. Sig kelembaban 0,746 dengan nilai RP 0,83 dan Asymp. Sig suhu 0,099 dengan nilai RP 1,57.Dengan nilai α = 0,05,berarti secara umum tidak ada hubungan pencahayaan, kelembaban dan suhu pada rumah dengan kasus ISPA pada balita di asrama Polri Kabupaten Cilacap, hanya faktor kelembaban ruang keluarga yang menunjukkan hubungan yang signifikan.

Kesimpulan dari penelitian ini bahwa dari aspek fisiologis rumah yang diteliti yang berhubungan dengan kasus ISPA pada balita di asrama Polri Kabupaten Cilacap adalah kelembaban ruang keluarga. Penulis menyarankan untuk dilakukan pengurangan kelembaban dengan cara membuka jendela dan lubang pencahayaan dari atap agar sinar matahari dapat langsung masuk ke dalam rumah.

Dafatar bacaan: 16 (1979-2006)
Kata kunci : Aspek fisiologis rumah, ISPA
Klasifikasi : -